8.
Ayam Kuah Santan
Oleh;
Nurlaeli Umar
Gadis
kecil itu berharap bapaknya pulang, rindu yang dititipkannya pada bilik bambu
sekujur rumahnya sebelum dia tertidur berselimut malam harus terlunasi. Tiga
hari bukan perkara mudah, karena waktu di kepala anak kecil itu terasa lambat
berjalan daripada semestinya.
“Bapakmu
kembali hari ini, apa kau tahu?”
“Iya,
Bu? Bapak bilang akan membelikanku
dage.”
“Apa
bedanya dage dengan tempe biasa? Kalau dimakan dengan nasi sama saja rasanya.”
“Tapi
aku mau dage saja, kalau tidak… besok aku akan ikut Bapak kalau pergi lagi.” Perempuan yang
dipanggil ibu tersenyum menyaksikan keras kepala yang dimilikinya benar-benar
telah menurun dari dirinya.
Pukul
setengah empat sore. Seekor ayam jantan yang dimasukkan kedalam keranjang
dengan kepala menyembul menyertai kepulangan bapaknya, ayam jantan hadiah untuk
gadis kecil dari kerabat di kota lain, ayam jantan yang sebentar lagi akan
menjadi penghuni kuali, karena akhirnya gadis kecil itu memaksanya untuk
menyembelih, meski keringat lelah belum tuntas menetes.
“Besok
saja, masih ada hari, Nak,” nasihat Ibunya.
“Aku
hanya ingin makan ayam malam ini, kata Bapak itu ayam untukku, jadi aku bisa
meminta dipotongnya kapan saja.”
“Besok
saja, masih ada hari lagi dan biarkan Bapakmu menuntaskan lelah.”
“Biar
saja, Bu. Ini masih siang, aku bisa beristirahat nanti. Kalau ayam itu harus
dipotong, ya… dipotong saja, itu ‘kan ayam miliknya.”
Gadis
kecil itu melihat sisa kucuran darah dan bulu ayam ditimbun dengan tanah. Dia
tak mengira bahwa untuk menikmati ayam berkuah kesukaannya harus ada
pembunuhan. Selama ini dia hanya tahu ayamnya diolah, tanpa melihat langsung
kejadiannya. Seribu sesal bergeming dalam dadanya dan mungkin menjadi tangis
yang diam-diam akan dia gulirkan di bantal nanti, saat orang tuanya tidur.
“Kenapa
terdiam? Makanya jangan suka melihat ayam disembelih, tidak bagus untuk
anak-anak seusiamu, seharusnya ayam itu disembelih besok saat teman bermainmu
datang.”
Kepulan
asap bercampur aroma rempah menyebar, melewati dapur, seisi rumah, kisi-kisi
jendela, lubang-lubang kecil di bilik bambu, melintasi pekarangan terserap
dedaunan, dan sebagian lagi menguar liar memasuki hidung-hidung tetangga bahkan
juga kambing-kambing di kandang.
Ashar
bergulir ke Maghrib, lalu menyusul Isya dan akhirnya malam menjelang. Daging
ayam yang empuk berwangi bakaran kayu dan tanak karena panas yang cukup siap
menunggu memasuki kerongkongan.
“Ibu!”
teriaknya gadis kecil itu sambil menghambur ke dapur.
“Ada
apa teriak-teriak? I ni ayamnya sudah matang, duduk manis saja.”
“Obor!
Di depan rumah, banyak sekali obor.”
“Obor?
Pak …coba lihat!”
Lelaki
yang dipanggil bapak yang sedang menemani istrinya di dapur dan duduk di balai
bambu menikmati lelah, bangkit membetulkan sarung dan berjalan menuju pintu
depan. Satu, dua … bahkan lebih dari dua puluh, hitungnya. Ada apa ini?
“Keluar,
maling! Setan alas!”
Ada
yang tak benar begitu kelebat lelaki yang dipanggil bapak itu. Pintu dibuka, sepasang tangan langsung
mencengkeram leher bajunya.
“Ada
apa ini? Apa salah saya?”
“Apa
salahmu? Dasar maling!”
Sebuah
tendangan menghajar perut Sang Bapak. Laki-laki itu jatuh terlentang.
“Sebentar,
saya mohon!”Lelaki itu memohon, berusaha
bangun sambil menahan sakit.
“Kamu masih mau tahu apa salahmu? Baiklah,
kamu maling ayam milik tetanggamu sendiri dan sekarang bahkan dia sedang
memenuhi kualimu. Setan alas! Bangsat! Ternyata selama ini kebaikan kami kamu
nodai.”
“Ayam?
Benar saya memang sedang memasak ayam, bahkan darah dan bulunya masih ada. Saya
baru membawanya dari perjalanan menemui kerabat saya. Ayam itu milik anak saya,
karena dia minta dipotong, ya saya potong.
“Coba
kita lihat ayamnya, apa betul itu ayam Kang Yahya yang sore ini tidak pulang?”
Laki-laki
itu berjalan untuk menunjukkan tempat bulu-bulu itu dikubur. Untung belum
sempat dijadikan unggun malam.
“Ayam
saya, ayam jago. Apa punya Kang Yahya juga jago?”
“Tidak
usah banyak bicara. Sudah jelas buktinya benar, bulu dan darah ini, ayo kita
arak ke rumah Kepala Desa. Biar beliau yang memutuskan hukuman apa yang pantas
untuk maling seperti dia!”
Lelaki
setangah tua yang tiba-tiba menjadi tersangka melirik ke arah seseorang yang
sangat dikenalnya. “Lik Kamin? Sampeyan adalah paman istri saya. Ada apa ini?
Tapi baiklah, saya ganti baju dulu dan pamitan kepada istri saya.”
“Gak
usah, kalau perlu kita telanjangi! Atau kita habisi saja saat ini.” sahut
seseorang entah siapa.
Laki-laki
itu masuk ke rumah, mengganti sarung dengan celana panjang, dan memastikan kepada
dua perempuan yang dicintainya bahwa tidak akan terjadi apa-apa
“Bu?”
“Makan
dulu ayamnya, jangan menangis seperti itu. Bapakmu akan baik-baik saja. Makan,
terus cuci kaki dan gosok gigi, kemudian berdoa. Percaya, bapakmu akan
baik-baik saja.”
“Bagaimana
jika bapakku mati?”
Gadis
kecil itu tidur dengan isakan sesekali yang terdengar menyakitkan, Entah
keputusan apa yang akan dihadapi nanti.
Arakan
obor itu sampai di depan rumah Kepala Desa. Beberapa yang datang terbakar benci
dan ingin menghabisi. Maling memang tidak patut dikasihani!
Semua
masuk memenuhi ruangan. Sang Kepala Desa memakai wibawa di kepalanya, terlihat
berusaha untuk terlihat tenang. Sikapnya menjadi ambigu, antara membela atau
mengenyahkan.
Permasalahan
dibuka ikatannya, semua pihak dan bukti memberatkan laki-laki itu, menyudutkan
pada kata salah, tak satu pun yang berniat membela, bahkan saudara!
“Saya
bersumpah, jika saya salah menuduh, saya akan angkat kaki dari kampung ini.
Saya yakin benar, jika dia memang maling! Saya merasa takut sekaligus benci,
apalagi rumah saya paling dekat dengan dia.”
“Tapi
itu berlebih,” sahut laki laki itu, “bahkan selama kita bertetangga, justru
barang-barang dan uang saya yang sering bapak pinjam. Beberapa bahkan tidak
diakui. Saya ikhlaskan demi kerukunan bertetangga, Pak Joyo.”
“Jangan
mempermalukan saya dengan mengatakan hal yang tidak benar, saya yakin sekali
jika dia yang mencuri ayam Kang Yahya, siapa lagi coba yang masak ayam
sementara ayam tetangga hilang? Ini fakta, bisa dikatakan pengakuan atau pengumuman
secara terbuka. Bukan begitu saudara-saudara?”
Terdengar
bunyi koor mengiyakan ditambahi dengan teriakan, “Usir dia, atau kalau perlu
kita habisi!”
Tidak
ada yang membela, sungguh sebegitu benci atau memang sebaiknya begitu untuk
mempermudah penyelesaian masalah tanpa masalah? Membela berarti cari mati!
Sang
Bapak sampai menangis, yang terbayang adalah istri dan anak perempuannya.
Bagaimana bisa mereka hidup dengan baik, bahkan ketika ada dirinya saja orang
sekitar ingin menyakiti.
“Baiklah,
saya tidak ingin berdebat panjang. Membela pun salah, sebab bukti ada, meski
yang dikatakan adalah apa adanya. Tapi saya berani bersumpah jika saya tidak
mencuri”
“Iya
sumpah saja biar jelas, kalau salah akan kelihatan dan kalau benar pun akan
kelihatan,” sahut seseorang yang sebenarnya diam-diam takut mengetahui akan ada
sumpah di bawah kitab suci. Yang berarti masalah akan melibatkan Tuhan secara
langsung.
Di
bawah kitab suci dengan kaki telanjang menapak bumi, laki-laki itu mengucapkan
sumpah
“Demi
Allah, jika saya benar-benar mencuri, saya disaksikan seluruh warga, dengan
ikhlas dan tanpa pembelaan akan menerima sanksi, lahir-batin dunai-akhirat.”
Semua
wajah terlihat takut, entah karena merasa bertuhan, entah karena sadar bahwa
mereka hanya mengikuti nafsu. Tapi beberapa masih penasaran untuk menghabisi.
Setelah
itu semua pulang tanpa keberatan. Pulang menuju rumah masing-masing termasuk
laki-laki itu yang sepanjang jalan menangis karena merasa kebaikannya selama
ini sia-sia, bahkan hari-hari mencari nafkah yang dikorbankan untuk membela
saat pencalonan Kepala Desa tidak membelanya sama sekali. Semua terlupa
terlipat bersama waktu yang pergi.
Baru
seteguk air penenang yang diberikan istrinya, pintu rumah diketuk dengan
kerasnya. Lemas rasanya persendian laki-laki itu. Entah kejadian apalagi yang
akan dihadapinya, tenaga dan emosinya sudah habis terkuras.
“Pak,
tolong buka pintu!”
Saat
pintu dibuka, beberapa orang tampak membawa obor, muka mereka ketakutan
setengah mati.
“Ada
apalagi? Apa lagi yang akan dituduhkan kepada saya? Apa sumpah saya tidak
dipercaya? Bukankah kalian percaya Tuhan?”
“Bukan!
Bapak harus ke rumah Kang Yahya, saya mohon dengan sangat!”.
Dengan
langkah cepat mereka membawa laki-laki itu menemui Kang Yahya, di sana ramai
sekali orang menangis. Ada istri dan anak Kang Yahya, bahkan sampai mertuanya
segala, juga para tetangga yang datang berkerumun dan sesekali ikut mengusap
air mata.
“Beri
jalan, biar dia masuk!”
Tanpa
terpikir sebelumnya, adik Kang Yahya yang tadi bermata api dan bersuara petir
mengompori orang-orang dan menghajarnya, menghambur memeluk kakinya.
“Ampuni
kakak saya, yang telah lancang menuduh. Ampuni dia, saya mohon!”
Tangisnya
melolong, laki-laki itu terdiam. Ingin
rasanya dia mengucapkan kata tidak, tapi pelukan di kaki dan darah segar yang
berhamburan di bawah ranjang, juga suara muntahan Kang Yahya yang masih
mengeluarkan darah membuatnya bingung. Kang Yahya bisa mati, tapi di sini
banyak orang yang membelanya. Sedang jika dia mati tadi semua orang yang di
sini akan menyorakinya. Laki-laki itu masih terdiam sambil mengedarkan
pandangannya meneliti wajah-wajah di sekitarnya.
“Tidak
perlu meminta maaf kepada saya, saya bukan sesiapa. Saya bahkan bukan yang
membuat dia kesakitan begini dan hampir mati. Semua ini tidak ada hubungannya
dengan saya. Apa yang ingin kalian lakukan dan tuduhkan lagi?”
“Saya
atas nama Kang Yahya, meminta maaf yang sebenar-benarnya telah menuduh dan
membuat Bapak hampir mati terbunuh. Semua memang salah kami. Bahkan saya yang
mengajak orang-orang untuk mendatangi dan menghakimi. Ternyata … Bapak tidak
bersalah, ayam itu masih ada sedang mengerami anaknya. Dia bersembunyi di
kandang yang tidak terpakai. Tolong ampuni kami agar Yahya tidak mati karena
kesalahan ini.”
Laki-laki
itu hanya bisa mengangguk. Dia ingin cepat-cepat pulang untuk memeluk istrinya,
memberinya tahu bahwa semua baik-baik saja. Dia bahkan ingin masuk ke dalam
mimpi putrinya meyakinkan bahwa besok ayam kuah santan harus dihabiskan bersama
karena dia pun menyukainya, lalu menghapus semua ingatan tentang darah, bulu
ayam, obor yang mengular, teriakan untuk
membantai, Kang Yahya yang hampir terbunuh karena ulahnya sendiri, termasuk
kenyataan besok keluarga Pak Joyo yang pindah karena sumpahnya.
No comments:
Post a Comment