Sunday, March 31, 2013

3. menembus ruang waktu


dua tangkai mawar merah
seulas rasa indah tertera jelas
menebus ruang dan waktu
menjadi jeda
aku  menikmati harum kelopak cinta
tak hiraukan penghabisan
tak akan dan tak inginkan

aku adalah bayangan rindu
yang simpulnya mengait
dipelataran hati
dan jejak yang tertinggal
dari rengkuhan kasih
yang samar lalu menyata
antara ada dan tak adanya

menembus labirin
meski rasa tak mungkin
dan benak yang penuhi sebagian sukma mu
menyapu dan menyelubungi
segumpal harapan
dari ketidak mungkinan
hadir keharibaan ku

menembus ruang waktu
biarkan saja
meski itu cuma sebatas rasa

ku nikmati perlahan rasa ini
ku rasai benar rindu yang bertaut
terpisah jarak
terhitung waktu
aku dan kau menyatu di kalbu

biarkan awan berarak
tuliskan segenap rindu
usah kau halau hujan
biarkan rintiknya temani
segenap doa dan pinta

kau
aku
meski jauh
meski jauh
meski jauh
(buat yang lagi long distance relation.........semangkaaa .hehe
moga gak salah tulis aksara ya....

2.selamat malam purnama




langkah gontai hati mu
lagukan puisi malam
sendukan malam yang menekan
mengenggam sunyi yang tak mampu kau redam

kau bermain dalam kelam
rintihan yang hanya mampu di baca purnama
kau benar benar pecundang hidup
menganyam hitam dari hati ke hati

luka ku tersaput rindu remuk redam
tersulut racun cemburu
dan kau menyiram perih ku dengan garam

mana ketulusan yang menjadi topeng
mestinya jangan kau lepas
hingga kau mati
dalam pura pura yang tak berkesudahan

bohongi aku
sebab purnama pun hanya diam
sembunyi cantik dalam  awan hitam
dan ucap kan selamat malam
aku takkan melepas yang telah aku genggam

1.Jangan Pergi Pelangi

oleh Nurlaeli Umar (Catatan) pada 25 Juni 2012 pukul 18:02

(FF Selasa, 26 Juni 2012)
Jangan Pergi Pelangi
“Kenapa tak kau ganti saja, inisial P di kalungmu itu?”Begitu tanya Harlan, kerap kali ketika mereka sedang berdekatan. Sebuah pertanyaan yang selalu dijawab Tere dengan senyum, dan sedikit membuat kesal Harlan.
“Kak, bisakah kau membantuku untuk mendekor panggung, besok?” Tere tak mengacuhkan pertanyaan Harlan, “ masalahnya pihak panitia kekurangan orang,” jelas Tere sedikit memaksa.
“Tapi itukan bukan urusanku, aku bagian mencari donatur, dan aku sudah menyelesaikan tugasku, bagi-bagilah dengan yang lain,” elak Harlan menanggapi pertanyaannya yang selalu tak diacuhkan Tere.
Sungguh pun berkali-kali Tere sudah menjelaskan, bahwa inisial itu tak ada sangkut pautnya dengan mantan kekasihnya yang terdahulu, tapi jawaban Tere seperti menggantung bagi Harlan.
Tere menaiki anak tangga itu dengan tergesa, besok acara peringatan Hari Anak benar-benar kekurangan tenaga untuk mendekor panggung, Bukannya tidak ada yang bisa, tapi hasil dekorasi Harlan memang beda, dan selalu diandalkan. Ada saja ide berliannya, pas dengan tema dan hasilnya luar biasa, itu alasannya.
Ketukan pintu itu sudah dihapal Harlan, lalu dibukanya perlahan. Dan … ups ada seorang gadis tengah duduk diruang itu dan Harlan segera mengusirnya pergi.
“Tere, namaku Tere,” ujar Tere mengulurkan tangannya mencegah gadis itu pergi, “ duduk saja aku cuma sebentar, meminta rancangan dekorasi panggung saja, setelah itu pergi,” tapi ekor mata Harlan seperti mengusirnya, dan gadis itu pergi setelahnya.
Setelah mendapat sedikit gambaran dekorasi, Tere selekasnya pun meninggalkan ruangan tempat tinggal Harlan.
Ada perasaan bersalah, dan penuh tanda tanya, mengapa Tere tak meninggalkan sedikit pun air muka cemburu, padahal jelas-jelas Tiara ada di kamarnya, meski hanya untuk menjadi objek dari lukisannya, tak lebih. .
Telepon genggam dengan merk terkenal diatas meja berbunyi dan bergetar dengan volume penuh. Sebuah suara terdengar sedikit kalut dan gugup. “Harlan, coba nyalakan tv mu, ada gadis dengan liontin berinisial P tergilas truk didekat acara besok,” jelas Dian dari seberang. Benar saja, Terlihat kerumunan orang dan gadis berbaju hijau seperti baju yang dikenakan Tere, tadi. Jatuh lemas Harlan melihat tayangan itu,  gadis itu Tere, gumamnya pelan.
Dengan sedikit gemetar dan kuat yang dipaksakan, dinyalakannya motor, “Ah, pasti tadi Tere memacu motornya kencang, duh Tuhan, lelaki macam apa aku ini.” Baru saja motor itu hendak keluar dari halaman, terlihat seseorang membuka helmnya.
Senyum ceria menghiasi wajah ayunya. Kontan saja Harlan memelukTere dengan begitu kuat beberapa butir air mata ikut serta didalamnya..Dan sedikit membuat Tere terkejut. “Ada apa nih, kamu aneh sekali,” Tanya Tere.
Tapi Tanya itu tak dijawab, pelukan Harlan tambah erat, air mata Harlan begitu menghebat. Tere hanya terdiam, lalu balas memeluknya memberi ketenangan. “Jangan pergi pelangiku, jangan pergi.”
Tere mengganti inisialnya dikalungnya dengan TH, dan Harlan kali ini yang memintanya agar inisial Pnya dipakai lagi, hingga menjadi THP. P itu ternyata pelangi, karena baginya Harlan itu seperti pelangi yang selalu menghiasi harinya dengan indah.
Bio: Namaku Nurlaeli Umar dengan nama akun pengguna facebook yang sama. Twitter di @nurlaeliumar Aku seorang ibu rmah tangga yang sedang belajar menulis

26.rindu yang tersisa


adakalanya
yang terlewati menyapa kembali
meski tak seindah syair
yang telah tertulis sebelumnya
dan sisa tinta yang menulis
bahkan hampir pudar dan hilang dari pandangan
sebuah rasa
kembali tersibak
dan terurai satu persatu
memnuhi relung kenangan

aku tak bisa bilang ini cinta
sampai aku kembali merasainya
sama dan serupa seperti dulu kala

rona pelangi yang ku cari
mengapa langit ikut membantunya
padahal hati sudah tergores hingga terluka

aku bahkan
mentertawai setiap rintik hujan
yang selalu mengingatkan
betapa sendiri tak mengenakan

tapi malam ini
langit tersenyum
bulan sembunyi malu malu
aku berteriak dalam hati...........i love u

rindu yang tersisa
disela hati
kembali menggumuli simpul senyum ku
ku harap ini takkan melukai lagi

27. haiku


1.sebuah janji
rangkaian kata
mengikat dua jiwa
hingga ke surga

2.cinta
memecah sunyi
kala kelam  sendiri
temui takdir

3. persahabatan
sebuah tulus
tak bisa tergantikan
seharum mawar

4.selingkuh
terlihat indah
meski gelap nyatanya
membunuh akhir

5.kun
sebuah nama
terikat janji mati
di jari manis

6.sore
wajah mu hilang
langit merona jingga
sebuah nama

28. sebuah nama............kun


aku sudah lama
tak memunguti kamboja
di hamparan pusara mu
dan menatap
seakan kau tersenyum pada ku

kun..........tiba tiba sore menjadi perih
hati ku sedikit merindu mu
mungkin janji itu
janji kita dulu

kun
aku tahu
ada saat kereta yang kita bicarakan dulu
terdengar mendekat

kun
aku takkan lari penuhi janji
tapi bisakah.....berlama sedikit lagi

aku masih ingat
gerbong ke enam
tawar ku pada mu........dulu

kun...........beri aku waktu
dan bersabarlah
jangan merajuk

kun...........aku menangis sungguh
aku merindu mu
tapi ijinkan aku menyelesaikan tugas ku
kan kutemui kamu dengan senyum ku
kelak...........

29. selalu saja tentang mu.......kau bosan...hmmm.


aku jujur benci kata selalu
seolah olah aku stuck di suatu keadaan
tak bergerak
hanya diam
dan kesannya sedikit pemalas

halah
bicara tentang rasa yang aku punya untuk mu
selalu tak ada kata bosan
aku dengan lantang meneriakan
pada hati ku.......pada relung malam
pada mu........pada catatan facebook ku

seperti apa istimewa mu
hanya aku yang tahu
dan
walaupun berbagi
kau juga takkan mengerti

kau mulai tak mengerti
akan mu yang ganda
yang sengaja ku pakai untuk nya dan mu
karena aku sedikit ingin terlihat punya nilai misteri
walaupun kacangan adanya

tapi sungguh
hadir mu......beri arti lebih di hati ku

selalu saja tentang mu
walau aku bersembunyi dibalik mawar.....bulan
bahkan pura pura tak merindu

30. ucapan selamat ultah ke 38


 


Selamat ulang tahun sahabatku. Bekerja adalah sebuah proses memuliakan diri di hadapan Sang Pencipta.

Happy B'day.
Wish all the best for you.

Happy Birthday, wish you all the best..

Salam'alaikum..
Selamat Milad ya Ummi.. :)
semoga diberi berkah usia, jdi ratu adil yg lembut dan bijaksana utk sang raja n 3 prajuritnya,, slalu dalam berkah dan lindungan Allah Swt..
Aamiin Aamiin Yaa Robbal'alamiin..

Met milad mba
semoga apa yg dicita2kan tercapai, segala urusannya dimudahkan. sehat & sukses selalu
wyat :)

Met milad.. Barakallahu fi khayatik..
sehat dan semoga sejahtera selalu. Amiin.

selamat ulang tahun tan

Selamat milad, ya. Yang ke-17 kalo gak salah, ya.

Hehehehe.,.

Barakallah.,.

Met ultah, Laeli!

Met ultah teh ... moga sehat selalu dan banyak anak ya .... (karena anak adalah rejeki) heheee ... aamiin :)

Saturday, March 30, 2013

31. kejujuranku menakutkan


aku berusaha menebar senyum
kala mentari menamai awan itu mendung
aku mencoba...dan mencoba semua
satu persatu
hingga aku bingung dan linglung
ini soal hati......yang kadang kala menjadi tak dimengerti
aku berujar tentang aksara
tapi kau memaknai dan menghargai dengan angka

jangan bilang kita bersebrangan
toh.kenyataannya kadang kau mengekor
andai di bilang sejalan itu keterlaluan

kejujuran .......ku........menakutkan
kejujuranku.......menakutkan
dan kau bermain main dengan itu
menikung di jalan lurus ku

persetan dengan tipu menipu
begitu kelakar mu
yang bahkan menjadi janji terselubung mu

aku tak sakit hati
sebab yang punya hati hanya kamu......bukan

jangan  coba menguji
sebab kalau kau tahu kenyataannya.....
kau sendiri kan lari ....bersembunyi

kejujuranku tulus....
memang seharus nya kau takut
karena kau hanya bisa kentut di balik selimut
bukan kabut

kau pecundang..........
pantas bagi mu
kejujuran ku menakuti mu sungguh sungguh

32. kembang kertas

oleh Nurlaeli Umar (Catatan) pada 24 Maret 2012 pukul 19:21

menyusuri remang menjemput cahaya
menyilaukan karena harapan saja yang terbaca
berjalan sendiri berteman angan indah
dan ilalang seakan berwarna warni

malam menjemput
malam merunut
suasana hati hilang lengang
dari kesunyian yang terhempaskan
senyuman mu terlalu indah tuk di tafsirkan

gelap seakan menghilang
bahkan fatamorgana pun menjelang riang
semua seperti pelangi
meski langit ku hitam kelam

rindu menghadang
semburat bahagia meregang tegang
aku terlonjak girang
meski ku tahu
cintamu hanya sekuntum kembang kertas

jangan meragu duhai mimpi
biarkan aku melaut suka
bersama nya dalam maya dan jauh dari nyata

kembang kertas
semakin erat dan lekat dalam genggaman
terbaca indah meski syahdu sendu merayu pilu
dan malam berlalu dengan senyuman bisu

33. maaf ku menjauh.......



 



.. oleh Nurlaeli Umar


teriring debur ombak dipelataran hatiku
kucumbui harap mu ragu ragu
merah muda yang dulu kusangka biru
ternyata hitam legam dikenyataan

sejuta rasa mengalir melebur
mengacuhkan temaram bulan
aku tersilau matahari
meraga sukma mencintai cinta
dan pura pura menjadi tajuk utama

ah.....aku menjauh
kala hati mencinta pucuk pucuk embun
ah......aku berlari kala cinta tak lagi dikebiri

aku mencintai rasa bukan mu
aku mencintaimu tanpa rasa
jadi kuputuskan angin tuk membawaku saja
dan tak kubiarkan kau terluka
meski sekejap terlena bahagia

tapi jujur...semua dusta
#suratmu ini ku temukan tiga hari yang lalu
saat mendung mengundangku ke hati mu

-34. MERACAU DI PURNAMA



MERACAU DI PURNAMA
oleh : nurlaeli umar

jengah merasai rasa ini tanpa sambut
mega merona disisi langit tanpa kutub
dan malam terintip sunyi lalu senyap
kembali ke pagi dengan tergesa

semangkuk huru hara
mengetarkan rusuk di dada
tanpa saputangan pelipur lara

ku lihat purnama tertawa
menyanjung kesetiaan yang sia sia
dalam alunan kidung malam
aku terlena tentang sedih yang berkala

duhai purnama
teruslah tertawa dan mentertawai
sedikit guraumu terasa getir
merobek luka menambahkan satir

termanguku dalam ceracau kata
dan airmata hanya menjadi pemanis saja

rindu yang dirindui dan purnama
menjdi sama sama membuatku tertawa
adalah luka cinta yang tak kan lekang dimakan usia
dan aku memaknainya kali ini tanpa rasa

meracau di purnama menjadi upacara kecil
kala ku berpayung mendung meski malam

biodata....
namaku akun pengguna facebook ku nurlaeli umar
takada yang bisa dibanggakan dari tulisanku
tak ada prestasi yang bisa ujukan gigi
aku mengikuti ini untuk mengasah penaku tentang puisi

35. dalam derai pagi


aku menggigil kala mentari mengucap salam pembuka
adakah hari menjadi hujan sementara rinai gerimis memberi pertanda
bersama mentari yang menyapa
dan hati menjadi bertanya dalam harap yang tak terduga

tiga butir tangis langit jatuh dipelupuk mata
semakin membuat bimbang hati yang gemintang
duhai jingga langit yang birunya menghujam
derap rindu menyusup semakin dalam

aku yang tenggelam dalam rasa dan menghitung tetesnya
sebuah cinta yang pergi kemarin disenja
terasa sakitnya dan luka tak terperi
dan pagi ini mawarku layu dalam bimbang

aku bahkan tak ingin tahu
atau bagiku sama saja...hujan atau gerimis
bahkan mentari menari
aku hanya rindu kemarin....meski ia takkan pernah menjadi hari ini lagi

dalam derai pagi
aku menghaturkan rasa rindu pelangi
biar biasnya mengurai rindu dendamku menjadi syahdu
aku kangen kamu ujarku pada kemarin di derai pagi

36. Setia



(Puisi Kamis, 28 Juni 2012)
Oleh : Nurlaeli UmarAku disini
Kala janji terucap
Sebuah setia dalam suka dan duka
Menerima dan memahamimu sebisaku
Menggenggamnya sebanyak kumampu
Aku masih disini
Saat janji kau ingkari
Berharap kau menyadari arti hadirku
Yang menjadi udara dihidupmu
Dan berharap kau kembali
Saat kakimu lelah mencari jati diri
Kala asamu rapuh dan butuh teman berbagi
Waktu kau tenggelam dalam sepi dan ingin mati
Aku tetap disini
Menantimu kembali
Jika kau kelak ingin pulang
Menggenggam tanganku lagi
Memulai semuanya dari awal lagi
Meski luka mencabik hati

37. tentang angin kali ini


sayup terdengar seperti merintih akan sebuah duka
angin yang mendatangiku lamat lamat hingga ke terangnya
tapi kusia sia membacanya karena ketumpulan rasaku
yang terbebani perih sendiri dan berujung tak peduli

maaf
sesalku tak berujung meski kucoba berhenti
rasa yang kau beri terbaca sedikit melukai
mungkin cintamu terlalu berlebih dan aku terbata membacanya

jangan membenciku
bila pelangi dibinar matamu tak bisa kulihat
karena aku berpaling dan memilih menundukan mata
aku tersilau karenanya sungguh

mengertilah...aku tak sepandai kau kira
membaca arah anginmu sungguh aku tak bisa
aku terlalu takut rasaku turut
menghilang bersama pergimu
dan tinggalkan sunyi pada malam gelapku

pada angin kali ini kubicara tentang angin yang kau beri
aku memilih pergi meninggalkan semua
karena sejujurnya aku takut kau jatuh cinta
dan aku membalasnya

tentang angin kali ini
aku tak mau mencoba tuk menyapanya dan mu
aku memilih diam seribu basa
agar tak ada lagi yang terluka

38. rindu ya .......kamu


separuh tergenggam
separuh lagi terlepas
separuh meracau
sebanyak lagi terus memantau
seperti rindu
pada rerintik hujan
dan malam penghabisan
yang terlanjur kelam

menangis diambang senja
dan biru kembali berpanggut mega jingga
angin terdiam
jelas jelas tadi berbisik
langkah gontai malas menukik

sebuah langkah menjadi tak pasti
ketika rindu mengetuk kesendirianku
dan kau pergi jauh
menghilang dalam jejak jejak
yang tertinggal dalam benak

ketika ku berceloteh tentang rindu
jawab dan tanyaku
tetap tertuju pada satu nama
bukan purnama
bukan mentari
bukan pula pelangi
tapi
kamu....
bisakah kau sedikit mengerti

39. seulas senyummu


kamu

senyummu

adalah

hal terindah

yang kuinginkan

meski seulas
sukup bagiku
berarti seluas

40. Lelaki pejalan





Langkah itu terlalu jauh
Bahkan jalanan pun jadi mengeluh
Reranting kering beradu pandang
Pucuk hingga ranum tertawa tertahan
Pencarian hingga keujung waktu
Patahkan jarum pada dinding tua dan kaku
Tak jua henti
Tak pula pasti
Mendekat pada ombak dihempaskan
Mendekat pada pasir digunjingkan
Mendekat pada labuhku kau ingkarkan
Lelaki pejalan mengukir asa
Melupa pada masa
Meski tangis rinduku tak pernah reda
Tak peduli malam untuk jeda
Lelaki malam meluruh rindu
Mencari kasih sesempurna rembulan yang beku

41. Ketika aksaraku menjadi kapital




Matamu terbelalak hebat
Kau dan aku menjadi pesakitan
Dari perihya kental darah ikatan
...
Kau lari ke sudut kesunyian
Aku terpekur penuh penyesalan
Kau dan aku tiba-tiba tak menjadi kita
Tapi kutak pernah ijinkan serupa benci menjadi nama tengah
Meski kadang terlupa
Kadang kau yang menggoda
Atau aku yang merayunya untuk tiba
Ketika aksaraku menjadi kapital
Sungguh saat itu aku ingin menjadi terluar saja
Ketika aksaraku menjadi kapital
Bisakah kau seduhkan sedikit kopi pereda
Atau air putih saja
Agar ku dan mu menjadi kita
240712nlu 11:02

42. layar maya

 


Pada layar maya aku berujar tentang bahagia
Tentang aksara yang menghambur dari pena patahku
Dari sisa-sisa tinta pena yang menjadi luka

Lalu berpura-pura dia bertandang
Hanya tuk mencicipi
Apakah kopi buatanku pantas dicecap?

Lalu setelahnya aku mesti menelan bulat malam
Dan sepi yang bergelayut mengajakku bicara
Tentang bintang yang melolong

Pada layar maya aku berselancar
Tentang pura-pura yang tiba-tiba tak menabu

Pada layar maya nyataku pun menjadi nyata

62.. Tangisan Marionette


Oleh: Nurlaeli Umar

Anggun diujung gaun
Sunggingkan senyum menghamba
Bahkan tak sisakan ekor mata siapapun tuk tak terkesima

Musim salju yang luar biasa dingin
Maskaranya meluntur
Serapuh hatinya temui gunung es pada jejak cerita seseorang yang mencuri hatinya

Marionette
Senyummu telusuri relung-relung hati
Menawan mereka bak bajak laut
Merampas cinta tuk diberikan khusuk

Bahkan pesta pora adalah kesunyian
Memejarakan hati pada kepiluan
Cintamu kali ini tercuri
Hatimu sedang menikmati secangkir teh di depan perapian
Nikmati sebuah arti kesederhanaan
Tinggalkan pilar sombong kebangsawanan
Jauh dari tempatmu berdiri

Marionette
Lagu cintamu tertelan aturan
Tangisanmu tersurat pada buku harian

Ah ... begitu keluhmu
Aku ingin sepanjang tahun musim salju
Biarku selalu nikmati rindu
Dan kecup merah bibir kekasihku
Yang tertinggal di cangkir berwarna biru

Dan air mata kali ini adalah bahagianya yang terakhir
Berpesta pada kenangan
Yang esok sudah hilang tertelan sosok yang bernama aturan

Marionette yang sedih
Tangisan seorang Marionette

Nurlaeli Umar
Fb: Nurlaeli Umar
Twitt : @nurlaeliumar
Pekerjaan : ibu rumah tangga

Friday, March 29, 2013

43. Aku menunggu sayangmu





Terbunuh
Kata itu seperti sedang menungguku didepan pintu
Aku bisa saja menangis seperti rinai itu
Atau bahkan melarikan diri
Berjanji takkan melewati pintu itu sama sekali
Aku menunggu sayangmu
Hinggap di kelopak rintihku
Mencecap sedikit racunku
Tidak untuk mati
Tapi menemaniku hingga terbunuh
Bisakah sedikit waktu tuk kuhabiskan pelan-pelan
Seperti berondong berkelas
Yang kau bawa ketika kita menikmati rasa
Dulu
Diantara pengap pengunjung bioskop tua
Aku terlalu banyak bermetafora
Sudah temani aku saaf aku terbunuh nanti
Dan kuharamkan air matamu
Bukankah kau bahagia
Aku menunggu sayangmu
Berikan saja walau berstempel pura-pura

44. Dengarkan aku bercerita


Pada pagi kuceritakan padamu
Tentang kuntum doa
Sebening embun sesejuk wangi udara
Yang kan basuhi jiwa ragamu

Pada siang kuceritakan padamu
Tentang lelah dan keringat
Berbaur tarian matahari
Dimana keikhlasan menyusup pada setiap sisi

Pada sore kuceritakan padamu
Tentang senja pada goresan tinta para pujangga
Bidadari yang menyambutmu dengan kidung cinta
Mengantarmu pada syukur
Dan jingga semerona para gadis pemetik harpa

Pada malam kubercerita
Tentang rasa damai dan selimut hangat
Mulut mulut penuh kesucian
Hati yang berbalut kehambaan
Dan syukur yang tak bertepi pada hati dan cumbuan sepi

Esok aku akan tetap bercerita
Mungkin cerita yang sama
Berulang dan menjemukan
Atau kadang terdengar melambungkan
Sedikit rinai atau bahkan hanya bergelayut diujung mata

Maukah kau mendengarnya
Kuharap esok aku dan kau masih punya hari
Sesekali kau boleh bergantian atau pura-pura mendengarkan

45. Yang terlupa









Kudapati dirimu berjalan sendiri
Sementara terik mengangkang
Kakimu penuh luka bau anyir yang megeluhkan tentang perjalanan
Aku bahkan bisa melihat jelas
Warna kuntum didadamu sudah menghitam
Air mata bahkan tak tersisa
Bagaimana kuharus menulisnya derai apalagi tetes
Aku yang terlupa dan dilupakan masa
Aku hanyalah angin bukan udara dihidupmu
Kuulurkan tangan bahkan hati
Dan bila kau menginginkan nyawa
Tuk temanimu melangkah
Menghadang angin
Lintasi gurun atau kadang padang ilalang
Bila kau lelah ini pundakku
Bila kau menyerah ini punggungku
Kan kucari oase atau peneduh
Lalu kan kubawa kau tinggal dijiwaku
Sudikah
Meski aku hanya seorang yang kau lupa dan terlupakan ... zaman

46. Sebuah asa








 
 Oleh : Nurlaaeli Umar



Secerah mentari pagi
Sebisik harap terangkum di hati
Selayak reranting kering bersemi lagi
Semaikan asa kuatkan diru
Bernas dan menguning emas
Berujung sinar setelah gelap dan lorong panjang terlewati
Mencapai tepi dan sandarkan biduk
Seusai badai mengamuk
Temui damai dari diri dan jiwa
Lautan doa selaksa permadani
Peluh mengucur pupuk penyubur
Air mata adalah derai pendamai
Sebuah asa
Aku harus menamainya apatah lagi
Tetap saja kau adalah kuntum perona dari mawar kehidupan
Dan aku menggenggamnya dengan cinta
Meski seduri tajam menghujam
Mendarah-darah yang sudah merah
1475nlu

47. Ketika kuberpuisi

dimuat pada ANTOLOGI TEJASVARA
(30 PENULIS KABUT TIPIS)



Aku bingung bagaimana bisa
Mejaku berkaki kuda
Dan sepedaku tertawa
Sedang engkau termangu
Meresapinya dari ujung aksara hingga kehilir hatimu
Aku terkesima
Pada matamu kulihat bulan
Pada hatimu kudapati lautan
Pada ucapmu ketemui hutan
Ketikaku berpuisi
Jiwaku melarut bahkan pada secangkir kopi
Jantungku berdenyut pada dinding-dinding mati
Dan asa ku berjalan mesti dari mimpi
Kau dan aku terperangkap dalam puisi
Temui arti pada setiap jejak- jejak
Temukan arti pada setiap tarikan dan hembusan nafas
Dunia itu puisi

48. Sisa rindu yang kupunya





Mungkin aku masih harus memanggilmu kekasih
Sedang sudut-sudut hatiku masih menyimpan kenangan
Tentang gigil rindu pada rinai rasa yang kau beri
Atau sedikit cemburu yang kau aduk bersama teh pada cangkir berwarna biru
Meski ceritamu bersambung ke paragraf baru
Dimana aku tak menjadi peran utama atau pembantu
Dan kau letakkan cerita kita pada kata usang
Atau album kusam yang mulai pudar
Tetap saja
Rasa itu memanggil
Kala angin berbisik
Kau sedang terluka
Dan bahagia terbang tinggalkan kata sesal
Aku mengenangmu di sisa rindu
Pada malam yang kau sebut kelabu
230712

49. Menangisku pada Malam





Menangisku pada Malam


bulan di langitmu terbelah berdarah
hitam itu seakan memerah
sedang di hatiku gerimis ini enggan pergi
perjalanan hati ini jadi tak tentu arah

aku menangisi rindu yang mati
gigil jadi teman sepi sehati

aku mati di asamu

menangisku malam ini
sepertinya luka takkan terobati
meski esok luka bulan sembuh
dan purnama seperti biasanya

50.. menikmati kesendirian


aku tak ingin berbagi gundah hati dengan angin
tentang rasa yang tiba tiba melukakan
aku hanya ingin sendiri tuk beberapa saat saja
hingga aku menemuimu dalam balutan senyum

aksara aksara sengaja kubisukan
jadi tak usah tanya

ini menguras air mata sungguh

andai bisa kuurai rasa indah ini
dan tak menyakiti
andai
semua berujung andai

Tuhan
aku bahkan selalu menyebutmu disaat air mata hendak tumpah saja
dan kali ini pun
cinta yang tak dimulai dan juga tak diakhiri
menghiasi langitku
mengikuti gerak langkah kaki

perih
sakit
luka ini

aku terlanjur mencinta

aku ingin sendiri saja

Wednesday, March 27, 2013

51 SURAT UNTUK AWANKU 1)

 



teratai

kuntum damai
lelah mengutuk lunglai
aku angkuh yang lantak
kasihmu hatiku rindu
1475nlu



JAKARTA,27 mARET 2013 nurlaeliumar

Sunday, March 24, 2013

52. bersabarlah sedikit


 
 Nurlaeli Umar (Catatan) pada 25/03/2013

anjing anjing itu menyalak
seperti kacau yang meracau
di dinding harap yang sedikit lagi
rubuh
kau selalu saja dengan keluhmu,
dan aku benci itu
lelaki, begitu katamu selalu
menepuk dadamu

perempuan
dan aku selalu mengangguk tiga kali mengulum bibir
merahku, dan meraba dadaku yang tentu saja berbeda denganmu, aku, perempuan

bersabarlah sedikit bung, atau aku harus menyebutmu, sayang?
kau pasti suka itu, lalu rebahkan saja sedikit lelahmu hingga kau mendengkur

karena aku perempuan dan ingin perempuan

tunggu saja, sebentar
biar cinta berbicara empat mata
biar semua luka memerah darah
biar kau lelah berpetualang

biar

aku akan memberimu seteguk cinta dan damai
kelak kau tak akan mengeluh lagi
sebab esok kau mati


lalu aku menangisimu dengan masa menanti seseorang yang sama dengan keluh yang sama dengan kadar cinta yang sama

sialan!

Jual Keripik Tempe

Jual Keripik Tempe Sejarah mencatat, bahwa tempe adalah makanan yang telah menyelamatkan orang dari etnis Jawa hidup lebih lama dibanding ...