
Sedikit membebani hati memikirkan arah angin hatimu
Kopi ini sama rasanya dengan bibirmu yang kukecup
Kurasa esok kau dapati aku mati terendam cintamu yang hitam
Bedebah, manteramu mantera sialan
Mataku merah mabuk
Yang kulihat hanya wajah cinta rombengmu
Sisa kucing jalanan yang muntah kekenyangan
Aku memunguti hina dalam buaian
Aku mati dengan senyum setulus bayi
Dan kau bernyanyi syair mati
Aku sudah kau upacarai sebelum tanah
dengan riang hati membangkai tubuhku
Kau, ini kah cinta? Terimakasih
Mana ujung jarimu
Biar kucium khidmat
No comments:
Post a Comment