oleh Nurlaeli Umar (Catatan)
sayup terdengar seperti merintih akan sebuah duka
angin yang mendatangiku lamat lamat hingga ke terangnya
tapi kusia sia membacanya karena ketumpulan rasaku
yang terbebani perih sendiri dan berujung tak peduli
maaf
sesalku tak berujung meski kucoba berhenti
rasa yang kau beri terbaca sedikit melukai
mungkin cintamu terlalu berlebih dan aku terbata membacanya
jangan membenciku
bila pelangi dibinar matamu tak bisa kulihat
karena aku berpaling dan memilih menundukan mata
aku tersilau karenanya sungguh
mengertilah...aku tak sepandai kau kira
membaca arah anginmu sungguh aku tak bisa
aku terlalu takut rasaku turut
menghilang bersama pergimu
dan tinggalkan sunyi pada malam gelapku
pada angin kali ini kubicara tentang angin yang kau beri
aku memilih pergi meninggalkan semua
karena sejujurnya aku takut kau jatuh cinta
dan aku membalasnya
tentang angin kali ini
aku tak mau mencoba tuk menyapanya dan mu
aku memilih diam seribu basa
agar tak ada lagi yang terluka
angin yang mendatangiku lamat lamat hingga ke terangnya
tapi kusia sia membacanya karena ketumpulan rasaku
yang terbebani perih sendiri dan berujung tak peduli
maaf
sesalku tak berujung meski kucoba berhenti
rasa yang kau beri terbaca sedikit melukai
mungkin cintamu terlalu berlebih dan aku terbata membacanya
jangan membenciku
bila pelangi dibinar matamu tak bisa kulihat
karena aku berpaling dan memilih menundukan mata
aku tersilau karenanya sungguh
mengertilah...aku tak sepandai kau kira
membaca arah anginmu sungguh aku tak bisa
aku terlalu takut rasaku turut
menghilang bersama pergimu
dan tinggalkan sunyi pada malam gelapku
pada angin kali ini kubicara tentang angin yang kau beri
aku memilih pergi meninggalkan semua
karena sejujurnya aku takut kau jatuh cinta
dan aku membalasnya
tentang angin kali ini
aku tak mau mencoba tuk menyapanya dan mu
aku memilih diam seribu basa
agar tak ada lagi yang terluka
No comments:
Post a Comment