SENANDUNG TEMLEK
Aku
benc i ini tapi sungguh suka yang itu. Ah kadang kala hidup memang
begitu. Tak bisa menyukai semuanya dan tak mungkin disukai semuanya.
Kadang kala kita terjebak untuk menyenangkan atau merasa orang lain
harus senang. Tapi kali ini sungguh aku benci ini, tapi tak bisa
mengelak. Aku benci dingin, tapi suguhan sroto, orang disini menamai
makanan ini dengan menambahkan huruf r, meski aku kerap kali menyebutnya
soto dan mereka mentertawakan ku, “Mbak, disini gak ada soto, yangada
sroto.” Tapi peduli apa selain karena rasa dingin ini yang kerap
membuatku masuk angin, aku suka sekali dengan kuah soto yang dicampur
tumbukan kacang. Memang kalau tak terbiasa akan aneh rasanya, apalagi
yang terbiasa menikmati kuliner soto ala Jawa Timur, akan sedikit
terkaget.
Di meja panjang dari kayu ini tersedia juga mendoan
alaias tempe yang digoreng tepung tapi tak sampai kering, setengah
matang, segelas teh manis dan di toples terlihat kacang kulit yang
digoreng memakai pasir. Hmm……..seperti kembali ke dua puluh tahun yang
lalu, saat aku masih kecil dan kerap kali diajak bapakku menengok si
mbah ku.
Kedatangan ku kali ini sangat tidak pas waktunya, selain
tak memberi kabar juga tak membawa buah tangan. Tapi sedikit ada rasa
bersyukur, karena mereka sedang ada acara ke kerabat yang ada di Jogja.
Jadinya aku bisa menginap di motel. Bukan apa-apa ini adalah
kunjunganku setelah dua puluh tahun berlalu.
“Mba ……..mmm……o
iya…putranya pak Untung kan? “ seseorang mengenaliku rupanya, tapi siapa
ya, aku mencoba mengingat- ingat tapi seperti biasa tak ingat sama
sekali. Ini adalah keahlian nomor satu ku yang pernah membuat ku di
jadikan sindiran oleh guru SMA ku dulu, karena aku tak mengingat
sebanyak teman-teman yang lain dalam menghapal nama guru.
“Sekarang
kamu berbeda, tinggal dimana , masih di Banjar?” pertanyaan yang
memberondong seperti peluru saja, keluhku. Untung saja dia tampan, meski
tak setampan artis, tapi memng tampan, dia masuk kategoriku.
“Aku
tak tinggal lagi di Banjar, aku sekarang di Jakarta ikut suami.”
Kulihat di mengangguk –angguk, entah apa yang disetujuinya. Ternyata dia
pemilik warung soto ini, meski namanya warung seperti yang tertulis di
papan nama didepan tadi, sesungguhnya lebih mirip disebut restoran,
karena cukup besar dan megah.
Tetap saja tanpa menyebutkan nama
dia memeberondong pertanyaan kearah ku, tanpa sungkan. Tapi siapa ya,
pertanyaan itu terus berkecamuk, mata elang itu mengingatkan ku pada
seseorang , tapi tetap saja masih abu-abu dan akhirnya kabur lenyap sama
sekali. Dia bertanya banyak tentang kabar bapak ku, juga semua
adik-adikku tanpa terkecuali.
Aku memang sengaja berkendara
sendiri kemari, ingin bernostalgia sekaligus silahturahmi.Tapi ada apa
dengan lelaki ini. “Aku sekarang jadi tukang sroto, Nur, setelah
berganti-ganti nguli, rasanya lebih enak begini, tak ada yang
memerintah, atau memang sifat ku yang tak suka diperintah sejak dulu,”
hmmm…aku pun tanpa sadar mengiyakan perkataannya.
Sroto plus
lontong dan beberapa mendoan sudah lulus ujian ke mulut ku, mungkin
sekarang sedang digilas asam-asam dilambungku, biarlah. Perutku sudah
tak berteriak lagi, tapi mata elang ini membuat ku nyaman , enggan
berajak berpamitan.
Apa kau mau mandi di pancuran seperti dulu,
itu salah satu pertanyaan yang membuka sedikit clue kalau dia pernah
tinggal di Berkoh. Tempat mandi dengan banyak pancuran dan banyak
pengguna, dimana air gemericik sebatas lutut dibawahnya mengalir, ah
jika ingat masa itu aku ingin selamanya tak beranjak dari sana. Tapi
siapa ya orang ini
.
“Kau sendiri bukan, aku besok ada waktu
mengajakmu berkeliling, tapi yang dekat jalan kaki saja ya, kalau udah
cape baru kita mbecak seperti dulu?” aku mengiyakan saja sembari
menyudahi sarapan pagi ku yang nikmat dan ajaib, bertemu mata elang yang
misterius dan baik hati, dan tampan adalah bonus ,bukan.
Purwokerto
memang penuhi hati ku, hingga kadang dulu aku selalu merasa ada
keterikatan selain karena ada si mbahku juga makanannya dan dialeknya
yang mendarah daging di tubuh ku meski aku berpindah ke Banjar.
Ternyat
jalan jalan yang di janjikan sungguh sangat luar biasa setelah seharian
aku mengurung diri di kamar hotel, aku diajak ke pancuran itu menikmati
airnya meski aku tak mandi dan hanya mendengar celoteh mata elang itu
tanpa satupun terlewati . Aku menikmati semuanya dan ia hafal benar
bagaimana dulu kami berebut buah duku , menungguinya di pagi hari.
Semuanya tanpa terkecuali.
Sorenya aku diajak ke wisata
Baturrraden, tapi tetap dengan kentianku akan rasa dingin , kami singgah
tak bisa dihitung dengan jam, hanya beberapa menit saja. Ah, aku
mengacaukan harinya. Mata elang itu semakin membuatku merasa ada sesuatu
yang mengikatkku dengannya dulu.
Dia sangat lembut dan sangat
mengenal ku, ketika aku terlihat lelah dan tak bisa menahan dingin, dia
memberiku syal dan tersenyum seraya berkata, “Apanya yang Jakarta, kamu
tetap Nur ku?” dia menyuruh ku beristirahat dan meminta karyawannya
mengantarkan makanan ke hotel tempat ku menginap, karena letaknya
bersebrangan.
Sebenarnya aku hendak ke Jogja hari ini, berpamitan
pada si tampan misterius, tapi dia menahannya, “Nanti saja, aku ingin
kita melakukan sedikit upacara kecil, karena dari kemarin aku melihat
kamu ada sedikit perasaan kurang nyaman dan curiga kepada ku,” tegasnya
tanpa menginginkan aku memilih ya atau tidak sama sekali.
Tanpa ba
bi bu lagi…….ia memanggil pelayannya. Kulihat sepiring kudapan goreng
tersusun disana. “Ini, kau ingat ini dan upacar pengantin kita waktu
masih kecil?” jadi……..”kau…Tion….mas Tion?” Dia mengannguk, aku masih
mengingat mu , mengingat semuanya, meski itu hanya permainan kita
menirukan pengantin dewasa, begitu terangnya. “Dan ini temlek, makanan
yang paling kau suka bukan?”Temlek terbuat dari ampas kedelai sisa
pembuatan tahu yang dibumbui terus dicelupkan ke tepung dan di goreng.
Aku menangis, aku ingt semuanya, saat Rina, Wati, Upi , Inung, Nanang
dan beberapa teman kecilku dulu menjadikan kami pengantin kecil dan
berjanji didepan gorengan temlek untuk menjadi sepasang kekasih.
“Aku
menunggumu Nur, meski kau lama tak datang ke kota ini. Dan setiap
bapakmu kemari aku berharap kau ikut. Tapi tak pernah ada. Dan aku
bertahan sampai ku dengar kau menikah.” Aku benar-benar menangis,
ah……lelaki sebaik ini takkan pernah menjadi milikku, karena aku dan dia
telah sama –sama terikat. Dan temlek itu tiba-tiba terasa pahit dilidah.