Wednesday, August 10, 2016

Cerpen Paket Lebaran di Koran Pantura 10 Agustus 2016

Paket Lebaran



Paket Lebaran
Oleh: Nurlaeli Umar
Kopi di cangkirnya belum habis, bapak mulai lagi dengan ocehan bangganya, dan itu menyakitiku. Sebuah photo berukuran sedang diberikanya padaku, seseorang.tampak cantik sekali dengan senyum menawan di sana. Kepalanya bertoga--sebuah benda yang selama ini menghantui mimpiku dan aku tak pernah bisa menjangkaunya. Tertera di bawahnya keterangan wisuda bla-bal-bla lengkap dengan tanggal dan lokasi wisudannya.
Masih belum cukup membanggakan anak orang yang notabene adalah teman sebangkuku sewaktu masih SD, bapak menunjuk sebuah kardus yang masih tersegel dengan perekat kertas berwarna sama dengan warna kardusnya. Itu bukan segel dari pabrik, tetapi kardus bekas yang disegel sendiri dengan rapi.
“Itu paket lebaran yang dititipkan oleh Lina kepada bapaknya sebagai hadiah atas jasa bapakmu menolong mereka.” Mamak pernah bercerita jika bapak diminta oleh bapaknya Lina membantu agar anaknya dapat lulus masuk ke sebuah persaingan mendapatkan kedudukan. Aku tidak begitu tertarik, apalagi cerita itu sampai di telingaku setelah Lina benar-benar masuk dan mendapatkan kedudukan yang penting.
“Dia bekerja di mana?” tanyaku mati rasa. Pernahkah bapak menyadari kalau kesuksesannya adalah mimpiku yang terampas kemiskinan? Entahlah, dan aku tidak peduli. Aku sudah menerima nasibku yang hanya tamat sampai SMA, dan itu pun sampai berdarah-darah. Adikku mesti menjalani kehidupan keras sebelum masanya hanya karena dia ingin aku mendapatkan ijazah SMA. Setiap Sabtu sore menjadi kernet mengawal dan naik-turunkan barang dari kota kecil ini menyeberang sampai Lampung.
“Dia menjadi dosen dan staff ahli di sebuah departemen.”
“Departement store?”
“Apa itu department store?”
“Pusat perbelanjaan.”
“Tidak, tentu saja tidak. Untuk bekerja di sebuah tempat kerja seperti katamu itu, untuk apa bapak dan ibunya memintaku membawanya sowan ke seorang Kyai? Kerja di tempat seperti katamu itu akan dia dapatkan bahkan tanpa melamar. Kau kan tahu dia itu tamatan sebuah perguruan tinggi ternama dengan gelar sarjana dan nilainya cum laude.”
“Seharusnya dia percaya diri dengan potensinya, dan datang ke Kyai itu untuk memantapkan rasa kehambaannya,” sahutku masih dengan nada dingin.
“Kau itu selalu berpikir apatis, tidak perlu kita merasa kalah karena memang Bapakmu tidak mampu menyekolahkanmu. Tapi itu bukan berarti kita berhenti membantu orang lain. Dia bekerja kepada pemerintah, dan sekarang posisinya membuatnya kerap ke luar negeri.” Nada suara itu di satu sisi membela dirinya sendiri, di sisi yang lain meremehkan tanggung jawab. Katakan saja aku tidak suka, aku cemburu.
“Apa hebatnya ke luar negeri, banyak orang melakukannya dan itu biasa. Sekarang ini pergi ke luar negeri tidak perlu menjadi pejabat, tetangga kita yang tidak bersekolah tinggi pun sudah menjelajah Hongkong, Singapura, bahkan ke Arab Saudi bertahun yang lalu.”
“Tentu saja itu berbeda, karena mereka ke sana sebagai buruh, sedang temanmu itu untuk bertugas. Membawa tugas negara!”
Ingin kukatakan banyak bahwa mereka yang ke luar negeri untuk menjadi buruh migran itu adalah penyumbang devisa terbesar dan lebih bermartabat meski beresiko tinggi, daripada mereka yang ke luar negeri tetapi malah menghabiskan uang negara dan hasilnya  belum tentu, tentang korupsi, tentang pemanfaatan fasilitas yang tidak semestinya, tapi kuurungkan. Posisiku bukan sedang berdebat politik dengan temanku, atau mereka yang bersebrangan pandangan. Aku sedang berhadapan dengan bapakku dan aku sangat menyesal dengan semuanya. Terutama paket lebaran itu.
Aku merasa sangat lelah dengan perjalaan kemarin, dan hari ini tidak ingin memperparah dengan perdebatan yang tidak akan kumenangkan, kecuali akan membuat susasana besok pagi menjadi ada jarak. Aku pulang bukan untuk itu, terlebih untuk mendengarkan bapak membanggakan orang lain dan membandingkannya denganku.
Bunyi takbir diiringi talu bedug terdengar dari toa masjid, kardus itu belum dibuka  juga. Benda itu menjadi begitu keramat bagi bapak. Dia sangat bangga dengan sikapnya yang sering membantu orang lain. Apalagi jika orang yang dia bantu memberinya tanda mata. Itu bukan salahnya, aku tahu benar bagaimana dia berusaha tampil sempurna di depanku. Iya, aku yang di matanya tidak pernah merasa bangga karena mempunyai bapak sepertinya. Mungkin perasaan bersalah karena aku tidak mampu menggapai impianku, mungkin juga karena merasa berdosa menggantungkan hidupnya kepada aku, ibu, dan adikku.
Aku membiarkannya tanpa rasa penasaran untuk tahu isinya, dan menyibukkan diri dengan mengangkati kardus-kardusku sendiri yang belum sempat kupindahkan dari mobil kreditku. Di sana aku memasukkan keleng-kaleng biskuit yang menurutku mahal dan enak rasanya, aku juga memasukkan beberapa potong pakaian untuk adikku, mamakku,dan bapakku. Tidak lupa kubelikan juga kopi dan creamer-nya--bapak pernah menunjuk itu ketika kami melihat tv dulu.
“Nanti kalau kamu dewasa dan punya uang sendiri, Bapak mau kamu belikan yang seperti itu. Pasti rasanya enak.bapak ingin kamu yang beli bukan orang lain.”
Aku menyetujuinya,dan itu masih saja kuingat. Dan bahkan setiap aku melewati rak-rak swalayan berisi kopi dan creamernya selalu teringat bapak.
“Banyak sekali barang bawaanmu, apa kamu membelikannya untuk kami. Bukankah itu memboroskan uang. Kamu ingat kamu juga punya anak dan suami. Apa kamu memberikannya pada mertuamu barang yang sama? Itu tidakbaik, maksudku tidak baik jika hanya mementingkan keluargamu tanpa peduli dengan keluarga suamimu.” Mamak datang dengan bajunya yang sedikit basah karena sibuk di dapur, padahal sudah kubilang aku pulang bukan untuk makan, tapi untuk bertemu dengan mereka, makan apa adanya saja yang penting tidak merepotkan.
“Tenang saja, Mak. Semua ada bagiannya tersendiri. Ini mungkin tidak pantas, tapi terimalah sebagai buah tangan anakmu. Andai punya uang lebih banyak mungkin akan kubelikan yang lebih banyak dan mewah.” Kuserahkan sebuah amplop berisi sedikit uang yang mungkin bisa dipergunakan untuk masa sesudah lebaran.
“Tidak perlu, bukan itu yang kuharapakan darimu. Tapi kamu baik-baik saja, anak-anakmu sehat, dan bisa bertemu di lebaran meski tidak harus setiap tahun.” Aku tersenyum mendengar perkataan mamak. Tiba-tiba aku teringat kedua anakku yang akan datang besok menyusul bersama suamiku.
“Iya. Apa Lina selalu memberikan paket lebaran setiap tahun?”
“Sudah tiga  tahun ini, setiap lebaran.”
“Biasanya apa saja yang dia berikan.”
Ibu sedikit terkejut mendengar nada bicaraku. “Bapakmu memang begitu, dia merasa bangga dan itu menyakitimu. Temanmu itu selalu menanyakanmu jika pulang kampung. Tentang yang diberikannya ada sarung, biskuit dan amplop.”
Aku mengangguk-angguk, jadi temanku itu memberikan barang yang sama dengaku. Sudah dua lebaran aku tidak pulang. Pasti barang-barang itu lebih mahal daripada yang kubeli. Aku menaksir gajinya karena kudengar rumahnya mewah dan jabatannya tinggi. Aku mendengarnya dari mamakku. Aku merasa malu, sungguh aku harus mengakui aku kalah dari teman sebangkuku. Teman yang setiap pagi kutunggu di pintu pagarnya dan kami pergi bersekolah bersama. Dia beruntung karena bapak dan ibunya mampu membiayai kuliah sampai bergelar.
Adikku datang dari luar, melihat kardus-kardus yang kubawa dia berinisiatif untuk membukanya. Bapak yang kemudian bergabung mengusulkan untuk membuka lebih dulu paket dari temanku. Ternyata selain mimpiku yang tidak tercapai, aku juga harus mengakui kalah dengan perhatian bapakku. Aku tidak pernah mempermasalahkan ketidakmampuannya memenuhi impianku, meski nilai-nilai sekolahku pantas untuk mendapatkan masa depan. Aku menyadari dan menerima semuanya sebagai garis hidup.  Aku tidak pernah menyalahkannya atau siapa pun. Tapi kali ini sungguh aku merasa sedih sekali.
Ibu menatapku, dan aku menyetujuinya. Bapak tampak senang sekali. Kardus itu diambil dari tempat semula. Tangan bapak yang membawanya.
“Peso, aku butuh peso untuk membuka perekat kertasnya.”
“Ini,” kataku. Aku menjulurkan pisau yang tadinya ingin kugunakan membuka kardus-kardusku.
Satu, dua, tiga. Aku menghitung sendiri dalam hati. Tiba-tiba aku menjadi penasaran. Ini antara ingin tahu dan rasa sakit yang tiba-tiba menjalar melihat bapak begitu bersemangat dan bahagia.
Aku memerhatikan semuanya tanpa terlewatkan. Bagaimana bunyi pisau itu mengiris keras kardus itu, lalu bapak yang tertawa penuh kemenangan dengan membuka dan mengangkat isinya. Ada tiga kaleng biskuit, dan satu buah sarung, serta sebuah amplop.
Aku meraih kaleng itu, tangaku gemetar. Kuletakkan kaleng itu ke dalam kardus lagi, kemudian kuambil sarungnya. Aku semakin terlempar. Sekarang berganti dengan amplop.
“Boleh kubuka?” tanyaku kepada ibu.
“Buka saja,” bapak menjawabnya dengan kesombongan yang disembunyikan tapi aku membacanya jelas.
Kutarik napas dalam-dalam perlahan mencoba tidak terlihat. Amplop itu dilem dan aku merobeknya. Paket lebaran itu sudah membuatku semakin tenggelam dalam sedih tak berkesudahan. Aku tidak ingin menunjukkan itu kepada semuanya. Andai suamiku ada di sini sudah kuhamburkan tangisku padanya.
Paket iu berisi biskuit murah yang bahkan aku tidak tega untuk memberikannya kepada tetanggaku, lalu sarung itu, sarung terburuk yang pernah kutemui di pasar. Sedang uang dalam amplop itu. Untuk seorang dengan pangkat tinggi dan sering bepergian ke luar negeri, bahkan uang itu hanya tips untuk pramusaji sebuah restoran pinggir jalan.
Aku bangun dari dudukku. Kukatakan aku mengantuk, dan mereka bisa membuka kardus-kardusku tanpa adaku. Setiap langkahku menujuju kamar terbayang olehku satu per satu wajah dengan senyum dan toga itu, photo-photo perjalannanya ke luar negeri yang diunggah di sosial media yang sempat kubuka karena kami berteman, kemudian ekspresi bapak ketika bercerita tentang dia dengan bangga. Aku ingin pagi segera tiba, kami pergi ke masjid kemudian  bermaaf-maafan untuk  melupakan.
Allahhu akbar, allahhu akbar, allahhu akbar. Laa ila ha ilallahu wallahu akbar.allahu akbar walillahilhamd.







Biodata: Nurlaeli Umar, penulis pemula yang berdomisili di Jakarta.

No comments:

Jual Keripik Tempe

Jual Keripik Tempe Sejarah mencatat, bahwa tempe adalah makanan yang telah menyelamatkan orang dari etnis Jawa hidup lebih lama dibanding ...