Friday, April 5, 2013

72. (FF MAYA ITU MENYATA oleh Nurlaeli Umar (Catatan)



Seperti biasa aku mendatangi warnet kesukaanku. Kesukaan , ah kesannya seperti makanan saja. Bukan begitu dari warnet yang ada ini yang paling nyaman.

Aku mulai menyalakan computer. Untuk urusan yang satu ini saja aku terkadang kelabakan, karena otakku dipenuhi senang hendak bercakap dengan seseorang yang selalu membuat hatiku berbunga. “Mas, tolong dong kok ini monitornya gak nyala?” Kataku sambil menarik kursi plastik. Dengan sigap penjaga warnet itu yang kutaksir umurnya tak begitu jauh dariku mendekati komputerku dan menyalakannya. “Mba, belum dinyalakan tuh CPU nya,” ujarnya kemudian sambil tersenyum melihat kebiasaanku yang mungkin menggelikan, biarlah aku pura-pura tak melihatnya saja.

Sore yang indah, tentu saja aku harus menyebutnya begitu. Semangat menggebu-gebu, ehem…hatiku sudah sedikit rindu. Langsung saja aku mencari sebuah nama, setelah akun facebookku terbuka. Aha, ternyata tidak ada status hari ini, sedikit lemas kucoba mencari di sederet inbox yang masuk, tetap tak ada nama akun pengguna seseorang yang biasanya memperhatikan ku.

Gagal deh sore ini, bunga dihatiku segera melayu, ingin rasanya menangis, tapi itu akan terlihat lucu. Pulang, ah tidak seputus asa itu, lalu seperti biasa aku menuliskan beberapa larik coretan yang biasanya disebut puisi. Akupun tahu itu puisi, tapi sedikit malu tuk mengakuinya.

Berawal dari puisi perkenalanku dengan dia, tentu saja tidak. Dia begitu saja mengirimkan pertemana, lalu tanpa piker panjang langsung ku konfirmasi. Yang menarik adalah, dinding facebooknya, penuh dengan ayat-ayat Al qur an dan hadist, selain itu puisinya mantap, bahasanya indah. Dan yang terpenting dia selalu aktif member komen setiap update statusku. Tidak itu saja, pertanyaannya, mengenai kapan aku berjilbab dan mengingatkanku tuk sholat saat asyik berselancar di dunia maya.

Aku merasa sedikit tersanjung, dan mendapat ilmu agama yang cukup banyak. Di status facebooknya yang terakhir kemarin hari Minggu, dia mengupas banyak tentang kewajiban menutup aurat, disertai dalilnya, cukup pusing aku dibuatnya. “Aku belum siap, aku gak pinter ngaji, begini saja aku gak dapat pacar, gimana kalau aku berjilbab,” tukasku ketika dia mulai menanyakan alasannya.

“Aku gak memaksa kamu, kok, santai saja…hmm,” begitu balas komennya, “ temui aku besok Selasa di waktu yang sama ya, aku ada sedikit kejutan buatmu, gimana ?” Aku mengiyakan saja , tapi aku belum melihat tanda kehidupan di wallnya, menyebalkan.

Aku meneruskan menuliskan puisi dan mentag ke beberapa teman tentu saja dia. Biasanya, dia langsung menyambar puisiku dengan komen-komen seputar kekurangan puisiku atau kadang membalasnya dengan puisi juga. Sungguh aku suka ini. Karena takurung juga terlihat , akhirnya kuputuskan tuk membaca puisi dan status diwallnya. Kadang terlintas, ah mungkin dia sama saja seperti yang lainnya, copas dari goegle untuk tebar pesona seolah-olah dia memang agamis. Tapi melihat kesantunannya, dan keteguhannya  menyuruhku berjilbab, serta tahu benar bahwa aku belum pulang saat waktu sholat tiba, membuyarkan prasangkaku.

Tiba-tiba kulihat ada inbox yang masuk,” Tentang janjiku kemarin Minggu, aku minta maaf terlambat sedikit, apa kau bisa tengok sebentar ke meja penjaga warnet yang sering membuatmu tersipu?” Tanpa perlu membacanya dua kali, kulihat sebuah kado, yang ternyata sebuah jilbab berwarna puitih. Tanpa sehelai kertas ucapan.

No comments:

Jual Keripik Tempe

Jual Keripik Tempe Sejarah mencatat, bahwa tempe adalah makanan yang telah menyelamatkan orang dari etnis Jawa hidup lebih lama dibanding ...