oleh Nurlaeli Umar
mengulur benang
merenda senja yang mulai menjingga
mega mulai merona
hingga gelap mengedip
dan mengatakan iya
semburat berganti gelap
dan rindu masih tergantung di cemara
menunggu purnama
sambil menghitung bintang
semua rasa menjadi serupa serunai
memanggil jiwa tuk bercumbu
berlomba dengan malam
yang tergesa menjemput pagi
arti hadirku tersaput fajar baru
kau hanya mengingatku kala gelap mu
mentari seakan memberi arti
aku harus hengkang kala mata mu berseri
apa arti hadirku hanya pelarian mimpi
kala dia menyepi dan sendiri
hingga kau sekenanya
menepis semua rasa yang ku beri
dan memenggilku kembali kala malam menghantui
aku...lilin penerang mu
kala purnama enggan menampakan diri
saja dan saja
begitukah....hmmmm...lumayan
merenda senja yang mulai menjingga
mega mulai merona
hingga gelap mengedip
dan mengatakan iya
semburat berganti gelap
dan rindu masih tergantung di cemara
menunggu purnama
sambil menghitung bintang
semua rasa menjadi serupa serunai
memanggil jiwa tuk bercumbu
berlomba dengan malam
yang tergesa menjemput pagi
arti hadirku tersaput fajar baru
kau hanya mengingatku kala gelap mu
mentari seakan memberi arti
aku harus hengkang kala mata mu berseri
apa arti hadirku hanya pelarian mimpi
kala dia menyepi dan sendiri
hingga kau sekenanya
menepis semua rasa yang ku beri
dan memenggilku kembali kala malam menghantui
aku...lilin penerang mu
kala purnama enggan menampakan diri
saja dan saja
begitukah....hmmmm...lumayan
No comments:
Post a Comment