oleh Nurlaeli Umar (Catatan)
Terbunuh
Kata itu seperti sedang menungguku didepan pintu
Aku bisa saja menangis seperti rinai itu
Atau bahkan melarikan diri
Berjanji takkan melewati pintu itu sama sekali
Aku menunggu sayangmu
Hinggap di kelopak rintihku
Mencecap sedikit racunku
Tidak untuk mati
Tapi menemaniku hingga terbunuh
Bisakah sedikit waktu tuk kuhabiskan pelan-pelan
Seperti berondong berkelas
Yang kau bawa ketika kita menikmati rasa
Dulu
Diantara pengap pengunjung bioskop tua
Aku terlalu banyak bermetafora
Sudah temani aku saaf aku terbunuh nanti
Dan kuharamkan air matamu
Bukankah kau bahagia
Aku menunggu sayangmu
Berikan saja walau berstempel pura-pura
No comments:
Post a Comment