Sunday, April 27, 2014

184. Sesal yang Terlambat








Oleh: Nurlaeli Umar
Andai waktu bisa kuputar ulang, tak akan kubiarkan ini terjadi padaku. Aku mendapat kartu merah dari dokter dengan vonis kanker paru-paru. Mati itu kurasa tinggal menunggu Tuhan mengiyakan saja. Aku adalah telur di ujung tanduk, tak ada pilihan lain kecuali terjatuh dan pecah. Seorang zombiegaret yang hidupnya tinggal menghitung waktu. Mengetahui kematian adalah hal paling menakutkan bagi makhluk yang bernama aku.

“Apa tidak bisa diobati, Dok?”
“Seharusnya bisa, andai ….”
Seharusnya tetapi mengapa jawaban itu yang keluar, mengapa tidak bisa saja. Lalu andai? Andai itu semakin membuat dadaku kosong saja, sakit dan tanpa harapan.

Aku memang salah, aku sebenarnya bukan perokok sampai suatu saat karena alasan menghormati teman-teman yang suka berkumpul di depan kost-kostanku, aku mencoba untuk tidak berbeda dan mengambil satu batang rokok kusesap dan itu pun bertahan untuk tiga sesapan pertama yang hampir saja membuatku muntah. Aku membiarkan api rokok menghabiskan dirinya bersama angina karena aku mengalihkan semuanya dengan banyak berbicara. 

Lalu seperti seseorang yang menabung sekeping dua keping akhirnya menjadi segunung, aku pun bisa karena terbiasa. Dari menghabiskan satu batang rokok sampai sekali duduk satu bungkus.
Aku merasakan sesuatu yang tidak mengenakan dan menyulut emosi jika sehabis makan tidak mendapati dirinya. Aku kecanduan!

Kegiatanku yang orang seni, membuat aku semakin tergantung kepadanya dengan alasan membantu imajinasiku mengalir saat mencari ide. Ah, meski sebenarnya itu terkesan merendahkan kemampuan berdiri sendiriku.

Aku lebih memilih tidak makan dari pada tidak merokok, aku bahkan sanggup hanya makan sekali sehari asalkan ada rokok dan tentu saja kopi. Efek lainnya yang kunikmati adalah tubuhku yang tidak menjadi gemuk dan buncit di umur awal tiga puluh lima dan seterusnya, saat otot-otot mulai kendur dan teman-temanku yang tidak merokok kudapati bermasalah dengan masalah berat badannya dan mesti berkonsultasi dengan dokter. Aku merasa diriku nyaman dengan rokok.

Kalau ada yang bilang bahwa rokok itu membunuh, kurasa benar, tapi pernyataan itu dulu aku tak acuhkan dan malah terkadang menjawabnya dengan jawaban: mana ada orang mati sambil merokok?
Batuk itu muncul saat usiaku menapaki awal empat puluh, aku hanya menganggapnya reaksi pancaroba, dan kuobati dengan obat warung, itu pun jika sudah terlalau menggangu. Makin lama batuk itu mulai ditemani dengan dadaku yang nyeri. Batuklku makin memburuk dan sakit di dadaku kerap menjadi langganan.

Aku masih bergeming dengan tidak ke dokter dan mengurangi merokok. Tetapi setelah mereda aktifitas merokokku kembali ke kebiasaan lama, dua bungkus per hari.
Ketika kudapati batukku berdarah, rasa nyeri di dada dan nafasku sedikit berat aku mendatangi dokter. Leherku bengkak, nafsu makanku hilang. Aku kerap terkapar, merasakan lelah yang teramat sangat.

“Apa selama ini gejala ini sudah dirasakan jauh hari?”
“Iya, Dok, tapi saya rasa itu penyakit biasa, seperti masuk angin atau reaksi pancaroba karena cuaca atau jadwal tidur saya yang kacau.”
“Juga pola makan yang kacau?”
“Iya, Dok.”
“Masih merokok?”
“Masih, Dok. Cuma saya kurangi.”
“Kenapa tidak berhenti?”
“Susah.”
“Meski sakit begini?”

Itu adalah sepenggal cerita sebelum aku terbaring di sini, kamar nomor 323 ruang Kenanga, bangsal 3. Aku hanya berteman botol infus untuk bertahan, sebab operasi pun sudah tidak mungkin lagi, zombigaret ini terlalu tipis untuk sebuah harapan. Sesak ini semakin menekan, aku tidak tahan. Ini adalah cara mati yang menyedihkan, orang-orang terdekatku bermuka muram, bahkan untuk sebuah kesempatan hidup aku tidak diberikan.

Merasakan sakit di dada dan batuk pertama hingga hari ini aku terbaring di sini adalah cerita hitam yang akan kubawa bersama seseorang bernama kematian. Terasa lama dan menyiksa. Aku melewatinya dengan dada membusung kemarin hari, kini malah tengah menunggu orang-orang yang akan mengusung untuk pergi ke alam keabadian. Andai ada kesempatan ke dua, aku tidak akan melakukannya.  Aku zombigaret sang pecundang.

Cengkareng, 27414



No comments:

Jual Keripik Tempe

Jual Keripik Tempe Sejarah mencatat, bahwa tempe adalah makanan yang telah menyelamatkan orang dari etnis Jawa hidup lebih lama dibanding ...