Oleh : Nurlaeli Umar
"Tolong dicuci yang bersih!" Suara si Lelaki terdengar angkuh.
... "Iya, insyaallah tenang saja Bos," ujar mas Karyo meyakinkan.
Mas Karyo tidak banyak bicara, meski dia hanya orang desa juga miskin, dia paham benar bahwa pelanggan adalah raja.
"Bu, tolong belikan shampo yang agak mahal sedikit, itu temanmu yang sudah sukses, mobilnya mau Bapak cuci," ujar mas Karyo sambil menyerahkan dua lembar uang ribuan.
Si Istri dengan cepat pergi ke warung terdekat, dia masih ingat, Lelaki yang membawa mobil ke tempat cuci mobilnya yang sederhana itu, adalah adik kelasnya. Yang pandai, tekun, dan ramah. Si Istri juga masih ingat, bagaimana dulu dia suka membantu membelikan alat tulis sekolah, karena kondisi ekonomi si Lelaki itu jauh lebih buruk dari kondisinya sekarang.
Mobil sudah bersih, tampak sekali mas Karyo profesional dengan pekerjaannya itu. Meski bermodalkan shampo rambut dan lap kain, serta air sanyo, itu pun bukan dengan mesin keluaran terbaru, tetapi hasilnya benar-benar memuaskan.
Mobil diambil si Pemilik tanpa memberi satu rupiah pun. Mas Karyo tidak gusar, sudah kebiasaan demikian. Biasanya si Pemilik mengambil uang dulu di rumahnya, atau sekedar ke warung untuk membeli beberapa batang rokok, alasannya upah yang diminta mas Karyo sangat murah, jauh dari upah yang mesti dibayarkan jika mereka mencuci mobil di jalanan arah ke kota.
Merasa sudah sore, dan si Istri mendesak untuk memberinya uang membeli lauk, mas Karyo mendatangi rumah si Lelaki yang berjarak hanya beberapa rumah saja. Si Lelaki, sedang berkunjung ke rumah orang tuanya, mungkin ingin berlebaran di kampung saja.
"Assalamualaikum," mas Karyo mengucap salam, dan benar saja ada yang menjawab dari dalam, lalu keluar menemuinya.
Karena, tidak dipersilahkan masuk, dan kebetulan yang keluar adalah si Lelaki itu, maka diutarakanlah maksud kedatangannya.
Bukan uang yang didapat, tetapi tudingan kejam. Alasannya, beberapa barang di mobilnya hilang.
" Kamu mencuci seribu mobil pun, tak bisa melunasi jumlahnya!" Begitu bentak si Lelaki.
Mas Karyo meyakinkan ketidaktahuannya tentang barang yang hilang itu, melihat bentuknya pun tidak, apalagi mencurinya. Sampai-sampai mas Karyo bersumpah atas nama Tuhan pun tidak membuat percaya si Lelaki itu.
Mas Karyo pulang dengan air mata, dia ikhlas sepenuhnya, apalagi Ramadhan sebentar lagi usai. Dia tidak ingin merugi dua kali, setelah kecewa dan sedih, dia tidak ingin hatinya mengotori puasanya dengan dendam.
Itu kejadian yang ingin dia lupakan, mungkin juga si Lelaki itu. Karena setelah lebaran usai, terdengar kabar dalam perjalanan pulang ke kota, si Lelaki mendapat kecelakaan, yang tentu saja biayanya tidak akan pernah terbayar, meski mas Karyo mencuci seribu mobil sekalipun.
No comments:
Post a Comment