Tuesday, August 23, 2016

Koran Pantura 22 Agustus 2016 Sebungkus Daging dan Penyesalan-Nurlaeli Umar





                                    Sebungkus Daging dan Penyesalan

                                 





Oleh: Nurlaeli Umar

Dia membuka bagasi untuk mengambil sesuatu yang kemarin diletakkan di sana. Hanya sebuah kotak parfum murahan yang dibelinya dari sebuah toko kecil di ujung pasar arah ke kontrakannya. Parfum dengan wangi kayu. Sebenarnya tidak masalah baginya parfum beraroma apa dan merknya apa yang penting bisa menyamarkan bau asam keringatnya. Sudah berulangkali dia mengganti merk dan aroma, tapi dengan parfum itu istrinya baru memujinya. Tidak terlalu tajam dan wanginya menenangkan begitu alasanya..


 

Sebuah plastik hitam juga tergeletak di sana, dipojokan.. Dia mengingat-ingat tapi ingatannya buntu, sama sekali tidak ada kemungkinan. Dia membukanya dan terkejut. Sebungkus daging berada dalam bagasi mobilnya. Itu pasti milik penumpang yang tertinggal. Bagaimana mungkin dia akan mengembalikan kepada pemiliknya, sedangkan nama pemilik dan alamatnya saja dia tidak tahu. Hari ini penumpang cukup ramai. Selesai dengan yang satu kemudian satunya lagi datang.
“Jangan suka melik!”
“Apa itu melik, Bu?”
“Mengakui milik orang lain menjadi milikmu.”
“Kenapa?”
“Karena orang yang kehilangan itu pasti sedih dan mengharapkan barangnya kembali ke tangannya.”
Lalu ibunya menceritakan kisah tentang Ratu Sima, seorang ratu yang memimpin sebuah kerajaan penuh kejujuran. Di masanya tidak ada yang namanya pencuri, bahkan barang yang tertinggal tidak akan diambil sama sekali oleh tangan orang lain. Bahkan mesti emas atau permata sekalipun. Sampai suatu hari putra mahkota diancam hukuman potong kaki hanya karena kakinya tanpa sengaja menyentuh pundi-pundi berisi uang dan emas yang terjatuh di jalan.
Dia masih akan selalu ingat nasihat dan kisah yang diceritakan  ibunya yang sekarang sudah berpulang. Tapi daging di bagasi itu akan mubazir begitu saja jika dibiarkan. Bukankah membuang sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan itu juga mubazir? Andai diberikan kepada tetangga atau orang lain, adakah itu bijak, sementara dia punya anak dan istri? Begitu batin lelaki itu. Dia mengangkat bungkusan itu keluar bagasi. Kemudian menaksir berapa kira-kira beratnya. Tidak ada pilihan lain kecuali membawa pulang. Akan dibuat alasan kepada istrinya. Cukup untuk lauk empat hari. Istrinya akan memasaknya dengan bumbu lengkap. Tidak hanya dengan taburan garam dan sedikit micin. nanti.
Sepanjang perjalanan menuju rumah. Dia terkenang masa itu, masa di mana dua bungkus daging kurban yang dibagikan ke rumah-rumah dan membuatnya saling bertatap mata dengan istrinya. Cukup lama, dan tanpa bicara. Semua berakhir setelah pintu kayu dengan teriakan minta diberi pelumas itu terbuka. Wajah mungil muncul dengan mata bercahaya dan keringat berbaris di dahinya.
“Kita masak apa dagingnya, Bu? Apa akan dimasak seperti milik Wawan. Ibunya sudah membeli bumbu kemarin.”
Dengan senyum dipaksakan dan mata yang saling mencuri tatap, daging itu dipotong-potong. Istrinya menjerang air hingga mendidih. Potongan daging itu dibersihkan kemudian direbus. Hanya ditaburi garan dan sedikit micin. Wajah lucu itu menungguinya sambil berulangkali merayu agar dia diperbolehkan mencicipi daging dalam panci.
“Sebentar lagi. Nanti kalau jarum panjang di angka tiga, semua siap dinikmati. Kau tahu yang mana angka tiga, bukan?” Selingkar senyum hadir bersama anggukan mengiyakan. Dia sudah belajar menghitung di hari sebelumnya bersama angka-angka di jam dinding itu.
Panci itu diangkat dari kompor gas yang diberikan gratis dari pemerintah. Saat dibuka tutupnya, uap-uap itu berebut naik, menguakan wangi membuat selera makan bangkit. Mangkuk kosong milik mata jeli itu sudah tidak sabar untuk diisi. Air liur dari mulut mungil itu ditelan kembali. Dia mendapat giliran pertama, lalu ditariknya kipas angin ke arah mangkuknya.
“Ini dimasak apa, Bu? Aku tidak tahu namanya.”
“Di makan saja, jangan banyak bertanya. Nanti rasa enaknya akan ikut menguap, jika banyak bertanya. Katakan saja pada temanmu, ini namanya sop.”
Lelaki itu menatap istrinya. Kemudian beralih ke arah anaknya yang sedang menyuapkan kuah ke mulutnya. Rasa bersalah begitu menggunung di dadanya. Seharusnya dia tidak sakit hari itu dan memberinya beberapa rupiah untuk membeli bumbu  seperti tetangga yang lain. Bahkan di hari Idul Adha seperti ini, sementara orang lain berkurban, dia mengorbankan perasaan anak dan istrinya sendiri.
Mobil sudah sampai di depan kontrakan pinggir jalan dan diparkirkan rapat ke sisi. Istrinya yang sedang duduk meredakan lelah sehabis berburuh mencuci di rumah tingkat tak jauh dari kontrakan yang ditempatinya menyambutnya sambil menatap kantung plastik hitam di tangan suaminya.
“Sudah pulang, apa kau sakit, Mas?”
“Tidak, aku hanya mampir sebelum kembali ke pool. Masaklah ini, dan ini uang untuk beli bumbu!”
Kantung dibuka dan istrinya menatap tidak percaya. Hari ini bukan perayaan apa pun atau siapa pun. “Dari mana ini?”
“Ini bagian dari Wahir, kau masih ingat?”
“Dia sedang ada acara? Mengapa daging mentah?”
Laki-laki itu memberi alasan lagi. Alasan yang tiba-tiba terbit di benaknya. Tiba-tiba untuk pertama kalinya dia begitu cerdas memberi banyak alasan. Mungkin ada sedikit rasa gembira yang singgah sehingga membuat otaknya bekerja lebih dari biasanya.
“Kamu mau menunggu sampai daging ini masak, sembari istirahat?”
“Tentu saja. Aku akan menunggu sambil bermain dengan anak kita.”
Daging itu sekarang sudah berubah menjadi hidangan yang lezat. Tidak hanya garam saja yang menjadi bumbunya tapi bumbu seperti seharusnya. Mereka bertiga melingkar di atas tikar.
“Mas, dagingnya tadi sedikit amis. Apa itu karena terlalu lama di bagasi? Memang sudah berapa jam di sana?”
“Masa? Mungkin itu karena tetangga sebelah masak ikan saja.”
“Benar juga. Ayo makan!”
“Iya seperti ini, Bu. Daging yang di rumah Wawan persis seperti ini. Dia tidak suka makan sop begitu katanya.”
“Kau masih ingat saja, padahal itu sudah tiga tahun yang lalu.”
Hari itu mereka makan dengan lahap. Melupakan bau amis dan dari mana berasal daging itu sebenarnya.
***
Hari ini empat hari berselang. Laki-laki itu mengantar para penumpang taxi-nya. Tidak ada pembicaraan ramah seperti biasa. Hanya senyum dan menanyakan ke mana arah yang dituju saja. Mimpi semalam membuatnya bergidik. Mimpi yang baru kali ini terjadi. Di dalam mimpinya dia terdampar di sebuah negeri. Semua penduduknya tampan dan cantik kecuali dia sendiri. Semua tempat indah, semua ramah. Sampai di penghujung mimpi sesudah berjalan ke sana-ke mari akhirnya dia dijamu dengan sebuah pesta, di mana daging bertumpuk-tumpuk. Semua tampak lezat, dan harum.
“Makanlah sepuasnya! Kapan lagi kau bertandang ke mari? Semua daging-daging ini diolah oleh para ahli kuliner negeri ini.” Seseorang yang memperkenalkan diri sebagai pemimpin itu begitu ramah menyuruhnya menikmati hidangan.
“Negeri apa ini?”
“Ini Negeri Garam dan Micin.sebut saja Negeri Sop.”
Laki-laki itu terbangun demi mendengar garam, micin, dan sop. Teringat anak dan istrinya. Saat itu sebelum dia pergi meninggalkan mimpinya, daging-daging di piringnya berubah menjadi busuk dan berulat.
Mobil berbelok ke arah kanan, melintas ke depan sebuah rumah sakit. Biasanya di depan pintu gerbang dia akan mendapati penumpang. Dia selalu hoki di sini. Di pelataran parkir rumah sakit, teman-temannya bahkan masih rapi dalam barisan mobil bertuliskan taxi di atapnya, menunggu giliran mendapat  penumpang. Karena itu dia tidak pernah masuk ke sana.
Seorang penumpang melambaikan tangan. Mobil menepi. Pintu kaca depan dibuka.
“Pak, bisa bicara sebentar?”
“Ada apa?” tanya lelaki itu. Mobil dipinggirkan. Ini bukan pembicaraan biasa antara pengemudi taxi dan penumpannya. Biasanya mereka akan bertanya tentang tempat yang dituju, apa taxinya mau mengantarnya atau tidak. Tidak semua pengemudi taxi mau membawa penumpang ke tempat yang diminta penumpang. Tentu mereka punya alasaan tersendiri. Dari alasan mencurigakan, sampai kemungkinan keselamatan karena tempat yang dituju sangat rawan, atau memang tidak mau ambil resiko lain karena tidak tahu rute.
“Bapak masih ingat saya? Tiga hari yang lalu, yang bayar kurang seribu.”
“Oh, iya…iya. Sudah biarkan saja. Cuma seribu saja, kok. Saya ikhlas.”
Pintu belakang dibuka dan penumpang itu masuk. “Antarkan saya ke alamat kemarin.”
“Daerah mana, ya? Maaf saya tidak menghafal satu per satu.”
“Kebayoran.”
Mobil dipacu melewati kemacetan yang merebak di mana-mana. Macet adalah seni tersendiri bagi para pengemudi taxi. Beberapa pengemudi menyukainya beberapa yang lain akan merasa kesal terjebak kemacetan. Di Jakarta sek,arang ini tidak ada jam tidak macet, meski bukan jam makan, meski bukan jam orang kantor berangkat atau pulang, meski bukan malam Minggu, semua sekarang bisa macet  kapan saja.
“Bapak ingat saya sekarang?”
“Iya, yang waktu itu membawa istri dari rumah sakit. Bagaimana kabar istrinya? Semoga sudah membaik” Lelaki itu melihat lewat kaca ke wajah penumpangnya.
“Benar, kabar istri saya sekarang membaik. Terimakasih. Kalau begitu, apa Bapak tahu, di mana sekantung daging yang saya simpan di bagasi dan tertinggal?”
Sekarang lelaki itu merasa seperti pencuri tertangkap basah. Daging itu sudah berubah menjadi rendang dan sebagian menjadi semur. Ternyata pemilik daging itu sekarang ada di bangku belakang dan menjadi penumpangnya lagi. Dia meminta maaf atas kesalahannya. Menceritakan semua kejadian dan alasannya. Kemudian memberanikan diri menawarkan uang pengganti.
“Saya akan menggantinya dengan harga yang sama, saya berjanji dan mengaku salah.”
Penumpang di bangku belakang itu terkejut bukan kepalang. Matanya terlihat dari kaca spion tengah seperti mau keluar, sementara mulutnya ternganga. Lelaki di belakang kemudi itu tidak habis pikir melihat reaksi penumpangnya. Bukankah dia sudah mengaku salah? Andai penumpang itu akhirnya meminta harga dua kali lipat pun dia akan membayarnya.
“Bukan itu masalahnya Pak, daging itu … daging itu adalah tumor yang diangkat dari perut istri saya dan hendak dikuburkan.”
Lunglai sudah lelaki di belakang kemudi itu. Daging yang sekarang menjadi rendang dan semur itu ternyata …. Jadi dia, istrinya dan pemilik wajah lucu itu sudah memakan …? Bayangan wajah ibunya melintas di hadapannya. Mobil dipinggirkan. “Ibu, aku tidak akan pernah melik lagi.”
 



No comments:

Jual Keripik Tempe

Jual Keripik Tempe Sejarah mencatat, bahwa tempe adalah makanan yang telah menyelamatkan orang dari etnis Jawa hidup lebih lama dibanding ...