Numpang
Mati
Oleh:
Nurlaeli Umar
Rambut
masai itu tidak membuat wajah tampannya hilang.
Sisa-sisa masa muda yang tidak ada harganya saat ini. Dulu sekali, saat usia-usia
wajah adalah nomor satu, jangan tanya perempuan mana yang tidak kepincut.
Untuk yang satu itu memang dia juaranya,
aku kalah telak. Aku hanya
mendapatkan satu perempuan saja yang sekarang menjadi ibu dari anak-anakku.
Hanya
aku dan dia dalam generasi kami yang masih di sini. Bukan karena terlalu
mencintai wangi tanah sisa hujan ataupun berprinsip hujan batu di negeri
sendiri lebih baik daripada hujan uang di negeri orang, tapi sungguh tidak ada
nyali dan uang untuk merantau menyebrangi laut menjemput dolar.
“Masih
kau suguhi aku kopi, ini dapat ngutang di mana?”
“Tenang
saja, itu semua uangku. Kau tahu aku kemarin habis mentraktor sawah milik
orang.”
Dia
menyeruput kopi itu setengah. Aku tertawa saja, selalu begitu, dia tidak pernah
bisa bersikap perwira di depanku. Setahuku di mana-mana lelaki itu menyesap
sedikit, sebagai jeda di antara dua isapan batang rokok. Masalahnya dia tidak
merokok.
“Kau
tahu, aku tidak merokok, tidak berjudi, tidak maling, tapi hidupku capek dan
tongpes. Apa menurutmu aku harus korupsi seperti mereka?”
“Mereka
siapa, dan mau korupsi di mana?”
“Mereka
yang selalu bilang bahwa tidak akan pernah korupsi satu sen pun. Kau tahu mana
ada mata uang kita yang satu sen? Karena itu mereka korupsi satu milyar atau
satu triliyun. Satu milyar atau satu triliyun itu baru benar-benar ada, bukan? Kamu
benar juga,di mana aku bisa korupsi? Kalau begitu akan kuurungkan niatku.
Setidaknya aku akan termasuk orang-orang yang berhati bersih.”
Aku
tertawa saja sementara dia tersenyum kecut, tahu benar jika dia sudah berucap
seperti itu berarti dia dalam keadaan ekonomi yang sekarat. Mungkin saja itu
karena harga gabah yang sekarang anjlok, atau mungkin juga karena hal lain. Aku
tidak pernah tahu dengan pasti. Dia tertutup untuk masalah seperti itu.
“Luangkan sedikit ruang untuk rahasiamu, tidak perlu orang tahu semua isi perut
kita.” Begitu alasan yang dia katakan ketika satu centi lagi aku tahu apa masalah
yang sedang merundungnya.
Dia
datang untuk mengopi, kadang dia yang membawa sendiri gula dan kopinya.
Alasannya hanya kopi buatanku yang pas di lidahnya. Untuk yang ini istrinya kerap
geleng-geleng kepala.
“Aku
mau pamitan, mungkin aku tidak akan pulang dan menikmati kopimu lagi.”
“Maksudmu,
kau akan mati? Ada-ada saja kalau ngomong. Nanti dicatat malaikat. Bicara yang
bagus, orang-orang seperti kita itu bahkan mati pun bukan pilihan bagus.
Kasihan anak-anak dan istri. Jadi diamlah dan berhenti omong kosong!”
“Terserah.
Tapi setidaknya aku sudah memberitahumu. Saatnya tiba kau tidak boleh
menangisiku dan mengatakan aku tidak pamitan.”
Dia
bicara seperti itu dengan muka yang biasa saja, sesekali menyelinginya dengan
tersenyum. Tidak ada yang serius. Dia menyodorkan gelasnya yang kosong.
“Bikinkan
aku segelas lagi! Jangan terlalu pelit.!Aku tidak akan banyak bicara,dan kau tidak
boleh banyak bertanya, apalagi protes.”
Aku
ke dapur dan membuatkannya lagi. Selanjutnya dia berbicara seperti biasa, topik
yang disukainya adalah politik. Andai dia seorang yang terpelajar, dan tidak
putus sekolah lantaran harus mencangkul demi membantu bapaknya mencari sesuap
nasi, aku yakin dia itu akan lebih pantas duduk di kursi daripada mereka. Pandangan politiknya luas, dan tebakan arah
angin politk di negeri ini tidak satu pun pernah meleset dari perkiraannya.
Maklum semua koran bekas di warung tetangganya habis dilalapnya sebelum
pembeli. Gila!
Tidak
lama kemudian setelah puas, dia pergi. Sebelum sampai di pintu dia menanyakan
berapa hutang yang dia punya. Kusebutkan hanya dua puluh ribu. Dia merogoh
kantungnya dan membayar lunas. Tapi kutolak, dan dia memaksa. Habis menjual
telur bebek dari kandang belakang rumah, begitu katanya. Setelah kuancam jika
dia memaksa maka tidak mendapatkan kopi lagi dia malah tertawa. “Ya, sudah
uangnya aku ambil. Aku tidak akan ngopi lagi di rumahmu.”
“Kamu
marah, Kang?”
“Aku
besok mau ke kota lain. Ada yang mengajakku, mungkin setelah mendapat pekerjaan
yang pantas, aku akan mengabarimu.”
Sudah
tiga hari wajahnya tidak muncul. Biasanya bahkan sampai satu bulan dia tidak
mengunjungiku aku tidak sewas-was ini. Tidak ada firasat apapun, bahkan mimpi.
Sepulang dari kebun menggemburkan tanah untuk musim tanam palawija seminggu ke
dapan, aku sempatkan mampir ke rumahnya.
Aku hanya menemukan istri dan kedua anaknya.
“Kang
Yanto pergi ke mana?”
“Katanya
sudah pamitan sama Sampeyan. Aku tidak tahu tepatnya ke mana, dia pergi dengan
temannya.”
Tidak
biasanya dia semisterius ini, bahkan istrinya tidak tahu ke mana tepatnya. Apa
mungkin dia tidak ingin istrinya
mengkhawatirkan karena akan segera pulang? Tapi pamitan kepadaku?
Pamitan model mana? Dia bahkan seolah pamitan mau mati. Kurang ajar sekali
Yanto itu! Aku tidak pernah semarah ini, jika saja hatiku tiba-tiba tidak
merasa was-was begini. Lihat saja, kalau dia pulang akan kutempeleng dia,
sembarangan bicara dan berahasia bahkan untuk sebuah tempat yang dituju! Oke
lah, kalau itu tentang masalah pribadi, tapi ini tujuan kepergian, kalau ada
apa-apa aku mesti mencari ke mana? Apalagi dia meninggalkan anak istri.
Menyebalkan!
Istriku
di rumah berusaha meredakan emosiku. “Serahkana saja sama Tuhan, bukankah semua
dari Tuhan dan semua sudah digariskan?” Benar uga yang dia katakan. Kucoba
menelan nasi dan lauk yang disediakan istriku, semua terasa pahit di lidah.
Sebenarnya aku kenapa? Jangan-jangan sebenarnya aku yang bermasalah, aku yang
tiba-tiba merasa takut sendirian. Atau
aku sebenarnya yang minthoni? Minthoni itu istilah di sini untuk sikap
orang-orang yang memberi tanda bahwa kematiannya sudah dekat.
Kalau
dia mati aku pasti akan kesepian. Aku akan kehlangan banyak. Teman yang sudah
seperti saudara kandung, orang yang selalu berpikiran maju dan membuat aku
melek tentang hidup, dan tentu saja orang yang bisa sesekali kuminta bantuan
pinjam uang kalau aku sekarat. Aku bahkan tidak sedekat itu bicara tentang
masalah pribadiku kepada kakak lelakikku.
“Apa
kau dengar sesuatu tentang istrinya Yanto, atau kabar buruk di luar?” Istriku
memandangiku, ada yang ingin dia katakana, bahkan mungkin banyak. Tetapi sepertinya dia segan, seolah takut
menyakitiku.
“Banyak
berdoa saja, Mas. Bukankah doa bisa membatu mengatasi masalah?” Dia tetap
bungkam dengan apa yang kutanyakan. Istriku memang kurang suka bicara buruk
tentang orang lain. Aku mengerti prinsipnya, tapi kali ini aku tiba-tiba merasa
butuh informasi yang berkembang, semacam desas-desus atua gosip murahan
sekalipun. Setidaknya aku bisa menebak ke mana arah angin yang mesti kutuju.
“Malam
sebentar lagi tiba, berangkatlah ke langgar, bicara ringan dan ngaji dengan
bapak-bapak yang lain mungkin sedikit meredakan rasa khawatirmu.”
Tidak
ada pemberitaan yang kudapat tentang Yanto dari langgar. Orang-orang hanya
membahas tentang bab menyolati mayit dan rencana menanam palawija pekan depan.
Sampai setelah semua turun sesudah salat isya, seseorang datang tergopoh-gopoh
mencariku.
“Kang
Nur!”
“Ada
apa, sepertinya penting?”
Dia
adalah adik dari Yanto. Dia tidak bicara banyak, suaranya bergetar ketika
menyuruhku membaca pesan pendek di handphone-nya. Aku tidak percaya semua ini.
Lelucon?
Aku
membacanya sampai tujuh kali. Benar, tulisan di layar itu tidak berubah sama
sekali, sama persis seperti ketika awal
aku membacanya. Kutatap mata Supri. “Ini benar?” Dia mengangguk. Tuhan, aku
bahkan tidak bisa menangis! Iya, aku lelaki yang paling berduka di muka
bumi kali ini. Air mataku bahkan kering
dengan sendirinya. Aku tidak melihat apapun kecuali hitam. Wajah Supri
tiba-tiba menghilang. Kepalaku seolah berputar dan aku terlempar ke dalam
lorong dengan jeritan yang lebih pekak dari yang bisa didengar telinga manapun.
Aku
terbangun, kukucek mataku. Banyak orang
di sini. Mereka terlihat sedikit lega. “Sudah sadar rupanya sumimu, Marni.
Buatkan teh hangat, dan suapi sesendok-sesendok.” Dia itu Kyai Fajar. Ada apa
denganku?
Ingatanku
berangsur-angsur kembali. Semua berawal dari pesan di handphone Supri. “Jangan
banyak bertanya dulu. Sesudah kamu merasa membaik, kita akan berangkat malam
ini juga. Tadinya kupikir tidak perlu membawamu, tapi rasanya itu tidak benar.”
Satu
mobil dan tujuh motor beriringan menembus malam. Perlu dua jam untuk sampai. Semua
yang ikut laki-laki, istri Kang Yanto menangis di rumahnya dan tidak diizinkan ikut.
Di
sana banyak orang berkerumun. Rumah itu menjadi penuh sesak. Mereka memberi
jalan agar kami mendekat. Kang Yanto ada di sana, di sebuah ranjang dengan
dengan leher terikat di satu sisi ranjang,dan kedua kakinya terikat di sisi satunya
yang lain. Posisisnya jatuh miring di samping ranjang. Aku tak boleh
memegangnya dan hanya bisa menatapnya dengan sakit. Dia bunuh diri, begitu
katanya!
Ini
kata pamitmu? Ini lelucon yang membuatku khawatir? Tidak! Aku terima jika memang
dia harus pulang, tapi tidak dengan
bunuh diri! Aku mengenal baik siapa dan bagaimana dia. Tidak akan pernah
terlintas sedikit pun keinginan itu di kepalanya. Dia yang selalu menguatkanku,
dia yang selalu memaksakku melihat cahaya.
Polisi
memeriksa dengan teliti. Aku tidak paham benar dengan prosedurnya. Tapi aku
melihat dengan benar bagaimana tali itu seperti terencana, rapi dan ikatannya
kuat menjerat. Lalu, lidah itu tidak terjulur sedikitpun. “Dia tidak bunuh
diri, dia dibunuh! Akan kuminta pihak
Kepolisian mengusut tuntas. Lihat lidahnya! Lihat talinya! Seumur hidup aku
berteman, yang tidak bisa dilakukannya dalam hidup cuma tiga: tidak bisa
mengikat tali, tidak bisa bersekolah,
dan tidak bisa mencurangi!”
Setelah
satu tahun. Pagi ini aku membuat kopi. Kasus kematian itu ditutup begitu saja.
Mungkin karena uang, mungkin karena kurang bukti, mungkin karena memang tidak perlu ada yang dipermasalahkan
lagi. Istrinya sudah tak berduka lagi,
dia sudah ada yag menemani. Seseorang yang tidak ingin kutemui di sisa umurku,
dia yang membawa Kang Yanto sebelum mati.
Aku
tidak pernah menziarahi makamnya. Aku mengiriminya doa setiap hari, bahkan
setiap ada waktu untuk berdoa. Aku bukan tidak menyayanginya lagi, aku hanya
tidak ingin terlihat runtuh di depan makamnya. Dia sudah tidak akan pernah
menemuiku lagi dan meminta dibuatkan segelas kopi.
Biodata:
Nurlaeli Umar, penulis pemula yang berdomisili di Jakarta.
No comments:
Post a Comment