Aku senang adamu tak pernah di sini
kau pasti hanya bisa memilah tulisanku
Dengan kata akhir: tak ada yang puisi
lalu kau menunjuk dadamu, aku!
Teruntuk Nip 1
Kau masih ingat awan itu
Bukan awannya
Tapi caramu menunjuk awan
Itu!
Mirip ekspresimu saat berdeklamasi, total!
Teruntuk Nip2
Kapan aku bisa melihat kau membaca puisi?
Saat itu pasti duniaku hanya ada aku dan kau selain rasa yang larut
Entah kapan, mungkin tak akan pernah: rindu teramat
Tetuntuk Nip3
Aku terpaksa menelan semua aksara ke dalam otakku
Untuk sebuah ujian?
Tidak, tak ada alasan kecuali terpaksa
Seperti hidup pada nafas
Teruntuk Nip4
Ini rindu harus kueja satu satu
Agar lama bermukim
Biar sakitnya menggigit
Hingga jumpa denganmu bagai keluar dari himpit: lepas
Teruntuk Nip5
Mata elangmu berpuisi tentang petualangan
Lembah
Laut
Ceruk
Daki
Lintas
Tapi hatimu tertambat di sini padaku dan terkunci
Teruntuk Nip6
No comments:
Post a Comment