Sunday, April 7, 2013

79.dalam ku termenung


ada bias lelah dan ragu
yang tersembul dan coba sembunyikan diri
meski senyummu mengembang
bak sinar cerah mentari pagi
kau ...pandai menipu diri sendiri
tapi tidak denganku

jangan coba membuat semua seperti misteri
karena aku telah mengetahui
semua lebih dari perkiraan dan rasa mu

kau...lelaki terhebat yang pernah kutemui
berhentilah sejenak
lepaskan gundah gulana
jangan meracau langkah
karena usai jejakmu
tertulis langit ada padaku

dalam ku termenung
satu keyakinan telah teruji
jadi jangan ingkari hati
jika kau rindu
pulanglah ke haribaan damai
yaitu aku

78.tembang malam mbok pinah

anyaman bambu ini terlalu lapuk
rayap bedebah pun enggan tuk meyantap
perempuan dengan rumah bilik
dan segenap derita yang terbiasa

adakah angin menebar rindu
menyampaikan kabar gembira
tentang doa lirih malam hari
yang tersirat lewat tembang malam
disela nafas yang kian malas

mbok pinah

sendiri tak berarti sunyi
gelap dan dingin malam adalah teman
dan langit yang terbentang
adalah buku yang menyimpan
semua kenangan
hingga cuma satu yang dirindukan
hanya ingin pulang tanpa kesepian

mbok pinah

kali ini tersenyum mesra
sang kekasih pujaan telah datang semalam
mengulurkan tangan dalam bayangan
dia berbisik
istriku...aku menjemputmu...

mbok pinah

dalam kekhusuan doa selepas subuh
berpulang dengan ringan
karena ia takkan lagi kesepian

tembangmalam mbok pinah
tamat sudah
dan sore merindukannya
hingga malam berbicara
relakan ia menemui Tuhannya

77. jangan bilang...apa apa hmmm...

.

sepiring keresahan yang terpaksa ku habiskan
diberanda keraguan ditemani harap tentang mu
sebuah nama kebenaran
yang kau cetak kotak kotak
bersanding dengan dogma tanpa dasar
berhias tiga potong kesinisan

sarapan pagi
atau makan siang
bahkan makan malam tanpa upacara kecil
hanya sepotong doa
agar kau tak memicingkan mata
dan aku bersyukur masih bernafas
sampai saat ini

benar mu...benar benar pahit
sebuah kebenaran yang sedikit menyerong
sedikit ke kanan atau ke kiri
bahkan ke entah

kau mengubah seolah olah kebenaran adaklah milki mu belaka
ini sedikit membuat ku mual
semoga tak muntah

biasa sajalah
toh Tuhan  pun masih mempunyai sedikit jeda

lain kali ku mohon
lebih baik diam
atau bahkan tak bersuara
karena kebenaran
cuma ma milik Tuhan
kita.....sama ...hanya hamba

jadi....
lebih baik bicara seperlunya
atau jangan bilang  apa apa

karena ...benarmu...kotak kotak
sahaja...

76.Sekelumit Tentang Pagi ku

"Jangan pulang dulu...Mama Jasmine," ku dengar sebuah teguran halus dari arah belakang badan ku.
"Oh, Ibu...iya kenapa..?"
Aku sudah menduga, pasti ini sepeti biasa, guru TK anakku menawarkan busana muslim atau jilbab, segera ku ambil ancang -ancang tuk menjawab, "Maaf, Bu gak ada budget nih."

"Apa nya yang gak ada uang, wah pagi-pagi sedikit sensitif ya?"
Ah, apalagi ya, uang bukan, jangan-jangan si bungsu bikin ulah, maklum meraba diri....

"Lihat, sebentar ke kelas..."
Ups ...ternyata gadis kecil ku sedang membacakan buku cerita pada teman- temannya, dan uniknya mereka semua mendengarkan dengan seksama, sambil sesekali memeberi komentar.

Ternyata hari ini terpecahkan sudah, sedikit rahasia mengapa gadis bungsu ku, rela bangun pagi dan berangkat lebih awal dari jam masuk kelasnya.

Jujur karena tak tahan menahan gemas, lalu ku hampiri dia, dan kuberikan hadiah sebuah ciuman di keningnya.
"Ih...mama genit..," ujarnya sambil mencium punggung tangan ku...

"Mama pulang ya....di kelas jangan nakal."
Aku segera berlalu dari kelas dan mengambil sepeda ku....
Pulang.

Kulihat sebuah senyum
tersungging dari langit
yang sedari tadi memperhatikan ku

75. SENANDUNG TEMLEK


SENANDUNG TEMLEK
Aku benc i ini tapi sungguh suka yang itu. Ah kadang kala hidup memang begitu. Tak bisa menyukai semuanya dan tak mungkin disukai semuanya. Kadang kala kita terjebak untuk menyenangkan atau merasa orang lain harus senang. Tapi kali ini sungguh aku benci ini, tapi tak bisa mengelak. Aku benci dingin, tapi suguhan sroto, orang disini menamai makanan ini dengan menambahkan huruf r, meski aku kerap kali menyebutnya soto dan mereka mentertawakan ku, “Mbak, disini gak ada soto, yangada sroto.” Tapi peduli apa selain karena rasa dingin ini yang kerap membuatku masuk angin, aku suka sekali dengan kuah soto yang dicampur tumbukan kacang. Memang kalau tak terbiasa akan aneh rasanya, apalagi yang terbiasa menikmati kuliner soto ala Jawa Timur, akan sedikit terkaget.
Di meja panjang dari kayu ini tersedia juga mendoan alaias tempe yang digoreng tepung tapi tak sampai kering, setengah matang, segelas teh manis dan di toples terlihat kacang kulit yang digoreng memakai pasir. Hmm……..seperti kembali ke dua puluh tahun yang lalu, saat aku masih kecil dan kerap kali diajak bapakku menengok si mbah ku.

Kedatangan ku kali ini sangat tidak pas waktunya, selain tak memberi kabar juga tak membawa buah tangan. Tapi sedikit ada rasa bersyukur, karena mereka sedang ada acara ke kerabat yang ada di Jogja.  Jadinya aku bisa menginap di motel. Bukan apa-apa ini adalah kunjunganku setelah dua puluh tahun berlalu.

“Mba ……..mmm……o iya…putranya pak Untung kan? “ seseorang mengenaliku rupanya, tapi siapa ya, aku mencoba mengingat- ingat tapi seperti biasa tak ingat sama sekali. Ini adalah keahlian nomor satu ku yang pernah membuat ku di jadikan sindiran oleh guru SMA ku dulu, karena aku tak mengingat sebanyak teman-teman yang lain dalam menghapal nama guru.

“Sekarang kamu berbeda, tinggal dimana , masih di Banjar?” pertanyaan yang memberondong seperti peluru saja, keluhku. Untung saja dia tampan, meski tak setampan artis, tapi memng tampan, dia masuk kategoriku.

“Aku tak tinggal lagi di Banjar, aku sekarang di Jakarta ikut suami.” Kulihat di mengangguk –angguk, entah apa yang disetujuinya. Ternyata dia pemilik warung soto ini, meski namanya warung seperti yang tertulis di papan nama didepan tadi, sesungguhnya lebih mirip disebut restoran, karena cukup besar dan megah.

Tetap saja tanpa menyebutkan nama dia memeberondong pertanyaan kearah ku, tanpa sungkan. Tapi siapa ya, pertanyaan itu terus berkecamuk, mata elang itu mengingatkan ku pada seseorang , tapi tetap saja masih abu-abu dan akhirnya kabur lenyap sama sekali. Dia bertanya banyak tentang kabar bapak ku, juga semua adik-adikku tanpa terkecuali.

Aku memang sengaja berkendara sendiri kemari, ingin bernostalgia sekaligus silahturahmi.Tapi ada apa dengan lelaki ini. “Aku sekarang jadi tukang sroto, Nur, setelah berganti-ganti nguli, rasanya lebih enak begini, tak ada yang memerintah, atau memang sifat ku yang tak suka diperintah sejak dulu,”  hmmm…aku pun tanpa sadar mengiyakan perkataannya.

Sroto plus lontong dan beberapa mendoan sudah lulus ujian ke mulut ku, mungkin sekarang sedang digilas asam-asam dilambungku, biarlah. Perutku sudah tak berteriak lagi, tapi mata elang ini membuat ku nyaman , enggan berajak berpamitan.

Apa kau mau mandi di pancuran seperti dulu, itu salah satu pertanyaan yang membuka sedikit clue kalau dia pernah tinggal di Berkoh. Tempat mandi dengan banyak pancuran dan banyak pengguna, dimana air gemericik sebatas lutut dibawahnya mengalir, ah jika ingat masa itu aku ingin selamanya tak beranjak dari sana. Tapi siapa ya orang ini
.
“Kau sendiri bukan, aku besok ada waktu mengajakmu berkeliling, tapi yang dekat jalan kaki saja ya, kalau udah cape baru kita mbecak seperti dulu?” aku mengiyakan saja sembari menyudahi sarapan pagi ku yang nikmat dan ajaib, bertemu mata elang yang misterius dan baik hati, dan tampan adalah bonus ,bukan.

Purwokerto memang penuhi hati ku, hingga kadang dulu aku selalu merasa ada keterikatan selain karena ada si mbahku juga makanannya dan dialeknya yang mendarah daging di tubuh ku meski aku berpindah ke Banjar.

Ternyat jalan jalan yang di janjikan sungguh sangat luar biasa setelah seharian aku mengurung diri di kamar hotel, aku diajak ke pancuran itu menikmati airnya meski aku tak mandi dan hanya mendengar celoteh mata elang itu tanpa satupun terlewati .  Aku menikmati semuanya dan ia hafal benar bagaimana dulu kami berebut buah duku , menungguinya di pagi hari. Semuanya tanpa terkecuali.
Sorenya aku diajak ke wisata Baturrraden, tapi tetap dengan kentianku akan rasa dingin , kami singgah tak bisa dihitung dengan jam, hanya beberapa menit saja. Ah, aku mengacaukan harinya. Mata elang itu semakin membuatku merasa ada sesuatu yang mengikatkku dengannya dulu.

Dia sangat lembut dan sangat mengenal ku, ketika aku terlihat lelah dan tak bisa menahan dingin, dia memberiku syal dan tersenyum seraya berkata, “Apanya yang Jakarta, kamu tetap Nur ku?” dia menyuruh ku beristirahat dan meminta karyawannya mengantarkan makanan ke hotel tempat ku menginap, karena letaknya bersebrangan.

Sebenarnya aku hendak ke Jogja hari ini, berpamitan pada si tampan misterius, tapi dia menahannya, “Nanti saja, aku ingin kita melakukan sedikit upacara kecil, karena dari kemarin aku melihat kamu ada sedikit perasaan kurang nyaman dan curiga kepada ku,” tegasnya tanpa menginginkan aku memilih ya atau tidak sama sekali.

Tanpa ba bi bu lagi…….ia memanggil pelayannya. Kulihat sepiring kudapan goreng tersusun disana. “Ini, kau ingat ini dan upacar pengantin kita waktu masih kecil?” jadi……..”kau…Tion….mas Tion?” Dia mengannguk, aku masih mengingat mu , mengingat semuanya, meski itu hanya permainan kita menirukan pengantin dewasa, begitu terangnya. “Dan ini temlek, makanan yang paling kau suka bukan?”Temlek terbuat dari ampas kedelai sisa pembuatan tahu yang dibumbui terus dicelupkan ke tepung dan di goreng. Aku menangis, aku ingt semuanya, saat Rina, Wati, Upi , Inung, Nanang dan beberapa teman kecilku dulu menjadikan kami pengantin kecil dan berjanji didepan gorengan temlek untuk menjadi sepasang kekasih.

“Aku menunggumu Nur, meski kau lama tak datang ke kota ini. Dan setiap bapakmu kemari aku berharap kau ikut. Tapi tak pernah ada. Dan aku bertahan sampai ku dengar kau menikah.”  Aku benar-benar menangis, ah……lelaki sebaik ini takkan pernah menjadi milikku, karena aku dan dia telah sama –sama terikat. Dan temlek itu tiba-tiba terasa pahit dilidah.

74.MENGHAPUS STIGMA


Sekolah itu identik dengan buku, meski di Indonesia diawal sejarah modern tak menggunakan daun lontar lagi atau batu, tetapi sabak tetap dihitung sebagai buku tulis. Tentang buku sendiri, kitab-kitab daun lontar karangan empu –empu ternama bukanlah barang langka. Terlalu banyak cendikia, hingga berlanjut kekini.

Tetapi, kali ini ulangan sisulung, sedikit mengagetkanku. Dengan hasil nilai lima dimata studi IPA. Sepengetahuanku, dia bukan anak bodoh, beberapa event olympiade sains telah diikuti. Dan yang jelas sekali dia tak buta huruf.

“Kenapa nilaimu jeblok begini?” keluhku, masih dengan nada biasa saja, dia anak lelaki yang sedang dimasa pemberontakan, jadi aku berusaha tak menyerang.

“Susah, ma,” begitu sahutnya enteng tanpa ekspresi.
Sedikit tarik nafas dalam-dalam lalu ku ajari, jikalau tak buta huruf, tentunya belajar itu mudah. Karena yang dilakukan hanyalah membaca.  Dan aku menjadi teman diskusi semenjak itu.
Terlihat mudah, memang. Bicara baik-baik dan praktekan. Tapi kali yang lain nilainya ada dipenghujung angka enam. Ini masalahnya. Ketika kutanya, berapa nilai yang lainnya, dia menjawab diatas delapan semua. Aku sedikit kaget, ketika ditelusuri ternyata, kami salah membahas materi. Huff….salah membaca bab yang diulangankan.

“Ma, tahu gak. Yang lain itu bukan karena pandai, tapi mencontek,” terangnya . Aku tak terkejut, ini biasa bukan. Mencontek menjadi biasa dan di biasakan tanpa tindakan tegas, hingga lahir orang –orang yang instan dalam kehidupan. Aku hanya ingin mengajarkan, hidup itu harus jujur, nilai rendah tak mengapa, tapi lebih bersyukur bila nilai bagus tapi jujur.

 Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Baik itu kebaikan maupun keburukan.
Menghapus stigma, nilai harus bagus, berarti pendidikan berhasil, itu harus. Pendidikan itu luar dalam, nilai harus bagus dengan cara yang bagus. Mungkin dengan demikian, dikehidupan mendatang mereka yang menjadi generasi penerus, lebih baik dari sekarang.

Friday, April 5, 2013

73. Dua Pecundang

 
FF ini dibukukan dalam E-ca Moments 1

oleh Nurlaeli Umar (Catatan) pada 15 Mei 2012 pukul 12:23



Aldi memakirkan sepeda motor itu tepat disamping garasi. Tak terlintas lelah diraut muka yang indah itu. Hari yang benar-benar meriah, bunga setaman melimpah ruah murah. Hari ini semua terlihat indah, betapa tidak . Ini kencan pertama yang membuatnya seakan berada di jalan penuh senyum, ajakan yang semula dipikirkan takkan pernah bersambut, ternyata diluar perkiraan. Yup…mawar menerima ajakan makan malam di kaki lima sepulang dari kampus , besok.

Mawar, gadis kembang kampus yang memasuki tahun pertama, yang membuatsemua mata tertuju tanpa berkedip. Gadis sederhana dan santun, tentu saja pintar dan ramah. Ini seperti menang lotere seribu kali. Betapa tidak, saingan terberatnya adalah Bimo, sang jago basket dan bintang kampus. Tapi sekarang semua lewat, ada perasaan lega yang teramat sangat.

Kriiiing… bunyi telepon rumah berdering, bukan handphone keluaran terbaru milik Aldi yang terselip disaku depan. Wah…ini pasti Arjun. Siapa lagi yang suka menelepon lewat telepaon rumah, kecuali dia. Sahabat karib dari SMU dulu. “ Aldi, apa kau ada di rumah?” Sepert biasa tanpa kalimat pembuka atau permisi. Soalnya dijam begini, tak ada orang di rumah selain Aldi, dan Arjun hapal betul.

Setelah mengobrol sedikit, akhirnya diputuskan untuk bertemu besok ditempat yang sama dengan yang dijanjikannya dengan Mawar, kebetulan yang luar biasa. Arjun adalah sosok sederhana dari keluarga yang super kaya. Persahabatan mereka tak berbatas kata-kata, tapi telah banyak keluarga Arju membantu secara finansial, dengan mempekerjakan ayah Aldi, saat di PHK dua tahun yang lalu. Tak terbilang uluran tangan saat ibu Aldi masuk rumah sakit akibat kanker payudara yang dideritanya.

“Hei Al, apa semua tugas yang diberikan dosen mu sudah terselesaikan semua?” Berujar Arjun memmulai pembicaraan di warung tenda soto babat di depan kampus mereka. Pembicaraan berkutat masalah tugas kampus lalu beralih ke masalah pribadi. “Oh ya, Arjun…sebenarnya aku sedang menunggu seseorang,” kata Aldi, “ dan untuk yang satu ini aku berhak mendapat ucapan selamat dari mu,” dengan sedikit senyum mengembang.

Jam menunjukan pukul tiga lebih seperempat, sedikit terlambat dari yang di janjikan. Keduanya gelisah, yang terikir dibenak keduanya, mereka akan mencoba membandingkan gadis yang mereka sukai. Mawar muncul sdengan senyum mengembang baju hijau dipadu jeans cokelat tua, bak bidadari tercantik di dunia saja.

Astaga, keduanya terhenyak, karena mereka memanggil nama tamu mereka bersamaan. Gadis yang sama untuk dua cinta sepasang sahabat. Terlanjur malu dan sakit hati. Seolah tak terjadi apapun, dengan bahasa isyarat, mereka terlihat akrab berbincang sambil menghabiskan sore, dan tiga mengkuk nasi soto serta tiga gelas es teh manis. “Maaf mawar , kamitak bisa mengantarkanmu pulang.” Cuma kata itu yang membuat mereka merasa terhormat.

Buuuggg….mereka berbaku hantam, entah siapa yang mendahului. Setelah bibir mreka sama_sama berdarah, mereka tertawa bersama. Orang yang disekitar hanya bisa menebak-nebak saja. Sebab setelah itu mereka terbahak bersama dan saling mengadu tinju, lalu berteriak, “Pecundaaaaang…!!”.

72. (FF MAYA ITU MENYATA oleh Nurlaeli Umar (Catatan)



Seperti biasa aku mendatangi warnet kesukaanku. Kesukaan , ah kesannya seperti makanan saja. Bukan begitu dari warnet yang ada ini yang paling nyaman.

Aku mulai menyalakan computer. Untuk urusan yang satu ini saja aku terkadang kelabakan, karena otakku dipenuhi senang hendak bercakap dengan seseorang yang selalu membuat hatiku berbunga. “Mas, tolong dong kok ini monitornya gak nyala?” Kataku sambil menarik kursi plastik. Dengan sigap penjaga warnet itu yang kutaksir umurnya tak begitu jauh dariku mendekati komputerku dan menyalakannya. “Mba, belum dinyalakan tuh CPU nya,” ujarnya kemudian sambil tersenyum melihat kebiasaanku yang mungkin menggelikan, biarlah aku pura-pura tak melihatnya saja.

Sore yang indah, tentu saja aku harus menyebutnya begitu. Semangat menggebu-gebu, ehem…hatiku sudah sedikit rindu. Langsung saja aku mencari sebuah nama, setelah akun facebookku terbuka. Aha, ternyata tidak ada status hari ini, sedikit lemas kucoba mencari di sederet inbox yang masuk, tetap tak ada nama akun pengguna seseorang yang biasanya memperhatikan ku.

Gagal deh sore ini, bunga dihatiku segera melayu, ingin rasanya menangis, tapi itu akan terlihat lucu. Pulang, ah tidak seputus asa itu, lalu seperti biasa aku menuliskan beberapa larik coretan yang biasanya disebut puisi. Akupun tahu itu puisi, tapi sedikit malu tuk mengakuinya.

Berawal dari puisi perkenalanku dengan dia, tentu saja tidak. Dia begitu saja mengirimkan pertemana, lalu tanpa piker panjang langsung ku konfirmasi. Yang menarik adalah, dinding facebooknya, penuh dengan ayat-ayat Al qur an dan hadist, selain itu puisinya mantap, bahasanya indah. Dan yang terpenting dia selalu aktif member komen setiap update statusku. Tidak itu saja, pertanyaannya, mengenai kapan aku berjilbab dan mengingatkanku tuk sholat saat asyik berselancar di dunia maya.

Aku merasa sedikit tersanjung, dan mendapat ilmu agama yang cukup banyak. Di status facebooknya yang terakhir kemarin hari Minggu, dia mengupas banyak tentang kewajiban menutup aurat, disertai dalilnya, cukup pusing aku dibuatnya. “Aku belum siap, aku gak pinter ngaji, begini saja aku gak dapat pacar, gimana kalau aku berjilbab,” tukasku ketika dia mulai menanyakan alasannya.

“Aku gak memaksa kamu, kok, santai saja…hmm,” begitu balas komennya, “ temui aku besok Selasa di waktu yang sama ya, aku ada sedikit kejutan buatmu, gimana ?” Aku mengiyakan saja , tapi aku belum melihat tanda kehidupan di wallnya, menyebalkan.

Aku meneruskan menuliskan puisi dan mentag ke beberapa teman tentu saja dia. Biasanya, dia langsung menyambar puisiku dengan komen-komen seputar kekurangan puisiku atau kadang membalasnya dengan puisi juga. Sungguh aku suka ini. Karena takurung juga terlihat , akhirnya kuputuskan tuk membaca puisi dan status diwallnya. Kadang terlintas, ah mungkin dia sama saja seperti yang lainnya, copas dari goegle untuk tebar pesona seolah-olah dia memang agamis. Tapi melihat kesantunannya, dan keteguhannya  menyuruhku berjilbab, serta tahu benar bahwa aku belum pulang saat waktu sholat tiba, membuyarkan prasangkaku.

Tiba-tiba kulihat ada inbox yang masuk,” Tentang janjiku kemarin Minggu, aku minta maaf terlambat sedikit, apa kau bisa tengok sebentar ke meja penjaga warnet yang sering membuatmu tersipu?” Tanpa perlu membacanya dua kali, kulihat sebuah kado, yang ternyata sebuah jilbab berwarna puitih. Tanpa sehelai kertas ucapan.

71. FF aku ikut berduka


 


Oleh: Nurlaeli Umar
Langit terlihat gelap, angin di luar mewangikan aroma air. Suasana sore menjelang berbuka yang sedikit menekan. Lelaki itu semakin tenggelam dalam air mata kesedihan. Terlihat jelas dari air mukanya, mata yang sembab dan ia berusaha menyeka air mata yang masih saja sesekali menelusuri wajah tampannya itu.

Ini akhir Ramadhan yang pilu, dan bayi berusia dua hari di pelukannya mencari kehangatan dekapan seorang ibu. Ibu yang memberi damai lewat pelukan, lewat hangat tubuhnya, juga lewat irama degub jantungnya.

Sesekali disela air matanya, tarikan nafas itu terlihat lebih panjang dari semestinya. Zahra, bayi merah itu kerap kali menolak dijejali susu dari botol yang dia genggam. Zahra, mencari puting ibunya.


Dipandanginya dua anak lelaki yang selimutnya tersingkap, jagoan yang melindungi hari tuanya, kelak. Dua jagoan yang menangis kehilangan dua hari yang lalu. Dua jagoan yang memaksanya tegar, meski baginya langit serasa runtuh.


Sungguh, terbayang sudah dipelupuk mata, rona bahagia dari orang tua, sanak saudara, handai taulan menyambut kehadiran mereka berlima. Dan terlebih lagi kehadiran anggota keluarga baru saat lebaran nanti.


Bukan kesepian panjang kelak setelah kehilangan yang dia tangisi. Bukan pula tidak bersyukur karena sudah mencecap nikmat beristrikan wanita salihah, tapi Zahra, bayi dua hari yang mesti kehilagan sentuhan ibu kandungnya.


Ramadhan kali ini dia mesti mengikhlaskan Tanti, istrinya menghadap Tuhan lebih dahulu dari dirinya. Setelah mengalami pendarahan hebat setelah melahirkan dan tidak tertolong. Dua hari yang lalu, tepat saat ulang tahun si sulung dan seminggu menjelang lebaran mengetuk pintu, menyalami semua orang yang sudah melewati bulan Ramadhan dengan berpuasa dan memberinya kabar kemenangan.


Aku ikut berduka, sungguh. Meski aku hanya mawar imitasi di vas warna biru tua di atas meja ruang keluarga, kesukaan Tanti, yang dibeli saat Tanti baru memasuki rumah ini, empat belas tahun lalu sebagai ratu.

70. Jangan Pergi Pelangi



“Kenapa tak kau ganti saja, inisial P di kalungmu itu?”Begitu tanya Harlan, kerap kali ketika mereka sedang berdekatan. Sebuah pertanyaan yang selalu dijawab Tere dengan senyum, dan sedikit membuat kesal Harlan.
“Kak, bisakah kau membantuku untuk mendekor panggung, besok?” Tere tak mengacuhkan pertanyaan Harlan, “ masalahnya pihak panitia kekurangan orang,” jelas Tere sedikit memaksa.
“Tapi itukan bukan urusanku, aku bagian mencari donatur, dan aku sudah menyelesaikan tugasku, bagi-bagilah dengan yang lain,” elak Harlan menanggapi pertanyaannya yang selalu tak diacuhkan Tere.
Sungguh pun berkali-kali Tere sudah menjelaskan, bahwa inisial itu tak ada sangkut pautnya dengan mantan kekasihnya yang terdahulu, tapi jawaban Tere seperti menggantung bagi Harlan.
Tere menaiki anak tangga itu dengan tergesa, besok acara peringatan Hari Anak benar-benar kekurangan tenaga untuk mendekor panggung, Bukannya tidak ada yang bisa, tapi hasil dekorasi Harlan memang beda, dan selalu diandalkan. Ada saja ide berliannya, pas dengan tema dan hasilnya luar biasa, itu alasannya.
Ketukan pintu itu sudah dihapal Harlan, lalu dibukanya perlahan. Dan … ups ada seorang gadis tengah duduk diruang itu dan Harlan segera mengusirnya pergi.
“Tere, namaku Tere,” ujar Tere mengulurkan tangannya mencegah gadis itu pergi, “ duduk saja aku cuma sebentar, meminta rancangan dekorasi panggung saja, setelah itu pergi,” tapi ekor mata Harlan seperti mengusirnya, dan gadis itu pergi setelahnya.
Setelah mendapat sedikit gambaran dekorasi, Tere selekasnya pun meninggalkan ruangan tempat tinggal Harlan.
Ada perasaan bersalah, dan penuh tanda tanya, mengapa Tere tak meninggalkan sedikit pun air muka cemburu, padahal jelas-jelas Tiara ada di kamarnya, meski hanya untuk menjadi objek dari lukisannya, tak lebih. .
Telepon genggam dengan merk terkenal diatas meja berbunyi dan bergetar dengan volume penuh. Sebuah suara terdengar sedikit kalut dan gugup. “Harlan, coba nyalakan tv mu, ada gadis dengan liontin berinisial P tergilas truk didekat acara besok,” jelas Dian dari seberang. Benar saja, Terlihat kerumunan orang dan gadis berbaju hijau seperti baju yang dikenakan Tere, tadi. Jatuh lemas Harlan melihat tayangan itu,  gadis itu Tere, gumamnya pelan.
Dengan sedikit gemetar dan kuat yang dipaksakan, dinyalakannya motor, “Ah, pasti tadi Tere memacu motornya kencang, duh Tuhan, lelaki macam apa aku ini.” Baru saja motor itu hendak keluar dari halaman, terlihat seseorang membuka helmnya.
Senyum ceria menghiasi wajah ayunya. Kontan saja Harlan memelukTere dengan begitu kuat beberapa butir air mata ikut serta didalamnya..Dan sedikit membuat Tere terkejut. “Ada apa nih, kamu aneh sekali,” Tanya Tere.
Tapi Tanya itu tak dijawab, pelukan Harlan tambah erat, air mata Harlan begitu menghebat. Tere hanya terdiam, lalu balas memeluknya memberi ketenangan. “Jangan pergi pelangiku, jangan pergi.”
Tere mengganti inisialnya dikalungnya dengan TH, dan Harlan kali ini yang memintanya agar inisial Pnya dipakai lagi, hingga menjadi THP. P itu ternyata pelangi, karena baginya Harlan itu seperti pelangi yang selalu menghiasi harinya dengan indah.

69.. . Nurlaeli Umar ; KADALUARSA






“Bang gorengannya, biasa,” kataku memesan kudapan dari penjual kudapan di kaki lima yang tak seberapa jauh dari rumah.
“Tapi , semuanya sekarang kadaluarsa, apa masih berani beli?” Ujar si Abang sambil terus menggoreng, menuntaskan pekerjaannya.

“Lha, kok bias, bukankah itu barusan baru digoreng?” Tukas ku , kaget sedikit tak mengerti.
... “Iya, Neng semenjak isyu BBM t dinaikkan, harga barang udah keburu melambung.” Elak si Abang itu membuatku semkin bingung.

“Kok bisa, kadaluarsa?” Tanyaku semakin penasaran. Apa coba yang terlintas, Isyu kenaikan BBM yang akhirnya ditunda kenaikannya, yang seolah-olah April mop, dan memancing para penyedia barang menaikan harga jauh sebelum keputusan iya atau tidak turun, dengan kata kadaluarsa.

Menurutku pemerintah itu seperti seorang ibu yang mendiamkan anaknya yang meminta maianan dengan sebuah lolypop dan ternyata esokpun tetap tak dibelikan. Hanya ditunda agar luka hatinya istirahat sementara waktu saja. Seharusnya jika iya, ya dinaikan saja, dan jika tidak ,ya tak usah dinaikkan.

“Iya, gorengan pisang dua ribu tiga, gorengan tempe dua ribu empat, gorengan tahu dua ribu dua neng. Kalau mau yang dua ribu sepuluh, Abang nanti gak bias balik modal.”Terang si Abang gorengan senyum-senyum

Oalah ternyata itu, hmm… mereka menyikapi kenyataan yang ada dengan kreatif dan menyenangkan.
“Habis Neng, yang pinter-pinter demo saja tidak didengar, gimana Abang yang cuma pedagang kecil begini, jelasnya ketika kutanya mengapa gak ikut demo saja dengan yang lainnya.

Semoga saja kedepan pemerintah sebagai yang memeintah dan berkuasa, bisa lebih bijak dan lebih tegas, hingga keadaan rakyat menjadi lebih baik. Dibidang apapun entah itu ekonomi, hokum dan ketahanan. Toh , mereka adalah orang –orang terpelajar dan terpilih dari sekian juta rakyat, dan tidak hanya sekedar rapat, tidur ,terima gaji, tanpa karya nyata sebagai wakil yang bertanggung jawab terhadap kemajuan dan kesejah teraan rakyat.

“Ya udah, bungkus seperti biasa, soal harga saya ikut saja,” kataku menyudahi pembicaraan.

68. FF Tukiyem Menggugat

oleh Nurlaeli Umar (Catatan) pada 29 Mei 2012 pukul 14:59


oleh Nurlaeli Umar pada 2 Agustus 2011 pukul 10:28 ·
gadis lugu itu sekarang menjadi ibu
dan laki2 yang ditunggu...hingga pagi menjelang...adalah satu2nya cinta yg ia tahu..
mesti sampai air mata darahkah agar kekasihnya itu tahu...tiap detik merindu..
mengeluh...merindu...perlahan terbang..juga cemburu…..doa yg penuh pengharapan dirasakannya seperti pembiasaan...agar kekasihnya pulang sekedar berbincang atau menghabiskan malam...jika berkenan...
tangisan anak2 kelaparan dan minta jajan..membuat hati...tangan...dan raga ringkihnya sekuat baja...ia lelah mengeluh dan menangis...
lima tahun dengan penolakan dan penghinaan sebagai perempuan....cukup...dan perempuan bodoh itu bertahan karena ia adalah seorang istri.....

waktu berlalu...bahkan udara pun bukan yg dulu...kekasih si lugu...yg menghabiskan hidup hanya untuk berburu..dari satu ke satu yang lain..tak hanya terpuruk...tapi ia terkapar...mati segan hidup tak mau..
lugu....itu merk jaman dulu...puuuh..
dengan stempel istri tukiyem merawat suami..dengan kasih dan senyum....sungguh menakutkan..
senyum tanpa nyawa dari jiwa yg terluka...bahkan terlihat membusuk..
tak ada keluhan...bahkan tangispun di tabukan...
sampai suatu saat ...lelaki itu mengumpah...karena ia lapar..dan tukiyem sibuk membujuk sibungsu...anak keenamnya...

tukiyem...tukiyem malang...baginya setia itu sampai mati...dan mati itu dirasakannya lima tahun terakhir ini...ketika udara berubah dan suaminya larut didalamnya....
si lugu...mendekati suaminya ...dia tersenyum dan berbisik....
sayang...kemana saja selama ini....kita sudah menjadi berdelapan...simpan sumpah serapahmu....kemana rindu yg kutitip dihatimu..kau bagibagikan...kemana cinta yg sepenuh hati ku persembahkan...kau buang di ujung jalan....lihat mataku...lihat senyukku...aku memang istrimu...tapi aku bukan silugu yg dungu...kau...hanya anak kecil...hidupmu hanya untuk berburu dan tertawa....selama kau luka dan kau sakit...aku akan merawatmu...sebagai seorang istri dan manusia ....setelah sembuh...kita selesaikan semua baik2 dan enyahlah dari kami....kabari jika kau mati

suami itu..tak pantas disebut suami tukiyem sekalipun....
matanya nanar...terlalu banyak yg berkecamuk..tukiyem yg kukenal..bukan tukiyem yg dulu....meski senyum dan setianya tetap sama...
masa yg terlewat tak memberikan pembelaan sedikitpun...
hanya segunung sesal...selaut sedih...selangit ampunan pada TUHAN...
dan dia berbisik ...TUHAN beri aku mati saja

67. FTS Among-Among








Bagi anak-anak seusia anak SD,  among-among adalah pesta yang menyenangkan. Meski sekarang jarang ditemui, namun sesekali masih ada keluarga yang melakukan pesta ini.
"Mama, ganti baju yang bagus dan sepatu, kata Mbah Putri ada among-among." Begitu rajuk si bungsu, sedikit membuatku tertawa.

 "Tidak perlu, Cantik," sambil kubelai rambutnya yang lama panjang, dan sering membuatnya bertanya, "kamu cukup memakai baju ini, masih bersih, bukan ... dan cukup memakai sendal."

Setelah setuju, kubiarka dia pergi bersama teman barunya, kali ini aku sekeluarga sedang berlibur di kampung kelahiranku.  Yang terletak di  perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat, tepatnya di pesisir Kabupaten Ciamis. Meski begitu tapi nuansa Jawa Tengah lebih dominan.
Aku ingin dia menikmati sesuatu yang berbeda, dan pasti bisa ditebak dua hari tak cukup baginya untuk bercerita.

Among-among adalah pesta dengan undangan anak-anak balita sampai remaja. Adapun orang yang dewasa atau yang tua biasanya hanya ikut bergembira. Acaraseperti ini banyak dilakukan oleh masyarakat didaerah yang jaman dahulu disebut Karsidenan Banyumas. Atau lebih dikenal dengan daerah orang berbahasa Jawa Ngapak. Meliputi daerah Purwokerto, Banyumas, Tegal, Kroya, Kabupaten Cilacap dan pesisir Kabupaten Ciamis yang berbatasan dengan Kabupaten Cilacap.

Pesta ini pesta makan, makanan ditaruh di atas nampan, bisa satu atau lebih, dan dibawahnya ada baskom berisi uang, air sumur dan daun dadap.
Hidangan yang tersaji di nampan, khas sekali, terdiri dari: nasi kuning, urap atau lalapan, kacang kedelai hitam goreng, dan ayam goreng.

Pesta dimulai dengan membaca doa, karena pesta ini diadakan sebagai bentuk syukur atas anak balita mereka, bisa sembuh dari sakit atau bisa berjalan atau karena nadzar atas balita mereka. Biasanya dilakukan pada hari kelahiran disesuaikan dengan pasarannya, entah itu, Wage, Kliwon, Pon, atau Pahing.

Tentu saja sebelumnya mereka antri tuk cuci tangan.
Pesta makan dimulai usai berdoa, mereka makan bersama dalam satu nampan, dan seringkali seperti berebut, dan inilah seninya. Mereka tertawa, dan makan bersama. Indah sekali.
Seusai makanan habis, mereka berdoa kembali. Dan ini acara yang ditunggu, mereka mencuci tangan bersama sambil mengambil kepingan uang logam.

Benar saja, satu jam sudah lewat, kudengar teriakan si bungsu, "Mama, aku pulang, aku dapat lima ribu, hore ... hore ...."
Ekspresi yang sama, seperti aku dan anak lainnya, sekitar tiga puluh tahun lalu.

66. FF Hati-hati dengan mulut


 

Oleh : Nurlaeli Umar
"Tolong dicuci yang bersih!" Suara si Lelaki terdengar angkuh.
... "Iya, insyaallah tenang saja Bos," ujar mas Karyo meyakinkan.
Mas Karyo tidak banyak bicara, meski dia hanya orang desa juga miskin, dia paham benar bahwa pelanggan adalah raja.
"Bu, tolong belikan shampo yang agak mahal sedikit, itu temanmu yang sudah sukses, mobilnya mau Bapak cuci," ujar mas Karyo sambil menyerahkan dua lembar uang ribuan.
Si Istri dengan cepat pergi ke warung terdekat, dia masih ingat, Lelaki yang membawa mobil ke tempat cuci mobilnya yang sederhana itu, adalah adik kelasnya. Yang pandai, tekun, dan ramah. Si Istri juga masih ingat, bagaimana dulu dia suka membantu membelikan alat tulis sekolah, karena kondisi ekonomi si Lelaki itu jauh lebih buruk dari kondisinya sekarang.
Mobil sudah bersih, tampak sekali mas Karyo profesional dengan pekerjaannya itu. Meski bermodalkan shampo rambut dan lap kain, serta air sanyo, itu pun bukan dengan mesin keluaran terbaru, tetapi hasilnya benar-benar memuaskan.
Mobil diambil si Pemilik tanpa memberi satu rupiah pun. Mas Karyo tidak gusar, sudah kebiasaan demikian. Biasanya si Pemilik mengambil uang dulu di rumahnya, atau sekedar ke warung untuk membeli beberapa batang rokok, alasannya upah yang diminta mas Karyo sangat murah, jauh dari upah yang mesti dibayarkan jika mereka mencuci mobil di jalanan arah ke kota.
Merasa sudah sore, dan si Istri mendesak untuk memberinya uang membeli lauk, mas Karyo mendatangi rumah si Lelaki yang berjarak hanya beberapa rumah saja. Si Lelaki, sedang berkunjung ke rumah orang tuanya, mungkin ingin berlebaran di kampung saja.
"Assalamualaikum," mas Karyo mengucap salam, dan benar saja ada yang menjawab dari dalam, lalu keluar menemuinya.
Karena, tidak dipersilahkan masuk, dan kebetulan yang keluar adalah si Lelaki itu, maka diutarakanlah maksud kedatangannya.
Bukan uang yang didapat, tetapi tudingan kejam. Alasannya, beberapa barang di mobilnya hilang.
" Kamu mencuci seribu mobil pun, tak bisa melunasi jumlahnya!" Begitu bentak si Lelaki.
Mas Karyo meyakinkan ketidaktahuannya tentang barang yang hilang itu, melihat bentuknya pun tidak, apalagi mencurinya. Sampai-sampai mas Karyo bersumpah atas nama Tuhan pun tidak membuat percaya si Lelaki itu.
Mas Karyo pulang dengan air mata, dia ikhlas sepenuhnya, apalagi Ramadhan sebentar lagi usai. Dia tidak ingin merugi dua kali, setelah kecewa dan sedih, dia tidak ingin hatinya mengotori puasanya dengan dendam.
Itu kejadian yang ingin dia lupakan, mungkin juga si Lelaki itu. Karena setelah lebaran usai, terdengar kabar dalam perjalanan pulang ke kota, si Lelaki mendapat kecelakaan, yang tentu saja biayanya tidak akan pernah terbayar, meski mas Karyo mencuci seribu mobil sekalipun.

65.Sesekali Aku Ingin


sesekali aku pun ingin
berpuisi seperti engkau
hingga ucapku bukan hanya angin

akhir akhir ini aku jatuh cinta pada angin
hingga aku mengandaikan diri menjadi angin

tapi apa angin bisa berpuisi
atau menurutmu aku tak boleh angin agar aku bisa berpuisi

tapi sungguh aku jatuh cinta pada angin
bagaiman harus kutulis puisi
agar angin tahu
aku dan dia sekali waktu bisa menjadi satu

apa aku harus bisa membuat puisi?
 
 

64 .Terhenti di sini

Aku akan berhenti

Yang ingin kutemui sudah kutemukan
Berjalan sajalah kau teman


Biarkan aku di sini dulu
Menikmati

Usah kau takut jika kusunyi

Percayalah. seperti biasa
Aku akan tetap berkata, aku baik-baik saja


63.angin adaku


 
Kemana mesti kualamatkan resah rindu
Kucari tiada kutemui
Lelah diabaikan maka aku mengabaikan ini
Hidup mati hidup sama saja di rasa, hambar
Aku tak akan mencari lagi kecuali sekedar
Agar lelahku terganti
Lalu aku akan berjalan melawan angin
Tak mencarimu lagi
Atau bila nasib berpihak kita akan bertemu
Kupastikan saat itu kita asing dan saling tak tahu menahu
Ini kebebasan yang kau ajarkan
Saat kau pergi dulu
Sebab kita angin bukan kemarin bukan masa lalu
Hanya angin bukan udara di hidup seorang kekasih
Aku mengerti aku merasai
Mari kita angkat cangkir kopi
Lalu kita senandungkan lagu pecundang kehidupan
Dengan air mata yang sisa dan basi

25. harap musnah






 


Malam

Sepi bersenjatakan pisau


Membunuhku 


Lalu rindu rindu itu mengalir 


Aku tersenyum


Kekasih andai kau datang lebih awal

24. keinginan hati




 



 





Ada kalanya aku ingin malam bertambah panjang

Ada kalanya aku ingin malam tergesa

Begitu pun dengan siang dan engkau

23. Ragu dan Tanya



 




Sebentar sebelum semuanya jadi susah

Rindu ini bertanya di mana mesti singgah
Aku tetap berkubang padamu


Sesuatu yang membuatku ingin lari dan mati
Tapi tetap kwmbali lagi
Aku bertemu wajah lama


Sayang, kekasihku diambil orang
Lalu sederet percuma bertandang
Membuat hati makin seperti layang layang
Besok aku tak lagi berkibar


Meski aku bendera tanpa warna
Ah, mungkin ciuman lelaki

 sedikit misterius 
akan memabukan aprilku hingga akhir
Menangislah meski itu mustahil

22. sesalku untukmu




 




Sedikit membebani hati memikirkan arah angin hatimu

Kopi ini sama rasanya dengan bibirmu yang kukecup
Kurasa esok kau dapati aku mati terendam cintamu yang hitam


Bedebah, manteramu mantera sialan
Mataku merah mabuk
Yang kulihat hanya wajah cinta rombengmu


Sisa kucing jalanan yang muntah kekenyangan
Aku memunguti hina dalam buaian
Aku mati dengan senyum setulus bayi
Dan kau bernyanyi syair mati


Aku sudah kau upacarai sebelum tanah

 dengan riang hati membangkai tubuhku
Kau, ini kah cinta? Terimakasih
Mana ujung jarimu
Biar kucium khidmat

21. Namakku Embun, Daun!

 
Telah sampai pada matahari 

Sorak embun sebelum dia terbang ucapkan kata perpisahan

Telah kutemani engkau sepanjang perjalanan dini hari

Semua akan berulang kecuali aku

Cukup sekali berarti lalu mati

Usah kau cari sisa abu

Simpan saja guci itu

Cukup kenang aku sekali seumur hidupmu

Aku embun itu daun

Mungkin kau terlupa bersama waktu, biarkan saja

Tuesday, April 2, 2013

20. di hampir tengah malam


mencoba mengeja kembali
larikan syair yang usang
meski terbata
kuharap tak sia sia
karena peluh sudah berkeluh kesah
tuk mencari angin
sejak semula

coba merangkai eja menjadi baca
dan menerka untuk maksudnya
ternyata tersurat pun
sama sekali tak mengerti
apa lagi di tambah tersirat
yang hampir beranjak pergi

tunggu
tunggulah sebentar
mulut ku mulai berdarah
otak ku mulai kram
itu berarti pencarian makna itu
hampir limit

kali ini napas ku
mulai tersengal
dadaku mulai terisi penuh
hendak meledak
air mata hampir mengkristal
ku bisa membaca nya
kata yang kau beri
I LOVE U

19. FF Aku ikut berduka






Oleh: Nurlaeli Umar
Langit terlihat gelap, angin di luar mewangikan aroma air. Suasana sore menjelang berbuka yang sedikit menekan. Lelaki itu semakin tenggelam dalam air mata kesedihan. Terlihat jelas dari air mukanya, mata yang sembab dan ia berusaha menyeka air mata yang masih saja sesekali menelusuri wajah tampannya itu.

Ini akhir Ramadhan yang pilu, dan bayi berusia dua hari di pelukannya mencari kehangatan dekapan seorang ibu. Ibu yang memberi damai lewat pelukan, lewat hangat tubuhnya, juga lewat irama degub jantungnya.
Sesekali disela air matanya, tarikan nafas itu terlihat lebih panjang dari semestinya. Zahra, bayi merah itu kerap kali menolak dijejali susu dari botol yang dia genggam. Zahra, mencari puting ibunya.
Dipandanginya dua anak lelaki yang selimutnya tersingkap, jagoan yang melindungi hari tuanya, kelak. Dua jagoan yang menangis kehilangan dua hari yang lalu. Dua jagoan yang memaksanya tegar, meski baginya langit serasa runtuh.
Sungguh, terbayang sudah dipelupuk mata, rona bahagia dari orang tua, sanak saudara, handai taulan menyambut kehadiran mereka berlima. Dan terlebih lagi kehadiran anggota keluarga baru saat lebaran nanti.
Bukan kesepian panjang kelak setelah kehilangan yang dia tangisi. Bukan pula tidak bersyukur karena sudah mencecap nikmat beristrikan wanita salihah, tapi Zahra, bayi dua hari yang mesti kehilagan sentuhan ibu kandungnya.
Ramadhan kali ini dia mesti mengikhlaskan Tanti, istrinya menghadap Tuhan lebih dahulu dari dirinya. Setelah mengalami pendarahan hebat setelah melahirkan dan tidak tertolong. Dua hari yang lalu, tepat saat ulang tahun si sulung dan seminggu menjelang lebaran mengetuk pintu, menyalami semua orang yang sudah melewati bulan Ramadhan dengan berpuasa dan memberinya kabar kemenangan.
Aku ikut berduka, sungguh. Meski aku hanya mawar imitasi di vas warna biru tua di atas meja ruang keluarga, kesukaan Tanti, yang dibeli saat Tanti baru memasuki rumah ini, empat belas tahun lalu sebagai ratu.

18. maaf aku ...mencintaimu



seorang perempuan
seorang lelaki
.....
adakah salah bila suatu saat cinta
ingin diresapi...dalam diam

tanpa hasrat...tanpa serakah

apa arti cinta...dan diam adakah dosa

... merenung menjadi tabu...dan tawa adalah candu

seorang perempuan hatinya beku
seorang lelaki memuja egois

bilakah gayung bersambut
bila pola pikir berlain haluan

bolehkah diam mencinta
atau
haruskah diam diam mencinta

bagi mu....
adakah diam sejenak
adalah dosa

aku mencinta dengan kata
aku mencinta dengan hati
dan diam ku....
tolong
kau eja dengan seksama
aku...mencintaimu...meski kadang...aku diam

maaf....aku mencintaimu
sungguh....sungguh

17. mata elang itu....jawabannya


berpendar semua rasa
kadang terbias hingga ke angkasa
dan aku mengais serpihannya
aku terjebak tanda tanya

sepertiga usia yang telah ku tempuh
berujung pada nya
pada mata elang mu
yang beri clue tentang arti pencarian ku

lelah tak terperi
rasa sakit tak lagi sembunyi
bahkan luka semakin terkoyak
iitu kenyataan yang makin terkuak

lelah mengeluh
hingga daun daun layu tanpa arti
padahal musim semi masih jauh menanti

meranggas rasa
akhirnya temukan jawab nya

bumi ku
yang ku junjung tinggi dihati
yang ku hormati laksa pelangi
yang menharu hari ku tanpa kenal waktu

aku mengerti
apa arti rasa yang kau beri
dan aku mengerti arti mencintai
setelah lelah mencari

kini...satu pintaku padamu
sebelum ku mati
biarkan aku mengatakan sepenuh hati
ya.....aku perempuan mu

(mesti selama inikah...
tapi ku bersyukur...)

mata elang tiu...jawabannya
(buat mu...mata elang ku....terimakasih
maaf membuat mu salah mengerti
hanya karena aku mencari arti dari rasa yang menjadi teka teki)

16. menjauh...........ya sudah


larikan maaf terukir hanya maya
sebab maknanya terhapus angin senja

kemarin

menjadi sepi dan menggigit separuh rasa
tersibak rahasia dari sekeping luka

saat ini

aku adalah apa
sekedar celoteh dari sisa kesepian  mu

entah lah

langit tiba tiba menjadi muram
lagu dari petikan gitar mu menjadi sumbang
mencari melodi
sendiri sendiri

esok

kau..........jika ingin mu pergi
pergilah........

jangan pernah kembali
meski lewat angin atau pun hanya ingin

kataku

menjauh
ya sudah

apapun warna yang kau kuaskan di langit ku
terimakasih

15. aku yang mencintaimu....paling



berlari sekuat kau mampu
aku takkan mengejarmu
bahkan bayangan mu pun

bersilat lidah sebanyak kau bisa
kau takkan lepas dari satu kata ....namaku

tak usah kau janji
sering kali mereka yang berjanji
mereka yang mengingkari  pertama kali

cukup bagiku
kau menjadi lebih baik disetiap detik yang terlalui

memilikimu
tidak seserakah itu

...aku mendahului takdir
aku juga tak sepongah itu...menentang takdir

jalani hari....seperti mentari saja
beri kehidupan pada yang membutuhkan
beri penerangan pada yang kegelapan

bagiku
mencintai berarti memberi arti

memberi doa
memberi cinta

seandainya kelingking tak berkait
itu karena bukan jodoh saja

tapi ...kekuatan cinta tak harus pupus
hanya karena ambisi memiliki

dengan tidak memiliki...
cinta punya porsi sendiri

apa dia tulus....atau cuma obsesi

mencintai...harus dengan hati

katakan pada orang terkasih
bahwa

aku ...orang yang paling mencintai mu

14. selamat jalan dik.........


duar....
duar........
duar........
tiga ledakan nyata di siang bolong
pekik ku tersengal sedih yang meronta
kamboja luruh.......menandai tanah merah
sebuah sambutan atau tanda yang tak terduga

semua hancur luluh bersama menjdi serpihan
bau anyir menyengat
mesin di pabrik tua itu meledak
ketika sang biru putih berada diatasnya
tuk perbaiki sedikit kerusakan
hati tersayat..........aku berduka bersama bumi dan langit

seragam putih biru berbadan sedang
yang melintas seperti biasanya tak kan pernah lagi ada

dia.......yang mencoba membanting tulang
setiap mentari sabtu menyapa
untuk sebuah telepon genggam impian

maaaa....
minggu depan aku punya handphone baru
ternyata salam perpisahan
untuk selamanya

jasadnya berkeping
bahkan tak menyisakan jejak
benar hancur........
hanya darah....
hanya darah
dan sejuta luka
mengoyak ibunya......juga hati ku
mungkin juga mereka yang sempat berbondong bondong

semua usai pada  titik
mati dan air mata
meski sekarang uang duka cita itu
mampu hadirkan seribu handphone keluaran terbaru

tapi ........
percuma.......
dia benar benar telah pergi

dan aku takkan bisa melihatnya melintas lagi
seragam biru putih menjadi putih seutuhnya

selamat jalan .........dik
(air mata dan doa ku ......menyertaimu)

Monday, April 1, 2013

13. FF MEMORI KARBELA

oleh Nurlaeli Umar (Catatan) pada 26 Juni 2012 pukul 18:55

Oleh : Nurlaeli Umar

Gadis itu berumur dua puluh dua, bayangan menjadi perawan tua sedikit berlebihan. Tapi kenyataannya dia bahkan belum sekalipun merasakan pacaran. Gadis itu adalah aku.
... Tak laku, sepertinya stigma itu terlalu berlebihan, karena banyak hati ingin berlabuh, tapi entahlah, sepertinya sendiri dan sedikit ketakutan itu lebih menggoda.
Aku baru saja turun dari bus 213 dari arah Matraman dan aku turun di daerah Sudirman, aku hendak ke Karet Belakang.
Pagi yang masih lengang, dan tanpa dinyana seseorang menarik tanganku dari arah belakang, lalu menggenggamnya erat-erat.
Kaget bukan kepalang, reflek ku putar kepalaku dan kutarik lenganku. Ya Allah, seseorang yang sangat tampan, berperawakan sedang menatapku lekat disertai senyuman maut.
"Apa-apaan ini, kamu siapa?" tanyaku panik.
Lelaki itu malah berjalan mendahuluiku dengan tetap menggandeng lenganku.
"Lepaskan tanganku!" kataku sedikit berteriak.
Pembawaannya yang tenang malah menafsirkan orang-orang yang berlalu, aku dan dia sepasang kekasih, dan aku tengah merajuk. Tak ada yang menolongku, mereka malah tersenyum.
Sampai dipertigaan, aku berusaha tenang, padahal hatiku kacau balau sekaligus takut. Kali ini dia malah mendorongku ke dinding, dan berucap, "Aku mencintaimu dan ingin menikah denganmu, apa kau tahu aku memperhatikanmu setiap hari, setiap kau turun dan naik mobil itu, setiap pagi dan petang ?"
Aku tak peduli, sungguh, melihatku mulai menangis dia sedikit melonggarkan pelukannya.
Saat itu aku berpikir keras, untuk membujuknya. Aku berjanji nanti sore kembali kesini selepas kerja.
Akhirnya aku dilepaskan, dan dia masih sempat meminta pipiku untuk diciumnya, tapi aku berkata, kalau itu dilakukan aku akan ingkar. Akhirnya, dia hanya mencium punggung tanganku. Lalu aku berlari sekuat tenaga.
Aku tak pernah menemuinya, sesudah itu. Dan setiap melintas pertigaan itu, aku selalu teringat semuanya. Aku bergumam, seandainya saja dia tidak mengejutkanku seperti itu mungkin jalan cerita akan lain. Jujur ku akui, laki-laki itu romantis dan lembut sebenarnya, cuma waktunya tak tepat.

12. apa sebenarnya.........yang ku cari


memipih rasa menghipit menjadi sakit
lalu kadang membulat menggelinding
kadang mengerucut
mencari jejak di ujung piramid
atau bahkan tertatih
dan terseok langkah untuk mencari

sampai waktu sepanjang galah
atau hilang di telan bayangan
dan bayangan menghilang
menyaru bersama cahaya
kadang rapuh
atau pura pura merapuh
hingga tersengal sesal menjadi semacam alasan
tanpa dasar

bicara merangkai imagi menuai kata letih
terseok diantara angan meski maya
terus begitu dari waktu ke waktu
hingga mati
terasa panjang dan berharap tak datang
atau sesekali dirindukan juga di takutkan

cermin meretak
entah berapa bayangan
terlihat menjadi sempurna cacat nya
mengukung  atau terkukung
beralibi inilah hidup dan kenyataan

apa sebenarnya yang ku cari
kalau engkau
mungkin sedikit bisa menjabarkan semuanya
padaku
tentu saja lewat teori
sebab semuanya berakar dari kepentingan
sendiri
sendiri
sendiri
dan sepi adalah jawaban yang pasti
fuuuuuuuuuuaahh........hidup

11. andai saja ada pilihan lain


senja lalu malam lalu pagi lalu siang
lalu berulang
sampai kau bimbang
kemudian muak dan menghilang

daun lagi lalu angin lalu purnama
lalu kau lelah dan akhirnya kau menyerah

sedih lagi berulang ulang
seakakn tak mau hilang
padahal hidup berselang

jingga lagi lalu gelap malam
membuat kau jenuh
berpeluh
lalu mengeluh

aku berkutat dari itu dan itu
berjalan lelah
melangkah
tapi tetap tak berubah

seandainya saja
ada piihan lain
dan otakku tak mengerut karena dingin
atau miskin ingin

tentu
aku ada bersama mu
menyelaraskan langkah
dan kita bercerita banyak
tentang keserakahan
tentang kemunafikan
tentang apa saja
yang membuat kita seolah olah
manusia paling sempurna

hmm..........
andai saja ada piihan lain
selain dari kesederhanaan
dan otakku lebih pintar sedikit

10. bicaraku pada gerimis pagi


mengapa tak dingin
padahal angin begitu sayu
dan daun daun menggigil

mengapa
begitu ingin
harap ku sampai kepada mu
sedang angin enggan menjamah
dan rindu tak lagi tersisa

aku mengais selayak pungguk
dan bulan tertutup awan
sombong dan menghilangkan jejak

gerimis pagi
secangkir kopi
dan mawar yang mulai mengering
dan pudar
pucat pasi

aku terus saja bermimpi
padahal hari sudah berganti
dan kau menghilang
berlari
berganti hati

bicaraku pada gerimis pagi
elegi yang ku cipta sendiri
dari segenap hati
yang merindu dan enggan mengendap
terlarut sepi
sepi dan sunyi
ku harap tak sampai mati

rindu pada ...........purnama hati

9. tentang bumi ku


gerimis sedih
mengingat mu
terduduk di pelataran itu sendiri
hanya menunggu ku tuk sedikit sapa

kau selalu bertanya
siapa bumi ku sebenarnya
lelaki yang menjadi arjuna
di setiap memori yang tersirat kata cinta

aku bahkan tak bisa menggantinya
dengan mu atau siapa saja
karena jejak yang ditinggalkannya
abadi............meski dia telah pergi

bumi ku
adalah sepenggal kisah
dan aku mengukirnya di setiap langkah
sekelumit masa lalu yang setia
hadir kembali setiap ku mengingatnya
dan menjadi energi agar ku bisa mengecap cinta
dalam makna yang hakiki

masihkah kau bertanya tentang bumiku
dia menyemai jiwa di hidup ku
lewat orang orang terkasihku

kau bumi ku
semoga kau damai di alam kelanggengan
dan aku kelak kan menyusul mu

bumi ku............banyak doa dari ku
dan selamat malam
maaf........bila aku harus berganti hati
karena aku mesti menyelesaikan episode ini

tersenyum lah........karena pengganti mu
mencintai ku........dan dia mampu mengimbangi kasih
seperti yang kau berikan dulu

selamat malam.........
semoga esok takkan ada lagi yang salah paham
tentang mu.......aku.......dan bumi pengganti mu

teriring banyak doa
selalu

8. cerita pagi ku kali ini


seperti biasa
rumput itu masih hijau
angin menyapa sedikit menyibak
burung bercengkrama dan tak hiraukan ku

mata elang itu masih sama
rambut lurus dan pesonanya
juga tentang masalalu yang terus memperbaiki diri

aku menikmatinya
di sela pagi di sejumput bahagia
juga senyum yang tersemai  diantara matahari
dan pesonanya

pagi ini dan seperti ini
sepanjang langkah ku
sejauh masa yang telah tertempuh
ini yang mengikat
antara aku dengan diriku

cerita pagi ini
mungkin takkkan kau mengerti
dan itu untukku sendiri
kau hanya terbagi sedikit ilusi
lewat akara yang tertuang
lewat senang yang terpajang
dari sini
ya dari sini.........sekarang

7. ketika hati dijebak pura pura





aku berlari ke utara kau ke selatan
mengapa ku harus mengikuti jejak mu
dan menerobos angin
sedang hati menolak tak ingin

berkompromi dengan rasa dan waktu
mencoba menjadi peri setengah jadi
malah membuat semuanya semakin menjadi

aku berpura pura mencinta
aku berpura pura bahagia
aku berpura pura tak apa apa

tapi maaf.......kali ini rasaku sudah kadaluarsa
aku harus berhenti dan mencoba menjadi diri sendiri

ketika hati di jebak pura pura
adalah lembaran yang sengaja ku tutup
dan biarkan aku melangkah sesuai kata hati ku saja

ketika hati dijebak pura pura
aku kan meyakini.........semua hanya ilusi saja
aku kan tertawa karena aku pernah ada di dalamnya

6. merah saga yang tertinggal


semburat itu perlahan terhapus
apa yang disebut memekat adalah harus
aku tak meraba karena terlalu pekat
apa kau juga menyipit karena terlalu

terhenyak mencoba membaca jejak yang tertinggal
hanya merah saga dan segumpal sendu
terlampir sedikit elegi
yang terhempas dan menghempas
hingga terlihat terkoyak

aku adalah cuma
dan kau adalah apa
kadang  ingin sekali menjadi biru
agar engkau memutih
tapi yang terbias hanya hitam
jadi merah saga yang tertinggal adalah sekedar

jangan bertanya atau menyalahkan
membuatku malu dan sedikit terkapar

biar merah saga saja
jadi aku sedikit melihat jejakku
ada
meski
meski bukan seperti akhir yang ku harapkan

sedikit sesal tersaru dalam merah saga
yang kau kuaskan diakhir titik

5. kemana senyummu yang indah itu


 

oleh Nurlaeli Umar (Catatan) pada 3 Maret 2012 pukul 13:13

indah meski maya
dan terasa melangut dibuatnya
kau melukis latar dengan warna gelap
dan mencoreti setiap terang yang tersisa
seakan hidup ku tak bertahan untuk menit kemudian

padahal hari terasa menguap
dan lelah kaki berpadu hati
menjelajah mencari sesal yang tertinggal
di kumuhnya miskin dan sedihnya sebuah perih

aku mencoba menerka setiap hitam
dan mencermati langkahmu
bila kau pendarkan lagi mendung di langit hati
dan gelap sudut mataku terasa ringan
melayangkan rasa
hingga hati bergumam
aku tak ingin beranjak
dan tenpatkan hati ku pada hidup mu
meski itu tak mungkin

keman senyummu berlari
dan bersembunyi
mati seakan
mematahkan semua mimpi maya kita
dan puisimu menangis di sudut senja

jangan berpaling kekasih dari sinaran bulan
aku kan memunguti bayangamu
dari sisi gelapku

kemana senyummu yang indah itu
yang usir segala sendu meski kadang tak bisa
dan hanya berpura pura pergi
dan hadir kembali
ketika nyata menyapaku dalam perihnya

senyummu.berikan padaku
meski esok matahari
enggan menyapa ku dan mengusir ku pergi

jangan menangis untukku
aku yakin aku takkan mati esok pagi
entah kalau esoknya lagi

tersenyum untukku
bisakah

4. hanya ingin sendiri.........sungguh

 

oleh Nurlaeli Umar (Catatan) pada 5 Maret 2012 pukul 15:42

begitu laju derap hati menggebu
yang terdengar mengapa cuma sebatas pilu
dan angin seperti membiru dalam kelu
merintih sedikit mendayu

duhai........hati yang kerap bernyayi bersama angin
malam terasa bagai purnama empat belas
dulu
dan kini semua menjadi ragu
dan terbalik bersama tawa sembilu

hanya ingin sendiri
biar bercengkrama bersama sepi
mungkin sedikit membunuh tapi
dan menukar segudang senang

hanya ingin sendiri
sebab hadir mu hanya sebuah fatamorgana
menambah luka dan tangis ku saja

kelopak angin terasa gersangnya
meski hujan membasahi sekujur pelataran hati
kehadiranmu sungguh ingin dan tak ku ingin

aku hanya ingin sendiri
saat ini......
sementara sampai luka ku sedikit mengering
bisakah kau menunggu

esok bila ufuk berbaik hati menyapa pagi ku
kan ku pastikan ku memanggil namamu
sungguh
ini menyayat hati melukai perih mu
tapi sekali lagi
tunggu aku........meski tidak kali ini

Jual Keripik Tempe

Jual Keripik Tempe Sejarah mencatat, bahwa tempe adalah makanan yang telah menyelamatkan orang dari etnis Jawa hidup lebih lama dibanding ...