Thursday, November 28, 2013

149. 2,7 Pagi

 

Pagi Ini

Puisi turun bersama embun
Kucari makna merabun
nlu261113


Pagiku Pasrah 

 sejumput sunyi menegur 
hati subuhku ditumbuhi doa
 271113nlu

148. lapar itu tak enak


28 Juni 2013 pukul 19:53
masak apa ma malam ini
bahkan gelap pun sudah memasak lelah menjadi damai

mengapa tak juga beranjak menanak ma
lapar ini rasanya tak enak

ada sedikit perih ma
lalu kepalaku pusing
sedari tadi minum air sampai galonnya kering

ma lapar sungguh tak enak
sedang malam kian beranjak
apa ketika pagi datang lapar akan pulang

ma jangan diam saja
apa lagi kau mengeluarkan air mata
aku takut bukan lapar yang pergi tapi sakit yang menghampiri

ma aku janji jika besar nanti aku tak mau bersahabat dengan perih ini
doakan aku ma bisa hidup tidak dengan korupsi
karena katanya korupsi itu masih saudaranya lapar
tapi dia sedikit punya aksi

lapar itu tidak enak dan itu benar





147. dia melafalkannya ibu gulu


28 Juni 2013 pukul 23:23
apa kau takut padaku, Nak?

aku orang yang kasar?

lalu anak nakal itu memperhatikan mukaku

ibu, ibu cantik

apa aku boleh menggambar wajahmu?

aku hanya tertawa

dia membuat dua buah lingkaran

satu kecil dan satu besar

ini aku, ini ibu guru

ibu ...ibu bisa diam? aku belum memberi alis

gambar yang aneh, hanya lingkaran dengan dua mata dan alis

tapi setiap dia datang dia selalu bilang

ibu, ....apa ibu mau melihat gambarkku, gambar  ibu guru yang cantik

146. buat Dani-ku

29 Juni 2013 pukul 9:18
kau belum datang

sedang hari beranjak siang

kemarin ibumu bilang

kau akan kembali belajar membaca dan membilang


kutunggu semenjak pagi

tiga anakku bilang matahari belum tinggi

mungkin setengah jam lagi


apa kau tahu

semenjak semalam aku memikirkanmmu

tentang duka karena kau tetap di sana

tanpa bisa seperti yang lainnya


tapi anak ibu pandai matematika sergahku ketika malam mengetuk pintu

di dada ibumu ada sesak

ayo Dani buang kelu dilidahmu

agar kau bisa memberi senyum padaku juga ibumu



kau tahu ... aku punya rahasia kecil
sama sepertimu
tapi yakin semua akan baik baik saja
dan tahun depan kau akan berkata ..................ibu, aku juara aku naik kelas aku bisa baca
Dani, semoga

145. sampai kapan


30 Juni 2013 pukul 6:46
sampai kapan kita jujur berucap

bahwa aku dan kau kita

sampai kapan pun meski tanpa kata?

sampai kapan pun, meski aku menunggu

dan kau menunggu

kita merasa kita berpura pura

kita merasa kau dan ak tak perlu bicara

cinta cinta kau kelukan lidahku gila

tersudut kita dalam cinta tanpa bicara


144. ...aku. terluka sendiri

30 Juni 2013 pukul 10:01
kau  bukan malaikat
jadi kau datang kala lukaku sudah dibebat

kemarin dimana kupunya harkat?
kau ada, pun pura pura tak melihat

aku tak menyebutmu khianat
karena aku sadar kau dan aku tiada ikat

ikat ikat lekat aku dan kau berkutat pada kata sepakat

andai andai tapi itu hanya lambai

biar biar rasa hati menguar liar

tangis sejadi jadinya batinku tanpa hiraumu

aku bergeming pada cinta hati yang patah dan cuma sebelah

kalah

143. gelap


  •  

    Rentang waktu ku_ku mengais hikayat tertulis
    Bak ahli nujum tanpa tongkat abrakadabra
    Senyum ku_ku menangis
    Bak orok terselubung bantalan kulit tanpa suara
    Dalam kesendirian
    Dalam lusuh relung buaian
    Mengutakutik menggelitik jemari berkutat tak henti
    Cari mencari entah apa terdapat



  • selubung gelap
    dingin menggigil di setiap syaraf
    terbatu jasad terbisu hasrat
    matiku tawarkan harap
    hidupkuhanya senyap
    cahaya cahaya
    mereka pergi entah ke mana
    cahaya cahaya
    aku butuh dirimu ada
    tanpa hadir diri memasti ini takdir
    sementara jiwa berteriak hebat
    tidak aku ingin hidp seribu tahun lagi
    lalu mimpi tersenyum dan berkata
    tidurlah lagi nak, esok kau butuh energi

142. untukmu gadis cantik bernama Laura Jasmine

5 Juli 2013 pukul 13:29
di satu pagi matamu basah, mungkin kau berpikir betapa tidak mengenakannya sesuatu yang bernama resah

jemari kecilmu terus saja mencari penyelesaiannya sendiri

kulihat keputusasaan mulai merayapi kepala dan dadamu

lalu pecah sesuatu yang bernama tangis itu

kau mencariku, mencari seolah kau hanya sendiri

anakku

andai aku bisa jangankan cuma tali sepatu

seribu sedihmu pun aku ingin membantu menanggungnya





141. Kepada PemiliK Samudera


11 Juli 2013 pukul 11:59
Apatah lagi yang bisa kuhatur selain bunga tujuh warna
 Juga sebingkai hati yang tersisa terkerat cerca
 Kepadamu samudera yang tak pernah lelah mengembalikan piring anyam sesaji
Aku menjadi setia tanpa pintamu pasti 
 Hapus gundah, basuhi dengan debur ombakmu 
Hilang resah lalu membuih segalanya 
Aku ingin tenggelam dalam damai yang kau beri 
 Damai ke dasar samudera tak pulang lagi 
Benarkah?
 Lalu kupunguti tanda terima yang kudapat 
Sebentuk kerang dan pasang yang membuatku pulang 
Aku rindu tenggelam tapi takut hadapi kenyataan, mati!

140. Kepadamu,aku harus menyebutkan nama?


31 Juli 2013 pukul 16:52
Kepadamu pemilik arah mataku
Gemintang tak lagi mau berbicara
Sepertimu yang tengah merajuk
Membisu seribu bahasa

Andai kau tahu bahwa aku hanya milikmu
Mungkin kau tak akan semarah itu
Mengapa meragu akan setiaku
hanya karena tebaran aksara di pelataranku

Mendekatlah
Sapa aku seperti dulu
Kirimi aku mawar merahmu
Dan sebungkus cokelat berbungkus rindu

kepadamu, aku harus menyebutkan nama?
Mereka bukan kumbang hanya sahabat semata
Percaya padaku
Seperti saat kau genggam jemariku

kau tahu aku merindumu selalu




Wednesday, November 27, 2013

139. Pulang Kampung


 

Pulang ke kotamu mudik ke hatimu. Mungkin seharusnya begitu, kan? Iya, pulkam memang memberi energi yang berbeda, seperti seorang kekasih yang pergi untuk kembali. Rasanya berjuta. Tapi karena judul yang pakai seribu satu rasa, jadi berjutanya diringkas saja.

Apa yang terjadi sebelum mudik? Kurasa hampir sama, sebagian jiwa serasa sudah sampai di sana. Padahal sih ketika pulang dan sampai, biasa saja. Jadi intinya yang membuat heboh dan meriah pulkam adakah, rasa si pemudik, persiapan dan perjalanannya. Apalagi jika macet, rasanya lebih nano-nano.

Packing.
“Ayo anak-anak ambil tas kalian, taruh barang diatas tas, nanti Mama pilih yang perlu dibawa!”
Kebiasaan di rumahku, masing-masing anak, yang kebetulan tiga, menyiapkan sendiri keperluannya. Tentu dengan daftar yang sudah aku buat. Nanti tinggal aku yang memilih.

Protes biasanya terjadi bukan karena jumlah pakaian yang kukurangi, tapi lebih kepada izin untuk membawa boneka mereka.
“Ma, masa boneka sapi doank, kan kasihan nanti kalu aku tidur dia sendirian.”
Kebetulan putriku dua, kebayang selain boneka mereka membawa bantal panjang masing –masing satu, belum lagi ditambah boneka yang mereka bawa. Lha kalau masing-masing dua lalu anak sulungku membawa mainan kesayangannya, bisa penuh mobil. Apalagi bila boneka mereka juga tidak boleh ditindih dengan alasan kasihan.

Mudik terakhir yang kulakukan adalah lebaran kemarin, lebaran kali ini mungkin tidak mudik. Keputusan mudik biasanya kuambil pada malam takbir. Aku sengaja mengindari mudik saat berpuasa, lebih cenderung batal soalnya.

Berangkat.
Semua sudah siap, pagi lebaran hari ke dua kami berangkat. Memang benar suamiku montir, tetapi mobil yang dipakai adalah mobil cukup tua. Sedang asyik-asyiknya menikmati perjalanan di jalan tol, mobil yang kutumpangi mesinnya panas. Aku panik, kami berada di jalanan menanjak ke arah Bandung. Yang terpikir adalah bagaimana  jika nanti mobil pun panas mesin di jalur macet dan menanjak tajam di Nagreg. Ciut sudah nyaliku.

Alhamdulillah meski macet dan mobil hanya bisa berjalan sangat lambat, dua puluh meter untuk setengah jam. Dan membuatku tumbang karena aku mabuk darat, akhirnya sampai.

Tapi itu belum tamat. Karena feelingku, pulang balik lewat jalur Selatan untuk naik lewat Nagreg kurasa mobilku akan bermasalah, maka aku putuskan untuk lewat jalur Utara, dengan resiko harus memutar ke daerah Purwokerto, yang berarti rute tambah panjang. Mobilku menyala dan berasap di tengah malam di daerah Subang, tepatnya di tengah persawahan. Meski akhirnya suamiku bisa mengatasinya, cukup membuat shock.

Bayangkan saja, sedang mengantuk berat dan lelah, terdengar bunyi ledakan diiringi nyala dan asap.Mudik memang seribu satu rasanya. Bertemu dengan sanak saudara di daerah yang terpencil dan menyerap energi untuk fight ke depan di Jakarta kurasa itu yang kudapat, indah. Mudik dengan seribu satu rasanya tak pernah membuatku jera. Maak, kangen kampung!

138. ini dalam

12 Agustus 2013 pukul 20:33
ini dalam, sedalam apa? sedalam lautan atau sedalam dada bebek?
pokoknya dalam. Ya, cintaku dalam kepadamu
kau yang terkasih, entah lah apa di dadamu sempat kau semat namaku
atau setidaknya pernah saja

lalu malam malam menjadi penuh rindu
air mata kadang menetes satu per satu
tiga purnama, cintaku akhirnya layu
aku sungguh merasa tertipu
puisi yang kau buat ternyata bukan untukku

kau tega, kenapa tak bilang
hingga tiga purnama kubilang
mengenal rindu, tangis dan harap
akhirnya hilang

seharusnya sedari awal aku yakin kau akan mencintaiku
bukankah keyakinan merupakan sihir yang menakutkan
mengapa aku malah meragu
sehingga akirnya aku malu, sakit hati dan merasa tertipu

kali ini aku ada di depan kopiku
kubenamkan ingata tentang wajahmu di situ
aku tak hendak meminumnya
meski ceitaku tentangmu hanya mimpi di siang belaka

ini firasat
atau sekadar mimpi yang muslihat
tapi setidaknya aku merasai betapa cinta bisa membuat orang sekarat

kau ...siapa ya namamu
apa aku harus mengulang mimpi itu malam ini
agar aku bisa mengikatmu
nyata dalam hidupku

137. kau sebagian nafasku


12 Agustus 2013 pukul 17:53
sudah lama aku tak menyebut namamu saat senja datang bahkan sampai menghilng

aku sedikit melupakan

terlalu banyak yang berlalu lalang dan lebih menarik mataku untuk mengejanya

jangan bersedih

aku tahu kau pun demikian

kita, iya kau dan aku

kadang harus mengakui kita tidak setia, berpindah hati

lalu merasa lelah

dan saat semuanya pergi satu persatu dengan atau tanpa permisi

kita saling merasa jadi satu, merasa saling mengerti

kita itu siapa dan apa

selalu saja begitu, seperti kali ini

aku mengingatmu,

kuyakin saat ini kau pun sedang mengingatku




136. Fragmen Cinta


Sepasang cinta bergegas menembus tandus dan belukar
Matahari memekik hingga telinga tuli dan kulit terbakar
Lelaki yang sang terjatuh kehausan hampir mati
Berkukuh  hidup tamasya nirwana sejati
Lelah sudah diusir pergi entah di mana kini

“Naomi, pergilah, kakiku lelah!”
“Naomi sayang, tenagamu jangan dibuang. Berlarilah menjauh hingga ke bintang.”
(Perempuan yang juga sang mencoba memapah kepayahan))

“Naomi cintaku, setiamu adalah kesiaan.”
“Masa depanmu denganku tak akan terjelang.”

(Sebuah ciuman hadir diantara mereka)

“Kekasihku yang menggenggam separuh jiwaku,
entah apa lagi yang mesti kucari,
rembulan matahari dan bintang juga hati yang suci telah kudapati.”

Badai bergeming, pasir berbisik lirih
Bintang cemerlang mengedip di kejauhan
Mereka mengamini sebab malam telah ambil peduli

“Biarlah jika tepi yang akan membahagiaakan itu kita hampiri,
itu adalah milikku dan milikmu.”
“Jika langkah kita tak akan pernah bertepi,
cintamu cukup bagi langit dan hidupku.”

Sepasang senyum  mengembang menjemput maut yang telah datang mengucap, salam!

Jakarta, 24 Agustus 2013

135. 13813

13 Agustus 2013 pukul 13:01
apa seseorang yang menjadi kekasih itu datang untuk membahagiakan
sedang kesedihan kalau tak kau temani pasti kesepian
lalu sapu tangan saputangan akan menjadi barang murahan
dan tisue tisue akan terlihat ringkih di rak rak swalayan
apa kekasih itu mirip purnama
atau dia bagimu adalah gerhana
hingga kau harus bersembunyi dari cinta di kolong kolong tanpa cahaya
aku itu kekasih siapa
sedang hati hati menuntut sempurna
apa mencinta itu dosa
dan kekasih adalah kelas tertinggi dari cinta
kau dan aku itu apa
berjalan di jalan yang sama
kita menunggu perpisahan, jalan bercabang, atau sekedar lelah mendera
dan kita membingkai cinta dalam frame kenangan
lalu kita bersorak aku dulu bahagia
#aku mencintaimu tapi tak mau sederhana

134. aku mengadu padamu senja


14 Agustus 2013 pukul 18:18
tentang tunas tunas yang masih merah
dia tumbuh di ruas ruas batang hatiku
dia ingin disebut cinta
tapi malu pada sagamu yang merona

angin ini adakah bisa
memberi wangi yang kupunya padanya
sedang bunga belum tampakkan bakalnya

aku terlalu dini merasai
mungkin ini hanya mencinta sendiri

aku tak peduli!


133. Sepenggal Kisah Sebelum Cinta Redup


“Aku rindu Bapakmu, bisakah dia pulang?”
Terlalu susah membujuk seorang lelaki yang dipanggilnya  bapak untuk pulang, meski keadaan biyung sudah tidak ada harapan. Masih saja ditengah lemahnya daya, lelaki itu menghiasi hatinya. Seharusnya biyung melupakannya saja, toh ada anak-anaknya dan cucu juga cicit di sini menemaninya. Entah mungkin menurutnya kami masih kurang banyak, atau kurang lengkap tanpa dia.

“Apa dia sudah datang?”
Entah apa yang pantas untuk menegaskan bahwa kami telah berusaha membujuk untuk pulang. Lelaki itu masih betah berlama-lama tinggal di rumah madunya.

“Biyung, ini aku cucumu.”
“Kemari ndo, apa Biyung akan diberi hadiah ciuman olehmu?”
Kukecup punggung tangan biyung, lalu kucium kedua pipinya.

Aku tidak tahu apa yang terjadi, mengapa biyung selalu menanyakan mbah  kakung. Padahal sudah lama dia tak kemari menemani, bahkan aku pun sudah lupa bagaimana rupanya.

“Mak, Bapak datang.”
Sebuah suara memecah kedukaan. Kulihat ibuku mendekatinya sambil meraba tangannya, memberikan tangan biyung kepada tangan mbah  kakung. Mereka mirip dua kekasih yang malu-malu.
Air mata itu berlinang, mungkin biyung tak akan pernah bisa melihat wajah mbah kakung lagi. Tapi dengan tangannya dia bisa merasai lebih dari sekedar bertemu.

Senyum mengembang dari pucat wajahnya. Rona rindu dan bahagia menghiasi, mengusir segala cerita pedih yang pernah tertoreh. Cinta bisa menghapus seribu luka yang pernah ada.

“Pak, aku pulang. Temani aku hari ini.”
Semua tercekat, sedih melangit, duka melaut. Seorang ustadz yang dipanggil untuk menuntun mendekat. Dia membisikan doa menemani kesakitan saat berpulang.
Biyung telah pergi disaksikan kekasih hati. Cinta itu meredup indah seperti matahari terbenam. Selamat jalan biyung. Aku terharu menjadi saksi cinta yang berdiam di dada meski seribu luka mendera.

Jakarta, 24 Agustus 2013

132. Untukmu


10 Agustus 2013 pukul 0:22
sabit di ujung langit tak jua membuatmu lelah

masih berkutat dengan kopi dan gigil yang menyergap
sesak di dada kian menambah angka jenuh

jangan sekarat oleh sesal atau pun rindu sekalipun


Kutangkap cahaya tuk menemani sunyi sendirimu

mampukah kau tersenyum
meski di gelap pekat aku tak bisa melihat

131. #engkauyangdipercayamasa


 

kau yang larut dalam puisi
menyatu bersenyawa mungkin darahmu juga kata kata
lentera bagi sebuah senja saat gelapku meraba
mata juga jiwa

pergi
mejelajah mata angin menghalau bimbang
menentang penghalang mengembara beri pijar
pada sesama
membagi cahaya kata bijaksana

adamu tak akan sia meski hari bergulir
semua jejak terukir tak akan pernah jadi istana pasir
menggurat di nadi jiwa melengkung di langit jingga
semesta ikut bersuka gemintang bersorak ceria

doa doa dalam dada mungkin esok purnama
semesta dan aku hanya merunut jejak sisa,
tak apa tak ingin ku menjamah lebih dari anggukan kepala


130. September

2 September 2013 pukul 17:31
lalu tiba tiba menjadi sehelai daun kuning yang melambai ke bumi
semua berjudul kematian meski tanpa tembang perpisahan
luka luka menampilkan warna semarak yang menggoda
aku menjadi seperti tanah yang pasrah menerima semuanya

aku berada dalam bimbang harus menangis atau tertawa
sedang kucari arti sedih kamusku hilang aksaranya
sedang sariawan di bibir menahan tawaku yang mampir
oh bibir

menjadi sedih sendiri aku menutupi
mungkin dengan sedikit waktu untuk benar benar menyelami
ini yang kucari
merasai sampai benar kudapati sari pati

aku semakin ambil tak peduli
apa kau dan siapa mu
aku hanaya terus saja melingkari pikir
dan tenggelam bersama perihnya sebuah kata merasai

september yang penuh warna di pelupuk
sisakan luka dan bisa yang hanya bisa kukecup dengan cinta
meski aku tak tahu cinta yang mana

129. hanya ingin bercerita

5 September 2013 pukul 0:50
mendekatlah sedekat kau bisa usah memaksa
aku akan bercerita tentang sebuah rasa yang membatu karena terlalu banyak memakan tabu
lalu mencoba memasang tanda tanya di setiap tikungan, ups tidak!
bukan! tetapi apa saja yang terpancang dan terlihat mata

mengapa tak kau buka pintu?
mencoba sedikit mengurai rindu atau sedikit menyakiti
kau tahu itu semua candu
lalu kau menggeleng berlalu dan membisu

dasar orang udik tak pernah tahu bahwa tabu itu tahu
yang bisa kau hancurkan lalu setelah itu tak bisa kau makan
kecuali kau memasaknya dengan bentuk yang beraturan
mengapa aku jadi bicara makanan

kembali kepada manusia tabu yang hanya bercokol pada ketidak tahuannya tentang candu
yang telah banyak menipi nipu
tapi tetap menjadi mimpi disebalik rasa mau atau bahkan pura puratidak mau dan tahu
jangan berbicara seakan kau tahu apa yang kuberitahu
kecuali tentang aku yang aku dan kamu

128. kau ....

14 September 2013 pukul 13:42
mencoba : keluh, menekuk muka dan menggulung suka

wajahku malah kauhiasi rona jingga
juga pelangi yang kau petik saat senja kemarin melintas di hadapmu

semakin kutelan semakin ingin kumuntahkan
lalu dengan sigap aku mulai berancang ancang berteriak pekak

aku mencintaimu!
mengapa kata itu yang ke luar dari mulutku
padahal sudah sebegitu menggelegaknya rasa ini ingin berkoar
dan  keluhku layak kau dengar

bunga bunga tumbuh di mulutku, wangi dan memekar
sebagian bersinar sebagian lagi memutihkan mukaku yang kurasa semakin mengarang

kau yang patut dipersalahkan
sepotong senyummu kutelan tadi sebagai sarapan
kau
aku kepayang

127. hujan malam ini

14 September 2013 pukul 1:01
derai yang turun menderas seiring tertatihnya jarum panjang di dinding itu adalah cerita yang kudapati setelah lama dia pergi tak pernah datang lagi meski upacara kecil sering kupanggil bersama namamu

lalu seakan bintang pun berlari mengintip dari kejauhan jangkauan mengerlip pertanda keingintahuan tentang sebuah adegan yang mungkin akan terlewatkan andai dia tak menajamkan mata, keharuan

padahal itu hanyalah angan kosong sebab semua menjadi biasa saja bahkan mati entah karena waktu yang membunuh atau jejak tersapu terhapus

adakah aku akan berkata ini rindu lagi, sedang gelegak telah pergi tinggalkan rasa mengais diri menjumput sisa yeng remah yang kau tak peduli

hujan malam ini ada dan tak ada tapi tangis tetap hadir memberi tanda hati teriris nelangsa bersama sisa cerita yang kau beri nama kenang dan mesti ditempuhi sepanjang perjalanan belum usai

kau melintas menembus batas aku tergugu dalam diam yang semedi, tanpa bekas

sakit, kekasih jika darah ini yang kau tuju untuk sekedar menyadarkanku bahwa kita pernah ada bersama mencintai hujan dan segala runcing dinginnya

#teruntuk diri yang meruahi unggun di dingin dada

126. untukmu yang sedang ingin .....

14 September 2013 pukul 13:57
seharusnya kau tak serta merta menempatkan aku dalam lipatan amarahmu
kau sedang bercengkrama dengan api di dirimu sendiri
gulung saja matahari agar kau merasa tercerahi
lalu bicara padaku tentang jalan putih yang pernah kau ceritakan sambil kau julurkan sekeranjang mawar dan cokelat

senyumku seketika akan terbit tidak semuram ini
lalu kita bicara hingga bermil mil kemesraan bulan dengan langitnya
atau dua ekor kelinci yang berebut musim dan kita saling melempar senyum menunjuk bayanganmu di manik mataku dan matamu

entah kapan lagi terulang
semua sudah menyalju padahal terik tengah mencuri jerit dan lari kecilku

untukmu yang sedang ingin memberi jarak atau sebuah jeda
tarik kembali kekang yang kau ikat hingga aku bisa berlari menujumu dengan indah

125. saatnya pergi

15 September 2013 pukul 10:00
pernahkah kau merasa semua menjadi berbeda
lalu kau menyakini ini saatnya kau harus beranjak
biarkan saja mengalir adanya
kau hanya harus mengikuti alurnya

usah kau tanam benih gelisah
pandang saja awan lebarkan senyuman
tepuk dadamu tak usah perlahan
langkahkan kakimu lurus ke depan

apatah lagi yang kurang berkenan
lihat saja berang berang di kejauhan
mencintai banjir dan musim penghujan
meski matahari tetap membekas diingatan

saatnya pergi saatnya mendapati
biar yang usang tinggal
biar yang perih berganti
kan kulihar wajahmu sebagai matahari di sini, palung hati

Jual Keripik Tempe

Jual Keripik Tempe Sejarah mencatat, bahwa tempe adalah makanan yang telah menyelamatkan orang dari etnis Jawa hidup lebih lama dibanding ...