Biasa, mabuk perjalanan, itu semacam ritual bagiku. Mudik kali ini aku benar-benar payah, badan sudah terasa dingin padahal baru naik tol yang hanya berjarak satu kilometer dari rumah.
Perjalanan dari tol ke tol akhirnya sampai ke Bandung. Rest area yang selalu membantu mengembalikan kondisi badan ternyata tidak berefek kali ini. Udara dingin yang selalu membuat aku tersiksa, benar-benar membuat badanku kalah. Antara sakit kepala yang tanggung dan dingin yang menusuk.
Tetap saja bertahan di dalam mobil adalah satu hal yang kuhindari, karena badan akan semakin merasa sakit. (Andai saja ada keajaiban suatu saat jika tubuhku bisa berkompromi seperti orang lain. Tentu hal seperti ini tidak perlu menjadi cerita yang tidak menarik dan berulang,sementara aku sendiri sangat suka menjelajah tempat baru).
Aku seperti biasa mencari masjid. Aku lupa nama daerah tempat rest area itu, tapi yang menarik perhatianku kali ini dan ini seringkali kujumpai di masjid lain adalah orang-orang yang tidak peduli dengan peringatan BATAS SUCI.
Batas suci berarti batas melepas sandal dan sepatu untuk dilepas. Tentu saja karena tempat salat itu butuh kesucian dari najis.
Aku bahkan sampai memotretnya agar semua orang percaya, tetapi urung kuunggah karena takut yang punya sendal merasa terekspose kesalahannnya. :)
Yang kulakukan hanya geleng kepala, terutama karena mereka yang melintas dengan alas kaki di batas suci memakai kerudung dan penampilannya menandakan mereka paham masalah itu.
Kenapa mereka yang mengaku tahu tentang masalah suci yang menjadi hal pokok dalam beribadah seolah tidak peduli, sendal dan sepatu tetap melintas? Apa di kepala mereka itu hanya tahu bahwa batas suci itu hanya dalam masjid? Atau mereka benar-benar tidak tahu arti dari batas suci? Semoga saja mereka tahu dan untuk kasus seperti itu karena tidak terbaca saja tulisannya.
Sumber gambar: http://www.keepcalm-o-matic.co.uk/p/stop-batas-suci-sampai-di-sini/