Wednesday, November 27, 2013

139. Pulang Kampung


 

Pulang ke kotamu mudik ke hatimu. Mungkin seharusnya begitu, kan? Iya, pulkam memang memberi energi yang berbeda, seperti seorang kekasih yang pergi untuk kembali. Rasanya berjuta. Tapi karena judul yang pakai seribu satu rasa, jadi berjutanya diringkas saja.

Apa yang terjadi sebelum mudik? Kurasa hampir sama, sebagian jiwa serasa sudah sampai di sana. Padahal sih ketika pulang dan sampai, biasa saja. Jadi intinya yang membuat heboh dan meriah pulkam adakah, rasa si pemudik, persiapan dan perjalanannya. Apalagi jika macet, rasanya lebih nano-nano.

Packing.
“Ayo anak-anak ambil tas kalian, taruh barang diatas tas, nanti Mama pilih yang perlu dibawa!”
Kebiasaan di rumahku, masing-masing anak, yang kebetulan tiga, menyiapkan sendiri keperluannya. Tentu dengan daftar yang sudah aku buat. Nanti tinggal aku yang memilih.

Protes biasanya terjadi bukan karena jumlah pakaian yang kukurangi, tapi lebih kepada izin untuk membawa boneka mereka.
“Ma, masa boneka sapi doank, kan kasihan nanti kalu aku tidur dia sendirian.”
Kebetulan putriku dua, kebayang selain boneka mereka membawa bantal panjang masing –masing satu, belum lagi ditambah boneka yang mereka bawa. Lha kalau masing-masing dua lalu anak sulungku membawa mainan kesayangannya, bisa penuh mobil. Apalagi bila boneka mereka juga tidak boleh ditindih dengan alasan kasihan.

Mudik terakhir yang kulakukan adalah lebaran kemarin, lebaran kali ini mungkin tidak mudik. Keputusan mudik biasanya kuambil pada malam takbir. Aku sengaja mengindari mudik saat berpuasa, lebih cenderung batal soalnya.

Berangkat.
Semua sudah siap, pagi lebaran hari ke dua kami berangkat. Memang benar suamiku montir, tetapi mobil yang dipakai adalah mobil cukup tua. Sedang asyik-asyiknya menikmati perjalanan di jalan tol, mobil yang kutumpangi mesinnya panas. Aku panik, kami berada di jalanan menanjak ke arah Bandung. Yang terpikir adalah bagaimana  jika nanti mobil pun panas mesin di jalur macet dan menanjak tajam di Nagreg. Ciut sudah nyaliku.

Alhamdulillah meski macet dan mobil hanya bisa berjalan sangat lambat, dua puluh meter untuk setengah jam. Dan membuatku tumbang karena aku mabuk darat, akhirnya sampai.

Tapi itu belum tamat. Karena feelingku, pulang balik lewat jalur Selatan untuk naik lewat Nagreg kurasa mobilku akan bermasalah, maka aku putuskan untuk lewat jalur Utara, dengan resiko harus memutar ke daerah Purwokerto, yang berarti rute tambah panjang. Mobilku menyala dan berasap di tengah malam di daerah Subang, tepatnya di tengah persawahan. Meski akhirnya suamiku bisa mengatasinya, cukup membuat shock.

Bayangkan saja, sedang mengantuk berat dan lelah, terdengar bunyi ledakan diiringi nyala dan asap.Mudik memang seribu satu rasanya. Bertemu dengan sanak saudara di daerah yang terpencil dan menyerap energi untuk fight ke depan di Jakarta kurasa itu yang kudapat, indah. Mudik dengan seribu satu rasanya tak pernah membuatku jera. Maak, kangen kampung!

No comments:

Jual Keripik Tempe

Jual Keripik Tempe Sejarah mencatat, bahwa tempe adalah makanan yang telah menyelamatkan orang dari etnis Jawa hidup lebih lama dibanding ...