Saturday, December 31, 2016

Cerpen Nurlaeli Umar-Koran Pantura-Mobil Mewah Seharga Lima Juta



7. Mobil Mewah Seharga Lima Juta
Oleh: Nurlaeli Umar
Di perkotaan, orang yang tinggal di satu kompleks perumahan tertentu, menjadi tolok ukur kesejahteraan. Di desa ini hal itu pun terjadi. Orang yang tinggal di sebelah Utara irigasi akan dianggap lebih dibanding dengan orang-orang yang tinggal di sebelah Selatannya. Entah itu tingkat kesejahteraan ataupun pendidikan.

Hal yang terparah adalah anggapan itu tidak terpatahkan meski orang dari Selatan irigasi itu seorang yang kaya atau terpelajar sekalipun. Entah siapa yang memulai semua itu, tetapi orang akan berkata: Oh, dengan nada meremehkan jika seseorang yang diajak berbicara itu memperkenalkan diri dengan menyebutkan tinggal di Selatan irigasi. Sebutan wong kidul tanggul adalah kelas rendah yang sama sekali tidak menarik.
Kios mie ayam di pojok pasar sebelah Barat belum juga menunjukkan tanda-tanda siap menerima pelanggan. Semua masih tertutup rapat. Tidak ada aroma ayam yang sedang dimasak menguar dari sana. Pun tidak ada suara bising kompor yang merebus sesuatu. Pemiliknya adalah wong kidul tanggul yang mengais rezeki di Utara irigasi.
 Ini terlalu kejam, mengingat sedari jam enam bahkan sudah ada yang mengetuk menanyakan. Terpaksa mereka yang datang dan tidak bisa menahan rasa lapar harus mengganti menu sarapan pagi dengan sajian dari warung seberang. Menu: kopi, ketan kepok, atau lontong dengan tempe mendoan hangat.
Pemilik warung mie ayam itu akhirnya keluar dengan rambut yang masai. Semoga saja dia sudah mandi pagi. Sebuah teriakan menyapa dari warung seberang. “Wooi …!  Gak niat jualan, apa Mas?”
“Gak, aku sudah kaya. Jualan nanti sore saja kalau aku merasa butuh recehan.”
“Dasar urat miskin, kalau sudah cukup makan hari ini, dan ada sekilo beras untuk besok, sudah merasa paling makmur sedunia.”
“Ya, begitulah. Kapan lagi merasa jadi kaya? Orang yang kaya saja masih merasa miskin. Sampai-sampai gaji yang besar tidak cukup, minteri orang-orang dan minteri Tuhan. Kalau bukan aku yang merasa kaya, siapa lagi?”
Pemilik warung mie ayam itu berjalan ke arah bekas pos ronda yang berjarak dua kios dari warungnya.. Pos yang hanya ada penghuninya kalau musim maling tiba. Maling dengan kerudung sarung tentu saja. Sebab maling berdasi itu licin sekali. Alih-alih ditangkap, mereka yang menangkap bahkan minta bagi-bagi.
Laki-laki yang mengajak bicara pedagang mie ayam itu terbahak-bahak demi mendengar jawaban dari pemilik warung mie ayam itu. Dia bergegas mendekati pos ronda selepas membayar makanan yang diasantap.
“Kenapa gak jualan, Mas?”
“Badanku ngrekes, mungkin masuk angin. Jualan sih, tapi sedikit siang. Mungkin bada dhuhur saja. Ayamnya baru datang dari pasar. Gak apa-apa sih kalau Sampeyan maksa mie ayam tanpa ayam.”
“Ngaco, itu namanya bukan mie ayam!”
“Lha, kan bisa ayamnya nanti sore. Nyusul.”
Dari satu dua orang, mereka yang berkumpul menjadi banyak. Mendengar dua orang tadi berbicara, mereka ikut menimpali dan tertawa. Bahagia ternyata tidak harus mahal.
“Mas, harusnya kamu itu jualan mie ayam subuh-subuh.”
“Lha biar apa? Siapa yang beli?”
“Siapa yang bangun siang rezekinya akan dipatuk ayam. Apa Masnya lupa?”
“Aku selalu bangun pagi, ke pasar dan beli ayam. Jadi tidak mungkin ayam itu mematuk rezekiku. Dia mati sebelum rezekiku dipatuk. Benar, kan?” Mereka yang mendengar tertawa-tawa. Makin seru saja.
Seseorang datang dari seberang jalan. Keluar dari rumah yang mentereng. Seorang laki-laki paruh baya yang berbeda. Tampilannya necis dan klimis. Peci, baju koko dan sarung yang dikenakan tentu mahal, terlihat dari tampilan dan coraknya yang tidak pasaran. Dia menyeberang hanya untuk nyawang mobil barunya.
 “Wah, mobil Bapak itu keren sekali. Mobil keluaran terbaru?”
“Iya, tentu. Mobil ini bahkan baru tiga unit saja yang memiliki di kabupaten kita ini. Mungkin bulan depan baru banyak yang punya.”
“Tentu lebih bagus dari milik Pak Saroji, bukan? Atau sebenarnya sama?”
“Wah, jauh tentu saja, ini jauh lebih bagus dari miliknya. Ibaratnya dia kelas satu SD, yang ini SMA.”
“Tuh, kan Mas. Coba kalau Sampeyan buka dua puluh empat jam, tentu tiga bulan sudah kebeli tiga mobil seperti itu,” celetuk orang yang tadi mengajak bicara pemilik warung mie ayam. Yang lain memanasi dan bilang iya.
“Dua puluh empat jam? Siapa juga yang beli? Ini kampung sepi, aku jualan rame juga kalau hari pasaran saja. Selebihnya dari pada  warungku digedor-gedor kalian seperti tadi.” Kontan saja koor tertawa terjadi lagi.
“Kapan, ya Pak, saya bisa kebeli mobil seperti milik Bapak?” Acara angkat-mengangkat sepertinya sudah dimulai. Beberapa orang mulai buang muka, sementara yang lain memerhatikan arah angin dan perubahan wajah pemilik mobil keluaran terbaru itu.
“Iya, Mas. Beli! Nanti aku nyewa, biar kubawa anak istriku jalan-jalan. Tapi harga sewanya sama seperti semangkuk mie ayam.’
“Huss! Ngawur saja. Kamu kira beli mobil gak mahal?”
Pemilik mobil itu menyahut menengahi guyonan yang saling bersahutan. “Orang seperti kalian tidak akan pernah bisa membeli mobil seperti milikku. Kalau detik ini juga kamu punya uang lima juta, akan aku berikan mobilku. Orang-orang seperti kalian itu, bahkan untuk uang sejumlah itu butuh berjualan berbulan-bulan!”
Kalimat itu sangat menyakiti telinga siapapun, selagi orang itu waras tentu saja. Karena ucapan seperti itu hanya keluar dari mulut orang yang otaknya memang sedang tidak waras. Meremehkan dan berpotensi membunuh dirinya sendiri. Mas pemilik warung mie ayam memandang ke arah wajah lelaki kaya di depannya. Dia mengeleng-gelengkan kepalanya. Dia mengedarkan pandangan kepada orang-orang di sekitarnya. “Udah, Mas. Ayo kapan lagi ada mobil mewah lima juta!”
“Aku gak punya uang sebanyak itu saat ini.”
“Ayo Mas, sesekali hajar orang sombong seperti itu!” bisik lelaki yang tadi keluar dari warung sebelah dan mengajaknya berbicara banyak.
“Tidak, ini tidak benar! Dia sedang sombong, jiwanya sedang dikuasai syetan.”
“Ayo Mas! Mobil lima juta kapan lagi?” Yang lain ikut menyemangati.
Pemilik warung mie ayam itu bangun dari duduknya. Dia ingin pergi dari lingkaran pembicaraan yang mulai ngawur. Mata bagian bawahnya sudah berkedut, pertanda tidak baik ada di depan mata, begitu keyakinannya.
Baru dua langkah berjalan, pemilik mobil itu mencegah langkah pemilik warung mie ayam.
“Benar, kan? Dia tidak punya uang. Dari itu dia akan pulang, dan itu sudah tidak berlaku lagi. Tawaranku batal jika dia sudah mendapat pinjaman atau mengambil simpanan. Aku hanya ingin dia langsung memberiku lima juta cash detik ini tanpa beranjak. Orang-orang seperti kalian itu jangankan membeli mobil seperti milikku, mimpi saja terlarang!”
Pemilik warung mie ayam itu menatap orang yang selama ini dihormatinya. Dia memberikan pujian selama ini adalah gratis, tidak ingin dibayar dengan apapun. Tapi tidak juga dengan penghinaan.
“Sudah, Pak. Sebaiknya Bapak pergi. Kami sedang senang-senang di sini. Orang-orang miskin seperti kami itu bahkan ingin bahagia yang murah-murah saja. Tertawa bersama, sedikit mengejek tapi tidak dengan menyakiti. Apalagi memanfaatkan keadaan untuk mengambil milik atau hak orang lain.”
“Jadi tantanganku kamu abaikan? Baiklah, berarti dugaanku benar, kalau kamu benar-benar tidak punya uang sejumlah itu, bukan? Uang yang kecil menurutku. Apa aku kurang baik? Mobilku … kuulangi, akan kujual lima juta jika detik ini keluar uang sejumlah itu dari sakumu.”
Pemilik warung mie ayam mengeluarkan uang dari kantung atasnya, dua puluh lima ribu rupiah. Pemilik mobil itu tertawa mengejek. Yang lain yang hadir di sana menyemangati dengan koor ayo, ayo. Makin lama makin banyak orang yang lewat yang ingin tahu, lingkaran semakin membesar. Lalu pemilik warung mie ayam itu mengeluarkan isi kantung baju dan celananya, yang ada di situ ikut menjadi saksi penghitungan jumlah uang. Sampai akhirnya dia membuka kopiah miliknya. Uang dihitung, genap lima juta.
Semua orang bersorak. Baru kali ini terjadi seseorang menjual mobil terbarunya dengan harga lima juta saja! Kedua orang itu berjabatan tangan disaksikan semua orang. Mobil mewah itu sekarang berpindah tangan. Kunci dan semua surat diberikan.
Berita tersiar seperti api menyambar sampai ke desa sebelah dengan cepat. Warung tidak jadi buka siang harinya. Pemilik warung mie ayam memakai mobilnya untuk berkeliling kampung bersama beberapa orang yang ada di sana. Bahkan ada yang memaksa ikut sehingga terlihat mereka seperti karung yang ditumpuk.
Menjelang sore, seorang pemuka masyarakat datang karena laporan dari pihak keluarga pemilik mobil. Bapak pemilik mobil mendadak bisu sampai di rumah, tubuhnya memanas, dan tidak mau ditemui siapapun“
“Mas pemilik warung mie ayam, apa Sampeyan benar-benar tega membeli mobil dengan harga lima juta?”
“Ternyata Pak Kyai sudah mendengar semuanya. Tentu saja saya masih waras. Pak Kyai, saya orang beragama tidak akan seserakah itu. Saya hanya ingin memberikan pelajaran saja. Mobil akan saya kembalikan nanti sore bada ashar. Mobil hanya saya pakai untuk berkeliling kampung saja dengan teman-teman. Kapan lagi saya bisa naik mobil semewah itu. Anggap saja uang lima juta itu jaminan pinjam mobil.”
“Jadi Sampeyan tidak benar-benar mengambil mobil itu untuk dimiliki? Syukurlah.”
Mangkuk-mangkuk penuh uap panas tertata rapi di atas nampan. Tangan itu begitu cekatan menyajikan kepada pelanggan. Botol-botol saus, sambal dan kecap diantarkan ke meja-meja. “Wah begini, Mas. Jam sarapan seperti ini mie sudah siap. Bagus! Apa sampeyan buka dari jam tiga pagi, dan  urat miskinnya putus? Atau sengaja buka pagi biar tidak sial ada yang nantangin beli mobil lima juta lagi?”
“Hahaha, sudah lupakan semuanya. Anggap saja semua hiburan dan pelajaran. Aku takut rezekiku dipatuk ayam, dan ayamnya adalah Sampeyan.”
 “Benar juga, kalau begitu aku ganti jam sarapan, besok jam tiga pagi saja. Begini, sekarang aku yang nantangin Sampeyan beli gudang seribu rupiah. Gudang banyak kayunya. Sampeyan berani? Yang ini dijamin gak diminta lagi, alias diikhlaskan lahir batin”
“Berisik pagi-pagi! Kalau mau beli korek kayu di warung seberang, aku di sini gak jualan rokok.”
“Hahaha … ternyata tukang mie ayamnya masih waras!”












                     





No comments:

Jual Keripik Tempe

Jual Keripik Tempe Sejarah mencatat, bahwa tempe adalah makanan yang telah menyelamatkan orang dari etnis Jawa hidup lebih lama dibanding ...