Wednesday, August 17, 2016

Cerpen Nurlaeli Umar: Numpang Mati di Koran Pantura 16 Agustus 2016



Numpang Mati
Oleh: Nurlaeli Umar
Rambut masai itu tidak membuat wajah tampannya hilang.  Sisa-sisa masa muda yang tidak ada harganya saat ini. Dulu sekali, saat usia-usia wajah adalah nomor satu, jangan tanya perempuan mana yang tidak  kepincut.  Untuk yang satu itu memang dia juaranya,  aku kalah telak.  Aku hanya mendapatkan satu perempuan saja yang sekarang menjadi ibu dari anak-anakku.


Hanya aku dan dia dalam generasi kami yang masih di sini. Bukan karena terlalu mencintai wangi tanah sisa hujan ataupun berprinsip hujan batu di negeri sendiri lebih baik daripada hujan uang di negeri orang, tapi sungguh tidak ada nyali dan uang untuk merantau menyebrangi laut menjemput dolar.
“Masih kau suguhi aku kopi, ini dapat ngutang di mana?”
“Tenang saja, itu semua uangku. Kau tahu aku kemarin habis mentraktor sawah milik orang.”
Dia menyeruput kopi itu setengah. Aku tertawa saja, selalu begitu, dia tidak pernah bisa bersikap perwira di depanku. Setahuku di mana-mana lelaki itu menyesap sedikit, sebagai jeda di antara dua isapan batang rokok. Masalahnya dia tidak merokok.
“Kau tahu, aku tidak merokok, tidak berjudi, tidak maling, tapi hidupku capek dan tongpes. Apa menurutmu aku harus korupsi seperti mereka?”
“Mereka siapa, dan mau korupsi di mana?”
“Mereka yang selalu bilang bahwa tidak akan pernah korupsi satu sen pun. Kau tahu mana ada mata uang kita yang satu sen? Karena itu mereka korupsi satu milyar atau satu triliyun. Satu milyar atau satu triliyun itu baru benar-benar ada, bukan? Kamu benar juga,di mana aku bisa korupsi? Kalau begitu akan kuurungkan niatku. Setidaknya aku akan termasuk orang-orang yang berhati bersih.”
Aku tertawa saja sementara dia tersenyum kecut, tahu benar jika dia sudah berucap seperti itu berarti dia dalam keadaan ekonomi yang sekarat. Mungkin saja itu karena harga gabah yang sekarang anjlok, atau mungkin juga karena hal lain. Aku tidak pernah tahu dengan pasti. Dia tertutup untuk masalah seperti itu. “Luangkan sedikit ruang untuk rahasiamu, tidak perlu orang tahu semua isi perut kita.” Begitu alasan yang dia katakan  ketika satu centi lagi aku tahu apa masalah yang sedang merundungnya.
Dia datang untuk mengopi, kadang dia yang membawa sendiri gula dan kopinya. Alasannya hanya kopi buatanku yang pas di lidahnya. Untuk yang ini istrinya kerap geleng-geleng kepala.
“Aku mau pamitan, mungkin aku tidak akan pulang dan menikmati kopimu lagi.”
“Maksudmu, kau akan mati? Ada-ada saja kalau ngomong. Nanti dicatat malaikat. Bicara yang bagus, orang-orang seperti kita itu bahkan mati pun bukan pilihan bagus. Kasihan anak-anak dan istri. Jadi diamlah dan berhenti omong kosong!”
“Terserah. Tapi setidaknya aku sudah memberitahumu. Saatnya tiba kau tidak boleh menangisiku dan mengatakan aku tidak pamitan.”
Dia bicara seperti itu dengan muka yang biasa saja, sesekali menyelinginya dengan tersenyum. Tidak ada yang serius. Dia menyodorkan gelasnya yang kosong.
“Bikinkan aku segelas lagi! Jangan terlalu pelit.!Aku tidak akan banyak bicara,dan kau tidak boleh banyak bertanya, apalagi protes.”
Aku ke dapur dan membuatkannya lagi. Selanjutnya dia berbicara seperti biasa, topik yang disukainya adalah politik. Andai dia seorang yang terpelajar, dan tidak putus sekolah lantaran harus mencangkul demi membantu bapaknya mencari sesuap nasi, aku yakin dia itu akan lebih pantas duduk di kursi daripada mereka.  Pandangan politiknya luas, dan tebakan arah angin politk di negeri ini tidak satu pun pernah meleset dari perkiraannya. Maklum semua koran bekas di warung tetangganya habis dilalapnya sebelum pembeli. Gila!
Tidak lama kemudian setelah puas, dia pergi. Sebelum sampai di pintu dia menanyakan berapa hutang yang dia punya. Kusebutkan hanya dua puluh ribu. Dia merogoh kantungnya dan membayar lunas. Tapi kutolak, dan dia memaksa. Habis menjual telur bebek dari kandang belakang rumah, begitu katanya. Setelah kuancam jika dia memaksa maka tidak mendapatkan kopi lagi dia malah tertawa. “Ya, sudah uangnya aku ambil. Aku tidak akan ngopi lagi di rumahmu.”
“Kamu marah, Kang?”
“Aku besok mau ke kota lain. Ada yang mengajakku, mungkin setelah mendapat pekerjaan yang pantas, aku akan mengabarimu.”
Sudah tiga hari wajahnya tidak muncul. Biasanya bahkan sampai satu bulan dia tidak mengunjungiku aku tidak sewas-was ini. Tidak ada firasat apapun, bahkan mimpi. Sepulang dari kebun menggemburkan tanah untuk musim tanam palawija seminggu ke dapan,  aku sempatkan mampir ke rumahnya. Aku hanya menemukan istri dan kedua anaknya.
“Kang Yanto pergi ke mana?”
“Katanya sudah pamitan sama Sampeyan. Aku tidak tahu tepatnya ke mana, dia pergi dengan temannya.”
Tidak biasanya dia semisterius ini, bahkan istrinya tidak tahu ke mana tepatnya. Apa mungkin dia tidak ingin istrinya  mengkhawatirkan karena akan segera pulang? Tapi pamitan kepadaku? Pamitan model mana? Dia bahkan seolah pamitan mau mati. Kurang ajar sekali Yanto itu! Aku tidak pernah semarah ini, jika saja hatiku tiba-tiba tidak merasa was-was begini. Lihat saja, kalau dia pulang akan kutempeleng dia, sembarangan bicara dan berahasia bahkan untuk sebuah tempat yang dituju! Oke lah, kalau itu tentang masalah pribadi, tapi ini tujuan kepergian, kalau ada apa-apa aku mesti mencari ke mana? Apalagi dia meninggalkan anak istri. Menyebalkan!
Istriku di rumah berusaha meredakan emosiku. “Serahkana saja sama Tuhan, bukankah semua dari Tuhan dan semua sudah digariskan?” Benar uga yang dia katakan. Kucoba menelan nasi dan lauk yang disediakan istriku, semua terasa pahit di lidah. Sebenarnya aku kenapa? Jangan-jangan sebenarnya aku yang bermasalah, aku yang tiba-tiba merasa takut  sendirian. Atau aku sebenarnya yang minthoni? Minthoni itu istilah di sini untuk sikap orang-orang yang memberi tanda bahwa kematiannya sudah dekat.
Kalau dia mati aku pasti akan kesepian. Aku akan kehlangan banyak. Teman yang sudah seperti saudara kandung, orang yang selalu berpikiran maju dan membuat aku melek tentang hidup, dan tentu saja orang yang bisa sesekali kuminta bantuan pinjam uang kalau aku sekarat. Aku bahkan tidak sedekat itu bicara tentang masalah pribadiku kepada kakak lelakikku.
“Apa kau dengar sesuatu tentang istrinya Yanto, atau kabar buruk di luar?” Istriku memandangiku, ada yang ingin dia katakana, bahkan mungkin banyak.   Tetapi sepertinya dia segan, seolah takut menyakitiku.
“Banyak berdoa saja, Mas. Bukankah doa bisa membatu mengatasi masalah?” Dia tetap bungkam dengan apa yang kutanyakan. Istriku memang kurang suka bicara buruk tentang orang lain. Aku mengerti prinsipnya, tapi kali ini aku tiba-tiba merasa butuh informasi yang berkembang, semacam desas-desus atua gosip murahan sekalipun. Setidaknya aku bisa menebak ke mana arah angin yang mesti kutuju.
“Malam sebentar lagi tiba, berangkatlah ke langgar, bicara ringan dan ngaji dengan bapak-bapak yang lain mungkin sedikit meredakan rasa khawatirmu.”
Tidak ada pemberitaan yang kudapat tentang Yanto dari langgar. Orang-orang hanya membahas tentang bab menyolati mayit dan rencana menanam palawija pekan depan. Sampai setelah semua turun sesudah salat isya, seseorang datang tergopoh-gopoh mencariku.
“Kang Nur!”
“Ada apa, sepertinya penting?”
Dia adalah adik dari Yanto. Dia tidak bicara banyak, suaranya bergetar ketika menyuruhku membaca pesan pendek di handphone-nya. Aku tidak percaya semua ini. Lelucon?
Aku membacanya sampai tujuh kali. Benar, tulisan di layar itu tidak berubah sama sekali, sama persis  seperti ketika awal aku membacanya. Kutatap mata Supri. “Ini benar?” Dia mengangguk. Tuhan, aku bahkan tidak bisa menangis! Iya, aku lelaki yang paling berduka di muka bumi  kali ini. Air mataku bahkan kering dengan sendirinya. Aku tidak melihat apapun kecuali hitam. Wajah Supri tiba-tiba menghilang. Kepalaku seolah berputar dan aku terlempar ke dalam lorong dengan jeritan yang lebih pekak dari yang bisa didengar telinga manapun.
Aku terbangun, kukucek mataku.  Banyak orang di sini. Mereka terlihat sedikit lega. “Sudah sadar rupanya sumimu, Marni. Buatkan teh hangat, dan suapi sesendok-sesendok.” Dia itu Kyai Fajar. Ada apa denganku?
Ingatanku berangsur-angsur kembali. Semua berawal dari pesan di handphone Supri. “Jangan banyak bertanya dulu. Sesudah kamu merasa membaik, kita akan berangkat malam ini juga. Tadinya kupikir tidak perlu membawamu, tapi rasanya itu tidak benar.”
Satu mobil dan tujuh motor beriringan menembus malam. Perlu dua jam untuk sampai. Semua yang ikut laki-laki, istri Kang Yanto menangis di rumahnya dan  tidak  diizinkan ikut.
Di sana banyak orang berkerumun. Rumah itu menjadi penuh sesak. Mereka memberi jalan agar kami mendekat. Kang Yanto ada di sana, di sebuah ranjang dengan dengan leher terikat di satu sisi ranjang,dan kedua kakinya terikat di sisi satunya yang lain. Posisisnya jatuh miring di samping ranjang. Aku tak boleh memegangnya dan hanya bisa menatapnya dengan sakit. Dia bunuh diri, begitu katanya!
Ini kata pamitmu? Ini lelucon yang membuatku khawatir? Tidak! Aku terima jika memang dia harus pulang, tapi  tidak dengan bunuh diri! Aku mengenal baik siapa dan bagaimana dia. Tidak akan pernah terlintas sedikit pun keinginan itu di kepalanya. Dia yang selalu menguatkanku, dia yang selalu memaksakku melihat cahaya.
Polisi memeriksa dengan teliti. Aku tidak paham benar dengan prosedurnya. Tapi aku melihat dengan benar bagaimana tali itu seperti terencana, rapi dan ikatannya kuat menjerat. Lalu, lidah itu tidak terjulur sedikitpun. “Dia tidak bunuh diri,  dia dibunuh! Akan kuminta pihak Kepolisian mengusut tuntas. Lihat lidahnya! Lihat talinya! Seumur hidup aku berteman, yang tidak bisa dilakukannya dalam hidup cuma tiga: tidak bisa mengikat  tali, tidak bisa bersekolah, dan tidak bisa mencurangi!”
Setelah satu tahun. Pagi ini aku membuat kopi. Kasus kematian itu ditutup begitu saja. Mungkin karena uang, mungkin karena kurang bukti, mungkin karena  memang tidak perlu ada yang dipermasalahkan lagi. Istrinya  sudah tak berduka lagi, dia sudah ada yag menemani. Seseorang yang tidak ingin kutemui di sisa umurku, dia yang membawa Kang Yanto sebelum mati.
Aku tidak pernah menziarahi makamnya. Aku mengiriminya doa setiap hari, bahkan setiap ada waktu untuk berdoa. Aku bukan tidak menyayanginya lagi, aku hanya tidak ingin terlihat runtuh di depan makamnya. Dia sudah tidak akan pernah menemuiku lagi dan meminta dibuatkan segelas kopi.
Biodata: Nurlaeli Umar, penulis pemula yang berdomisili di Jakarta.

No comments:

Jual Keripik Tempe

Jual Keripik Tempe Sejarah mencatat, bahwa tempe adalah makanan yang telah menyelamatkan orang dari etnis Jawa hidup lebih lama dibanding ...