oleh Nurlaeli Umar (Catatan) pada 3 Maret 2012 pukul 13:13
indah meski maya
dan terasa melangut dibuatnya
kau melukis latar dengan warna gelap
dan mencoreti setiap terang yang tersisa
seakan hidup ku tak bertahan untuk menit kemudian
padahal hari terasa menguap
dan lelah kaki berpadu hati
menjelajah mencari sesal yang tertinggal
di kumuhnya miskin dan sedihnya sebuah perih
aku mencoba menerka setiap hitam
dan mencermati langkahmu
bila kau pendarkan lagi mendung di langit hati
dan gelap sudut mataku terasa ringan
melayangkan rasa
hingga hati bergumam
aku tak ingin beranjak
dan tenpatkan hati ku pada hidup mu
meski itu tak mungkin
keman senyummu berlari
dan bersembunyi
mati seakan
mematahkan semua mimpi maya kita
dan puisimu menangis di sudut senja
jangan berpaling kekasih dari sinaran bulan
aku kan memunguti bayangamu
dari sisi gelapku
kemana senyummu yang indah itu
yang usir segala sendu meski kadang tak bisa
dan hanya berpura pura pergi
dan hadir kembali
ketika nyata menyapaku dalam perihnya
senyummu.berikan padaku
meski esok matahari
enggan menyapa ku dan mengusir ku pergi
jangan menangis untukku
aku yakin aku takkan mati esok pagi
entah kalau esoknya lagi
tersenyum untukku
bisakah
dan terasa melangut dibuatnya
kau melukis latar dengan warna gelap
dan mencoreti setiap terang yang tersisa
seakan hidup ku tak bertahan untuk menit kemudian
padahal hari terasa menguap
dan lelah kaki berpadu hati
menjelajah mencari sesal yang tertinggal
di kumuhnya miskin dan sedihnya sebuah perih
aku mencoba menerka setiap hitam
dan mencermati langkahmu
bila kau pendarkan lagi mendung di langit hati
dan gelap sudut mataku terasa ringan
melayangkan rasa
hingga hati bergumam
aku tak ingin beranjak
dan tenpatkan hati ku pada hidup mu
meski itu tak mungkin
keman senyummu berlari
dan bersembunyi
mati seakan
mematahkan semua mimpi maya kita
dan puisimu menangis di sudut senja
jangan berpaling kekasih dari sinaran bulan
aku kan memunguti bayangamu
dari sisi gelapku
kemana senyummu yang indah itu
yang usir segala sendu meski kadang tak bisa
dan hanya berpura pura pergi
dan hadir kembali
ketika nyata menyapaku dalam perihnya
senyummu.berikan padaku
meski esok matahari
enggan menyapa ku dan mengusir ku pergi
jangan menangis untukku
aku yakin aku takkan mati esok pagi
entah kalau esoknya lagi
tersenyum untukku
bisakah
No comments:
Post a Comment