oleh Nurlaeli Umar (Catatan)
aku menggigil kala mentari mengucap salam pembuka
adakah hari menjadi hujan sementara rinai gerimis memberi pertanda
bersama mentari yang menyapa
dan hati menjadi bertanya dalam harap yang tak terduga
tiga butir tangis langit jatuh dipelupuk mata
semakin membuat bimbang hati yang gemintang
duhai jingga langit yang birunya menghujam
derap rindu menyusup semakin dalam
aku yang tenggelam dalam rasa dan menghitung tetesnya
sebuah cinta yang pergi kemarin disenja
terasa sakitnya dan luka tak terperi
dan pagi ini mawarku layu dalam bimbang
aku bahkan tak ingin tahu
atau bagiku sama saja...hujan atau gerimis
bahkan mentari menari
aku hanya rindu kemarin....meski ia takkan pernah menjadi hari ini lagi
dalam derai pagi
aku menghaturkan rasa rindu pelangi
biar biasnya mengurai rindu dendamku menjadi syahdu
aku kangen kamu ujarku pada kemarin di derai pagi
adakah hari menjadi hujan sementara rinai gerimis memberi pertanda
bersama mentari yang menyapa
dan hati menjadi bertanya dalam harap yang tak terduga
tiga butir tangis langit jatuh dipelupuk mata
semakin membuat bimbang hati yang gemintang
duhai jingga langit yang birunya menghujam
derap rindu menyusup semakin dalam
aku yang tenggelam dalam rasa dan menghitung tetesnya
sebuah cinta yang pergi kemarin disenja
terasa sakitnya dan luka tak terperi
dan pagi ini mawarku layu dalam bimbang
aku bahkan tak ingin tahu
atau bagiku sama saja...hujan atau gerimis
bahkan mentari menari
aku hanya rindu kemarin....meski ia takkan pernah menjadi hari ini lagi
dalam derai pagi
aku menghaturkan rasa rindu pelangi
biar biasnya mengurai rindu dendamku menjadi syahdu
aku kangen kamu ujarku pada kemarin di derai pagi
No comments:
Post a Comment