Friday, April 5, 2013

73. Dua Pecundang

 
FF ini dibukukan dalam E-ca Moments 1

oleh Nurlaeli Umar (Catatan) pada 15 Mei 2012 pukul 12:23



Aldi memakirkan sepeda motor itu tepat disamping garasi. Tak terlintas lelah diraut muka yang indah itu. Hari yang benar-benar meriah, bunga setaman melimpah ruah murah. Hari ini semua terlihat indah, betapa tidak . Ini kencan pertama yang membuatnya seakan berada di jalan penuh senyum, ajakan yang semula dipikirkan takkan pernah bersambut, ternyata diluar perkiraan. Yup…mawar menerima ajakan makan malam di kaki lima sepulang dari kampus , besok.

Mawar, gadis kembang kampus yang memasuki tahun pertama, yang membuatsemua mata tertuju tanpa berkedip. Gadis sederhana dan santun, tentu saja pintar dan ramah. Ini seperti menang lotere seribu kali. Betapa tidak, saingan terberatnya adalah Bimo, sang jago basket dan bintang kampus. Tapi sekarang semua lewat, ada perasaan lega yang teramat sangat.

Kriiiing… bunyi telepon rumah berdering, bukan handphone keluaran terbaru milik Aldi yang terselip disaku depan. Wah…ini pasti Arjun. Siapa lagi yang suka menelepon lewat telepaon rumah, kecuali dia. Sahabat karib dari SMU dulu. “ Aldi, apa kau ada di rumah?” Sepert biasa tanpa kalimat pembuka atau permisi. Soalnya dijam begini, tak ada orang di rumah selain Aldi, dan Arjun hapal betul.

Setelah mengobrol sedikit, akhirnya diputuskan untuk bertemu besok ditempat yang sama dengan yang dijanjikannya dengan Mawar, kebetulan yang luar biasa. Arjun adalah sosok sederhana dari keluarga yang super kaya. Persahabatan mereka tak berbatas kata-kata, tapi telah banyak keluarga Arju membantu secara finansial, dengan mempekerjakan ayah Aldi, saat di PHK dua tahun yang lalu. Tak terbilang uluran tangan saat ibu Aldi masuk rumah sakit akibat kanker payudara yang dideritanya.

“Hei Al, apa semua tugas yang diberikan dosen mu sudah terselesaikan semua?” Berujar Arjun memmulai pembicaraan di warung tenda soto babat di depan kampus mereka. Pembicaraan berkutat masalah tugas kampus lalu beralih ke masalah pribadi. “Oh ya, Arjun…sebenarnya aku sedang menunggu seseorang,” kata Aldi, “ dan untuk yang satu ini aku berhak mendapat ucapan selamat dari mu,” dengan sedikit senyum mengembang.

Jam menunjukan pukul tiga lebih seperempat, sedikit terlambat dari yang di janjikan. Keduanya gelisah, yang terikir dibenak keduanya, mereka akan mencoba membandingkan gadis yang mereka sukai. Mawar muncul sdengan senyum mengembang baju hijau dipadu jeans cokelat tua, bak bidadari tercantik di dunia saja.

Astaga, keduanya terhenyak, karena mereka memanggil nama tamu mereka bersamaan. Gadis yang sama untuk dua cinta sepasang sahabat. Terlanjur malu dan sakit hati. Seolah tak terjadi apapun, dengan bahasa isyarat, mereka terlihat akrab berbincang sambil menghabiskan sore, dan tiga mengkuk nasi soto serta tiga gelas es teh manis. “Maaf mawar , kamitak bisa mengantarkanmu pulang.” Cuma kata itu yang membuat mereka merasa terhormat.

Buuuggg….mereka berbaku hantam, entah siapa yang mendahului. Setelah bibir mreka sama_sama berdarah, mereka tertawa bersama. Orang yang disekitar hanya bisa menebak-nebak saja. Sebab setelah itu mereka terbahak bersama dan saling mengadu tinju, lalu berteriak, “Pecundaaaaang…!!”.

No comments:

Jual Keripik Tempe

Jual Keripik Tempe Sejarah mencatat, bahwa tempe adalah makanan yang telah menyelamatkan orang dari etnis Jawa hidup lebih lama dibanding ...