7.
Mobil Mewah Seharga Lima Juta
Oleh:
Nurlaeli Umar
Di
perkotaan, orang yang tinggal di satu kompleks perumahan tertentu, menjadi
tolok ukur kesejahteraan. Di desa ini hal itu pun terjadi. Orang yang tinggal
di sebelah Utara irigasi akan dianggap lebih dibanding dengan orang-orang yang
tinggal di sebelah Selatannya. Entah itu tingkat kesejahteraan ataupun
pendidikan. 
Hal
yang terparah adalah anggapan itu tidak terpatahkan meski orang dari Selatan
irigasi itu seorang yang kaya atau terpelajar sekalipun. Entah siapa yang
memulai semua itu, tetapi orang akan berkata: Oh, dengan nada meremehkan jika
seseorang yang diajak berbicara itu memperkenalkan diri dengan menyebutkan
tinggal di Selatan irigasi. Sebutan wong kidul tanggul adalah kelas rendah yang
sama sekali tidak menarik.
Kios
mie ayam di pojok pasar sebelah Barat belum juga menunjukkan tanda-tanda siap
menerima pelanggan. Semua masih tertutup rapat. Tidak ada aroma ayam yang
sedang dimasak menguar dari sana. Pun tidak ada suara bising kompor yang
merebus sesuatu. Pemiliknya adalah wong kidul tanggul yang mengais rezeki di
Utara irigasi.
Ini terlalu kejam, mengingat sedari jam enam
bahkan sudah ada yang mengetuk menanyakan. Terpaksa mereka yang datang dan
tidak bisa menahan rasa lapar harus mengganti menu sarapan pagi dengan sajian
dari warung seberang. Menu: kopi, ketan kepok, atau lontong dengan tempe
mendoan hangat.
Pemilik
warung mie ayam itu akhirnya keluar dengan rambut yang masai. Semoga saja dia
sudah mandi pagi. Sebuah teriakan menyapa dari warung seberang. “Wooi …! Gak niat jualan, apa Mas?”
“Gak,
aku sudah kaya. Jualan nanti sore saja kalau aku merasa butuh recehan.”
“Dasar
urat miskin, kalau sudah cukup makan hari ini, dan ada sekilo beras untuk
besok, sudah merasa paling makmur sedunia.”
“Ya,
begitulah. Kapan lagi merasa jadi kaya? Orang yang kaya saja masih merasa
miskin. Sampai-sampai gaji yang besar tidak cukup, minteri orang-orang dan
minteri Tuhan. Kalau bukan aku yang merasa kaya, siapa lagi?”
Pemilik
warung mie ayam itu berjalan ke arah bekas pos ronda yang berjarak dua kios
dari warungnya.. Pos yang hanya ada penghuninya kalau musim maling tiba. Maling
dengan kerudung sarung tentu saja. Sebab maling berdasi itu licin sekali.
Alih-alih ditangkap, mereka yang menangkap bahkan minta bagi-bagi.
Laki-laki
yang mengajak bicara pedagang mie ayam itu terbahak-bahak demi mendengar
jawaban dari pemilik warung mie ayam itu. Dia bergegas mendekati pos ronda
selepas membayar makanan yang diasantap.
“Kenapa
gak jualan, Mas?”
“Badanku
ngrekes, mungkin masuk angin. Jualan sih, tapi sedikit siang. Mungkin bada
dhuhur saja. Ayamnya baru datang dari pasar. Gak apa-apa sih kalau Sampeyan
maksa mie ayam tanpa ayam.”
“Ngaco,
itu namanya bukan mie ayam!”
“Lha,
kan bisa ayamnya nanti sore. Nyusul.”
Dari
satu dua orang, mereka yang berkumpul menjadi banyak. Mendengar dua orang tadi
berbicara, mereka ikut menimpali dan tertawa. Bahagia ternyata tidak harus
mahal.
“Mas,
harusnya kamu itu jualan mie ayam subuh-subuh.”
“Lha
biar apa? Siapa yang beli?”
“Siapa
yang bangun siang rezekinya akan dipatuk ayam. Apa Masnya lupa?”
“Aku
selalu bangun pagi, ke pasar dan beli ayam. Jadi tidak mungkin ayam itu mematuk
rezekiku. Dia mati sebelum rezekiku dipatuk. Benar, kan?” Mereka yang mendengar
tertawa-tawa. Makin seru saja.
Seseorang
datang dari seberang jalan. Keluar dari rumah yang mentereng. Seorang laki-laki
paruh baya yang berbeda. Tampilannya necis dan klimis. Peci, baju koko dan
sarung yang dikenakan tentu mahal, terlihat dari tampilan dan coraknya yang
tidak pasaran. Dia menyeberang hanya untuk nyawang mobil barunya.
“Wah, mobil Bapak itu keren sekali. Mobil
keluaran terbaru?”
“Iya,
tentu. Mobil ini bahkan baru tiga unit saja yang memiliki di kabupaten kita
ini. Mungkin bulan depan baru banyak yang punya.”
“Tentu
lebih bagus dari milik Pak Saroji, bukan? Atau sebenarnya sama?”
“Wah,
jauh tentu saja, ini jauh lebih bagus dari miliknya. Ibaratnya dia kelas satu
SD, yang ini SMA.”
“Tuh,
kan Mas. Coba kalau Sampeyan buka dua puluh empat jam, tentu tiga bulan sudah
kebeli tiga mobil seperti itu,” celetuk orang yang tadi mengajak bicara pemilik
warung mie ayam. Yang lain memanasi dan bilang iya.
“Dua
puluh empat jam? Siapa juga yang beli? Ini kampung sepi, aku jualan rame juga
kalau hari pasaran saja. Selebihnya dari pada
warungku digedor-gedor kalian seperti tadi.” Kontan saja koor tertawa
terjadi lagi.
“Kapan,
ya Pak, saya bisa kebeli mobil seperti milik Bapak?” Acara angkat-mengangkat
sepertinya sudah dimulai. Beberapa orang mulai buang muka, sementara yang lain
memerhatikan arah angin dan perubahan wajah pemilik mobil keluaran terbaru itu.
“Iya,
Mas. Beli! Nanti aku nyewa, biar kubawa anak istriku jalan-jalan. Tapi harga
sewanya sama seperti semangkuk mie ayam.’
“Huss!
Ngawur saja. Kamu kira beli mobil gak mahal?”
Pemilik
mobil itu menyahut menengahi guyonan yang saling bersahutan. “Orang seperti
kalian tidak akan pernah bisa membeli mobil seperti milikku. Kalau detik ini
juga kamu punya uang lima juta, akan aku berikan mobilku. Orang-orang seperti
kalian itu, bahkan untuk uang sejumlah itu butuh berjualan berbulan-bulan!”
Kalimat
itu sangat menyakiti telinga siapapun, selagi orang itu waras tentu saja.
Karena ucapan seperti itu hanya keluar dari mulut orang yang otaknya memang
sedang tidak waras. Meremehkan dan berpotensi membunuh dirinya sendiri. Mas
pemilik warung mie ayam memandang ke arah wajah lelaki kaya di depannya. Dia
mengeleng-gelengkan kepalanya. Dia mengedarkan pandangan kepada orang-orang di
sekitarnya. “Udah, Mas. Ayo kapan lagi ada mobil mewah lima juta!”
“Aku
gak punya uang sebanyak itu saat ini.”
“Ayo
Mas, sesekali hajar orang sombong seperti itu!” bisik lelaki yang tadi keluar
dari warung sebelah dan mengajaknya berbicara banyak.
“Tidak,
ini tidak benar! Dia sedang sombong, jiwanya sedang dikuasai syetan.”
“Ayo
Mas! Mobil lima juta kapan lagi?” Yang lain ikut menyemangati.
Pemilik
warung mie ayam itu bangun dari duduknya. Dia ingin pergi dari lingkaran
pembicaraan yang mulai ngawur. Mata bagian bawahnya sudah berkedut, pertanda
tidak baik ada di depan mata, begitu keyakinannya.
Baru
dua langkah berjalan, pemilik mobil itu mencegah langkah pemilik warung mie
ayam.
“Benar,
kan? Dia tidak punya uang. Dari itu dia akan pulang, dan itu sudah tidak
berlaku lagi. Tawaranku batal jika dia sudah mendapat pinjaman atau mengambil
simpanan. Aku hanya ingin dia langsung memberiku lima juta cash detik ini tanpa
beranjak. Orang-orang seperti kalian itu jangankan membeli mobil seperti
milikku, mimpi saja terlarang!”
Pemilik
warung mie ayam itu menatap orang yang selama ini dihormatinya. Dia memberikan
pujian selama ini adalah gratis, tidak ingin dibayar dengan apapun. Tapi tidak
juga dengan penghinaan.
“Sudah,
Pak. Sebaiknya Bapak pergi. Kami sedang senang-senang di sini. Orang-orang
miskin seperti kami itu bahkan ingin bahagia yang murah-murah saja. Tertawa
bersama, sedikit mengejek tapi tidak dengan menyakiti. Apalagi memanfaatkan
keadaan untuk mengambil milik atau hak orang lain.”
“Jadi
tantanganku kamu abaikan? Baiklah, berarti dugaanku benar, kalau kamu
benar-benar tidak punya uang sejumlah itu, bukan? Uang yang kecil menurutku.
Apa aku kurang baik? Mobilku … kuulangi, akan kujual lima juta jika detik ini
keluar uang sejumlah itu dari sakumu.”
Pemilik
warung mie ayam mengeluarkan uang dari kantung atasnya, dua puluh lima ribu
rupiah. Pemilik mobil itu tertawa mengejek. Yang lain yang hadir di sana
menyemangati dengan koor ayo, ayo. Makin lama makin banyak orang yang lewat
yang ingin tahu, lingkaran semakin membesar. Lalu pemilik warung mie ayam itu
mengeluarkan isi kantung baju dan celananya, yang ada di situ ikut menjadi
saksi penghitungan jumlah uang. Sampai akhirnya dia membuka kopiah miliknya.
Uang dihitung, genap lima juta.
Semua
orang bersorak. Baru kali ini terjadi seseorang menjual mobil terbarunya dengan
harga lima juta saja! Kedua orang itu berjabatan tangan disaksikan semua orang.
Mobil mewah itu sekarang berpindah tangan. Kunci dan semua surat diberikan.
Berita
tersiar seperti api menyambar sampai ke desa sebelah dengan cepat. Warung tidak
jadi buka siang harinya. Pemilik warung mie ayam memakai mobilnya untuk berkeliling
kampung bersama beberapa orang yang ada di sana. Bahkan ada yang memaksa ikut
sehingga terlihat mereka seperti karung yang ditumpuk.
Menjelang
sore, seorang pemuka masyarakat datang karena laporan dari pihak keluarga
pemilik mobil. Bapak pemilik mobil mendadak bisu sampai di rumah, tubuhnya
memanas, dan tidak mau ditemui siapapun“
“Mas
pemilik warung mie ayam, apa Sampeyan benar-benar tega membeli mobil dengan
harga lima juta?”
“Ternyata
Pak Kyai sudah mendengar semuanya. Tentu saja saya masih waras. Pak Kyai, saya
orang beragama tidak akan seserakah itu. Saya hanya ingin memberikan pelajaran
saja. Mobil akan saya kembalikan nanti sore bada ashar. Mobil hanya saya pakai
untuk berkeliling kampung saja dengan teman-teman. Kapan lagi saya bisa naik mobil
semewah itu. Anggap saja uang lima juta itu jaminan pinjam mobil.”
“Jadi
Sampeyan tidak benar-benar mengambil mobil itu untuk dimiliki? Syukurlah.”
Mangkuk-mangkuk
penuh uap panas tertata rapi di atas nampan. Tangan itu begitu cekatan
menyajikan kepada pelanggan. Botol-botol saus, sambal dan kecap diantarkan ke
meja-meja. “Wah begini, Mas. Jam sarapan seperti ini mie sudah siap. Bagus! Apa
sampeyan buka dari jam tiga pagi, dan
urat miskinnya putus? Atau sengaja buka pagi biar tidak sial ada yang
nantangin beli mobil lima juta lagi?”
“Hahaha,
sudah lupakan semuanya. Anggap saja semua hiburan dan pelajaran. Aku takut
rezekiku dipatuk ayam, dan ayamnya adalah Sampeyan.”
“Benar juga, kalau begitu aku ganti jam
sarapan, besok jam tiga pagi saja. Begini, sekarang aku yang nantangin Sampeyan
beli gudang seribu rupiah. Gudang banyak kayunya. Sampeyan berani? Yang ini
dijamin gak diminta lagi, alias diikhlaskan lahir batin”
“Berisik
pagi-pagi! Kalau mau beli korek kayu di warung seberang, aku di sini gak jualan
rokok.”
“Hahaha
… ternyata tukang mie ayamnya masih waras!”
No comments:
Post a Comment