Perempuan itu bernama ibu, dia yang melahirkan dan
membesarkanku dengan cinta. Seorang perempuan desa sederhana yang terjebak di
rumah meski berpendidikan PGA. Dia
menjadikan rumah tempat aku tinggal sebagai sekolah. Dia mendidik dengan penuh
cinta dan kasih sayang. Umurnya kini telah tua, kerut di wajahnya tetap saja
membuat aku menjulukinya wanita tercantik di dunia.
Aku suka masakannya, karena memanng berbeda, mungkin karena
dia meraciknya antara ilmu dengan cinta, pandai menyulam dan pandai melantunkan
tembang. Salawat yang dilantunkannya dengan langgam daerah membuat aku terlelap
saat malam berselimut gelap.
Dia membuat aku mengenal banyak tentang hidup, dan
menghadapi hidup dengan senyum, karena meski aku tahu hatinya sering kali patah
karena ucapku dan tingkah burukku atau karena
kenyataan hidup, dia selalu saja memasang senyum tulus di wajahnya.
“Ibu tidak apa-apa, asap dari kayu membuat mataku berair,”
begitu kilahnya ketika kutanya mengapa dia menangis.
“Mengapa ibu selalu berkata begitu? Aku tahu ibu menangis
karena aku atau mereka.”
“Karena tangisan hanya perlu dinikmati sendiri, agar kaki
kita melangkah lebih benar, dan hati kita lebih ikhlas.”
“Mengapa tidak mau berbagi denganku.”
“Nasihatku saja kau dengarkan, ambil yang menurutmu mamapu
kau kerjakan, sedang dari melihat kau bisa dapatkan yang lainnya, tanpa harus
ditusukkan ke matamu, karena kau anak ibu yang cantik dan salihah.”
Terkadang nasihat darinya membuatkku alergi masa itu,
rangkuman katanya yang halus yang selalu mengingatkanku ketika aku bertingkah
buruk. Nasihat itu terkadang seperti sembilu dan aku luka berdarah
karenanya. Wajah murung kutampakkan
untuk sebuah penolakan, meski kaki tetap berada di jalur yang ditunjukkan. Aku
kerap mengeluh hebat, dengan seribu keluh yang membuat aku mengemis mata yang
melihat bersimpati atau sekadar membenarkan diri. Tapi apa lancung, aku malah
semakin terkurung.
Ibu, aku pernah membenci semua kasih yang kaucurah lewat
nasihatmu sebagai penghalang gerakku. Aku mencap dirimu tak punya kasih
untukku.
Seiring waktu sadar itu menemuiku, mengetuk pintu hatiku.
Semua yang kau beri adalah senjata di rimba hidup ini agar aku bisa berdiri di
kakiku sendiri dan berlari menyongsong bahagia yang kucari.
“Nak, kau tak boleh begini dan begitu,” ucapmu penuh santun
dan kasih.
“Tidak, ibu tidak pernah tahu aku dan keinginanku, ibu
selalu saja menyalahkanku!” jawabku dengan nada menggelegar yang membuat langit
hatimu runtuh. Hujan di pipimu tak kuhiraukan, aku tetap berlari dengan gagah
menentang hari dengan caraku sendiri.
Senyum itu ibu, kurasa sangat berharga dan mendamaikan,
ketika aku di sini, jauh darimu menghadapi kenyataan, apa lagi sekarang aku
telah menjadi seperti dirimu seorang ibu.
Betapa dari senyummu dan keikhlasanmu aku belajar, tentang
semuanya. Aku belajar mengerti tentang ketulusan, karena air mataku pun ternyata
tumpah lebih ruah, mendapati anak-anakku tidak bersikap seburuk aku. Dia
mewarisi senyummu, senyum yang membuat aku selalu rindu dan ingin bersimpuh di
kakimu. Maafkan aku selalu melukai hatimu.
“Ibu, mengapa menangis setiap melihat aku tersenyum?”
“Karena kau mirip nenekmu, kau baik seperti beliau.”
“Tentu saja karena aku cucunya dan engkau ibuku. Pasti nenek
orang yang baik sekali, karena engkau adalah ibu yang terbaik yang Tuhan beri
untukku.”
Ibu, dengarlah ibu--anakku memujimu dan aku semakin rindu
padamu. Kau yang memaafkan, kau mencintaiku dengan tulus, kau yang tidak
tergoyahkan, aku pun akan berkata sama seperti anakku, “Ibu, aku bangga
mempunyai ibu yang hebat sepertimu.”
No comments:
Post a Comment