
Bagi anak-anak seusia anak SD, among-among adalah pesta yang menyenangkan. Meski sekarang jarang ditemui, namun sesekali masih ada keluarga yang melakukan pesta ini.
"Mama, ganti baju yang bagus dan sepatu, kata Mbah Putri ada among-among." Begitu rajuk si bungsu, sedikit membuatku tertawa.
"Tidak perlu, Cantik," sambil kubelai rambutnya yang lama panjang, dan sering membuatnya bertanya, "kamu cukup memakai baju ini, masih bersih, bukan ... dan cukup memakai sendal."
Setelah setuju, kubiarka dia pergi bersama teman barunya, kali ini aku sekeluarga sedang berlibur di kampung kelahiranku. Yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat, tepatnya di pesisir Kabupaten Ciamis. Meski begitu tapi nuansa Jawa Tengah lebih dominan.
Aku ingin dia menikmati sesuatu yang berbeda, dan pasti bisa ditebak dua hari tak cukup baginya untuk bercerita.
Among-among adalah pesta dengan undangan anak-anak balita sampai remaja. Adapun orang yang dewasa atau yang tua biasanya hanya ikut bergembira. Acaraseperti ini banyak dilakukan oleh masyarakat didaerah yang jaman dahulu disebut Karsidenan Banyumas. Atau lebih dikenal dengan daerah orang berbahasa Jawa Ngapak. Meliputi daerah Purwokerto, Banyumas, Tegal, Kroya, Kabupaten Cilacap dan pesisir Kabupaten Ciamis yang berbatasan dengan Kabupaten Cilacap.
Pesta ini pesta makan, makanan ditaruh di atas nampan, bisa satu atau lebih, dan dibawahnya ada baskom berisi uang, air sumur dan daun dadap.
Hidangan yang tersaji di nampan, khas sekali, terdiri dari: nasi kuning, urap atau lalapan, kacang kedelai hitam goreng, dan ayam goreng.
Pesta dimulai dengan membaca doa, karena pesta ini diadakan sebagai bentuk syukur atas anak balita mereka, bisa sembuh dari sakit atau bisa berjalan atau karena nadzar atas balita mereka. Biasanya dilakukan pada hari kelahiran disesuaikan dengan pasarannya, entah itu, Wage, Kliwon, Pon, atau Pahing.
Tentu saja sebelumnya mereka antri tuk cuci tangan.
Pesta makan dimulai usai berdoa, mereka makan bersama dalam satu nampan, dan seringkali seperti berebut, dan inilah seninya. Mereka tertawa, dan makan bersama. Indah sekali.
Seusai makanan habis, mereka berdoa kembali. Dan ini acara yang ditunggu, mereka mencuci tangan bersama sambil mengambil kepingan uang logam.
Benar saja, satu jam sudah lewat, kudengar teriakan si bungsu, "Mama, aku pulang, aku dapat lima ribu, hore ... hore ...."
Ekspresi yang sama, seperti aku dan anak lainnya, sekitar tiga puluh tahun lalu.
No comments:
Post a Comment