“Aku rindu Bapakmu, bisakah dia pulang?”
Terlalu susah membujuk seorang lelaki yang dipanggilnya bapak untuk pulang, meski keadaan biyung sudah tidak ada harapan. Masih saja ditengah lemahnya daya, lelaki itu menghiasi hatinya. Seharusnya biyung melupakannya saja, toh ada anak-anaknya dan cucu juga cicit di sini menemaninya. Entah mungkin menurutnya kami masih kurang banyak, atau kurang lengkap tanpa dia.
“Apa dia sudah datang?”
Entah apa yang pantas untuk menegaskan bahwa kami telah berusaha membujuk untuk pulang. Lelaki itu masih betah berlama-lama tinggal di rumah madunya.
“Biyung, ini aku cucumu.”
“Kemari ndo, apa Biyung akan diberi hadiah ciuman olehmu?”
Kukecup punggung tangan biyung, lalu kucium kedua pipinya.
Aku tidak tahu apa yang terjadi, mengapa biyung selalu menanyakan mbah kakung. Padahal sudah lama dia tak kemari menemani, bahkan aku pun sudah lupa bagaimana rupanya.
“Mak, Bapak datang.”
Sebuah suara memecah kedukaan. Kulihat ibuku mendekatinya sambil meraba tangannya, memberikan tangan biyung kepada tangan mbah kakung. Mereka mirip dua kekasih yang malu-malu.
Air mata itu berlinang, mungkin biyung tak akan pernah bisa melihat wajah mbah kakung lagi. Tapi dengan tangannya dia bisa merasai lebih dari sekedar bertemu.
Senyum mengembang dari pucat wajahnya. Rona rindu dan bahagia menghiasi, mengusir segala cerita pedih yang pernah tertoreh. Cinta bisa menghapus seribu luka yang pernah ada.
“Pak, aku pulang. Temani aku hari ini.”
Semua tercekat, sedih melangit, duka melaut. Seorang ustadz yang dipanggil untuk menuntun mendekat. Dia membisikan doa menemani kesakitan saat berpulang.
Biyung telah pergi disaksikan kekasih hati. Cinta itu meredup indah seperti matahari terbenam. Selamat jalan biyung. Aku terharu menjadi saksi cinta yang berdiam di dada meski seribu luka mendera.
Jakarta, 24 Agustus 2013
No comments:
Post a Comment