Sunday, June 16, 2013

101. saat sore menjelma

Berbaring Menikmati anak anak sore
 Petikan gitar
 Dan sedikit malas
 Ringan hati sambil membuka lipat kenang tentang
 Jeda dari lelah ke kata selanjutnya
 

Saturday, June 15, 2013

100. haruskah ku menangis

oleh Nurlaeli Umar (Catatan) pada 14 Januari 2012 pukul 8:27

bulir permata ini terasa sedikit hangat
kulitku membeku
hatiku tinggal separuh rasa
dan kau berjalan menembus asa, sendiri

99. sedikit rahasia atau teka teki

oleh Nurlaeli Umar (Catatan) pada 15 Januari 2012 pukul 11:22

bilur lebam membiru di sekujur hati
terasa membeku mungkin
luka terlalu menggurat
            atau
terlalu dalam dan hampir sedikit
membuatku mati

98. padahal..

..

oleh Nurlaeli Umar (Catatan) pada 16 Januari 2012 pukul 18:47

kata yang terangkai dari aksara
sepertinya menjadi racun mematikan
karena terlanjur lari dari kebiasaan
komanya terantuk
titiknya lari hanyut
terbawa banjir rasa
dan rasa yang memperburuk langit senja

97. pertanyaan mu

oleh Nurlaeli Umar (Catatan) pada 17 Januari 2012 pukul 7:51

kau...membosankan

kau selalu begitu
tak peduli aku enggan tuk bicara
tak peduli aku enggan tuk berkata kata
januari
kau selalu bertanya tentang januari
mengapa?

96.cerita pagi ku kali ini

oleh Nurlaeli Umar (Catatan) pada 26 Februari 2012 pukul 10:31

seperti biasa
rumput itu masih hijau
angin menyapa sedikit menyibak
burung bercengkrama dan tak kuhirau
kecuali kenangmu

95. ketika hati dijebak pura pura

oleh Nurlaeli Umar (Catatan) pada 26 Februari 2012 pukul 9:49





aku berlari ke utara kau ke selatan
mengapa kuharus mengikuti jejakmu
dan menerobos angin
sedang hati menolak tak ingin



ketika hati dijebak pura pura
aku akan meyakini.........sebatas ilusi

94.Aku Sang Cermin


Oleh :Nurlaeli Umar

Andai saja boleh bicara
Akan kukatakan make-upnya mirip topeng
Menutupi sikapnya yang bopeng
Ingin rasanya aku memasang penutup
Pura-pura sakit dan lari sembunyi
Karena aku bosan dia lagi dia lagi

Mereka saling memberikan diriku
Saat satu sama lainnya saling hujat
Seakan aku yang punya hajat

Aku tetap aku yang mencintai manusia
Dengan segala congkaknya
Sebab ketiadaanku adalah duka
Seperti kehilangan tongkat saat gelap kian memekat

93.Diary Sang Cermin


oleh :Nurlaeli Umar

Bahasa tubuhmu membayang dalam duniaku
Panah sinar membuat mulutku berbicara
Tentang kenyataan yang tak terbungkam
Yang kau panggil dari sebalik hati yang mendamba
Ketika seribu dusta menjadi biasa

Aku memantulkan noktah hitam dari selipat persembunyianmu
Dan cahaya dari sinar sinar yang kau berikan
Misteri yang tak tersentuh meski praduga mengeluh

Dalam hadapan perhelatan perjumpaan
Ketelanjangan kejujuran membuatmu menata langkah
Walau tak jua membuatmu berubah

Aku adalah penasihat bijak tanpa kutuk
Kau cari meski aku bersembunyi dan menyepi
Meski aku bosan berulang kali berteriak
Kau lagi! Kau lagi!

92. apa arti hadirmu...kali ini

oleh Nurlaeli Umar (Catatan) pada 18 Januari 2012 pukul 8:35

air mataku mengering kemarin
dan kau meninggalkan kata sudah
sebagai kado terakhirmu
aku sudah berada diperbatasan hati
dan mendekap mawarmu
hingga darahnya kini mengering

91. sampai akhir....pastinya

oleh Nurlaeli Umar (Catatan) pada 19 Januari 2012 pukul 8:23

terlalu pahit tuk kau capdiriku ini seorang pecundang
neski kenyataanya begitu...tapi
jalan setapak yang terlalui terlalu gelap
untukmu mengerti mengapa ku tak pergi dan lari

Friday, June 14, 2013

90. di hampir tengah malam oleh Nurlaeli Umar


oleh Nurlaeli Umar (Catatan) pada 31 Januari 2012 pukul 8:23
mencoba mengeja kembali
larikan syair yang usang
meski terbata
kuharap tak sia sia
karena peluh sudah berkeluh kesah
tuk mencari angin
sejak semula

coba merangkai eja menjadi baca
dan menerka untuk maksudnya
ternyata tersurat pun
sama sekali tak mengerti
apa lagi di tambah tersirat
yang hampir beranjak pergi

tunggu
tunggulah sebentar
mulutku mulai berdarah
otakku mulai kram
itu berarti pencarian makna itu
hampir limit

kali ini napasku
mulai tersengal
dadaku mulai terisi penuh
hendak meledak
air mata hampir mengkristal
kubisa membaca nya
kata yang kauberi
I LOVE U

89. tersaput egois

 

oleh Nurlaeli Umar (Catatan) pada 11 Januari 2012 pukul 8:15
kadang kala angin itu menapuk
tapi kadang merabu
 dan membuat semua layu sebelum waktu

titian kata berpadu menjalin ikatan
semua serupa mantera
terasa sakral kala dipuja

kemana
mesti ku cari dan ku telusuri
jejak rasa yang menggantung asa

sampai disini
menyerah telak pada kesombongan

kembali
meski perih kan menghantui
dan penaku trancam mati bersama hati

tetap disini
meski saat ini aku tak bisa berjanji
apalagi menepati

angin...
hujan...
badai..
aku sungguh tak mau
jika mereka hadir menjadi nama tengah
dari kita

89. dalam ku termenung

oleh Nurlaeli Umar (Catatan) pada 26 Januari 2012 pukul 12:01
ada bias lelah dan ragu
yang tersembul dan coba sembunyikan diri
meski senyummu mengembang
bak sinar cerah mentari pagi
kau ...pandai menipu diri sendiri
tapi tidak denganku

jangan coba membuat semua seperti misteri
karena aku telah mengetahui
semua lebih dari perkiraan dan rasa mu

kau...lelaki terhebat yang pernah kutemui
berhentilah sejenak
lepaskan gundah gulana
jangan meracau langkah
karena usai jejakmu
tertulis langit ada padaku

dalam ku termenung
satu keyakinan telah teruji
jadi jangan ingkari hati
jika kau rindu
pulanglah ke haribaan damai
yaitu aku

(hmm....kupersembahkan ini untuk mu....adakah kau merasa...:)

88. menapaki jingga bersama mu

oleh Nurlaeli Umar (Catatan) pada 12 Desember 2011 pukul 13:30
menikmati gerimis rindu
yang kian tak kunjung reda
daun daun melepuh
ini dingin yang membunuh
terlalu dingin ...bahkan sangat
seperti  arti hadir yang acuh
hingga langit rasa terinjak
sampai kebatas jenuh

kabut mencium lembut
dan bibir bumi tetap terkatup
aku atau kau
aku menunjuk waktu yang tak berpihak

menapaki jingga bersamamu
semua menyemu
harapan bagai bunga tidur
hilang sekejap
tatkala mentari mengerjap

jangan pergi kamu
kau jingga dari hati ku
kan ku kumpuli remah remah janji
kan kupunguti puzle dari hidup

temani aku walau cuma
sebatas omong kosang belaka
karena jinggamu
mempesona dan endapkan laraku
meski sementara

87. kesepian...di penghujung tahun....


oleh Nurlaeli Umar (Catatan) pada 31 Desember 2011 pukul 14:50



KESEPIAN
23.05


penghujung desember
derai hujan membaca kesepian
tanpa dieja

segelas kopi
suara terompet yang mengejek

kesepian tak bergaun galau lagi
dia duduk disamping ku
mengaduk aduk cangkir kopi
yang sudah kosong

sedikit memaksaku
tuk menuangkannya lagi
dia ingin sedikit lebih lama menemaniku
katanya

matanya menelanjangi ku
senyum sinisnya sedikit menghiburku
itu yang ku suka darinya

24.05

awal januari
masih sedikit sedih merintik
kesepian meninggalkanku
setelah dia mengecup sudut bibir dan kening ku
dan berucap...selamat tahun baru
sedikit dia berbisik
aku setia padamu

86. ini bukan puisi

 

oleh Nurlaeli Umar (Catatan) pada 21 Desember 2011 pukul 13:37



catatanku tak gelap
ia hanya bertinta hitam
aksaranya kali ini terasa ganjil
jangan kaubaca
... nanti dia membunuhmu
pelan dan pasti
lewatkan saja
aku pun begitu
menulisnya lalu kutinggalkan
karena aromanya menusuk
rasanya pahit
dan sedikit beracun

Monday, June 3, 2013

85. hmmm...lumayan

mengulur benang
merenda senja yang mulai menjingga
mega mulai merona
hingga gelap mengedip
dan mengatakan iya
semburat berganti gelap
dan rindu masih tergantung di cemara
menunggu purnama
sambil menghitung bintang

semua rasa menjadi serupa serunai
memanggil jiwa tuk bercumbu
berlomba dengan malam
yang tergesa menjemput pagi

arti hadirku  tersaput fajar baru
kau hanya mengingatku kala gelap mu
mentari seakan memberi arti
aku harus hengkang kala mata mu berseri

apa arti hadirku hanya pelarian mimpi
kala dia menyepi dan sendiri
hingga kau sekenanya
menepis semua rasa yang ku beri
dan memenggilku kembali kala malam menghantui

aku...lilin penerang mu
kala purnama enggan menampakan diri
saja dan saja
begitukah....hmmmm...lumayan

84.diary ku

sekelumit tentang diary ku.....trauma

tak ada goresan tinta
pena pun sedikit malas....biasa
aksara tengah berkerumun menanti
angin datang terlalu kencang
semua melayang dan terbang

beberapa terpancang diujung ranting
melambai mengejek
... aku sedikit tergelitik

hendak ku gapai tapi terlalu jauh
aku takut terjatuh

trauma
luka itu masih menganga
terlintas jelas seringaimu
menguliti semua rahasia diary ku...dulu

aku ingin bertutur lebih
tapi diaryku kini hanya awan dan langit saja
penaku masih nyenyak
kertas ku biarkan dia lari bebas
tetap kosong selamanya

diary ku melapuk
bersama masa yang kan menjadi tua
tapi tetap saja
aku...entah sampai kapan kan menjenguknya
dan
mnghapus sisa seringai mu
meski kau kini sudah mati
dan jaman berganti

semoga saja....ya
suatu saat nanti aku dapatkan sedikit kekuatan
tuk mengisi diary ku lagi

83, entahlah..

.


ikat mengikat
selaksa simpul mati yang enggan tuk lepas
terlalu erat mengikat atau salahkah
simpul menjadi sauh
hingga layar terkembang dan kokoh
menghadang angin
dan ombak adalah teman

simpul yang kukira rentan
terasah sembilu adalah bualan diujung hari
semakin terikat semakin menjadi
hingga diri lupa tuk sadari
bahwa hati terpikat kata sepakat

enggan tuk pergikah
alasan ku pada laut yang biru
dan rindu pada kepakan camar
yang menukik seraya mencium
atau matahariku terlalu lembut
menyentuh bibir senja

simpul itu bukan sekedar tali
atau benang kini
tapi......terlalu membawa rasa sampai ke hati
aku ...atau engkau
yang sebenarnya enggan pergi
dan memutus diri...
entahlah....

82.dalam doa ku...selalu

oleh Nurlaeli Umar (Catatan) pada 25 Januari 2012 pukul 18:28
siluet senja telah sirna
gelap datang tebar kedamaian
bukan elegi yang tercecer di sepanjang jalan
dan setiap tarikan nafas adalah keluhan

purnama enggan datang
biarkan saja
toh...lampu temaram di setiap sudut
mampu hela sedikit penat dan letih
jangan menungguku hadir
terlalu dingin jalan
terlalu gelap tuk ku susuri sendiri

aku mungkin hanya sekedar ilusi
yang tak kau temui nyatanya
meski kau hendak mencari
tapi
jangan sendu begitu
kau telah terlarut dalam doaku
disetiap waktu

kekasih
temui Sang Kekasih
yang memberi kasih berlebih
adalah cara aku mencintaimu
dalam penggalan waktu
yang selalu mengetuk rinduku
padamu sahaja

dalam doa ku
kau kupeluk

dalam tangis ku
kau ku rindu

dalam senyumku
pengharapan kebahagiaan

malam....dingin...gelap
dalam doa...rindu ..dan pengharapan
namamu terukir dan terpahat

81.dan ketulusan cinta itu

oleh Nurlaeli Umar (Catatan) pada 13 Januari 2012 pukul 13:54

selaput bening meliputi pagi
 membuka hari merajuk harap
 dingin ...tiba tiba aku jatuh cinta padamu

 senyum kerap terkembang
 bersama rasa yang membumbung
 dan kau...adalah mimpi yang terangkum di doa ku

 melangkah
 meski rasa menusuk nadi
 mentari
 biarkan saja aku nikmati semua
 hanya bersama dia

 mentari mulai merayap
 matamu pancarkan binar
 secemerlang rasa yang terjalin
 sekejap adalah selamanya
 dalam keabadian
yang terangkum namun tak tergenggam

 dalam ketulusan cinta
 nama mu terselip diantaranya
 jangan pernah menoleh
 bersama siang ku haturkan
 kau tuk pulang
 karena aku
 tak mau melihat bayangan

80. HALAH...KKK

oleh Nurlaeli Umar (Catatan) pada 13 Januari 2012 pukul 7:50

marah.....

gedubrak...pintu ikut berbaris
menyemangati mu
menyemangati sebuah kata bernama emosi
uhuy...
ternyata untuk marah
kadang seseorang perlu membawa pasukan
bukankah itu terlihat.....
ya...terlihat sangat pecundang
...
jika kau...adalah seseorang
maka marahlah...dengan cara seseorang
yang punya tata dan tak bikin pekak telinga
kkkkk...
apalagi...
telinga tetangga...
.....marah selayak itu
tak menyelesaikan amarah...

tapi ..
malah menyulut amarah
karena terkesan amatir
dan...
murahan
....
ayolah...kita bisa kok marah
dengan sedikit gengsi dan tak menyakiti
...
bicara...ya
bicara secara elegan
...
jangan sampai sendal jepitku
melayang
menyumpal
amarah mu.....

santai teman...
ya....hadapi semua dengan sedikit santai
seperti di pantai......

kau mau tahu judulnya....HALAH...KKKKL

Jual Keripik Tempe

Jual Keripik Tempe Sejarah mencatat, bahwa tempe adalah makanan yang telah menyelamatkan orang dari etnis Jawa hidup lebih lama dibanding ...