oleh Nurlaeli Umar (Catatan)
mengapa tak dingin
padahal angin begitu sayu
dan daun daun menggigil
mengapa
begitu ingin
harap ku sampai kepada mu
sedang angin enggan menjamah
dan rindu tak lagi tersisa
aku mengais selayak pungguk
dan bulan tertutup awan
sombong dan menghilangkan jejak
gerimis pagi
secangkir kopi
dan mawar yang mulai mengering
dan pudar
pucat pasi
aku terus saja bermimpi
padahal hari sudah berganti
dan kau menghilang
berlari
berganti hati
bicaraku pada gerimis pagi
elegi yang ku cipta sendiri
dari segenap hati
yang merindu dan enggan mengendap
terlarut sepi
sepi dan sunyi
ku harap tak sampai mati
rindu pada ...........purnama hati
padahal angin begitu sayu
dan daun daun menggigil
mengapa
begitu ingin
harap ku sampai kepada mu
sedang angin enggan menjamah
dan rindu tak lagi tersisa
aku mengais selayak pungguk
dan bulan tertutup awan
sombong dan menghilangkan jejak
gerimis pagi
secangkir kopi
dan mawar yang mulai mengering
dan pudar
pucat pasi
aku terus saja bermimpi
padahal hari sudah berganti
dan kau menghilang
berlari
berganti hati
bicaraku pada gerimis pagi
elegi yang ku cipta sendiri
dari segenap hati
yang merindu dan enggan mengendap
terlarut sepi
sepi dan sunyi
ku harap tak sampai mati
rindu pada ...........purnama hati
No comments:
Post a Comment