Monday, December 30, 2013

175. Denting Rindu

Ada romansa rindu di denting antara sendok dan cangkir kopi, kekasih

Kau mendengarnya?

Bergegaslah beri aku matahari dari senyum dan hati yang hanya untukku

Love u


 

174. Elangku yang Puisi




 


Aku senang adamu tak pernah di sini
kau pasti hanya bisa memilah tulisanku
Dengan kata akhir: tak ada yang puisi
lalu kau menunjuk dadamu, aku!

Teruntuk Nip 1


Kau masih ingat awan itu
Bukan awannya
Tapi caramu menunjuk awan
Itu!
Mirip ekspresimu saat berdeklamasi, total!


Teruntuk Nip2


 Kapan aku bisa melihat kau membaca puisi?

Saat itu pasti duniaku hanya ada aku dan kau selain rasa yang larut

Entah kapan, mungkin tak akan pernah: rindu teramat

Tetuntuk Nip3


 Aku terpaksa menelan semua aksara ke dalam otakku
Untuk sebuah ujian?
Tidak, tak ada alasan kecuali terpaksa
Seperti hidup pada nafas

Teruntuk Nip4

 
Ini rindu harus kueja satu satu
Agar lama bermukim
Biar sakitnya menggigit
Hingga jumpa denganmu bagai keluar dari himpit: lepas

Teruntuk Nip5


Mata elangmu berpuisi tentang petualangan
Lembah
Laut
Ceruk
Daki
Lintas
Tapi hatimu tertambat di sini padaku dan terkunci

Teruntuk Nip6

Saturday, December 21, 2013

173. 19 Desember

Daun rambutan itu rimbun
Buahnya masih hijau
Melebat rindu enyahkan risau

Jogja dengan kesunyian sekitar
Kamar yang hangat menjaga malasku
Memanjakan mataku, nikmat

Semua sibuk dengan oekerjaannya
Keramik yang di rendam
Kisah sepanjang jalan
Nasi rames tujuh ribuan
Nasi soto yang sempat membelalakan mata

Lusa aku akan jatuh ke pelukan Jakarta
Hari bisa berjalan
Tapi isi kepala berlari bahkan terbang ke bulan

Jogja, Kamis dari jalan Lampar, Papringan

 

172. Selamat Jalan

Lepas yang nyata dan indah
dan malam ini kulewati tanpa harus mengingat apa pun tentangmu

Bahkan kau tidak berarti apa apa ternyata

 

171. Desember sepi

Terang menyambangi
Tapi rindu terburu pergi

Soto ayam telurnya ditusuk
Kejujuran itu mengapa terburu dikemasi

Perutku berseru
Senja di mana pun sama
Tapi beban pikiran membuatnya memanggil asam lambung naik

Jogja Jakarta, aku tetap orang yang sama
Menepilah resah, dan kau gundah: rebah

 

170. Papringan, Desember

Aku di kamar ini dan kau di hotel sana
Sama sama merasai jika kantuk dan penyempurnanya adalah pejam
Aku bosan hiruk yang pikuknya terkadang pekak
nasi gudeg dalam cerita
Kudaoati jogja yang biasa saja
Dengan menu asin gurih
Mungkin gula merah dan daun jati sudah tak musim lagi

Ada damai yang kau tak rasa
Sederhana bukan dosa

29 Desember Papringan

 

169. Flamboyant Desember

 
Rindu
setia menunggu ditempat yang kau sepakati bersama hujan
Bis jurusan antar kota
Di perempatan di bawah oayung warna pelangi

Mengapa harus pergi kemarin
Bukankah telah kusemai cinta
Yang benihnya kupilih paling
Ternyata penantianku sia

Flamboyan berbunga tapi kau tak pernah ada menegur rasa yang diam diam merimbun tangis

Mungkin aku memang harus melupa saja

168. sesal

 

Kemarin aku mencintaimu karena terbiasa

Kini aku melupamu karena terbiasa

Kau bulan yang terkurung hujan di mataku, maaf

167. maaf

Ada sakit di dadaku
Rupanya lukaku lebih dalam dari lukamu
Ada yang tak kau mengerti
Aku menelannya dan ingin melupakan
Yang kau dapati hanya sebagian
Aku bisa apa agar kau tak luka
Menangis aku sudah lupa


 

166. Segan

Tak ada hujan padahal aku mulai terbiasa
Masih akan diselimuti sepi
Seperti rindu yang tak kau kirim
Meski namamu kueja beberapa kali

Menikmati kota ini
Bolehkan tidak dengan menyentuhnya
Menghirup udaranya lalu menuangkannya ke dalam aksara
Sabil sesekali melihat peta
Mencari tempat yang pantas kusinggahi dengan beribu antusias
Aku enggan datang ke tempat usang dua kali gersang

Papringan, 21-12-13


 

165. Lepas


Kerap kali keyakinan kurang erat kugenggam

Mana aku bisa menyalahkan sesiapa

Tak seindah yang terlihat, menipu diri dan hasrat

Aku hanya ingin segelas kopi dan seulas senyummu

Meski mendung kadang berkawan murung dan bingung

Papringan 211213


 

164. Engkau


Senyumnya jangan kuceritakan bagaimana kedahsyatannya
Ada matahari dan sapa rembulan dari sana
Entah dia pernah mengenalku dari mana sebelumnya
Tapi hatiku dijabat oleh cinta dan itu indah

Hanya ingin menikmati sendiri
Nyata yang tak ingin membuatku lari

Mata elang itu kuharap bersanding dengan bumi yang mendamaikan agar tumbuh padi yang hamparan

Papringan 211213

163. Hilang

Hujan turun
Aku ingin punya sayap elang
Sedikit terbang lalu memunguti sedikit kenang

Kau apa masih ada rindu untukku
Meski pura pura?
Cintamu kau buang: dia terbang: hilang

Papringan 211213

162. Tangis

Aku mengamatimu
Dari kejauhan sini
Mengapa kau menolak hujan
Dengan menggantung gambarku menghadap rembulan

Tahan cemburumu, aku tetap milikmu; semu!

Papringan 211213

Thursday, December 12, 2013

161. puisi penuh cahaya


manusia berlomba secara baik
manusia berlomba secara licik
bagai memedi sawah
ataupun bajak laut peniru tarian camar
bahkan bak kerbau yang berkubang lumpur

matahari tenggelam dalam lautan tangis
rembulan hanyalah mimpi

doa pun terkubur dalam hening
demi menuai mimpi
dari keinginan hati
dan hijau-kuningnya harapan berlumpur

makin dan makin
layaknya bulir padi yang rendah hati
bulir bulir berumur pendek
bulir bulir dongeng kehidupan
yang jatuh bertaburan
lalu tumbuh dan berkembang menjadi nyata
dengan rasa syukur kepada-Nya
kerena sesungguhnya
kita sang pemilik hati bulir bulir padi
padi yang penuh cahaya
puisi yang bercahaya

Jual Keripik Tempe

Jual Keripik Tempe Sejarah mencatat, bahwa tempe adalah makanan yang telah menyelamatkan orang dari etnis Jawa hidup lebih lama dibanding ...