kau yang larut dalam puisi
menyatu bersenyawa mungkin darahmu juga kata kata
lentera bagi sebuah senja saat gelapku meraba
mata juga jiwa
pergi
mejelajah mata angin menghalau bimbang
menentang penghalang mengembara beri pijar
pada sesama
membagi cahaya kata bijaksana
adamu tak akan sia meski hari bergulir
semua jejak terukir tak akan pernah jadi istana pasir
menggurat di nadi jiwa melengkung di langit jingga
semesta ikut bersuka gemintang bersorak ceria
doa doa dalam dada mungkin esok purnama
semesta dan aku hanya merunut jejak sisa,
tak apa tak ingin ku menjamah lebih dari anggukan kepala
No comments:
Post a Comment