Tanggal
terbit: Rabu, 31 Agustus 2016
Ruko
Sebelah
Oleh:
Nurlaeli Umar
Ketika
ditawari pekerjaan ini, aku tidak berpikir dua tiga kali langsung kuiyakan.
Menganggur itu tidak menyenangkan, terutama di bagian keuangannya. Kantong
kosong adalah ritual yang selalu kujalani, bahkan sebatang rokok mesti kuminta
dari ibuku. Terang saja semburan kata untuk mencari kerja lebih mirip dengan
nada pengusiran. Masalahnya mulutku yang dua tahun setelah lulus sekolah sudah
teracuni tar. Rasanya asam kalau sehabis makan tidak menyesapnya.

Aku
merokok pakai aturan, tiga sesapan saja selebihnya dimatikan. Itu pun hanya
sehabis makan saja. Jangan mengatakan aku aneh!
Ruko
yang kutempati satu bangunan dengan tiga ruko lainnya. Hanya empat ruko saja di
sini, selebihnya kanan-kiri adalah toko-toko dan warung-warung. Jalanan di
depan ruko empat buah ini adalah jalanan besar yang dari pagi sampai malam
tidak pernah tidur.
“Aku
berani, tenang saja. Hanya tinggal membersihkan dan menutupnya ketika semua
pulang, bukan?” Yang menawariku pekerjaan itu mengiyakan, kemudian menyebutkan
nominal dari gaji yang akan kuterima setiap bulannya. Gila, itu besar sekali!
Aku
ingin menyesal tapi terlambat. Bayangan ruko seperti yang ada di kepalaku salah
sama sekali. Bangunannya punya empat lantai dengan ukuran yang luas. Aku harus
menyapu dan mengepelnya sendirian. Awalnya remuk semua tulangku, tapi kemudian
terpaksa terbiasa.
Tidak
ada yang kukenal baik selain tukang parkir di depan ruko dan pemilik warung kecil
di seberang jalan. Tukang parkir yang datang ketika malam saja, karena ketika
siang hari parkir di depan gratis. Parkir untuk semua pelanggan dari keempat
ruko di sini. Setiap malam tempat parkirnya selalu penuh, pengunjung warung
martabak kubang dan sop konro di seberang jalan memenuhinya.
“Apa
sudah selesai dengan sapu-menyapu, Fir?” Tukang parkir yang lebih suka
dipanggil Delon itu menyeka mukanya yang tidak keringatan. Setiap ada orang
yang memanggil nama aslinya muka masam selalu diperlihatkan seketika, tapi
ketika dipanggil Delon, dua batang rokok akan ditawarkan gratis. Terkadang
malah ditambahi dengan minuman gelasan seribuan.
“Sudah,
tenang saja. Habis ngobrol aku akan tidur nyenyak.”
“Jangan
terlalu nyenyak, kamu tahu sejarahnya rukomu itu?” Kubiarkan dia berbicara
semaunya, aku sedang malas bicara, “ruko yang kamu tempati pernah tiga kali
kerampokan. Tapi akhirnya ketangkap juga sih. Kamu tahu kenapa? Karena yang
merampok kerja sama dengan penjaga malamnya.” Aku sebenarnya sedikit terkejut,
tapi demi mendengar akhir kalimatnya menjadi biasa saja.
Ruko
sebelah kananku adalah toko roti yang harganya keterlaluan. Satu roti di sana
bisa kubelika roti di warung seberang jalan menjadi dua puluh lima buah.
Anehnya, toko selau ramai. Mungkin orang-orang bermobil itu menganggap harga
roti murah dan wajar. Memang enak sekali rasanya. Pemiliknya seorang keturunan
yang memang sangat ahli dalam membuat kue dan galak setengah mati.
Sementara
ruko di sebelah kiriku penghuninya aneh. Dia seorang perempuan pebisnis yang
selalu berteriak kepada karyawannya, mobil box tinggi dengan kardus-kardus yang
keluar masuk, tapi sebulan kemudian menjadi laki-laki dengan mobil mewah
berganti-ganti yang memilih ruko daripada apartemen sebagai tempat tinggal,
karena aku tidak pernah melihat usaha yang dijalankan dari rukonya.
Sebulan
kemudian berganti penghuninya menjadi agen telur dengan banyak pelanggan
bermobil box. Konon terlurnya adalah hasil dari sebuah penelitian laboratorium.
Telur yang dirancang untuk menekan pengeluaran. Telur dengan dua kuning telur
di dalamnya. Aku pernah diberi yang sudah retak oleh salah satu pegawainya
hanya karena aku meminjamkan api untuk rokoknya, dan kugoreng. Setelahnya aku
pusing-pusing dan bangun keesokan harinya. Dua bulan kemudian penghuninya
kembali berganti tanpa sempat aku lihat mukanya.
Sudah
kuselesaikan semua tugasku pagi ini. Tinggal menunggu handphone-ku berdering,
yang berarti pemilik ruko ini datang. Benar saja sepuluh menit kemudian dia
menelpon. Pintu kubuka. Bosku hanya mengizinkan pintu besi dibuka setelah
mereka siap, mungkin sekitar satu jam lagi.
Ada
yang berbeda pagi ini, kegaduhan semalam yang kudengar dari ruko paling ujung
ternyata membuahkan bendera warna-warni, dan tulisan yang menempel pada tembok
antara lantai satu dan dua dengan besar-besar: WARUNG BAKSO ARTIS. Semua
sepertinya masih sibuk dengan persiapan pembukaan. Semalam film lepas di
televisi membuatku memilih jaga dari dalam saja. Mendengar kebisingan palu dari
arah ruko paling ujung membuatku merasa aman. Ada kehidupan.
Siang
hari selepas jam dua belas, voucher dari warung itu kucairkan. Potongan harga
yang lumayan sebagai perkenalan. Bos yang menyuruhku. Tidak berlangsung lama,
tiga bulan pertama mereka memutuskan untuk pindah ke tempat yang lebih mewah.
Ruko itu terisi lagi dengan sepi.
Di
sini aku mendapatkan semua fasilitas lebih. Aku boleh memakai telepon toko jika
memang diperlukan. Dan aku bisa menonton televisi sepanjang malam. Tapi tidak
dengan tamu, aku harus melaporkan siapa saja orang yang kubawa masuk ketika
malam hari. Tidak banyak memang, paling satu dua dan itu juga hanya saudara
yang tinggal di Jakarta dan kebetulan menengok keberadaanku saja.
“Fir,
sekarang kamu jarang keluar, kenapa?” Begitu pertanyaan dari tukang parkir yang
sekarang berubah menjadi pelit. Tidak ada tawaran rokok ataupun minuman seperti
kemarin dulu.
“Aku
sedang banyak butuh, jadi kamu beli saja rokok sendiri.jangan minta jatah.
Istriku habis melahirkan dan anakku harus diinkubator karena bermasalah.”
Seperti biasa dia berbicara tanpa kutanya apa dan bagaimana.
“Ikut
senang juga sedih. Semoga anakmu cepat membaik, Bang.”
“Makanya
Fir, kalau niat nikah harus cari uang yang banyak dan punya rumah. Begini nasib
orang kontrakan. Kadang belum tanggalnya sudah dikejar-kejar. Giliran aku minta
sekali saja mundur karena istriku sakit, dia mencak-mencak langsung mengusir.”
“Masak
sih, hanya gara-gara itu bisa jadi berabe,” sanggahku.
“Bukan
itu masalah utamanya, dia sebenarnya ingin pekerjaanku di sini. Dia kan asli
sini, jadi menurut dia, yang pantas melakukan semua ini ya dia itu. Padahal
sebelumnya aku sudah menawarkan tapi dulu dia menolak. Gengsi katanya jadi
tukang parkir. Setelah tahu uangnya baru deh.”
“Kamu
tahu, Fir? Dia minta aku memasukkan anaknya ke ruko paling ujung.”
“Ruko
itu bukannya sudah pindah, maksudku yang kemarin mengisi.”
“Makanya,
keluar Fir. Ruko itu dibeli sama saudara pemilik kontrakan yang kutempati.
Katanya mau bikin usaha. Coba kamu bicara dengan pemiliknya.”
“Aku?”
“Iya,
kamu kan pinter ngomong, dia akan percaya denganmu. Masukkan satu saja anak
pemilik kontrakan, hitung-hitung menolongku. Ya, setidaknya sampai istriku
pulih dan anakku pulang dari rumah sakit.” Aku menyanggupinya, meski aku tidak
berani berjanji.
Kudengar
dari pemilik rumah makan sop konro di seberang, ruko tidak disewa tapi dibeli.
Pembeli adalah seseorang yang terhormat dan paham agama. Lengkap sudah
informasi yang kudapat dan aku makin mantap.
Seminggu
kemudian. Siang hari ruko paling ujung sepi. tapi malam hari ramai pengunjung.
Mobil-mobil mewah datang silih berganti. Kuamati pengunjung tempat itu seperti
orang berkelas. Tapi tidak ada nama perusahaan di depan ruko yang terpampang
jelas. “Diskotik, Fir,” begitu kata tukang parkir itu. Kemudian dia mengatakan
jika aku tidak perlu melakukan apa yang dia minta. Semua masalahnya sudah
terselesaikan, pindah kontrakan, dan anak istrinya baik-baik saja sekarang.
“Tapi
aku tidak pernah mendengar apa pun, pemiliknya adalah seseorang yang terhormat
dan paham agama. Jangan asal bicara!” kataku mendebat.
“Kau
itu, suaranya diredam lah. Coba kau perhatikan orang-orang yang turun dengan
lebih. Kau juga mesti waspada, orang-orang dari sana mungkin tidak bermasalah,
tapi waspada saja. Siapa tahu ada yang berotak kotor, terus melakukan
perampokan seperti dulu. Iya di rukomu.”
“Tidak
ada apa-apa di dalam. Semua perhiasan dan uang dibawa pulang.”
“Itu
lebih baik dan aman buatmu. Eh coba lihat itu! Itu adalah perempuan
penghiburnya. Kau tahu mereka itu fresh-fresh.”
“Kamu
pikir itu buah dari pohon atau pendingin? Sudah sana itu ada mobil yang mau
keluar. Tugas, tugas, gak usah ngopeni urusan orang lain!”
Selesai
dengan mobil yang keluar, dia disibukkan lagi dengan mobil yang masuk. Aku
berbalik badan untuk masuk. Lebih baik berjaga di dalam saja, mungkin aku akan
keluar lagi dua tiga jam kemudian.
Mataku
melihat mobil itu, benar-benar berisi dengan barang fresh. Gadis-gadis dengan
wajah cantik berbaju mini, sepatu berhak tinggi. Mereka masih belia.
Pinggangnya ramping-ramping. Hebat benar orang yang membawanya. Bisa
mengumpulkan gadis sebanyak itu dan tidak ada yang biasa saja. Aku laki-laki,
bisa membedakan antara yang polesan dengan yang cantik asli. Gila, semua ada
dua puluh dari dua mobil! Berarti banyak laki-laki di dalam sana. Empat lantai
yang luas, batinku.
“Benar,
kan? Kamu sih kuper. Di Jakarta ini sehari gak keluar bisa gak tahu jalan
pulang. Semua berubah sebentar saja.”
“Mereka
anak-anak Jakarta?”
“Bukan,
mereka gadis-gadis desa. Diambil langsung dari sana. Tuh, yang paling cantik,
itu yang berjalan paling belakang!” Dia menunjuk salah satu dari mereka.
Benar,dia memang berbeda.
“Kemarin
aku disuruh membelikan martabak. Aku mau saja, uang capeknya lumayan. Kamu
tahu, dua ratus ribu! Gila, gak?”
“Dua
ratus ribu, cuma buat upah beli martabak yang jaraknya sepuluh meter dari ruko
ini?”
“Sudah
sana masuk! Nanti kamu kepingin lagi masuk ke ruko ujung. Berabe, bisa-bisa
sekali masuk habis gajimu sebulan. Kamu tahu, primadona itu baru datang
seminggu yang lalu. Kalau tidak salah, nama kampungnya sama dengan kampungmu.
Apa ya?” Aku menyebutkan nama kampungku, dan dia membenarkannya.
Kampungku?
Primadona itu dari kampungku? Semoga saja itu bukan seseorang yang kukenal. Aku
mengamatinya. Gadis itu tinggal selangkah lagi masuk ke dalam. Seorang lelaki
perlente yang barusan turun dari sedan mewah menggamitnya. Tuhan, itu Astari
kekasihku!
No comments:
Post a Comment