Oleh: Nurlaeli Umar
Andai waktu bisa
kuputar ulang, tak akan kubiarkan ini terjadi padaku. Aku mendapat kartu merah
dari dokter dengan vonis kanker paru-paru. Mati itu kurasa tinggal menunggu
Tuhan mengiyakan saja. Aku adalah telur di ujung tanduk, tak ada pilihan lain
kecuali terjatuh dan pecah. Seorang zombiegaret yang hidupnya tinggal menghitung waktu. Mengetahui kematian adalah hal paling menakutkan bagi makhluk yang bernama aku.
“Apa tidak bisa
diobati, Dok?”
“Seharusnya bisa, andai
….”
Seharusnya tetapi
mengapa jawaban itu yang keluar, mengapa tidak bisa saja. Lalu andai? Andai itu
semakin membuat dadaku kosong saja, sakit dan tanpa harapan.
Aku memang salah, aku
sebenarnya bukan perokok sampai suatu saat karena alasan menghormati teman-teman
yang suka berkumpul di depan kost-kostanku, aku mencoba untuk tidak berbeda dan
mengambil satu batang rokok kusesap dan itu pun bertahan untuk tiga sesapan
pertama yang hampir saja membuatku muntah. Aku membiarkan api rokok menghabiskan
dirinya bersama angina karena aku mengalihkan semuanya dengan banyak berbicara.
Lalu seperti seseorang
yang menabung sekeping dua keping akhirnya menjadi segunung, aku pun bisa
karena terbiasa. Dari menghabiskan satu batang rokok sampai sekali duduk satu
bungkus.
Aku merasakan sesuatu
yang tidak mengenakan dan menyulut emosi jika sehabis makan tidak mendapati
dirinya. Aku kecanduan!
Kegiatanku yang orang
seni, membuat aku semakin tergantung kepadanya dengan alasan membantu imajinasiku
mengalir saat mencari ide. Ah, meski sebenarnya itu terkesan merendahkan
kemampuan berdiri sendiriku.
Aku lebih memilih tidak
makan dari pada tidak merokok, aku bahkan sanggup hanya makan sekali sehari
asalkan ada rokok dan tentu saja kopi. Efek lainnya yang kunikmati adalah
tubuhku yang tidak menjadi gemuk dan buncit di umur awal tiga puluh lima dan
seterusnya, saat otot-otot mulai kendur dan teman-temanku yang tidak merokok
kudapati bermasalah dengan masalah berat badannya dan mesti berkonsultasi
dengan dokter. Aku merasa diriku nyaman dengan rokok.
Kalau ada yang bilang
bahwa rokok itu membunuh, kurasa benar, tapi pernyataan itu dulu aku tak acuhkan
dan malah terkadang menjawabnya dengan jawaban: mana ada orang mati sambil
merokok?
Batuk itu muncul saat
usiaku menapaki awal empat puluh, aku hanya menganggapnya reaksi pancaroba, dan
kuobati dengan obat warung, itu pun jika sudah terlalau menggangu. Makin lama
batuk itu mulai ditemani dengan dadaku yang nyeri. Batuklku makin memburuk dan
sakit di dadaku kerap menjadi langganan.
Aku masih bergeming
dengan tidak ke dokter dan mengurangi merokok. Tetapi setelah mereda aktifitas
merokokku kembali ke kebiasaan lama, dua bungkus per hari.
Ketika kudapati batukku
berdarah, rasa nyeri di dada dan nafasku sedikit berat aku mendatangi dokter.
Leherku bengkak, nafsu makanku hilang. Aku kerap terkapar, merasakan lelah yang
teramat sangat.
“Apa selama ini gejala
ini sudah dirasakan jauh hari?”
“Iya, Dok, tapi saya rasa
itu penyakit biasa, seperti masuk angin atau reaksi pancaroba karena cuaca
atau jadwal tidur saya yang kacau.”
“Juga pola makan yang
kacau?”
“Iya, Dok.”
“Masih merokok?”
“Masih, Dok. Cuma saya
kurangi.”
“Kenapa tidak berhenti?”
“Susah.”
“Meski sakit begini?”
Itu adalah sepenggal
cerita sebelum aku terbaring di sini, kamar nomor 323 ruang Kenanga, bangsal 3.
Aku hanya berteman botol infus untuk bertahan, sebab operasi pun sudah tidak
mungkin lagi, zombigaret ini terlalu tipis untuk sebuah harapan. Sesak ini semakin
menekan, aku tidak tahan. Ini adalah cara mati yang menyedihkan, orang-orang terdekatku bermuka muram, bahkan untuk sebuah
kesempatan hidup aku tidak diberikan.
Merasakan sakit di dada
dan batuk pertama hingga hari ini aku terbaring di sini adalah cerita hitam
yang akan kubawa bersama seseorang bernama kematian. Terasa lama dan menyiksa.
Aku melewatinya dengan dada membusung kemarin hari, kini malah tengah menunggu
orang-orang yang akan mengusung untuk pergi ke alam keabadian. Andai ada kesempatan
ke dua, aku tidak akan melakukannya. Aku zombigaret sang pecundang.
Cengkareng, 27414
No comments:
Post a Comment