Asap kretek yang kausesap batuk dari
kerongkonganmu
terasa menukik nadanya
di telingaku. Parau tangismu sisa
semalam, sisakan isak yang menjadi sedemikian sesak. Mungkin
pagi butuh sedikit
terasa menukik nadanya
di telingaku. Parau tangismu sisa
semalam, sisakan isak yang menjadi sedemikian sesak. Mungkin
pagi butuh sedikit
jendela, seperti kakimu yang mencari
jeda dari tanya. Tentang
arah yang akan kautuju setelah ini.
Berpuluh kalimat kaujejalkan di dinding
hati yang mulai berlubang, rindu aku menyebutnya itu.
arah yang akan kautuju setelah ini.
Berpuluh kalimat kaujejalkan di dinding
hati yang mulai berlubang, rindu aku menyebutnya itu.
Kalimat yang bersayap yang
menangguhkan
harap, menahan jatuhmu pada cinta.
Asap kretekmu melukis wajah gelisah, kau mengejanya
yang terbaca hanya sebuah wajah yang tak bisa dihapus
harap, menahan jatuhmu pada cinta.
Asap kretekmu melukis wajah gelisah, kau mengejanya
yang terbaca hanya sebuah wajah yang tak bisa dihapus
bahkan semakin hari semakin lekat di
matamu
sampai kau hafal
lekuk dan mampus , meski
kau sudah merendah untuk tak gundah.
sampai kau hafal
lekuk dan mampus , meski
kau sudah merendah untuk tak gundah.
Kemarahanmu di pucuk rindu
mematahkan
semua angkuh yang kau bangun, sebab cinta
adalah peluk hangat ketika sepi
mulai bernyanyi dan suara burung telah pergi.
Kemari atau aku akan menemuimu, bisikmu di akhir pasrah.
Jakarta 22715
semua angkuh yang kau bangun, sebab cinta
adalah peluk hangat ketika sepi
mulai bernyanyi dan suara burung telah pergi.
Kemari atau aku akan menemuimu, bisikmu di akhir pasrah.
Jakarta 22715
.
Ketika sunyi menjadi api, aku terbakar cemburu untuk segera mati
Mungkin perjalanan memang terkadang mendaki, tapi terkadang lelah juga ikut
mendaki bersama, lalu terbang meninggi tak hinggap, bahkan lupa untuk kembali menjejak
Ketika sunyi men jadi api, aku mengabu sebelum lepuh
Jakarta, 10915
Berhentiku di Dirimu
Oleh: Nurlaeli Umar
Kutapaki musim,
terkadang sedikit berangin, terkadang sedikit membunuh. Matahari selalu saja
membuatku ingin dalam rengkuh. Pada doa paling puja, nadiku berseru, kelak ada
perhentian yang menuntas.
Aku mengetuk pintu pada
bunga, wanginya menguar merona. Jingga yang kepayang. Satu persatu langkahku
semakin terpuruk pada pinta paling teduh. Aku menikmati.
Tak ada yang benar-benar tak ingin termiliki, seperti emas
di kemilaunya dan kasturi yang berlompatan di udara menebar segala gempita
aroma, dia menyatu.lalu kukatakan ini cinta.
Berhentiku di dirimu
setelah perjalanan begitu melelahkan dengan seribu kisahnya. Bunga pertama
seperti Kahlil Ghiran pada mawarnya.
Jakarta, 21115
Tentang Kesepian
Oleh: Nurlaeli Umar
Mungkin kau tidak pernah mengetahui dengan benar, jika aku membacamu benar-benar. Tentang senyummu yang tawar, tentang malam yang coba kauceritakan dengan bingar. Tentang rasa sakit yang menjadikan lidahmu pahit, tentang seseorang yang pergi dan tak akan kembali.
Laut itu tak berperahu, kaubercerita tentang pelabuhan-pelabuhan tanpa jeda, rasi bintang penunjuk, ikan-ikan dan menantikan matahari, lalu tentang ombak dan karang yang tak pernah kautempuhi.
Aku membacamu benar-benar. Lalu luka-lukamu menjadi luka-lukaku. Tapi kau mengulang lagi cerita yang sama pada dahan-dahan, pada daun-daun, sampai lelah, sampai hatimu benar-benar patah. Dan kau tak pernah tahu bagaimana aku mampu menjadi telinga bagimu. Kesepian membuatu menjadi sepi, yang membunuhku. Benar-benar.
Oleh: Nurlaeli Umar
Mungkin kau tidak pernah mengetahui dengan benar, jika aku membacamu benar-benar. Tentang senyummu yang tawar, tentang malam yang coba kauceritakan dengan bingar. Tentang rasa sakit yang menjadikan lidahmu pahit, tentang seseorang yang pergi dan tak akan kembali.
Laut itu tak berperahu, kaubercerita tentang pelabuhan-pelabuhan tanpa jeda, rasi bintang penunjuk, ikan-ikan dan menantikan matahari, lalu tentang ombak dan karang yang tak pernah kautempuhi.
Aku membacamu benar-benar. Lalu luka-lukamu menjadi luka-lukaku. Tapi kau mengulang lagi cerita yang sama pada dahan-dahan, pada daun-daun, sampai lelah, sampai hatimu benar-benar patah. Dan kau tak pernah tahu bagaimana aku mampu menjadi telinga bagimu. Kesepian membuatu menjadi sepi, yang membunuhku. Benar-benar.
Setangkai Harapan
Oleh: Nurlaeli Umar
Pernah aku menabur bibit-bibit pelangi, hingga tunasnya bernama kamu. Lalu hujan menjadi begitu iri, dia tak ingin matahari. Tanyakan kepadanya jika bertemua dengannya suatu hari nanti: berapa senyum yang harus diletakan pada piring saji untuk bahagia?
Kuncup-kuncup itu adalah matamu yang bening,menawarkan padaku tentang setia. Bukankan tidak perlu bersama untuk menjadi cinta? Kau selalu saja berucap jika kau sungguh-sungguh.
Setangkai harapan itu benar-benar luruh, ketika aku bisa membaca sebuah anggukan kepala. Kau sudah fasih tentang selingkuh. Aku tak boleh berada satu hitungan langkah bersamamu? Tidak, aku tak perlu bertanya. Mungkin aku menabur di ladang yang salah.
Oleh: Nurlaeli Umar
Pernah aku menabur bibit-bibit pelangi, hingga tunasnya bernama kamu. Lalu hujan menjadi begitu iri, dia tak ingin matahari. Tanyakan kepadanya jika bertemua dengannya suatu hari nanti: berapa senyum yang harus diletakan pada piring saji untuk bahagia?
Kuncup-kuncup itu adalah matamu yang bening,menawarkan padaku tentang setia. Bukankan tidak perlu bersama untuk menjadi cinta? Kau selalu saja berucap jika kau sungguh-sungguh.
Setangkai harapan itu benar-benar luruh, ketika aku bisa membaca sebuah anggukan kepala. Kau sudah fasih tentang selingkuh. Aku tak boleh berada satu hitungan langkah bersamamu? Tidak, aku tak perlu bertanya. Mungkin aku menabur di ladang yang salah.
Cukup Aku Saja yang Hitam
Oleh: Nurlaeli Umar
Jangan sembunyikan aku, Kang! Katakan saja aku akan datang jika semua mata terpejam. Aku yang meninabobokan semua lelah, semua patah. Aku yang membawa sebuah cahaya ke dalam matamu.
Jangan sembunyikan aku, Kang! Akui saja jika kau harus mematikan semua cahaya agar bisa menemuiku. Aku yang membuatmu terlihat terang, aku yang membuatmu tenang.
Jangan sembunyikan aku, Kang! Biar aku di sini membuat sepi, menyayikan lagu sepi, dan menjadi sepi. Sendiri, sendiri.
Oleh: Nurlaeli Umar
Jangan sembunyikan aku, Kang! Katakan saja aku akan datang jika semua mata terpejam. Aku yang meninabobokan semua lelah, semua patah. Aku yang membawa sebuah cahaya ke dalam matamu.
Jangan sembunyikan aku, Kang! Akui saja jika kau harus mematikan semua cahaya agar bisa menemuiku. Aku yang membuatmu terlihat terang, aku yang membuatmu tenang.
Jangan sembunyikan aku, Kang! Biar aku di sini membuat sepi, menyayikan lagu sepi, dan menjadi sepi. Sendiri, sendiri.