Sunday, September 4, 2016

Cerpen Ruko Sebelah di Koran Pantura, 31 Agustus 2015




Tanggal terbit: Rabu, 31 Agustus 2016
Ruko Sebelah
Oleh: Nurlaeli Umar
Ketika ditawari pekerjaan ini, aku tidak berpikir dua tiga kali langsung kuiyakan. Menganggur itu tidak menyenangkan, terutama di bagian keuangannya. Kantong kosong adalah ritual yang selalu kujalani, bahkan sebatang rokok mesti kuminta dari ibuku. Terang saja semburan kata untuk mencari kerja lebih mirip dengan nada pengusiran. Masalahnya mulutku yang dua tahun setelah lulus sekolah sudah teracuni tar. Rasanya asam kalau sehabis makan tidak menyesapnya.
 






 




Aku merokok pakai aturan, tiga sesapan saja selebihnya dimatikan. Itu pun hanya sehabis makan saja. Jangan mengatakan aku aneh!
Ruko yang kutempati satu bangunan dengan tiga ruko lainnya. Hanya empat ruko saja di sini, selebihnya kanan-kiri adalah toko-toko dan warung-warung. Jalanan di depan ruko empat buah ini adalah jalanan besar yang dari pagi sampai malam tidak pernah tidur.
“Aku berani, tenang saja. Hanya tinggal membersihkan dan menutupnya ketika semua pulang, bukan?” Yang menawariku pekerjaan itu mengiyakan, kemudian menyebutkan nominal dari gaji yang akan kuterima setiap bulannya. Gila, itu besar sekali!
Aku ingin menyesal tapi terlambat. Bayangan ruko seperti yang ada di kepalaku salah sama sekali. Bangunannya punya empat lantai dengan ukuran yang luas. Aku harus menyapu dan mengepelnya sendirian. Awalnya remuk semua tulangku, tapi kemudian terpaksa terbiasa.
Tidak ada yang kukenal baik selain tukang parkir di depan ruko dan pemilik warung kecil di seberang jalan. Tukang parkir yang datang ketika malam saja, karena ketika siang hari parkir di depan gratis. Parkir untuk semua pelanggan dari keempat ruko di sini. Setiap malam tempat parkirnya selalu penuh, pengunjung warung martabak kubang dan sop konro di seberang jalan memenuhinya.
“Apa sudah selesai dengan sapu-menyapu, Fir?” Tukang parkir yang lebih suka dipanggil Delon itu menyeka mukanya yang tidak keringatan. Setiap ada orang yang memanggil nama aslinya muka masam selalu diperlihatkan seketika, tapi ketika dipanggil Delon, dua batang rokok akan ditawarkan gratis. Terkadang malah ditambahi dengan minuman gelasan seribuan.
“Sudah, tenang saja. Habis ngobrol aku akan tidur nyenyak.”
“Jangan terlalu nyenyak, kamu tahu sejarahnya rukomu itu?” Kubiarkan dia berbicara semaunya, aku sedang malas bicara, “ruko yang kamu tempati pernah tiga kali kerampokan. Tapi akhirnya ketangkap juga sih. Kamu tahu kenapa? Karena yang merampok kerja sama dengan penjaga malamnya.” Aku sebenarnya sedikit terkejut, tapi demi mendengar akhir kalimatnya menjadi biasa saja.
Ruko sebelah kananku adalah toko roti yang harganya keterlaluan. Satu roti di sana bisa kubelika roti di warung seberang jalan menjadi dua puluh lima buah. Anehnya, toko selau ramai. Mungkin orang-orang bermobil itu menganggap harga roti murah dan wajar. Memang enak sekali rasanya. Pemiliknya seorang keturunan yang memang sangat ahli dalam membuat kue dan galak setengah mati.
Sementara ruko di sebelah kiriku penghuninya aneh. Dia seorang perempuan pebisnis yang selalu berteriak kepada karyawannya, mobil box tinggi dengan kardus-kardus yang keluar masuk, tapi sebulan kemudian menjadi laki-laki dengan mobil mewah berganti-ganti yang memilih ruko daripada apartemen sebagai tempat tinggal, karena aku tidak pernah melihat usaha yang dijalankan dari rukonya.
Sebulan kemudian berganti penghuninya menjadi agen telur dengan banyak pelanggan bermobil box. Konon terlurnya adalah hasil dari sebuah penelitian laboratorium. Telur yang dirancang untuk menekan pengeluaran. Telur dengan dua kuning telur di dalamnya. Aku pernah diberi yang sudah retak oleh salah satu pegawainya hanya karena aku meminjamkan api untuk rokoknya, dan kugoreng. Setelahnya aku pusing-pusing dan bangun keesokan harinya. Dua bulan kemudian penghuninya kembali berganti tanpa sempat aku lihat mukanya.
Sudah kuselesaikan semua tugasku pagi ini. Tinggal menunggu handphone-ku berdering, yang berarti pemilik ruko ini datang. Benar saja sepuluh menit kemudian dia menelpon. Pintu kubuka. Bosku hanya mengizinkan pintu besi dibuka setelah mereka siap, mungkin sekitar satu jam lagi. 
Ada yang berbeda pagi ini, kegaduhan semalam yang kudengar dari ruko paling ujung ternyata membuahkan bendera warna-warni, dan tulisan yang menempel pada tembok antara lantai satu dan dua dengan besar-besar: WARUNG BAKSO ARTIS. Semua sepertinya masih sibuk dengan persiapan pembukaan. Semalam film lepas di televisi membuatku memilih jaga dari dalam saja. Mendengar kebisingan palu dari arah ruko paling ujung membuatku merasa aman. Ada kehidupan.
Siang hari selepas jam dua belas, voucher dari warung itu kucairkan. Potongan harga yang lumayan sebagai perkenalan. Bos yang menyuruhku. Tidak berlangsung lama, tiga bulan pertama mereka memutuskan untuk pindah ke tempat yang lebih mewah. Ruko itu terisi lagi dengan sepi.
Di sini aku mendapatkan semua fasilitas lebih. Aku boleh memakai telepon toko jika memang diperlukan. Dan aku bisa menonton televisi sepanjang malam. Tapi tidak dengan tamu, aku harus melaporkan siapa saja orang yang kubawa masuk ketika malam hari. Tidak banyak memang, paling satu dua dan itu juga hanya saudara yang tinggal di Jakarta dan kebetulan menengok keberadaanku saja.
“Fir, sekarang kamu jarang keluar, kenapa?” Begitu pertanyaan dari tukang parkir yang sekarang berubah menjadi pelit. Tidak ada tawaran rokok ataupun minuman seperti kemarin dulu.
“Aku sedang banyak butuh, jadi kamu beli saja rokok sendiri.jangan minta jatah. Istriku habis melahirkan dan anakku harus diinkubator karena bermasalah.” Seperti biasa dia berbicara tanpa kutanya apa dan bagaimana.
“Ikut senang juga sedih. Semoga anakmu cepat membaik, Bang.”
“Makanya Fir, kalau niat nikah harus cari uang yang banyak dan punya rumah. Begini nasib orang kontrakan. Kadang belum tanggalnya sudah dikejar-kejar. Giliran aku minta sekali saja mundur karena istriku sakit, dia mencak-mencak langsung mengusir.”
“Masak sih, hanya gara-gara itu bisa jadi berabe,” sanggahku.
“Bukan itu masalah utamanya, dia sebenarnya ingin pekerjaanku di sini. Dia kan asli sini, jadi menurut dia, yang pantas melakukan semua ini ya dia itu. Padahal sebelumnya aku sudah menawarkan tapi dulu dia menolak. Gengsi katanya jadi tukang parkir. Setelah tahu uangnya baru deh.”
“Kamu tahu, Fir? Dia minta aku memasukkan anaknya ke ruko paling ujung.”
“Ruko itu bukannya sudah pindah, maksudku yang kemarin mengisi.”
“Makanya, keluar Fir. Ruko itu dibeli sama saudara pemilik kontrakan yang kutempati. Katanya mau bikin usaha. Coba kamu bicara dengan pemiliknya.”
“Aku?”
“Iya, kamu kan pinter ngomong, dia akan percaya denganmu. Masukkan satu saja anak pemilik kontrakan, hitung-hitung menolongku. Ya, setidaknya sampai istriku pulih dan anakku pulang dari rumah sakit.” Aku menyanggupinya, meski aku tidak berani berjanji.
Kudengar dari pemilik rumah makan sop konro di seberang, ruko tidak disewa tapi dibeli. Pembeli adalah seseorang yang terhormat dan paham agama. Lengkap sudah informasi yang kudapat dan aku makin mantap.
Seminggu kemudian. Siang hari ruko paling ujung sepi. tapi malam hari ramai pengunjung. Mobil-mobil mewah datang silih berganti. Kuamati pengunjung tempat itu seperti orang berkelas. Tapi tidak ada nama perusahaan di depan ruko yang terpampang jelas. “Diskotik, Fir,” begitu kata tukang parkir itu. Kemudian dia mengatakan jika aku tidak perlu melakukan apa yang dia minta. Semua masalahnya sudah terselesaikan, pindah kontrakan, dan anak istrinya baik-baik saja sekarang.
“Tapi aku tidak pernah mendengar apa pun, pemiliknya adalah seseorang yang terhormat dan paham agama. Jangan asal bicara!” kataku mendebat.
“Kau itu, suaranya diredam lah. Coba kau perhatikan orang-orang yang turun dengan lebih. Kau juga mesti waspada, orang-orang dari sana mungkin tidak bermasalah, tapi waspada saja. Siapa tahu ada yang berotak kotor, terus melakukan perampokan seperti dulu. Iya di rukomu.”
“Tidak ada apa-apa di dalam. Semua perhiasan dan uang dibawa pulang.”
“Itu lebih baik dan aman buatmu. Eh coba lihat itu! Itu adalah perempuan penghiburnya. Kau tahu mereka itu fresh-fresh.”
“Kamu pikir itu buah dari pohon atau pendingin? Sudah sana itu ada mobil yang mau keluar. Tugas, tugas, gak usah ngopeni urusan orang lain!”
Selesai dengan mobil yang keluar, dia disibukkan lagi dengan mobil yang masuk. Aku berbalik badan untuk masuk. Lebih baik berjaga di dalam saja, mungkin aku akan keluar lagi dua tiga jam kemudian.
Mataku melihat mobil itu, benar-benar berisi dengan barang fresh. Gadis-gadis dengan wajah cantik berbaju mini, sepatu berhak tinggi. Mereka masih belia. Pinggangnya ramping-ramping. Hebat benar orang yang membawanya. Bisa mengumpulkan gadis sebanyak itu dan tidak ada yang biasa saja. Aku laki-laki, bisa membedakan antara yang polesan dengan yang cantik asli. Gila, semua ada dua puluh dari dua mobil! Berarti banyak laki-laki di dalam sana. Empat lantai yang luas, batinku.
“Benar, kan? Kamu sih kuper. Di Jakarta ini sehari gak keluar bisa gak tahu jalan pulang. Semua berubah sebentar saja.”
“Mereka anak-anak Jakarta?”
“Bukan, mereka gadis-gadis desa. Diambil langsung dari sana. Tuh, yang paling cantik, itu yang berjalan paling belakang!” Dia menunjuk salah satu dari mereka. Benar,dia memang berbeda.
“Kemarin aku disuruh membelikan martabak. Aku mau saja, uang capeknya lumayan. Kamu tahu, dua ratus ribu! Gila, gak?”
“Dua ratus ribu, cuma buat upah beli martabak yang jaraknya sepuluh meter dari ruko ini?”
“Sudah sana masuk! Nanti kamu kepingin lagi masuk ke ruko ujung. Berabe, bisa-bisa sekali masuk habis gajimu sebulan. Kamu tahu, primadona itu baru datang seminggu yang lalu. Kalau tidak salah, nama kampungnya sama dengan kampungmu. Apa ya?” Aku menyebutkan nama kampungku, dan dia membenarkannya.
Kampungku? Primadona itu dari kampungku? Semoga saja itu bukan seseorang yang kukenal. Aku mengamatinya. Gadis itu tinggal selangkah lagi masuk ke dalam. Seorang lelaki perlente yang barusan turun dari sedan mewah menggamitnya. Tuhan, itu Astari kekasihku!


No comments:

Jual Keripik Tempe

Jual Keripik Tempe Sejarah mencatat, bahwa tempe adalah makanan yang telah menyelamatkan orang dari etnis Jawa hidup lebih lama dibanding ...