Aku di kamar ini dan kau di hotel sana Sama sama merasai jika kantuk dan penyempurnanya adalah pejam Aku bosan hiruk yang pikuknya terkadang pekak nasi gudeg dalam cerita Kudaoati jogja yang biasa saja Dengan menu asin gurih Mungkin gula merah dan daun jati sudah tak musim lagi
Ada sakit di dadaku Rupanya lukaku lebih dalam dari lukamu Ada yang tak kau mengerti Aku menelannya dan ingin melupakan Yang kau dapati hanya sebagian Aku bisa apa agar kau tak luka Menangis aku sudah lupa
Tak ada hujan padahal aku mulai terbiasa Masih akan diselimuti sepi Seperti rindu yang tak kau kirim Meski namamu kueja beberapa kali
Menikmati kota ini Bolehkan tidak dengan menyentuhnya Menghirup udaranya lalu menuangkannya ke dalam aksara Sabil sesekali melihat peta Mencari tempat yang pantas kusinggahi dengan beribu antusias Aku enggan datang ke tempat usang dua kali gersang
Senyumnya jangan kuceritakan bagaimana kedahsyatannya Ada matahari dan sapa rembulan dari sana Entah dia pernah mengenalku dari mana sebelumnya Tapi hatiku dijabat oleh cinta dan itu indah
Hanya ingin menikmati sendiri Nyata yang tak ingin membuatku lari
Mata elang itu kuharap bersanding dengan bumi yang mendamaikan agar tumbuh padi yang hamparan
manusia berlomba secara baik manusia berlomba secara licik bagai memedi sawah ataupun bajak laut peniru tarian camar bahkan bak kerbau yang berkubang lumpur
matahari tenggelam dalam lautan tangis rembulan hanyalah mimpi
doa pun terkubur dalam hening demi menuai mimpi dari keinginan hati dan hijau-kuningnya harapan berlumpur
makin dan makin layaknya bulir padi yang rendah hati bulir bulir berumur pendek bulir bulir dongeng kehidupan yang jatuh bertaburan lalu tumbuh dan berkembang menjadi nyata dengan rasa syukur kepada-Nya kerena sesungguhnya kita sang pemilik hati bulir bulir padi padi yang penuh cahaya puisi yang bercahaya