oleh Nurlaeli Umar (Catatan)
duar....
duar........
duar........
tiga ledakan nyata di siang bolong
pekik ku tersengal sedih yang meronta
kamboja luruh.......menandai tanah merah
sebuah sambutan atau tanda yang tak terduga
semua hancur luluh bersama menjdi serpihan
bau anyir menyengat
mesin di pabrik tua itu meledak
ketika sang biru putih berada diatasnya
tuk perbaiki sedikit kerusakan
hati tersayat..........aku berduka bersama bumi dan langit
seragam putih biru berbadan sedang
yang melintas seperti biasanya tak kan pernah lagi ada
dia.......yang mencoba membanting tulang
setiap mentari sabtu menyapa
untuk sebuah telepon genggam impian
maaaa....
minggu depan aku punya handphone baru
ternyata salam perpisahan
untuk selamanya
jasadnya berkeping
bahkan tak menyisakan jejak
benar hancur........
hanya darah....
hanya darah
dan sejuta luka
mengoyak ibunya......juga hati ku
mungkin juga mereka yang sempat berbondong bondong
semua usai pada titik
mati dan air mata
meski sekarang uang duka cita itu
mampu hadirkan seribu handphone keluaran terbaru
tapi ........
percuma.......
dia benar benar telah pergi
dan aku takkan bisa melihatnya melintas lagi
seragam biru putih menjadi putih seutuhnya
selamat jalan .........dik
(air mata dan doa ku ......menyertaimu)
duar........
duar........
tiga ledakan nyata di siang bolong
pekik ku tersengal sedih yang meronta
kamboja luruh.......menandai tanah merah
sebuah sambutan atau tanda yang tak terduga
semua hancur luluh bersama menjdi serpihan
bau anyir menyengat
mesin di pabrik tua itu meledak
ketika sang biru putih berada diatasnya
tuk perbaiki sedikit kerusakan
hati tersayat..........aku berduka bersama bumi dan langit
seragam putih biru berbadan sedang
yang melintas seperti biasanya tak kan pernah lagi ada
dia.......yang mencoba membanting tulang
setiap mentari sabtu menyapa
untuk sebuah telepon genggam impian
maaaa....
minggu depan aku punya handphone baru
ternyata salam perpisahan
untuk selamanya
jasadnya berkeping
bahkan tak menyisakan jejak
benar hancur........
hanya darah....
hanya darah
dan sejuta luka
mengoyak ibunya......juga hati ku
mungkin juga mereka yang sempat berbondong bondong
semua usai pada titik
mati dan air mata
meski sekarang uang duka cita itu
mampu hadirkan seribu handphone keluaran terbaru
tapi ........
percuma.......
dia benar benar telah pergi
dan aku takkan bisa melihatnya melintas lagi
seragam biru putih menjadi putih seutuhnya
selamat jalan .........dik
(air mata dan doa ku ......menyertaimu)
No comments:
Post a Comment