Saturday, December 31, 2016

Cerpen Ayam Kuah Santan-Koran Pantura-NurlaeliUmar


8. Ayam Kuah Santan
Oleh; Nurlaeli Umar
Gadis kecil itu berharap bapaknya pulang, rindu yang dititipkannya pada bilik bambu sekujur rumahnya sebelum dia tertidur berselimut malam harus terlunasi. Tiga hari bukan perkara mudah, karena waktu di kepala anak kecil itu terasa lambat berjalan daripada semestinya.

 
 
“Bapakmu kembali hari ini, apa kau tahu?”
“Iya, Bu?  Bapak bilang akan membelikanku dage.”
“Apa bedanya dage dengan tempe biasa? Kalau dimakan dengan nasi sama saja rasanya.”
“Tapi aku mau dage saja, kalau tidak… besok aku akan ikut  Bapak kalau pergi lagi.” Perempuan yang dipanggil ibu tersenyum menyaksikan keras kepala yang dimilikinya benar-benar telah menurun dari dirinya.
Pukul setengah empat sore. Seekor ayam jantan yang dimasukkan kedalam keranjang dengan kepala menyembul menyertai kepulangan bapaknya, ayam jantan hadiah untuk gadis kecil dari kerabat di kota lain, ayam jantan yang sebentar lagi akan menjadi penghuni kuali, karena akhirnya gadis kecil itu memaksanya untuk menyembelih, meski keringat lelah belum tuntas menetes.
“Besok saja, masih ada hari, Nak,” nasihat Ibunya.
“Aku hanya ingin makan ayam malam ini, kata Bapak itu ayam untukku, jadi aku bisa meminta dipotongnya kapan saja.”
“Besok saja, masih ada hari lagi dan biarkan Bapakmu menuntaskan lelah.”
“Biar saja, Bu. Ini masih siang, aku bisa beristirahat nanti. Kalau ayam itu harus dipotong, ya… dipotong saja, itu ‘kan ayam miliknya.”
Gadis kecil itu melihat sisa kucuran darah dan bulu ayam ditimbun dengan tanah. Dia tak mengira bahwa untuk menikmati ayam berkuah kesukaannya harus ada pembunuhan. Selama ini dia hanya tahu ayamnya diolah, tanpa melihat langsung kejadiannya. Seribu sesal bergeming dalam dadanya dan mungkin menjadi tangis yang diam-diam akan dia gulirkan di bantal nanti, saat orang tuanya tidur.
“Kenapa terdiam? Makanya jangan suka melihat ayam disembelih, tidak bagus untuk anak-anak seusiamu, seharusnya ayam itu disembelih besok saat teman bermainmu datang.”
Kepulan asap bercampur aroma rempah menyebar, melewati dapur, seisi rumah, kisi-kisi jendela, lubang-lubang kecil di bilik bambu, melintasi pekarangan terserap dedaunan, dan sebagian lagi menguar liar memasuki hidung-hidung tetangga bahkan juga kambing-kambing di kandang.
Ashar bergulir ke Maghrib, lalu menyusul Isya dan akhirnya malam menjelang. Daging ayam yang empuk berwangi bakaran kayu dan tanak karena panas yang cukup siap menunggu memasuki kerongkongan.
“Ibu!” teriaknya gadis kecil itu sambil menghambur ke dapur.
“Ada apa teriak-teriak? I ni ayamnya sudah matang, duduk manis saja.”
“Obor! Di depan rumah, banyak sekali obor.”
“Obor? Pak …coba lihat!”
Lelaki yang dipanggil bapak yang sedang menemani istrinya di dapur dan duduk di balai bambu menikmati lelah, bangkit membetulkan sarung dan berjalan menuju pintu depan. Satu, dua … bahkan lebih dari dua puluh, hitungnya. Ada apa ini?
“Keluar, maling! Setan alas!”
Ada yang tak benar begitu kelebat lelaki yang dipanggil bapak itu.  Pintu dibuka, sepasang tangan langsung mencengkeram leher bajunya.
“Ada apa ini? Apa salah saya?”
“Apa salahmu? Dasar maling!”
Sebuah tendangan menghajar perut Sang Bapak. Laki-laki itu jatuh terlentang.
“Sebentar, saya mohon!”Lelaki  itu memohon, berusaha bangun sambil menahan sakit.
 “Kamu masih mau tahu apa salahmu? Baiklah, kamu maling ayam milik tetanggamu sendiri dan sekarang bahkan dia sedang memenuhi kualimu. Setan alas! Bangsat! Ternyata selama ini kebaikan kami kamu nodai.”
“Ayam? Benar saya memang sedang memasak ayam, bahkan darah dan bulunya masih ada. Saya baru membawanya dari perjalanan menemui kerabat saya. Ayam itu milik anak saya, karena dia minta dipotong, ya saya potong.
“Coba kita lihat ayamnya, apa betul itu ayam Kang Yahya yang sore ini tidak pulang?”
Laki-laki itu berjalan untuk menunjukkan tempat bulu-bulu itu dikubur. Untung belum sempat dijadikan unggun malam.
“Ayam saya, ayam jago. Apa punya Kang Yahya juga jago?”
“Tidak usah banyak bicara. Sudah jelas buktinya benar, bulu dan darah ini, ayo kita arak ke rumah Kepala Desa. Biar beliau yang memutuskan hukuman apa yang pantas untuk maling seperti dia!”
Lelaki setangah tua yang tiba-tiba menjadi tersangka melirik ke arah seseorang yang sangat dikenalnya. “Lik Kamin? Sampeyan adalah paman istri saya. Ada apa ini? Tapi baiklah, saya ganti baju dulu dan pamitan kepada istri saya.”
“Gak usah, kalau perlu kita telanjangi! Atau kita habisi saja saat ini.” sahut seseorang entah siapa.
Laki-laki itu masuk ke rumah, mengganti sarung dengan celana panjang, dan memastikan kepada dua perempuan yang dicintainya bahwa tidak akan terjadi apa-apa
“Bu?”
“Makan dulu ayamnya, jangan menangis seperti itu. Bapakmu akan baik-baik saja. Makan, terus cuci kaki dan gosok gigi, kemudian berdoa. Percaya, bapakmu akan baik-baik saja.”
“Bagaimana jika bapakku mati?”
Gadis kecil itu tidur dengan isakan sesekali yang terdengar menyakitkan, Entah keputusan apa yang akan dihadapi nanti.
Arakan obor itu sampai di depan rumah Kepala Desa. Beberapa yang datang terbakar benci dan ingin menghabisi. Maling memang tidak patut dikasihani!
Semua masuk memenuhi ruangan. Sang Kepala Desa memakai wibawa di kepalanya, terlihat berusaha untuk terlihat tenang. Sikapnya menjadi ambigu, antara membela atau mengenyahkan.
Permasalahan dibuka ikatannya, semua pihak dan bukti memberatkan laki-laki itu, menyudutkan pada kata salah, tak satu pun yang berniat membela, bahkan saudara!
“Saya bersumpah, jika saya salah menuduh, saya akan angkat kaki dari kampung ini. Saya yakin benar, jika dia memang maling! Saya merasa takut sekaligus benci, apalagi rumah saya paling dekat dengan dia.”
“Tapi itu berlebih,” sahut laki laki itu, “bahkan selama kita bertetangga, justru barang-barang dan uang saya yang sering bapak pinjam. Beberapa bahkan tidak diakui. Saya ikhlaskan demi kerukunan bertetangga, Pak Joyo.”
“Jangan mempermalukan saya dengan mengatakan hal yang tidak benar, saya yakin sekali jika dia yang mencuri ayam Kang Yahya, siapa lagi coba yang masak ayam sementara ayam tetangga hilang? Ini fakta, bisa dikatakan pengakuan atau pengumuman secara terbuka. Bukan begitu saudara-saudara?”
Terdengar bunyi koor mengiyakan ditambahi dengan teriakan, “Usir dia, atau kalau perlu kita habisi!”
Tidak ada yang membela, sungguh sebegitu benci atau memang sebaiknya begitu untuk mempermudah penyelesaian masalah tanpa masalah? Membela berarti cari mati!
Sang Bapak sampai menangis, yang terbayang adalah istri dan anak perempuannya. Bagaimana bisa mereka hidup dengan baik, bahkan ketika ada dirinya saja orang sekitar ingin menyakiti.
“Baiklah, saya tidak ingin berdebat panjang. Membela pun salah, sebab bukti ada, meski yang dikatakan adalah apa adanya. Tapi saya berani bersumpah jika saya tidak mencuri”
“Iya sumpah saja biar jelas, kalau salah akan kelihatan dan kalau benar pun akan kelihatan,” sahut seseorang yang sebenarnya diam-diam takut mengetahui akan ada sumpah di bawah kitab suci. Yang berarti masalah akan melibatkan Tuhan secara langsung.
Di bawah kitab suci dengan kaki telanjang menapak bumi, laki-laki itu mengucapkan sumpah
“Demi Allah, jika saya benar-benar mencuri, saya disaksikan seluruh warga, dengan ikhlas dan tanpa pembelaan akan menerima sanksi, lahir-batin dunai-akhirat.”
Semua wajah terlihat takut, entah karena merasa bertuhan, entah karena sadar bahwa mereka hanya mengikuti nafsu. Tapi beberapa masih penasaran untuk menghabisi.
Setelah itu semua pulang tanpa keberatan. Pulang menuju rumah masing-masing termasuk laki-laki itu yang sepanjang jalan menangis karena merasa kebaikannya selama ini sia-sia, bahkan hari-hari mencari nafkah yang dikorbankan untuk membela saat pencalonan Kepala Desa tidak membelanya sama sekali. Semua terlupa terlipat bersama waktu yang pergi.
Baru seteguk air penenang yang diberikan istrinya, pintu rumah diketuk dengan kerasnya. Lemas rasanya persendian laki-laki itu. Entah kejadian apalagi yang akan dihadapinya, tenaga dan emosinya sudah habis terkuras.
“Pak, tolong buka pintu!”
Saat pintu dibuka, beberapa orang tampak membawa obor, muka mereka ketakutan setengah mati.
“Ada apalagi? Apa lagi yang akan dituduhkan kepada saya? Apa sumpah saya tidak dipercaya? Bukankah kalian percaya Tuhan?”
“Bukan! Bapak harus ke rumah Kang Yahya, saya mohon dengan sangat!”.
Dengan langkah cepat mereka membawa laki-laki itu menemui Kang Yahya, di sana ramai sekali orang menangis. Ada istri dan anak Kang Yahya, bahkan sampai mertuanya segala, juga para tetangga yang datang berkerumun dan sesekali ikut mengusap air mata.
“Beri jalan, biar dia masuk!”
Tanpa terpikir sebelumnya, adik Kang Yahya yang tadi bermata api dan bersuara petir mengompori orang-orang dan menghajarnya, menghambur memeluk kakinya.
“Ampuni kakak saya, yang telah lancang menuduh. Ampuni dia, saya mohon!”
Tangisnya melolong, laki-laki itu  terdiam. Ingin rasanya dia mengucapkan kata tidak, tapi pelukan di kaki dan darah segar yang berhamburan di bawah ranjang, juga suara muntahan Kang Yahya yang masih mengeluarkan darah membuatnya bingung. Kang Yahya bisa mati, tapi di sini banyak orang yang membelanya. Sedang jika dia mati tadi semua orang yang di sini akan menyorakinya. Laki-laki itu masih terdiam sambil mengedarkan pandangannya meneliti wajah-wajah di sekitarnya.
“Tidak perlu meminta maaf kepada saya, saya bukan sesiapa. Saya bahkan bukan yang membuat dia kesakitan begini dan hampir mati. Semua ini tidak ada hubungannya dengan saya. Apa yang ingin kalian lakukan dan tuduhkan lagi?”
“Saya atas nama Kang Yahya, meminta maaf yang sebenar-benarnya telah menuduh dan membuat Bapak hampir mati terbunuh. Semua memang salah kami. Bahkan saya yang mengajak orang-orang untuk mendatangi dan menghakimi. Ternyata … Bapak tidak bersalah, ayam itu masih ada sedang mengerami anaknya. Dia bersembunyi di kandang yang tidak terpakai. Tolong ampuni kami agar Yahya tidak mati karena kesalahan ini.”
Laki-laki itu hanya bisa mengangguk. Dia ingin cepat-cepat pulang untuk memeluk istrinya, memberinya tahu bahwa semua baik-baik saja. Dia bahkan ingin masuk ke dalam mimpi putrinya meyakinkan bahwa besok ayam kuah santan harus dihabiskan bersama karena dia pun menyukainya, lalu menghapus semua ingatan tentang darah, bulu ayam,  obor yang mengular, teriakan untuk membantai, Kang Yahya yang hampir terbunuh karena ulahnya sendiri, termasuk kenyataan besok keluarga Pak Joyo yang pindah karena sumpahnya.

No comments:

Jual Keripik Tempe

Jual Keripik Tempe Sejarah mencatat, bahwa tempe adalah makanan yang telah menyelamatkan orang dari etnis Jawa hidup lebih lama dibanding ...