oleh Nurlaeli Umar (Catatan)
Sekolah
itu identik dengan buku, meski di Indonesia diawal sejarah modern tak
menggunakan daun lontar lagi atau batu, tetapi sabak tetap dihitung
sebagai buku tulis. Tentang buku sendiri, kitab-kitab daun lontar
karangan empu –empu ternama bukanlah barang langka. Terlalu banyak
cendikia, hingga berlanjut kekini.
Tetapi, kali ini ulangan sisulung, sedikit mengagetkanku. Dengan hasil nilai lima dimata studi IPA. Sepengetahuanku, dia bukan anak bodoh, beberapa event olympiade sains telah diikuti. Dan yang jelas sekali dia tak buta huruf.
“Kenapa nilaimu jeblok begini?” keluhku, masih dengan nada biasa saja, dia anak lelaki yang sedang dimasa pemberontakan, jadi aku berusaha tak menyerang.
“Susah, ma,” begitu sahutnya enteng tanpa ekspresi.
Sedikit tarik nafas dalam-dalam lalu ku ajari, jikalau tak buta huruf, tentunya belajar itu mudah. Karena yang dilakukan hanyalah membaca. Dan aku menjadi teman diskusi semenjak itu.
Terlihat mudah, memang. Bicara baik-baik dan praktekan. Tapi kali yang lain nilainya ada dipenghujung angka enam. Ini masalahnya. Ketika kutanya, berapa nilai yang lainnya, dia menjawab diatas delapan semua. Aku sedikit kaget, ketika ditelusuri ternyata, kami salah membahas materi. Huff….salah membaca bab yang diulangankan.
“Ma, tahu gak. Yang lain itu bukan karena pandai, tapi mencontek,” terangnya . Aku tak terkejut, ini biasa bukan. Mencontek menjadi biasa dan di biasakan tanpa tindakan tegas, hingga lahir orang –orang yang instan dalam kehidupan. Aku hanya ingin mengajarkan, hidup itu harus jujur, nilai rendah tak mengapa, tapi lebih bersyukur bila nilai bagus tapi jujur.
Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Baik itu kebaikan maupun keburukan.
Menghapus stigma, nilai harus bagus, berarti pendidikan berhasil, itu harus. Pendidikan itu luar dalam, nilai harus bagus dengan cara yang bagus. Mungkin dengan demikian, dikehidupan mendatang mereka yang menjadi generasi penerus, lebih baik dari sekarang.
Tetapi, kali ini ulangan sisulung, sedikit mengagetkanku. Dengan hasil nilai lima dimata studi IPA. Sepengetahuanku, dia bukan anak bodoh, beberapa event olympiade sains telah diikuti. Dan yang jelas sekali dia tak buta huruf.
“Kenapa nilaimu jeblok begini?” keluhku, masih dengan nada biasa saja, dia anak lelaki yang sedang dimasa pemberontakan, jadi aku berusaha tak menyerang.
“Susah, ma,” begitu sahutnya enteng tanpa ekspresi.
Sedikit tarik nafas dalam-dalam lalu ku ajari, jikalau tak buta huruf, tentunya belajar itu mudah. Karena yang dilakukan hanyalah membaca. Dan aku menjadi teman diskusi semenjak itu.
Terlihat mudah, memang. Bicara baik-baik dan praktekan. Tapi kali yang lain nilainya ada dipenghujung angka enam. Ini masalahnya. Ketika kutanya, berapa nilai yang lainnya, dia menjawab diatas delapan semua. Aku sedikit kaget, ketika ditelusuri ternyata, kami salah membahas materi. Huff….salah membaca bab yang diulangankan.
“Ma, tahu gak. Yang lain itu bukan karena pandai, tapi mencontek,” terangnya . Aku tak terkejut, ini biasa bukan. Mencontek menjadi biasa dan di biasakan tanpa tindakan tegas, hingga lahir orang –orang yang instan dalam kehidupan. Aku hanya ingin mengajarkan, hidup itu harus jujur, nilai rendah tak mengapa, tapi lebih bersyukur bila nilai bagus tapi jujur.
Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Baik itu kebaikan maupun keburukan.
Menghapus stigma, nilai harus bagus, berarti pendidikan berhasil, itu harus. Pendidikan itu luar dalam, nilai harus bagus dengan cara yang bagus. Mungkin dengan demikian, dikehidupan mendatang mereka yang menjadi generasi penerus, lebih baik dari sekarang.
No comments:
Post a Comment