Monday, April 28, 2014

185. Late Regret


 
By : Umar Nurlaeli 
If time could I turned back, I will not let this happen to me. I got a red card from a doctor with the verdict of lung cancer. I guess it's just waiting to die Lord said yes. I was precarious , there is no choice but to fall and rupture. A zombiegaret whose life has had its time. Knowing death is the scariest thing for a creature called me.

"What can not be cured , Doc ? " 

"It should be , if .... "
 But why is it supposed to answer that out, why can not it. Then if ? If it increasingly makes my chest was empty , sick and without hope .I was wrong , I'm actually not a smoker until one day , by reason of respect of friends who like to gather in front of the boarding - kostanku , I'm not trying to be different and take one cigarette kusesap and it survives for the first three sips almost made ​​me puke . I let her cigarette spent with angina because I turned everything with a lot of talking.

And as someone who saved a piece of two pieces eventually became a mountain, I could have used to .From spending a single cigarette to a pack once sat. I felt something was not wearing and ignite emotions after every meal if not found himself. I'm addicted!


My business is the art, makes me even more dependent upon it by reason of helping my imagination flow when looking for ideas. Ah, even though it impressed degrading ability of Myself standing. I'd rather not eat than not smoking, I'm even able to eat only once a day as long as there are cigarettes and of course coffee. Other effects that I enjoyed was my body that do not get fat and bloated in the early age of thirty- five and beyond, when the muscles start sagging and my friends who do not smoke I found a problem with her ​​weight problem and should consult a doctor. I feel myself comfortable with cigarettes.


If anyone says that cigarettes kill, I guess is true, but the statement was first I was ignored and even sometimes respond with an answer: where there are dead while smoking? Cough it appeared when I was treading initial forty, I just think the transition reaction, and kuobati the drug store, it was if it terlalau disturbing. The longer it starts to cough accompanied by chest pain. Batuklku worsening pain in my chest and often become subscription.


I still did not budge with a doctor and reduce smoking. But after merokokku activity eased back into old habits, two packs per day. When I found batukku bleeding, pain in the chest and breath a little heavy I go to the doctor. My neck is swollen, lost my appetite. I often sprawling, feel extreme fatigue.


"What are these symptoms during the day has been felt far?"

 "Yeah, Doc, but I think it's common diseases, such as colds or the reaction of the transition due to the weather or my sleep schedule is messed up. "
 "Also the chaotic eating patterns?"
 "Yeah, Doc. "
 "Still Smoking?"
 "Still, Doc. I just cut it." 
"Why did not you stop?" 
"It's hard."
 "Although pain like this?"

It is a piece of the story before I'm lying here, the room number 323 Boxwood room, ward 3. Infusion bottle I are just friends to survive, because the operation is not possible any longer, zombigaret is too thin for a hope. The shortness of the more pressing, I could not resist. It is a sad way to die, the people closest grim -faced, even for a living I was not given a chance.


Feel pain in the chest and coughing up first today I lay here is a story that 'll bring together black man named death. Feels long and torturous. I passed yesterday with a swollen chest day, even now awaiting those who will carry natural to go into eternity. If there is a second chance, I'm not going to do it. I zombigaret the loser.


Cengkareng, 27414

Sunday, April 27, 2014

184. Sesal yang Terlambat








Oleh: Nurlaeli Umar
Andai waktu bisa kuputar ulang, tak akan kubiarkan ini terjadi padaku. Aku mendapat kartu merah dari dokter dengan vonis kanker paru-paru. Mati itu kurasa tinggal menunggu Tuhan mengiyakan saja. Aku adalah telur di ujung tanduk, tak ada pilihan lain kecuali terjatuh dan pecah. Seorang zombiegaret yang hidupnya tinggal menghitung waktu. Mengetahui kematian adalah hal paling menakutkan bagi makhluk yang bernama aku.

“Apa tidak bisa diobati, Dok?”
“Seharusnya bisa, andai ….”
Seharusnya tetapi mengapa jawaban itu yang keluar, mengapa tidak bisa saja. Lalu andai? Andai itu semakin membuat dadaku kosong saja, sakit dan tanpa harapan.

Aku memang salah, aku sebenarnya bukan perokok sampai suatu saat karena alasan menghormati teman-teman yang suka berkumpul di depan kost-kostanku, aku mencoba untuk tidak berbeda dan mengambil satu batang rokok kusesap dan itu pun bertahan untuk tiga sesapan pertama yang hampir saja membuatku muntah. Aku membiarkan api rokok menghabiskan dirinya bersama angina karena aku mengalihkan semuanya dengan banyak berbicara. 

Lalu seperti seseorang yang menabung sekeping dua keping akhirnya menjadi segunung, aku pun bisa karena terbiasa. Dari menghabiskan satu batang rokok sampai sekali duduk satu bungkus.
Aku merasakan sesuatu yang tidak mengenakan dan menyulut emosi jika sehabis makan tidak mendapati dirinya. Aku kecanduan!

Kegiatanku yang orang seni, membuat aku semakin tergantung kepadanya dengan alasan membantu imajinasiku mengalir saat mencari ide. Ah, meski sebenarnya itu terkesan merendahkan kemampuan berdiri sendiriku.

Aku lebih memilih tidak makan dari pada tidak merokok, aku bahkan sanggup hanya makan sekali sehari asalkan ada rokok dan tentu saja kopi. Efek lainnya yang kunikmati adalah tubuhku yang tidak menjadi gemuk dan buncit di umur awal tiga puluh lima dan seterusnya, saat otot-otot mulai kendur dan teman-temanku yang tidak merokok kudapati bermasalah dengan masalah berat badannya dan mesti berkonsultasi dengan dokter. Aku merasa diriku nyaman dengan rokok.

Kalau ada yang bilang bahwa rokok itu membunuh, kurasa benar, tapi pernyataan itu dulu aku tak acuhkan dan malah terkadang menjawabnya dengan jawaban: mana ada orang mati sambil merokok?
Batuk itu muncul saat usiaku menapaki awal empat puluh, aku hanya menganggapnya reaksi pancaroba, dan kuobati dengan obat warung, itu pun jika sudah terlalau menggangu. Makin lama batuk itu mulai ditemani dengan dadaku yang nyeri. Batuklku makin memburuk dan sakit di dadaku kerap menjadi langganan.

Aku masih bergeming dengan tidak ke dokter dan mengurangi merokok. Tetapi setelah mereda aktifitas merokokku kembali ke kebiasaan lama, dua bungkus per hari.
Ketika kudapati batukku berdarah, rasa nyeri di dada dan nafasku sedikit berat aku mendatangi dokter. Leherku bengkak, nafsu makanku hilang. Aku kerap terkapar, merasakan lelah yang teramat sangat.

“Apa selama ini gejala ini sudah dirasakan jauh hari?”
“Iya, Dok, tapi saya rasa itu penyakit biasa, seperti masuk angin atau reaksi pancaroba karena cuaca atau jadwal tidur saya yang kacau.”
“Juga pola makan yang kacau?”
“Iya, Dok.”
“Masih merokok?”
“Masih, Dok. Cuma saya kurangi.”
“Kenapa tidak berhenti?”
“Susah.”
“Meski sakit begini?”

Itu adalah sepenggal cerita sebelum aku terbaring di sini, kamar nomor 323 ruang Kenanga, bangsal 3. Aku hanya berteman botol infus untuk bertahan, sebab operasi pun sudah tidak mungkin lagi, zombigaret ini terlalu tipis untuk sebuah harapan. Sesak ini semakin menekan, aku tidak tahan. Ini adalah cara mati yang menyedihkan, orang-orang terdekatku bermuka muram, bahkan untuk sebuah kesempatan hidup aku tidak diberikan.

Merasakan sakit di dada dan batuk pertama hingga hari ini aku terbaring di sini adalah cerita hitam yang akan kubawa bersama seseorang bernama kematian. Terasa lama dan menyiksa. Aku melewatinya dengan dada membusung kemarin hari, kini malah tengah menunggu orang-orang yang akan mengusung untuk pergi ke alam keabadian. Andai ada kesempatan ke dua, aku tidak akan melakukannya.  Aku zombigaret sang pecundang.

Cengkareng, 27414



Thursday, April 24, 2014

183. Mencari Puisi

Mencari puisi ada larik-larik yang begitu banyak menimbulkan bingung. Antara sajak dan puisi yang kerap tertukar mengertiku. Lelaki tua dengan sajak penuh makna tak bisa mengerti mengapa orang tak begitu tertarik dan menganggapnya biasa,mungkin zaman yang terlalu cepat berlari di banding mata. Atau mereka adalah para pembaharu yang hanya ingin sekejap merasa lalu pergi begitu saja setelah terpuaskan dahaga

Aku mencari di setiap aksara yang tertera, tidak kutemukan kecuali jiwa dan wajahmu semata, aku  mencari wajahku. Puisi-puisi itu mengalun, begitu katamu dari mata, hati dan pikiran yang bekerja sama! Pantas saja aku tak menemukannya kecuali menyisakakn sedikit ke akuanku mengerti adamu.

Aku mencari dan terus mencari diri yang puisi, pada arah mana? Kau menunjukkan dada, lalu Dia, seperti biasanya.


Sunday, April 13, 2014

182 .Resensi Buku Antologi (1)



Judul buku : Mata kenangan
Penerbit : Pustaka Jingga, Lamongan
Cetakan pertama: Maret 2014
ISBN : 98-602-7880-88-7
Isi : 7 halaman pendahuluan, 171 halaman cerita fiksi, 10 halaman biodata penulis
Sinopsis:
Kenangan selalu membuat takdirnya sendiri di mata, dia bisa berasal dari cinta pandangan pertama, sahabat kecil, dermaga kecil, warna jingga, atau matahari.
Penyesalan terkadang membuat kita ingin mengubur kenangan, bahkan membakarnya hingga merasa itu hanya ilusi. Atau bahkan sebaliknya ingin terus memeluknya karena dia adalah serpihan yang menyisakan asa dan memori yang indah.
Cinta di atas cinta selalu membuat kita tegar dan yakin, bahwa kenangan biar disimpan di mata saja, sebab hidup terus berjalan. Antara aku dan kenangan, hadir di buku ini menyuguhkan cerita dengan 22 cara pandang yang berbeda.
Penulis :
1. Lis RahayuMeilani
2. Naa
3. Ariyani Siska
4. Nurma Kavella
5. Yuan Yunita
6. Febby Morishita D
7. Fuja Sagita
8. Rizmaya Putri
9. Oviey Olliey
10. Natanael Eka Nugraheni
11. Amelia Fiza
12. Daena Hadi
13. Ermi Agustin
14. Ens Asci Doci
15. Nurlaeli Umar
16. Indri rus Haryani
17. Mulyoto M
18. Meyyke Santoso
19. Ricky Douglas
20. Dwiyani Setiowati
21. Yoga aditama Ika Nanda
22. Erwin Yohanes

Friday, April 4, 2014

179. Dari Seutas Kenang oleh: Nurlaeli Umar-Cican Candra



Malam lindap, aku suka kalimat ini
Entah lah yang terbayang adalah kesedihan yang lindap di bawah pepohonan, serupa tangis yang disamarkan gelap, luka yang tak kunjung sembuh dan rindu yang terus menghitung angka sesekali melirik sinis kalender yang tergantung di dinding kenangan

Serupa hujan di pertengahan April yang lesap pada jalan berkerikil dan tak sempat kubalas senyumnya disetiap singgah kota
menyibak jalan setapak sambil memburu senja entaskan harap yang lagi lagi menuju perih. Lindap yang sama yang mengajarkan tentang aku sepi tak berkesudahan tangis

Jakarta, 4414


 

Jual Keripik Tempe

Jual Keripik Tempe Sejarah mencatat, bahwa tempe adalah makanan yang telah menyelamatkan orang dari etnis Jawa hidup lebih lama dibanding ...