oleh Nurlaeli Umar (Catatan) pada 26 Juni 2012 pukul 18:55
Oleh : Nurlaeli Umar
Gadis itu berumur dua puluh dua, bayangan menjadi perawan tua sedikit berlebihan. Tapi kenyataannya dia bahkan belum sekalipun merasakan pacaran. Gadis itu adalah aku.
... Tak laku, sepertinya stigma itu terlalu berlebihan, karena banyak hati ingin berlabuh, tapi entahlah, sepertinya sendiri dan sedikit ketakutan itu lebih menggoda.
Aku baru saja turun dari bus 213 dari arah Matraman dan aku turun di daerah Sudirman, aku hendak ke Karet Belakang.
Pagi yang masih lengang, dan tanpa dinyana seseorang menarik tanganku dari arah belakang, lalu menggenggamnya erat-erat.
Kaget bukan kepalang, reflek ku putar kepalaku dan kutarik lenganku. Ya Allah, seseorang yang sangat tampan, berperawakan sedang menatapku lekat disertai senyuman maut.
"Apa-apaan ini, kamu siapa?" tanyaku panik.
Lelaki itu malah berjalan mendahuluiku dengan tetap menggandeng lenganku.
"Lepaskan tanganku!" kataku sedikit berteriak.
Pembawaannya yang tenang malah menafsirkan orang-orang yang berlalu, aku dan dia sepasang kekasih, dan aku tengah merajuk. Tak ada yang menolongku, mereka malah tersenyum.
Sampai dipertigaan, aku berusaha tenang, padahal hatiku kacau balau sekaligus takut. Kali ini dia malah mendorongku ke dinding, dan berucap, "Aku mencintaimu dan ingin menikah denganmu, apa kau tahu aku memperhatikanmu setiap hari, setiap kau turun dan naik mobil itu, setiap pagi dan petang ?"
Aku tak peduli, sungguh, melihatku mulai menangis dia sedikit melonggarkan pelukannya.
Saat itu aku berpikir keras, untuk membujuknya. Aku berjanji nanti sore kembali kesini selepas kerja.
Akhirnya aku dilepaskan, dan dia masih sempat meminta pipiku untuk diciumnya, tapi aku berkata, kalau itu dilakukan aku akan ingkar. Akhirnya, dia hanya mencium punggung tanganku. Lalu aku berlari sekuat tenaga.
Aku tak pernah menemuinya, sesudah itu. Dan setiap melintas pertigaan itu, aku selalu teringat semuanya. Aku bergumam, seandainya saja dia tidak mengejutkanku seperti itu mungkin jalan cerita akan lain. Jujur ku akui, laki-laki itu romantis dan lembut sebenarnya, cuma waktunya tak tepat.
Gadis itu berumur dua puluh dua, bayangan menjadi perawan tua sedikit berlebihan. Tapi kenyataannya dia bahkan belum sekalipun merasakan pacaran. Gadis itu adalah aku.
... Tak laku, sepertinya stigma itu terlalu berlebihan, karena banyak hati ingin berlabuh, tapi entahlah, sepertinya sendiri dan sedikit ketakutan itu lebih menggoda.
Aku baru saja turun dari bus 213 dari arah Matraman dan aku turun di daerah Sudirman, aku hendak ke Karet Belakang.
Pagi yang masih lengang, dan tanpa dinyana seseorang menarik tanganku dari arah belakang, lalu menggenggamnya erat-erat.
Kaget bukan kepalang, reflek ku putar kepalaku dan kutarik lenganku. Ya Allah, seseorang yang sangat tampan, berperawakan sedang menatapku lekat disertai senyuman maut.
"Apa-apaan ini, kamu siapa?" tanyaku panik.
Lelaki itu malah berjalan mendahuluiku dengan tetap menggandeng lenganku.
"Lepaskan tanganku!" kataku sedikit berteriak.
Pembawaannya yang tenang malah menafsirkan orang-orang yang berlalu, aku dan dia sepasang kekasih, dan aku tengah merajuk. Tak ada yang menolongku, mereka malah tersenyum.
Sampai dipertigaan, aku berusaha tenang, padahal hatiku kacau balau sekaligus takut. Kali ini dia malah mendorongku ke dinding, dan berucap, "Aku mencintaimu dan ingin menikah denganmu, apa kau tahu aku memperhatikanmu setiap hari, setiap kau turun dan naik mobil itu, setiap pagi dan petang ?"
Aku tak peduli, sungguh, melihatku mulai menangis dia sedikit melonggarkan pelukannya.
Saat itu aku berpikir keras, untuk membujuknya. Aku berjanji nanti sore kembali kesini selepas kerja.
Akhirnya aku dilepaskan, dan dia masih sempat meminta pipiku untuk diciumnya, tapi aku berkata, kalau itu dilakukan aku akan ingkar. Akhirnya, dia hanya mencium punggung tanganku. Lalu aku berlari sekuat tenaga.
Aku tak pernah menemuinya, sesudah itu. Dan setiap melintas pertigaan itu, aku selalu teringat semuanya. Aku bergumam, seandainya saja dia tidak mengejutkanku seperti itu mungkin jalan cerita akan lain. Jujur ku akui, laki-laki itu romantis dan lembut sebenarnya, cuma waktunya tak tepat.
2 comments:
Asyik, bikin shock :)
hmmm.:)
Post a Comment