oleh Nurlaeli Umar (Catatan) pada 25 Juni 2012 pukul 18:02
(FF Selasa, 26 Juni 2012)
Jangan Pergi Pelangi
“Kenapa tak kau ganti saja, inisial P di kalungmu itu?”Begitu tanya Harlan, kerap kali ketika mereka sedang berdekatan. Sebuah pertanyaan yang selalu dijawab Tere dengan senyum, dan sedikit membuat kesal Harlan.
“Kak, bisakah kau membantuku untuk mendekor panggung, besok?” Tere tak mengacuhkan pertanyaan Harlan, “ masalahnya pihak panitia kekurangan orang,” jelas Tere sedikit memaksa.
“Tapi itukan bukan urusanku, aku bagian mencari donatur, dan aku sudah menyelesaikan tugasku, bagi-bagilah dengan yang lain,” elak Harlan menanggapi pertanyaannya yang selalu tak diacuhkan Tere.
Sungguh pun berkali-kali Tere sudah menjelaskan, bahwa inisial itu tak ada sangkut pautnya dengan mantan kekasihnya yang terdahulu, tapi jawaban Tere seperti menggantung bagi Harlan.
Tere menaiki anak tangga itu dengan tergesa, besok acara peringatan Hari Anak benar-benar kekurangan tenaga untuk mendekor panggung, Bukannya tidak ada yang bisa, tapi hasil dekorasi Harlan memang beda, dan selalu diandalkan. Ada saja ide berliannya, pas dengan tema dan hasilnya luar biasa, itu alasannya.
Ketukan pintu itu sudah dihapal Harlan, lalu dibukanya perlahan. Dan … ups ada seorang gadis tengah duduk diruang itu dan Harlan segera mengusirnya pergi.
“Tere, namaku Tere,” ujar Tere mengulurkan tangannya mencegah gadis itu pergi, “ duduk saja aku cuma sebentar, meminta rancangan dekorasi panggung saja, setelah itu pergi,” tapi ekor mata Harlan seperti mengusirnya, dan gadis itu pergi setelahnya.
Setelah mendapat sedikit gambaran dekorasi, Tere selekasnya pun meninggalkan ruangan tempat tinggal Harlan.
Ada perasaan bersalah, dan penuh tanda tanya, mengapa Tere tak meninggalkan sedikit pun air muka cemburu, padahal jelas-jelas Tiara ada di kamarnya, meski hanya untuk menjadi objek dari lukisannya, tak lebih. .
Telepon genggam dengan merk terkenal diatas meja berbunyi dan bergetar dengan volume penuh. Sebuah suara terdengar sedikit kalut dan gugup. “Harlan, coba nyalakan tv mu, ada gadis dengan liontin berinisial P tergilas truk didekat acara besok,” jelas Dian dari seberang. Benar saja, Terlihat kerumunan orang dan gadis berbaju hijau seperti baju yang dikenakan Tere, tadi. Jatuh lemas Harlan melihat tayangan itu, gadis itu Tere, gumamnya pelan.
Dengan sedikit gemetar dan kuat yang dipaksakan, dinyalakannya motor, “Ah, pasti tadi Tere memacu motornya kencang, duh Tuhan, lelaki macam apa aku ini.” Baru saja motor itu hendak keluar dari halaman, terlihat seseorang membuka helmnya.
Senyum ceria menghiasi wajah ayunya. Kontan saja Harlan memelukTere dengan begitu kuat beberapa butir air mata ikut serta didalamnya..Dan sedikit membuat Tere terkejut. “Ada apa nih, kamu aneh sekali,” Tanya Tere.
Tapi Tanya itu tak dijawab, pelukan Harlan tambah erat, air mata Harlan begitu menghebat. Tere hanya terdiam, lalu balas memeluknya memberi ketenangan. “Jangan pergi pelangiku, jangan pergi.”
Tere mengganti inisialnya dikalungnya dengan TH, dan Harlan kali ini yang memintanya agar inisial Pnya dipakai lagi, hingga menjadi THP. P itu ternyata pelangi, karena baginya Harlan itu seperti pelangi yang selalu menghiasi harinya dengan indah.
Bio: Namaku Nurlaeli Umar dengan nama akun pengguna facebook yang sama. Twitter di @nurlaeliumar Aku seorang ibu rmah tangga yang sedang belajar menulis
Jangan Pergi Pelangi
“Kenapa tak kau ganti saja, inisial P di kalungmu itu?”Begitu tanya Harlan, kerap kali ketika mereka sedang berdekatan. Sebuah pertanyaan yang selalu dijawab Tere dengan senyum, dan sedikit membuat kesal Harlan.
“Kak, bisakah kau membantuku untuk mendekor panggung, besok?” Tere tak mengacuhkan pertanyaan Harlan, “ masalahnya pihak panitia kekurangan orang,” jelas Tere sedikit memaksa.
“Tapi itukan bukan urusanku, aku bagian mencari donatur, dan aku sudah menyelesaikan tugasku, bagi-bagilah dengan yang lain,” elak Harlan menanggapi pertanyaannya yang selalu tak diacuhkan Tere.
Sungguh pun berkali-kali Tere sudah menjelaskan, bahwa inisial itu tak ada sangkut pautnya dengan mantan kekasihnya yang terdahulu, tapi jawaban Tere seperti menggantung bagi Harlan.
Tere menaiki anak tangga itu dengan tergesa, besok acara peringatan Hari Anak benar-benar kekurangan tenaga untuk mendekor panggung, Bukannya tidak ada yang bisa, tapi hasil dekorasi Harlan memang beda, dan selalu diandalkan. Ada saja ide berliannya, pas dengan tema dan hasilnya luar biasa, itu alasannya.
Ketukan pintu itu sudah dihapal Harlan, lalu dibukanya perlahan. Dan … ups ada seorang gadis tengah duduk diruang itu dan Harlan segera mengusirnya pergi.
“Tere, namaku Tere,” ujar Tere mengulurkan tangannya mencegah gadis itu pergi, “ duduk saja aku cuma sebentar, meminta rancangan dekorasi panggung saja, setelah itu pergi,” tapi ekor mata Harlan seperti mengusirnya, dan gadis itu pergi setelahnya.
Setelah mendapat sedikit gambaran dekorasi, Tere selekasnya pun meninggalkan ruangan tempat tinggal Harlan.
Ada perasaan bersalah, dan penuh tanda tanya, mengapa Tere tak meninggalkan sedikit pun air muka cemburu, padahal jelas-jelas Tiara ada di kamarnya, meski hanya untuk menjadi objek dari lukisannya, tak lebih. .
Telepon genggam dengan merk terkenal diatas meja berbunyi dan bergetar dengan volume penuh. Sebuah suara terdengar sedikit kalut dan gugup. “Harlan, coba nyalakan tv mu, ada gadis dengan liontin berinisial P tergilas truk didekat acara besok,” jelas Dian dari seberang. Benar saja, Terlihat kerumunan orang dan gadis berbaju hijau seperti baju yang dikenakan Tere, tadi. Jatuh lemas Harlan melihat tayangan itu, gadis itu Tere, gumamnya pelan.
Dengan sedikit gemetar dan kuat yang dipaksakan, dinyalakannya motor, “Ah, pasti tadi Tere memacu motornya kencang, duh Tuhan, lelaki macam apa aku ini.” Baru saja motor itu hendak keluar dari halaman, terlihat seseorang membuka helmnya.
Senyum ceria menghiasi wajah ayunya. Kontan saja Harlan memelukTere dengan begitu kuat beberapa butir air mata ikut serta didalamnya..Dan sedikit membuat Tere terkejut. “Ada apa nih, kamu aneh sekali,” Tanya Tere.
Tapi Tanya itu tak dijawab, pelukan Harlan tambah erat, air mata Harlan begitu menghebat. Tere hanya terdiam, lalu balas memeluknya memberi ketenangan. “Jangan pergi pelangiku, jangan pergi.”
Tere mengganti inisialnya dikalungnya dengan TH, dan Harlan kali ini yang memintanya agar inisial Pnya dipakai lagi, hingga menjadi THP. P itu ternyata pelangi, karena baginya Harlan itu seperti pelangi yang selalu menghiasi harinya dengan indah.
Bio: Namaku Nurlaeli Umar dengan nama akun pengguna facebook yang sama. Twitter di @nurlaeliumar Aku seorang ibu rmah tangga yang sedang belajar menulis
No comments:
Post a Comment