oleh Nurlaeli Umar (Catatan) pada 29 Mei 2012 pukul 14:59
oleh Nurlaeli Umar pada 2 Agustus 2011 pukul 10:28 ·
gadis lugu itu sekarang menjadi ibu
dan laki2 yang ditunggu...hingga pagi menjelang...adalah satu2nya cinta yg ia tahu..
mesti sampai air mata darahkah agar kekasihnya itu tahu...tiap detik merindu..
mengeluh...merindu...perlahan terbang..juga cemburu…..doa yg penuh pengharapan dirasakannya seperti pembiasaan...agar kekasihnya pulang sekedar berbincang atau menghabiskan malam...jika berkenan...
tangisan anak2 kelaparan dan minta jajan..membuat hati...tangan...dan raga ringkihnya sekuat baja...ia lelah mengeluh dan menangis...
lima tahun dengan penolakan dan penghinaan sebagai perempuan....cukup...dan perempuan bodoh itu bertahan karena ia adalah seorang istri.....
waktu berlalu...bahkan udara pun bukan yg dulu...kekasih si lugu...yg menghabiskan hidup hanya untuk berburu..dari satu ke satu yang lain..tak hanya terpuruk...tapi ia terkapar...mati segan hidup tak mau..
lugu....itu merk jaman dulu...puuuh..
dengan stempel istri tukiyem merawat suami..dengan kasih dan senyum....sungguh menakutkan..
senyum tanpa nyawa dari jiwa yg terluka...bahkan terlihat membusuk..
tak ada keluhan...bahkan tangispun di tabukan...
sampai suatu saat ...lelaki itu mengumpah...karena ia lapar..dan tukiyem sibuk membujuk sibungsu...anak keenamnya...
tukiyem...tukiyem malang...baginya setia itu sampai mati...dan mati itu dirasakannya lima tahun terakhir ini...ketika udara berubah dan suaminya larut didalamnya....
si lugu...mendekati suaminya ...dia tersenyum dan berbisik....
sayang...kemana saja selama ini....kita sudah menjadi berdelapan...simpan sumpah serapahmu....kemana rindu yg kutitip dihatimu..kau bagibagikan...kemana cinta yg sepenuh hati ku persembahkan...kau buang di ujung jalan....lihat mataku...lihat senyukku...aku memang istrimu...tapi aku bukan silugu yg dungu...kau...hanya anak kecil...hidupmu hanya untuk berburu dan tertawa....selama kau luka dan kau sakit...aku akan merawatmu...sebagai seorang istri dan manusia ....setelah sembuh...kita selesaikan semua baik2 dan enyahlah dari kami....kabari jika kau mati
suami itu..tak pantas disebut suami tukiyem sekalipun....
matanya nanar...terlalu banyak yg berkecamuk..tukiyem yg kukenal..bukan tukiyem yg dulu....meski senyum dan setianya tetap sama...
masa yg terlewat tak memberikan pembelaan sedikitpun...
hanya segunung sesal...selaut sedih...selangit ampunan pada TUHAN...
dan dia berbisik ...TUHAN beri aku mati saja
No comments:
Post a Comment