Sunday, April 7, 2013

75. SENANDUNG TEMLEK


SENANDUNG TEMLEK
Aku benc i ini tapi sungguh suka yang itu. Ah kadang kala hidup memang begitu. Tak bisa menyukai semuanya dan tak mungkin disukai semuanya. Kadang kala kita terjebak untuk menyenangkan atau merasa orang lain harus senang. Tapi kali ini sungguh aku benci ini, tapi tak bisa mengelak. Aku benci dingin, tapi suguhan sroto, orang disini menamai makanan ini dengan menambahkan huruf r, meski aku kerap kali menyebutnya soto dan mereka mentertawakan ku, “Mbak, disini gak ada soto, yangada sroto.” Tapi peduli apa selain karena rasa dingin ini yang kerap membuatku masuk angin, aku suka sekali dengan kuah soto yang dicampur tumbukan kacang. Memang kalau tak terbiasa akan aneh rasanya, apalagi yang terbiasa menikmati kuliner soto ala Jawa Timur, akan sedikit terkaget.
Di meja panjang dari kayu ini tersedia juga mendoan alaias tempe yang digoreng tepung tapi tak sampai kering, setengah matang, segelas teh manis dan di toples terlihat kacang kulit yang digoreng memakai pasir. Hmm……..seperti kembali ke dua puluh tahun yang lalu, saat aku masih kecil dan kerap kali diajak bapakku menengok si mbah ku.

Kedatangan ku kali ini sangat tidak pas waktunya, selain tak memberi kabar juga tak membawa buah tangan. Tapi sedikit ada rasa bersyukur, karena mereka sedang ada acara ke kerabat yang ada di Jogja.  Jadinya aku bisa menginap di motel. Bukan apa-apa ini adalah kunjunganku setelah dua puluh tahun berlalu.

“Mba ……..mmm……o iya…putranya pak Untung kan? “ seseorang mengenaliku rupanya, tapi siapa ya, aku mencoba mengingat- ingat tapi seperti biasa tak ingat sama sekali. Ini adalah keahlian nomor satu ku yang pernah membuat ku di jadikan sindiran oleh guru SMA ku dulu, karena aku tak mengingat sebanyak teman-teman yang lain dalam menghapal nama guru.

“Sekarang kamu berbeda, tinggal dimana , masih di Banjar?” pertanyaan yang memberondong seperti peluru saja, keluhku. Untung saja dia tampan, meski tak setampan artis, tapi memng tampan, dia masuk kategoriku.

“Aku tak tinggal lagi di Banjar, aku sekarang di Jakarta ikut suami.” Kulihat di mengangguk –angguk, entah apa yang disetujuinya. Ternyata dia pemilik warung soto ini, meski namanya warung seperti yang tertulis di papan nama didepan tadi, sesungguhnya lebih mirip disebut restoran, karena cukup besar dan megah.

Tetap saja tanpa menyebutkan nama dia memeberondong pertanyaan kearah ku, tanpa sungkan. Tapi siapa ya, pertanyaan itu terus berkecamuk, mata elang itu mengingatkan ku pada seseorang , tapi tetap saja masih abu-abu dan akhirnya kabur lenyap sama sekali. Dia bertanya banyak tentang kabar bapak ku, juga semua adik-adikku tanpa terkecuali.

Aku memang sengaja berkendara sendiri kemari, ingin bernostalgia sekaligus silahturahmi.Tapi ada apa dengan lelaki ini. “Aku sekarang jadi tukang sroto, Nur, setelah berganti-ganti nguli, rasanya lebih enak begini, tak ada yang memerintah, atau memang sifat ku yang tak suka diperintah sejak dulu,”  hmmm…aku pun tanpa sadar mengiyakan perkataannya.

Sroto plus lontong dan beberapa mendoan sudah lulus ujian ke mulut ku, mungkin sekarang sedang digilas asam-asam dilambungku, biarlah. Perutku sudah tak berteriak lagi, tapi mata elang ini membuat ku nyaman , enggan berajak berpamitan.

Apa kau mau mandi di pancuran seperti dulu, itu salah satu pertanyaan yang membuka sedikit clue kalau dia pernah tinggal di Berkoh. Tempat mandi dengan banyak pancuran dan banyak pengguna, dimana air gemericik sebatas lutut dibawahnya mengalir, ah jika ingat masa itu aku ingin selamanya tak beranjak dari sana. Tapi siapa ya orang ini
.
“Kau sendiri bukan, aku besok ada waktu mengajakmu berkeliling, tapi yang dekat jalan kaki saja ya, kalau udah cape baru kita mbecak seperti dulu?” aku mengiyakan saja sembari menyudahi sarapan pagi ku yang nikmat dan ajaib, bertemu mata elang yang misterius dan baik hati, dan tampan adalah bonus ,bukan.

Purwokerto memang penuhi hati ku, hingga kadang dulu aku selalu merasa ada keterikatan selain karena ada si mbahku juga makanannya dan dialeknya yang mendarah daging di tubuh ku meski aku berpindah ke Banjar.

Ternyat jalan jalan yang di janjikan sungguh sangat luar biasa setelah seharian aku mengurung diri di kamar hotel, aku diajak ke pancuran itu menikmati airnya meski aku tak mandi dan hanya mendengar celoteh mata elang itu tanpa satupun terlewati .  Aku menikmati semuanya dan ia hafal benar bagaimana dulu kami berebut buah duku , menungguinya di pagi hari. Semuanya tanpa terkecuali.
Sorenya aku diajak ke wisata Baturrraden, tapi tetap dengan kentianku akan rasa dingin , kami singgah tak bisa dihitung dengan jam, hanya beberapa menit saja. Ah, aku mengacaukan harinya. Mata elang itu semakin membuatku merasa ada sesuatu yang mengikatkku dengannya dulu.

Dia sangat lembut dan sangat mengenal ku, ketika aku terlihat lelah dan tak bisa menahan dingin, dia memberiku syal dan tersenyum seraya berkata, “Apanya yang Jakarta, kamu tetap Nur ku?” dia menyuruh ku beristirahat dan meminta karyawannya mengantarkan makanan ke hotel tempat ku menginap, karena letaknya bersebrangan.

Sebenarnya aku hendak ke Jogja hari ini, berpamitan pada si tampan misterius, tapi dia menahannya, “Nanti saja, aku ingin kita melakukan sedikit upacara kecil, karena dari kemarin aku melihat kamu ada sedikit perasaan kurang nyaman dan curiga kepada ku,” tegasnya tanpa menginginkan aku memilih ya atau tidak sama sekali.

Tanpa ba bi bu lagi…….ia memanggil pelayannya. Kulihat sepiring kudapan goreng tersusun disana. “Ini, kau ingat ini dan upacar pengantin kita waktu masih kecil?” jadi……..”kau…Tion….mas Tion?” Dia mengannguk, aku masih mengingat mu , mengingat semuanya, meski itu hanya permainan kita menirukan pengantin dewasa, begitu terangnya. “Dan ini temlek, makanan yang paling kau suka bukan?”Temlek terbuat dari ampas kedelai sisa pembuatan tahu yang dibumbui terus dicelupkan ke tepung dan di goreng. Aku menangis, aku ingt semuanya, saat Rina, Wati, Upi , Inung, Nanang dan beberapa teman kecilku dulu menjadikan kami pengantin kecil dan berjanji didepan gorengan temlek untuk menjadi sepasang kekasih.

“Aku menunggumu Nur, meski kau lama tak datang ke kota ini. Dan setiap bapakmu kemari aku berharap kau ikut. Tapi tak pernah ada. Dan aku bertahan sampai ku dengar kau menikah.”  Aku benar-benar menangis, ah……lelaki sebaik ini takkan pernah menjadi milikku, karena aku dan dia telah sama –sama terikat. Dan temlek itu tiba-tiba terasa pahit dilidah.

No comments:

Jual Keripik Tempe

Jual Keripik Tempe Sejarah mencatat, bahwa tempe adalah makanan yang telah menyelamatkan orang dari etnis Jawa hidup lebih lama dibanding ...