Monday, February 17, 2014

178. Cinta Itu Aku yang Rasa ( Mukhtasim&Pengamen Sunyi)

16 Februari 2014 pukul 19:12   
1.: [bagaimana rasanya jadi laki-laki terlupakan, sementara ia begitu gigihmempertahankan ingatanya?]
2. : [seorang diri dalam slempitan kelopak-kelopak mawar: aku mencium aromamelati]
3. semalam suntuk kau jahiti kelopak maiden's blush : "untuk gaunpengantin," katamu mengirim semerbak wanginya
4. ¤telah selesai mengurung hujan, dalam kertas terlipat berisi baris demilarik, juga penyimpan leluka khuruf tersayat demi sebuah perjumpaan dalamsajak¤
5. : [aku telah luka sebelum dari kamarmu menebar harum melati]
6. "siapa anak pertamamu?"
"karena lahir 8 agustus, kuberi nama Aprilia Simsim," ujarmumantap seperti melepas doa.
"pasti nama itu kaudapat dari mimpi setelah salat witir,"
"tebakanmu meleset. ia lahir dari cahaya bulir-bulir tasbih yangberpijar di seluruh sudut kamar, saat kami bercinta," kau menandaskan.
"nama itu bagus. pasti wajah putrimu cantik, seperti april di musimsemi." aku tersedu-sedu meninggalkanmu di meja kafe itu.
7. gelas itu sudah kosong, tergeletak begitu saja. bahkan menebar aroma biryang tersisa ia tak mampu. sangsai.
8. perempuan desa menikah dengan matahari, sebelum kelambu terkuak tubuhnyatelah terbakar. airmatanya turut mendidih.
abu-abunya terbang ke langit jadi sayap bidadari.
9. : [perempuan itu melihat jutaan bintang di atas daun. berpendarcahaya-cahaya kecil menerobos mata dan dadanya, yang ternyata butir-butirembun, tersesat jalan pulang]
10. : [siapa yang akan kutemui? airmata begitu likat, aku tak mampu melihat]
11. : [altar mawa-mawar]
12. sesudah alismu dicukur kemana rinduku akan sampai setelah lama jelajahisepi yang tak memiliki tepi dan garis ukur?
aku langitkan tanah pengharapan, masih ada akar lain, yang tumbuh pohonrindang di sepanjang halaman matamu.
13. : [kupunguti satu-satu bekas airmata, yang mengeram di bawah bantalmu.percintaan belum seselai. ranjang jadi laut dan airmatamu mengombak-gelombangseisi kamar, yang masih tersisa bau melati, pertanda bahwa piring resepsipernikahan tak sepenuhnya telah kesat]
14. : [katup daun jendela rapatrapat, apapun ingin mengintip pengantin muda.kantuk dan rembulan bisa mencuri mata dewa atau tubuh angin]
15. : [setelah ragumu dirampas lelaki yang tak kukenali sejarahnya, kinijiwamu dirampok dewa dari dekapan jiwaku]
16. : [dan kau lupa janji-janji, yang sampai saat ini aku hidup. Janjimudulu, akan menyingkap tulang rusukmu sebelum mengenalku]
17. : [apa yang bisa dilakukan penyair? omong-omong, kau itu kata yangmenyusup ke dalam kalimat-kalimatku, menjadi sajak. ditulis lidi pinang di atasawan hitam]
18. : [aku mohon maaf, lelaki sepertiku lebih berani melawan kediktatoranribuan penguasa, ketimbang mengungkap cinta pada wanita, terlebih sepertimu,yang memiliki mata binar laksana embun di pucuk daun yang diintip mentari tampakmalu-malu itu]
19. : [seharusnya kau mengundangku sebagaimana janjimu dulu. sebab, telahkubingkis hadiah untukmu dan itu satu-satunya: sekepingan rembulan pecah setiapmalamnya]
20. : [mengapa kau tak mengundangku? Kau takut melihat hujan dari mataku,tak menemukan payung untuk menyembunyikan sunggingmu?]
21. : [di atas meja samping ranjang; rokok, spidol, lampu--tentu sudahpadam--, kondom kadaluarsa, kopi tadi pagi, tiga biji permin relaksa terdamparbegitu saja. ssssttt! aku tahu semua berkat kabar cicak]
22. : [bungkus-bungkus sampo berjejal dalam kloset menguap sampai keselokan. padahal, cat di telapak tangan belum pudar benar]
23. : [tengah malam. suamimu meletakan kedua tangannya di atas bantalditindih kepala. memandang langit-langit kamar yang remang. melempar pandang kecicak yang menelan laron. Dia mendesah. suara dengkur tidurmu laksana merdubiola. Ia terhibur sejenak]
24. : [pagi hari, seperti pagi-pagi sebelumnya, matari menyiram punggungmu.aroma rambut yang terbakar diciuminya berkali-kali seperti sup buatanmu]
25. : [garis tanganmun mengalir sungai. basway, sepeda motor dan keretalalu-lalang di punggungmu. aku akan sampai. di halte, yang atapnya rubuh, akuberpayung koran. aku akan tiba di kota, yang tangannya mengalir sungai,punggungnya yang riuh-sibuk kendaraan. suara peluit tukang parkir dari telingakota itu atau kelakson mobil plat merah pergi ke kantor. ya, sebentar kemudianaku pasti sampai]
26. : [setelah menikah, kau takut menonton tayangan infotaiment. aku mulaitakut baca dan nulis puisi romantis. aku takut jatuh cinta lagi, padamu]
27. : [aku dan kau: sepasang nisan]
28. : [pernah kuberi kau sepotong senjaku. Kata seorang kawan, 'senja adalahromantisme alam bagi sepasang kekasih.' Aku tak percaya. Karena saat mengatakanitu dia tengah menenggak bir dan matanya merah mawar. Sukakah kau?]
29. : [kearah mana garis-garis tanganmu? Ke laut atau gunung di mana nabiNuh memaku dan membentangkan layar perahu?]
31. : ["suara derit dipan kita seperti alunan seruling nabi Daud, sayang."bisik suamimu malam jumat kemaren. simpul senyum terbetik di bibirmu.
"inilah surga. Allah membangunnya sebagai kado cinta kita,"balasmu sambil melirik kancing baju suamimu yang terlepas.
hujan di luar berdebar. angin gemeter. aih!]
32. : [aku? seperti kecupan di Kening danau]
33. : [aku masih menyimpan senyummu dalam lipatan waktu. semakin kusut suatuketika membuka dan menciumi, ia kusut seperti rambut perawan pagi hari. mungkinaku rindu. mungkin juga karena waktu seperti tak pernah berlalu]
34. : [dan jujur saja. semua katamu terpanggang di atas jemuran. sesekalikata itu membentuk arti bukan dari dirinya sendiri. Matahari selalu menemukancara agar kata itu membias, bukan cuma dua tapi seribu yang tersiram di atastanah yang tak pernah lembab]
35. : [Beberapa hari lalu, aku membuat daftar tentang janji. ada kretek,bolpain, asbak dan tiga kaleng bir bintang; yang satu kosong berpindah keperutku, yang satu hampir tandas dan satunya lagi masih utuh. Entah karena akumabuk atau karena, janji itu memang menumpuk hingga tak bisa berhenti padaangka di bawah seratus. aku kecewa]
36. : [tentu kaulupa. Seperti katamu, "orang sukses adalah yang beranimenatap masa depan dan menghapus masa silam." Dan aku juga harus bisamelupa. Oh, tidak! Kenangan serupa biji yang ditanam. Tumbuh akar, batang,daun, ranting dan buah tentu dengan hal-hal lain; harum, rindang, kokoh dankebanggaan. Ialah janji yang merawatnya]
37. : [kelud marah-marah. Madura, Blitar, Malang, Sidoarjo kena juga. Apakau masih menarik selimut hingga kepalamu tenggelam, yang di sana bersembunyisuamimu? Sementara teriakan hebat muntah dari mulut Kelud. Aku tak nyenyak]
38. : [Kebaya putih. Kau memegang seikat bunga. Warnanya merah muda.sepertinya pewarna bibirmu sama. saat itu. poraallaa!]
39. : [suku Badui pedalaman Banten: "manusia orisinil." Berposedengan salah satu dari mereka akan terlihat bahwa dari diri kita mewakili duaperadaban yang sangat kontras. Seperti mensejajarkan botol coca cola dan gayungbatok kelapa]
40. [meski aku masih kecil. nenekku selalu bilang, "rumah tangga ituadalah seni layang-layang. Kita harus tahu kapan mengencangkan pegangan. Kapanharus mengulur benang. Rumahtangga sangat sensitif. Tipis. Seperti kertaslayang-layang itu. Bisa sobek, benang putus. Tapi, ketipisan kertas itu bisamengantar layang-layang ke langit menyampaikan doa-doa. Asal kita mengertipesan angin dan seni menarik-ulur pada waktu dan keadaan yang tepat."Sebenarnya aku tidak mengerti ucapan nenekku itu, dulu. Sekarang, setelahmenggelandang, aku lebih meluaskan pengertian tersebut, bahwapersahabatan--serta apapun dalam kebersamaan--juga harus memiliki seni itu]
41. : [apa tulisan ini akan sampai padamu? Aku tak peduli]
42. : [selanjutnya, apa rencana kalian? Ya, rencana! Bukaninprovisasi-inprovisasi atau kompromi-kompromi. Kalian lebih tahu itu. Suamimuorang berbakat. Anak sekolahan. Aku? Aku hanya gelandangan yang terpojok dibibir botol bir]
43. : [penghasilan sedikit dari kerja halal, pulang kerumah di sambut senyumistri, ah! Hanya itu harapan-harapan laki-laki letih di saat sanja sehabiskerja]
44. : [sewaktu ingin menulis, temanya aku lupa. Aku terus mengingatnya.Namun tak bisa. Malah ada kalimat-kalimat nakal yang sejak kemaren senantiasamenyembul dari otakku. Aku teringat seloroh seorang kawan; "ada satu halyang paling menjengkelkan bagi pengantin baru: 'ialah datangnya menstruasi'.Bahkan pembalut tak bisa berbuat apa-apa." Geli rasanya mengingat kataitu. Dan benar saja, aku terpingkal-pingkal hingga kaleng yang sudah lepastutupnya berguling ke lantai. Tapi, masa iya?]
45. : [dunia itu seluas pikiranmu]
 

46. : [istri salihah, bukan perempuan yang menuruti semua kemauan suamidisamping menjaga kehoramatan dirinya. Perempuan yang dijanjikan surga itu,perempuan yang konsisten penuh cinta meluruskan jika suami berbuat atau berucaptidak sesuai syariat serta meneladani penuh cinta pula segala perbuatan danucapan yang benar]
47. : di sebuah perjalanan dalam kereta, aku duduk dengan perempuan cantik.Setengah perjalanan kami habiskan diam saja. Tidak ada cakap basa-basi. Akusibuk dengan cameraku. Dia juga sibuk pencat-pencet hp. Aku lirik, dia sedangmembalas sejumlah berita di facebooknya.
"sudah bersuami, nona?" tanyaku mengawali percakapan.
"tidak," jawabnya kalem.
"kalau Sejenis suami?" aku mengejar dengan pertanyaan, yang cukupkurang ajar bagi orang yang tidak dikenal.
Peluit panjang kereta melengking kesekian kalinya. Suara roda kereta, danpedagang kacang juga air mineral begitu sibuk berjejal dalam telinga penumpang.
"sejenis suami tentu ada, mas," balas perempuan itu, entah apayang dipikirnya. Ia memandang pada dua lelaki di sebelah tempat kami duduk.
Percakapan tidak lagi berlanjut. Aku tak berhasrat bertukar nomor telpon.Karena aku tak punya telepon. Maksudku, untuk apa?
48. : [kau tampak lebih cantik dengan gaun pengantin berwarna ungu. Senyumyang tertahan. Pandangan lembut tapi tegas itu menampakan sosok perempuan yangingin dipahami sekaligus memberi pemahaman utuh di dalam dan di luar dirinya]
49. : [ada ungkapan: pernikahan itu enaknya hanya berlangsung 3 bulan. Akutak percaya. Karena pernikahan bukan melulu seksualitas. Dan kebahagiaan (adayang lebih Enak dari Kebahagiaan?) bisa dicapai manakala kita menyadari betulposisi dan tugas kita masing-masing]
50. : [satu hal yang membuat aku tak luka: aku menyadari kau akan lebihbahagia jika tidak bersamaku. Aku lelaki luntang-lantung yang nasibnya dipendamdalam perut; lelaki gelandangan tanpa satu tujuan apapun kecuali menemukandirinya sendiri; lelaki yang tak mau diikat atau mengikat sesiapa dalam sebuahhubungan klise; lelaki yang menyimpan kaleng-kaleng bir dalam kuku-kukunya; danbila menangis ia menyemburkan airmata tuak dan sebiji puisi yang tak pernahmengganjal perut. Aku tak sedih dan maaf, aku tak bisa mendoakan apa-apa. Akutak pandai bicara halus, sebagaimana Musa di puncak Tursina]
51. : [sementara itu, doakan aku. Lidahmu cukup lentur melafalkan ayat.Jangan! Jangan doakan menjadi orang kaya. Aku tak ingin kaya. Tak ingindipandang siapa dan sesiapa. Doakan: "aku senantiasa tetap bisa membacasampai renta]
52. : [saat kau menikah. Aku berada di tempat yang sangat jauh. Bahkan akutak mendengar suara soundsystem saat resepsi itu. Aku jauh, berendam di cerukgaris tanganku]
53. : [seorang sahabat mengirimkan beberapa posemu via e-mail. baju putih,kuning, ungu, hijau. Kau tampak anggun]
54. : [ada pasta gigi mengeras di kamar mandi. Anak-anak di jalan hendaksekolah mengapung di atas bak mandi. Kran lupa kaumatikan. Bau gosong ikandukduk di penggorengan membuat tukang bakso urung memukul mangkok. Kompor lupakaumatikan. Air hangat terlalu mendidih. Kau tak jadi minum obat asam lambung.
Di ruang tamu dua hari tiga malam tipi menyala tanpa ampun. Kelud meletus.Mengirim abu sampai dalam asbak. Artis bercerai. Anak overdosis memuntahkanbusa sampai menutup lobang botol soda. Suamimu lupa mematikan rokoknya. Olgamemainkan lidah. Kautak ingat, itu lelucon atau cerca bloon.
Tipi masih menyala. Suara musik berisiknya melebihi anggota dpr. Kau lupamenelan pil kb kemaren malam. Sisir terkulai di koset setelah menyisir hujan.
Sikat gigi jatuh kedalam wc. Kalu lupa memadamkan bohlam yang tergantung dijalan. Rumput-rumput tak bisa tidur dan jejak kakiku, suamimu,tetangga-tetanga, paman, kemenakan, ayah-ibu, nenek-kakek, kaki-kaki itu terusditanam dalam tanah.
Obat kumur habis. Di borong anggota dewan dan artis. Nanti malam, kau akanlupa....?]
55. : [dari kering ke hijau sampai bisu, hujan selalu terlambat datang]
56. : [perlahan aku bisa juga melukis. Meski sebatas garis tak rata. Tapi,aku sangat hapal di mana letak tahilalat itu]
57. : [sewaktu rembulan tiba di langit kotaku, iyakah kaukehilangannya?Tentu tidak! Usaha memecah drama bulan di kulum bibir hujan aku selalu gagal]
58. : [sepanjang malam bulan pecah di atas batu asah tukang jagal]
59. : [baik yang beragama atau tidak seseorang mempunyai cara masing-masingmenghormati mayat. Di kubur dalam satu setengah meter tanah liat. Pakai kafanatau jas sebelum dibungkus peti. Ada yang di bakar lalu abunya di tabur kesungai. Jika aku mati kubur mayatku dalam puisi yang tak pernah lahir daripenaku. Cukup segelas vodka untuk memandikannya. Aku akan bahagia]
60. : [seluruh percakapan kita dulu pernah di catat Rembulan tanggal 30desember]
61. : [kau ingat pernah berpapasan denganku? Ya, selembar rambutmu luruh akuikatkan pada lambung]
62. : [masuk-keluar kota dan pulau, terkadang aku berpikir, untuk apa semuaini kulakukan? Apa aku lelaki kesepian yang sering merinding hanya oleh embun?Tidak! Lelaki tidak boleh mendekam di dalam tempurung. Harus keluar.Mengkekarkan otot-otot betis dengan berjalan jutaan kilometer agar menjadicagar bagi siapa saja dan bukan untuk diri sendiri]
63. : [ada yang mudah: membaca dan bersesepi]
64. : [berjumpa denganmu pasti indah. Tapi aku selalu menghindarinya. Sebabitu, aku membayangkan perjumpaan kita itu seperti ini: secara tidak sengajakita berjumpa di sebuah caffe, yang menghadap ke pantai. Tentu kau takmengenalku. Bukan karena aku sudah berambut gondrong, berkacamata minus tebal,kumis dan janggut lebat seperti hutan dan apalagi saat itu, di mejaku ada duabotol vodka, dan sekaleng bir bintang, rokok tanpa cengkeh dan petek bergambarMaria Ozawa telanjang, ransel dan camera LSR, di pojokan sebelah kanan mejamu.Namun lebih karena kita lupa saling menandai saat berjumpa dahulu.
Aku duduk memandangmu yang sedang bercengkerama dengan sang suami.Mendengarkan beberapa nama yang belum satu pun kalian sepakati. Tentu saja itunama anak pertamamu. Sambil terkekeh kau dan suamimu kembali ke layar ipad.Sedang berselancar di dunia maya atau sedang mencari nama-nama ke Kiai Google.Intinya, mumpung ada signal wifi gratis.
Bayangan di atas tak bisa kulanjutkan, karena entah karena apa dan bagaimanamulanya aku pingsang di caffe itu]
65. : [apa padi di kampungmu masih Merenduk? Sebab, di sini sudah Ditumbuk]
66. : [apa warna partaimu dan suamimu sama? Atau masih menganut partai dimana kiai memilih partai itu? Jangan tanya partaiku, orang bilang manusiasepertiku sering digambarkan "Manusia Tanpa Kepala"]
67. : [kalau aku menebak Abu Rizal Bakri yang akan memenangkan pemilu 2014ini, bukan berarti aku berpartai pohon beringin ini. Tidak. Dia memiliki siasat(dan tentunya uang) canggih. Yang lain boleh berharap jadi presiden. Tapijangan coba-coba menyingkirkannya apa lagi kalau hanya Dahlan Iskan dan apa lagiPrabowo]
68. : [apa suamimu suka main bola atau permainan sepak bola? Kebetulan,Piala Dunia sebentar lagi di mulai di tengah kerisauan kehidupan ini, kau bisamencari hiburan dari dirinya]
69. : [di meja makan kita dipisah beberapa hidangan]
70. : [di meja makan, kalian berjumpa dan berpisah kemudian melanjutkanpercakapan di ranjang]
71. : [kalau benar anak itu buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya, upayakandia berdiri sejajar dengan pohon tersebut. Buat ia lebih kokoh akar-akarnya danberi pemahaman filsafah pohon tinggi dan angin]
72. : [lingkungan yang damai tentu dimulai dari keluarga yang harmonis.Keluarga yang harmonis dimulai dari pemakluman pribadi-pribadi dalam keluargauntuk sebuah kesalahan]
73. : [PIL KB: ia menjadi pilihan keluarga yang tidak percaya potensidirinya sendiri. Hanya pemerintah yang ketakutan akan pertumbuhan penduduk.Padahal mereka belum pernah memberikan apa-apa]
74. : [kegaduhan dunia sastra hanya dilakukan oleh sebuah pukulan manusiayang tak paham sastra, yang kemudian manusia yang paham sastra ikut tidakpaham. Linglung. Kalau buku '33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh' dianggap"darah haidh", yang diperlukan bukan pembalut apa lagi pil kb. Parasastrawan boleh bertanya ke muslimah, tentu yang sangat paham masalah haidh danseputarnya. Sayangnya, kau tak suka sastra. Aku ingin bercerita lebih banyaksoal ini, sebenarnya]
75. : [kau tahu tontonan tipi yang aku benci? "Mancing Mania".Mancing itu ada beberapa yang diperlukan: alat pancing, seperti benang, kail,kayu, perahu (ini sesuai keadaan dan tempat). Ada dua hal yang tidak bolehtidak harus dimiliki si Pemancing: penguasaan tekhnik mengangkat pancing danSkill Mengelabuhi. Politisi juga begitu]
76. : [kalau sudah menikah itu enak. Kita melakukan hal-hal kecil dan remehmenjadi pahala laur biasa. Tersenyum pada suami, pahala. Ambil gelas minumuntuk suami, pahala. Bicara lembut pada suami, pahala. menyediakan makan,pahala. Coba kalau belum menikah seperti aku ini. Tersenyum seikhlas mungkinpada pelayan caffe, yang roknya diatas lutut, masih ada belahan entah berapacm, langgananku itu, bisa-biasa Imam Ghozali marah-marah. Ibnu 'Athoillah bisauring-uringan di tempat istirahnya. Nah, gunakan kesempatan itu untuk"bernostalgia" dengan-Nya]
77. : [jangan mencurigai suami, tapi suami juga jangan bertindak yang akanmembuat dicurigai istri]
78. : [apa yang kau ketahui tentang malam? Aku menemukan kesepian rembulandi tengah bintang gemintang]
79. : [aku merindukanmu. Pernahkah kau bersicakap dengan kenangan itu.Kenangan apa? Kenangan yang tak pernah dicatat ingatanmu]
80. : [aku lupa bahwa kakiku buntung saat mencari jejak di halaman rumahmu]
81. : [jalan sunyi. Penyair harus menempuh lorong itu]
82. : [cinta menembuhkan kreativitas]
83. : [kalau kita berjumpa suatu ketika nanti, apa yang akan kau ucapkanpertama kali? Aku akan membatu]
84. : [aku sangat bahagia sekali, akhirnya kau menikah. Aku tak perlumerisaukan kesendirianmu. Meski datang kekhawatiran lain]
85. : [ada apa dengan februari? Pasti itu hegemoni dan otoritas orangdewasa. Aku yakin, kau mengingini agustus. Tapi pupus]
86. : [laut tenang. Tapi ia tak mengertai bahwa ombak ingin pulang dalampelukan pantai]
87. : [dan pantai selalu memisahkan aku dengan gelombang]
88. : [menjadi perempuan itu sederhana, tapi menjadi perempuan sederhanatidak pernah sederhana]
89. : [kawanku bilang, kebersamaan sepasang suami-istri itu filosofinyaseperti gelas-gelas dalam almari]
90. : [gelas ben kodungah, tidak saja bermakna keserasian fisik, tapispiritual, intelektual dalam mengimbangi pribadi-pribadi yang bersangkutan]
91. : [pernikahan jiwaku dengan jiwamu telah melahirkan anak-anak cantik nanjelita, gagah nan perkasa; puisi]
92. : [asamper areh. Akodung bulen. Akotang ojen. Perempuan yang kucintaiselama ini telah menjadi cuaca yang mengeram dalam batok kelapa]
93. : [kita akan berjumpa: dalam puisi-puisi]
94. : [aku lelah menulis. Vodka telah habis ditenggak pelangi tanpa iringangerimis kecuali dari mataku sendiri]
95. : [sebab kerinduan telah lama bersembunyi. Kini meledak bak badaimelumat gugusan bahasa]
96. : [akan tinggal sajak yang mustinya menerjemahkan kerinduan panjang ini]
97. : [selamat menempuh hidup baru. Bersama lelaki asing yang kini menjadidirimu sendiri]
98. : [aku akan tetap dan senantiasa melangkah. Menyusuri liku kemapanan,seperti kutu. Mencari kebeningan jiwa sampai itu Aku tiada]
99. : [ketiadaan hanya ketidak-tersingkapan bathin kita untuk memperjelaske-Ada-an]
100. : [.....dan temukan kebahagiaan itu dalam hal apapun]

No comments:

Jual Keripik Tempe

Jual Keripik Tempe Sejarah mencatat, bahwa tempe adalah makanan yang telah menyelamatkan orang dari etnis Jawa hidup lebih lama dibanding ...