
oleh Nurlaeli Umar (Catatan)
Pada pagi kuceritakan padamu
Tentang kuntum doa
Sebening embun sesejuk wangi udara
Yang kan basuhi jiwa ragamu
Pada siang kuceritakan padamu
Tentang lelah dan keringat
Berbaur tarian matahari
Dimana keikhlasan menyusup pada setiap sisi
Pada sore kuceritakan padamu
Tentang senja pada goresan tinta para pujangga
Bidadari yang menyambutmu dengan kidung cinta
Mengantarmu pada syukur
Dan jingga semerona para gadis pemetik harpa
Pada malam kubercerita
Tentang rasa damai dan selimut hangat
Mulut mulut penuh kesucian
Hati yang berbalut kehambaan
Dan syukur yang tak bertepi pada hati dan cumbuan sepi
Esok aku akan tetap bercerita
Mungkin cerita yang sama
Berulang dan menjemukan
Atau kadang terdengar melambungkan
Sedikit rinai atau bahkan hanya bergelayut diujung mata
Maukah kau mendengarnya
Kuharap esok aku dan kau masih punya hari
Sesekali kau boleh bergantian atau pura-pura mendengarkan
Tentang kuntum doa
Sebening embun sesejuk wangi udara
Yang kan basuhi jiwa ragamu
Pada siang kuceritakan padamu
Tentang lelah dan keringat
Berbaur tarian matahari
Dimana keikhlasan menyusup pada setiap sisi
Pada sore kuceritakan padamu
Tentang senja pada goresan tinta para pujangga
Bidadari yang menyambutmu dengan kidung cinta
Mengantarmu pada syukur
Dan jingga semerona para gadis pemetik harpa
Pada malam kubercerita
Tentang rasa damai dan selimut hangat
Mulut mulut penuh kesucian
Hati yang berbalut kehambaan
Dan syukur yang tak bertepi pada hati dan cumbuan sepi
Esok aku akan tetap bercerita
Mungkin cerita yang sama
Berulang dan menjemukan
Atau kadang terdengar melambungkan
Sedikit rinai atau bahkan hanya bergelayut diujung mata
Maukah kau mendengarnya
Kuharap esok aku dan kau masih punya hari
Sesekali kau boleh bergantian atau pura-pura mendengarkan
No comments:
Post a Comment