oleh Nurlaeli Umar (Catatan)
anyaman bambu ini terlalu lapuk
rayap bedebah pun enggan tuk meyantap
perempuan dengan rumah bilik
dan segenap derita yang terbiasa
adakah angin menebar rindu
menyampaikan kabar gembira
tentang doa lirih malam hari
yang tersirat lewat tembang malam
disela nafas yang kian malas
mbok pinah
sendiri tak berarti sunyi
gelap dan dingin malam adalah teman
dan langit yang terbentang
adalah buku yang menyimpan
semua kenangan
hingga cuma satu yang dirindukan
hanya ingin pulang tanpa kesepian
mbok pinah
kali ini tersenyum mesra
sang kekasih pujaan telah datang semalam
mengulurkan tangan dalam bayangan
dia berbisik
istriku...aku menjemputmu...
mbok pinah
dalam kekhusuan doa selepas subuh
berpulang dengan ringan
karena ia takkan lagi kesepian
tembangmalam mbok pinah
tamat sudah
dan sore merindukannya
hingga malam berbicara
relakan ia menemui Tuhannya
rayap bedebah pun enggan tuk meyantap
perempuan dengan rumah bilik
dan segenap derita yang terbiasa
adakah angin menebar rindu
menyampaikan kabar gembira
tentang doa lirih malam hari
yang tersirat lewat tembang malam
disela nafas yang kian malas
mbok pinah
sendiri tak berarti sunyi
gelap dan dingin malam adalah teman
dan langit yang terbentang
adalah buku yang menyimpan
semua kenangan
hingga cuma satu yang dirindukan
hanya ingin pulang tanpa kesepian
mbok pinah
kali ini tersenyum mesra
sang kekasih pujaan telah datang semalam
mengulurkan tangan dalam bayangan
dia berbisik
istriku...aku menjemputmu...
mbok pinah
dalam kekhusuan doa selepas subuh
berpulang dengan ringan
karena ia takkan lagi kesepian
tembangmalam mbok pinah
tamat sudah
dan sore merindukannya
hingga malam berbicara
relakan ia menemui Tuhannya
No comments:
Post a Comment