Sunday, May 11, 2014

186.Tak Lekang




Oleh:  Nurlaeli Umar
Perempuan itu bernama ibu, dia yang melahirkan dan membesarkanku dengan cinta. Seorang perempuan desa sederhana yang terjebak di rumah meski  berpendidikan PGA. Dia menjadikan rumah tempat aku tinggal sebagai sekolah. Dia mendidik dengan penuh cinta dan kasih sayang. Umurnya kini telah tua, kerut di wajahnya tetap saja membuat aku menjulukinya wanita tercantik di dunia.

Aku suka masakannya, karena memanng berbeda, mungkin karena dia meraciknya antara ilmu dengan cinta, pandai menyulam dan pandai melantunkan tembang. Salawat yang dilantunkannya dengan langgam daerah membuat aku terlelap saat malam berselimut gelap.

Dia membuat aku mengenal banyak tentang hidup, dan menghadapi hidup dengan senyum, karena meski aku tahu hatinya sering kali patah karena ucapku dan tingkah burukku atau karena  kenyataan hidup, dia selalu saja memasang senyum tulus di wajahnya.

“Ibu tidak apa-apa, asap dari kayu membuat mataku berair,” begitu kilahnya ketika kutanya mengapa dia menangis.
“Mengapa ibu selalu berkata begitu? Aku tahu ibu menangis karena aku atau mereka.”
“Karena tangisan hanya perlu dinikmati sendiri, agar kaki kita melangkah lebih benar, dan hati kita lebih ikhlas.”
“Mengapa tidak mau berbagi denganku.”
“Nasihatku saja kau dengarkan, ambil yang menurutmu mamapu kau kerjakan, sedang dari melihat kau bisa dapatkan yang lainnya, tanpa harus ditusukkan ke matamu, karena kau anak ibu yang cantik dan salihah.”

Terkadang nasihat darinya membuatkku alergi masa itu, rangkuman katanya yang halus yang selalu mengingatkanku ketika aku bertingkah buruk. Nasihat itu terkadang seperti sembilu dan aku luka berdarah karenanya.  Wajah murung kutampakkan untuk sebuah penolakan, meski kaki tetap berada di jalur yang ditunjukkan. Aku kerap mengeluh hebat, dengan seribu keluh yang membuat aku mengemis mata yang melihat bersimpati atau sekadar membenarkan diri. Tapi apa lancung, aku malah semakin terkurung.

Ibu, aku pernah membenci semua kasih yang kaucurah lewat nasihatmu sebagai penghalang gerakku. Aku mencap dirimu tak punya kasih untukku.
Seiring waktu sadar itu menemuiku, mengetuk pintu hatiku. Semua yang kau beri adalah senjata di rimba hidup ini agar aku bisa berdiri di kakiku sendiri dan berlari menyongsong bahagia yang kucari.
“Nak, kau tak boleh begini dan begitu,” ucapmu penuh santun dan kasih.
“Tidak, ibu tidak pernah tahu aku dan keinginanku, ibu selalu saja menyalahkanku!” jawabku dengan nada menggelegar yang membuat langit hatimu runtuh. Hujan di pipimu tak kuhiraukan, aku tetap berlari dengan gagah menentang hari dengan caraku sendiri.

Senyum itu ibu, kurasa sangat berharga dan mendamaikan, ketika aku di sini, jauh darimu menghadapi kenyataan, apa lagi sekarang aku telah menjadi seperti dirimu seorang ibu.
Betapa dari senyummu dan keikhlasanmu aku belajar, tentang semuanya. Aku belajar mengerti tentang ketulusan, karena air mataku pun ternyata tumpah lebih ruah, mendapati anak-anakku tidak bersikap seburuk aku. Dia mewarisi senyummu, senyum yang membuat aku selalu rindu dan ingin bersimpuh di kakimu. Maafkan aku selalu melukai hatimu.

“Ibu, mengapa menangis setiap melihat aku tersenyum?”
“Karena kau mirip nenekmu, kau baik seperti beliau.”
“Tentu saja karena aku cucunya dan engkau ibuku. Pasti nenek orang yang baik sekali, karena engkau adalah ibu yang terbaik yang Tuhan beri untukku.”
Ibu, dengarlah ibu--anakku memujimu dan aku semakin rindu padamu. Kau yang memaafkan, kau mencintaiku dengan tulus, kau yang tidak tergoyahkan, aku pun akan berkata sama seperti anakku, “Ibu, aku bangga mempunyai ibu yang hebat sepertimu.”
 

No comments:

Jual Keripik Tempe

Jual Keripik Tempe Sejarah mencatat, bahwa tempe adalah makanan yang telah menyelamatkan orang dari etnis Jawa hidup lebih lama dibanding ...