Sebungkus Daging dan Penyesalan
Oleh: Nurlaeli Umar
Dia
membuka bagasi untuk mengambil sesuatu yang kemarin diletakkan di sana. Hanya
sebuah kotak parfum murahan yang dibelinya dari sebuah toko kecil di ujung
pasar arah ke kontrakannya. Parfum dengan wangi kayu. Sebenarnya tidak masalah
baginya parfum beraroma apa dan merknya apa yang penting bisa menyamarkan bau
asam keringatnya. Sudah berulangkali dia mengganti merk dan aroma, tapi dengan
parfum itu istrinya baru memujinya. Tidak terlalu tajam dan wanginya
menenangkan begitu alasanya..

Sebuah
plastik hitam juga tergeletak di sana, dipojokan.. Dia mengingat-ingat tapi
ingatannya buntu, sama sekali tidak ada kemungkinan. Dia membukanya dan
terkejut. Sebungkus daging berada dalam bagasi mobilnya. Itu pasti milik
penumpang yang tertinggal. Bagaimana mungkin dia akan mengembalikan kepada
pemiliknya, sedangkan nama pemilik dan alamatnya saja dia tidak tahu. Hari ini
penumpang cukup ramai. Selesai dengan yang satu kemudian satunya lagi datang.
“Jangan
suka melik!”
“Apa
itu melik, Bu?”
“Mengakui
milik orang lain menjadi milikmu.”
“Kenapa?”
“Karena
orang yang kehilangan itu pasti sedih dan mengharapkan barangnya kembali ke
tangannya.”
Lalu
ibunya menceritakan kisah tentang Ratu Sima, seorang ratu yang memimpin sebuah
kerajaan penuh kejujuran. Di masanya tidak ada yang namanya pencuri, bahkan
barang yang tertinggal tidak akan diambil sama sekali oleh tangan orang lain. Bahkan
mesti emas atau permata sekalipun. Sampai suatu hari putra mahkota diancam
hukuman potong kaki hanya karena kakinya tanpa sengaja menyentuh pundi-pundi
berisi uang dan emas yang terjatuh di jalan.
Dia
masih akan selalu ingat nasihat dan kisah yang diceritakan ibunya yang sekarang sudah berpulang. Tapi
daging di bagasi itu akan mubazir begitu saja jika dibiarkan. Bukankah membuang
sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan itu juga mubazir? Andai diberikan kepada
tetangga atau orang lain, adakah itu bijak, sementara dia punya anak dan istri?
Begitu batin lelaki itu. Dia mengangkat bungkusan itu keluar bagasi. Kemudian
menaksir berapa kira-kira beratnya. Tidak ada pilihan lain kecuali membawa
pulang. Akan dibuat alasan kepada istrinya. Cukup untuk lauk empat hari.
Istrinya akan memasaknya dengan bumbu lengkap. Tidak hanya dengan taburan garam
dan sedikit micin. nanti.
Sepanjang
perjalanan menuju rumah. Dia terkenang masa itu, masa di mana dua bungkus
daging kurban yang dibagikan ke rumah-rumah dan membuatnya saling bertatap mata
dengan istrinya. Cukup lama, dan tanpa bicara. Semua berakhir setelah pintu
kayu dengan teriakan minta diberi pelumas itu terbuka. Wajah mungil muncul dengan
mata bercahaya dan keringat berbaris di dahinya.
“Kita
masak apa dagingnya, Bu? Apa akan dimasak seperti milik Wawan. Ibunya sudah
membeli bumbu kemarin.”
Dengan
senyum dipaksakan dan mata yang saling mencuri tatap, daging itu
dipotong-potong. Istrinya menjerang air hingga mendidih. Potongan daging itu
dibersihkan kemudian direbus. Hanya ditaburi garan dan sedikit micin. Wajah
lucu itu menungguinya sambil berulangkali merayu agar dia diperbolehkan
mencicipi daging dalam panci.
“Sebentar
lagi. Nanti kalau jarum panjang di angka tiga, semua siap dinikmati. Kau tahu
yang mana angka tiga, bukan?” Selingkar senyum hadir bersama anggukan
mengiyakan. Dia sudah belajar menghitung di hari sebelumnya bersama angka-angka
di jam dinding itu.
Panci
itu diangkat dari kompor gas yang diberikan gratis dari pemerintah. Saat dibuka
tutupnya, uap-uap itu berebut naik, menguakan wangi membuat selera makan
bangkit. Mangkuk kosong milik mata jeli itu sudah tidak sabar untuk diisi. Air
liur dari mulut mungil itu ditelan kembali. Dia mendapat giliran pertama, lalu
ditariknya kipas angin ke arah mangkuknya.
“Ini
dimasak apa, Bu? Aku tidak tahu namanya.”
“Di
makan saja, jangan banyak bertanya. Nanti rasa enaknya akan ikut menguap, jika
banyak bertanya. Katakan saja pada temanmu, ini namanya sop.”
Lelaki
itu menatap istrinya. Kemudian beralih ke arah anaknya yang sedang menyuapkan
kuah ke mulutnya. Rasa bersalah begitu menggunung di dadanya. Seharusnya dia
tidak sakit hari itu dan memberinya beberapa rupiah untuk membeli bumbu seperti tetangga yang lain. Bahkan di hari
Idul Adha seperti ini, sementara orang lain berkurban, dia mengorbankan
perasaan anak dan istrinya sendiri.
Mobil
sudah sampai di depan kontrakan pinggir jalan dan diparkirkan rapat ke sisi.
Istrinya yang sedang duduk meredakan lelah sehabis berburuh mencuci di rumah
tingkat tak jauh dari kontrakan yang ditempatinya menyambutnya sambil menatap
kantung plastik hitam di tangan suaminya.
“Sudah
pulang, apa kau sakit, Mas?”
“Tidak,
aku hanya mampir sebelum kembali ke pool. Masaklah ini, dan ini uang untuk beli
bumbu!”
Kantung
dibuka dan istrinya menatap tidak percaya. Hari ini bukan perayaan apa pun atau
siapa pun. “Dari mana ini?”
“Ini
bagian dari Wahir, kau masih ingat?”
“Dia
sedang ada acara? Mengapa daging mentah?”
Laki-laki
itu memberi alasan lagi. Alasan yang tiba-tiba terbit di benaknya. Tiba-tiba
untuk pertama kalinya dia begitu cerdas memberi banyak alasan. Mungkin ada
sedikit rasa gembira yang singgah sehingga membuat otaknya bekerja lebih dari
biasanya.
“Kamu
mau menunggu sampai daging ini masak, sembari istirahat?”
“Tentu
saja. Aku akan menunggu sambil bermain dengan anak kita.”
Daging
itu sekarang sudah berubah menjadi hidangan yang lezat. Tidak hanya garam saja
yang menjadi bumbunya tapi bumbu seperti seharusnya. Mereka bertiga melingkar
di atas tikar.
“Mas,
dagingnya tadi sedikit amis. Apa itu karena terlalu lama di bagasi? Memang
sudah berapa jam di sana?”
“Masa?
Mungkin itu karena tetangga sebelah masak ikan saja.”
“Benar
juga. Ayo makan!”
“Iya
seperti ini, Bu. Daging yang di rumah Wawan persis seperti ini. Dia tidak suka
makan sop begitu katanya.”
“Kau
masih ingat saja, padahal itu sudah tiga tahun yang lalu.”
Hari
itu mereka makan dengan lahap. Melupakan bau amis dan dari mana berasal daging
itu sebenarnya.
***
Hari
ini empat hari berselang. Laki-laki itu mengantar para penumpang taxi-nya.
Tidak ada pembicaraan ramah seperti biasa. Hanya senyum dan menanyakan ke mana
arah yang dituju saja. Mimpi semalam membuatnya bergidik. Mimpi yang baru kali
ini terjadi. Di dalam mimpinya dia terdampar di sebuah negeri. Semua
penduduknya tampan dan cantik kecuali dia sendiri. Semua tempat indah, semua ramah.
Sampai di penghujung mimpi sesudah berjalan ke sana-ke mari akhirnya dia dijamu
dengan sebuah pesta, di mana daging bertumpuk-tumpuk. Semua tampak lezat, dan
harum.
“Makanlah
sepuasnya! Kapan lagi kau bertandang ke mari? Semua daging-daging ini diolah
oleh para ahli kuliner negeri ini.” Seseorang yang memperkenalkan diri sebagai
pemimpin itu begitu ramah menyuruhnya menikmati hidangan.
“Negeri
apa ini?”
“Ini
Negeri Garam dan Micin.sebut saja Negeri Sop.”
Laki-laki
itu terbangun demi mendengar garam, micin, dan sop. Teringat anak dan istrinya.
Saat itu sebelum dia pergi meninggalkan mimpinya, daging-daging di piringnya
berubah menjadi busuk dan berulat.
Mobil
berbelok ke arah kanan, melintas ke depan sebuah rumah sakit. Biasanya di depan
pintu gerbang dia akan mendapati penumpang. Dia selalu hoki di sini. Di pelataran
parkir rumah sakit, teman-temannya bahkan masih rapi dalam barisan mobil
bertuliskan taxi di atapnya, menunggu giliran mendapat penumpang. Karena itu dia tidak pernah masuk
ke sana.
Seorang
penumpang melambaikan tangan. Mobil menepi. Pintu kaca depan dibuka.
“Pak,
bisa bicara sebentar?”
“Ada
apa?” tanya lelaki itu. Mobil dipinggirkan. Ini bukan pembicaraan biasa antara
pengemudi taxi dan penumpannya. Biasanya mereka akan bertanya tentang tempat
yang dituju, apa taxinya mau mengantarnya atau tidak. Tidak semua pengemudi
taxi mau membawa penumpang ke tempat yang diminta penumpang. Tentu mereka punya
alasaan tersendiri. Dari alasan mencurigakan, sampai kemungkinan keselamatan
karena tempat yang dituju sangat rawan, atau memang tidak mau ambil resiko lain
karena tidak tahu rute.
“Bapak
masih ingat saya? Tiga hari yang lalu, yang bayar kurang seribu.”
“Oh,
iya…iya. Sudah biarkan saja. Cuma seribu saja, kok. Saya ikhlas.”
Pintu
belakang dibuka dan penumpang itu masuk. “Antarkan saya ke alamat kemarin.”
“Daerah
mana, ya? Maaf saya tidak menghafal satu per satu.”
“Kebayoran.”
Mobil
dipacu melewati kemacetan yang merebak di mana-mana. Macet adalah seni
tersendiri bagi para pengemudi taxi. Beberapa pengemudi menyukainya beberapa
yang lain akan merasa kesal terjebak kemacetan. Di Jakarta sek,arang ini tidak
ada jam tidak macet, meski bukan jam makan, meski bukan jam orang kantor
berangkat atau pulang, meski bukan malam Minggu, semua sekarang bisa macet kapan saja.
“Bapak
ingat saya sekarang?”
“Iya,
yang waktu itu membawa istri dari rumah sakit. Bagaimana kabar istrinya? Semoga
sudah membaik” Lelaki itu melihat lewat kaca ke wajah penumpangnya.
“Benar,
kabar istri saya sekarang membaik. Terimakasih. Kalau begitu, apa Bapak tahu,
di mana sekantung daging yang saya simpan di bagasi dan tertinggal?”
Sekarang
lelaki itu merasa seperti pencuri tertangkap basah. Daging itu sudah berubah
menjadi rendang dan sebagian menjadi semur. Ternyata pemilik daging itu
sekarang ada di bangku belakang dan menjadi penumpangnya lagi. Dia meminta maaf
atas kesalahannya. Menceritakan semua kejadian dan alasannya. Kemudian
memberanikan diri menawarkan uang pengganti.
“Saya
akan menggantinya dengan harga yang sama, saya berjanji dan mengaku salah.”
Penumpang
di bangku belakang itu terkejut bukan kepalang. Matanya terlihat dari kaca spion
tengah seperti mau keluar, sementara mulutnya ternganga. Lelaki di belakang
kemudi itu tidak habis pikir melihat reaksi penumpangnya. Bukankah dia sudah
mengaku salah? Andai penumpang itu akhirnya meminta harga dua kali lipat pun
dia akan membayarnya.
“Bukan
itu masalahnya Pak, daging itu … daging itu adalah tumor yang diangkat dari
perut istri saya dan hendak dikuburkan.”
Lunglai
sudah lelaki di belakang kemudi itu. Daging yang sekarang menjadi rendang dan
semur itu ternyata …. Jadi dia, istrinya dan pemilik wajah lucu itu sudah
memakan …? Bayangan wajah ibunya melintas di hadapannya. Mobil dipinggirkan.
“Ibu, aku tidak akan pernah melik lagi.”
No comments:
Post a Comment